
Menjelang makan malam tiba, Dewa terbangun dari tidurnya. Dia tersenyum bahagia mendapati istri tercintanya tengah tertidur pulas di pelukanya, ia rasanya malas untuk bangun jika sudah begini jika saja tidak mengingatkan ada janji temu denga teman-temannya, Dewa ingin berbaring terus memeluk istrinya itu di atas tempat tidur.
"Jika saja aku tidak ada janji, aku masih pengin lagi rasanya aku belum puas," ujar Dewa sambil mengeratkan permukaannya, dan menciumi bahu polos Veli.
"Mas sesak nih..."cicit Veli, dia terjaga dari tidurnya saat merasakan tubuhnya di himpit dengan erat.
"Kamu terbangun sayang? maaf aku sudah membangunkanmu..." Dewa melongarkan pelukanya, dan menatap wajah istrinya penuh cinta.
"Eemm...Mas aku capek banget, badanku rasanya remuk semua. Mas sih minta nambah terus!" ujar Veli dengan cemberut.
Dewa terkekeh mendengar ucapan istrinya "Habisnya kamu enak banget sayang, kalau saja aku sedang tidak ada janji sekarang, aku ingin di kamar terus aku masih pengin lagi dan lagi. Bahkan jika mau sampai pagi nanti," bisik Dewa di telinga Veli.
"Mesum...memangnya Mas mau kemana?"
"Tadi Firza sama Diki ngajak ketemu yang, kamu gak papakan makan malamnya sama Dewi, atau mau ikut?"
"Enggak deh Mas, aku makan di rumah aja. Mas mandi dulu sana setelah itu baru aku..."
"Bareng aja yuk...!"
"Nggak mau, kamu duluan aja."
Dewa tanpa rasa malu bangkit dari tidurnya dengan tubuh polonya. Ia mengangkat tubuh Veli dan membawanya menuju kamar mandi.
__ADS_1
Mereka tidak hanya mandi saja, Dewa kembali meminta jatanya, dan melakukan penyatuan dengan cepat.
Kedua pasutri itu akhirnya keluar dari kamar mandi setelah hampir satu jam di sana, entah apa saja yang mereka lakukan.
Sang laki-laki keluar dengan keadaan segar dan senyum terukir di bibirnya dan hanya memakai handuk di pinganya. Sedangkan sang wanita yang berada di gendongannya dan hanya memakai bathrobe tampak cberut.
"Sudah jangan cemberut begitu, bukankah kamu juga menikmatinya sayangku..."ujar Dewa sambil mendudukan tubuh Veli di ranjang.
"Tapi sakit tau...!" cicit Veli dengan mata yang ber kaca kaca, karena bagian intinya yang nambah perih dan panas.
"Maaf sayang...biar aku ambilin baju ganti ya..."Dewa segera beranjak pergi ke ruang gantinya.
Setelah beberapa menit, Dewa keluar dari ruang ganti dengan tampilan yang sudah rapi sambil menenteng baju Veli di tangannya. Hendak bertemu dengan teman-temanya walaupun dirinya sudah sedikit terlambat karena terhambat dengan kegiatan panas yang tidak bisa ia lewatkan.
"Sini biar aku pakaiin..."
"Nggak usah Mas...aku bisa sendiri," tolak Veli, hendak meraih baju yang di bawa oleh Dewa namun langsung di cegah oleh Dewa.
"Tidak ada penolakan...!"ujar Dewa tegas, ia dengan telaten memakaikan baju untuk Veli. Veli yang mendapatkan perlakuan seperti itu, hatinya menjadi mengjangat, dirinya tidak menyangka sosok pria yang dulu begitu acuh kepadanya kini tengah memakaikan baju untuknya. Dia sangat bahagia akhirnya suaminya bisa luluh kepadanya, perjuangannya selama ini tidak sia-sia.
"Terima kasih Mas..." ujar Veli tersenyum haru menatap suaminya.
"Sama-sama sayang, kamu beberan tidak pa-pa aku tinggal? atau aku gak usah berangkat aja?" Dewa tampak tidak tega meninggalkan istrinya yang sedang merasa sakit akibat ulahnya yang buas, yang terus mengempur istrinya lagi dan lagi.
__ADS_1
"Jangan Mas...! aku tidak pa-pa. Kamu pergi saja, usah terlanjur janji juga, gak enak nantinya..."
"yaudah...kamu makan malamnya di sini atau di bawa? kalau mau disini, biar aku suruh pelayan nganterin makanan kesini."
"Di bawa aja deh Mas," ujar Veli, dengan sigap Dewa kembali menggendong istrinya untuk ke meja makan, dia sadar karena ulahnya istrinya kesakitan saat berjalan.
Dewa mendudukan di kursi meja makan, di sana sudah ada Dewi yang nampak sudah menyantap makanannya.
"Ngapain dari tadi di kamar terus? ini juga kak Veli kok di gendong, Kak Dewa tidak berbuat kekerasan kan tadi ke kak Veli, awas aja kalau berani aku aduin ke Mama..." cerocos Dewi, dari siang tadi Dewi tidak mendapati Kakak dan Kakak iparnya itu keluar dari kamar, membuat dirinya penasaran apa aja yang di lakuakan suami istri itu di dalam kamar seharian.
"Kenapa kamu menuduh Kakakmu sendiri seperti itu...kamu sama saja seperti Bima. Suka kepo dan suka nuduh orang sembarangan...!"Sewot Dewa, tadi di kantor Bima menuduhnya seperti itu, sekarang adiknya juga sama. Apakah tampangnya, terlihat seperti tampang seorang suami yang suka melakukan kekerasan.
"Aku kan cuman nanya, gitu aja sewot...!" ketus Dewi.
"Ck, jelas-jelas kamu menuduhku tadi. Sudah lah malas meladeni adik laknat sepertimu. Mending aku pergi sekarang...!"ujarnya tak kalah ketus.
"Aku pergi dulu ya sayang..." Dewa mengecup bibir istrinya sebelum pergi, Veli yang dari tadi tampak bengong menyaksikan perdebatan sepasang Kakak Adik itu pun, tersenyum.
"Hati-hati Mas..."ujarnya sambil tersenyum malu karena di cium di depan adik iparnya.
"Sial...pemandangan macam apa ini...!" gerutu Dewi dalam hati, menyaksikan adegan uwu di depannya.
TBC
__ADS_1