Tiba Tiba Istriku Cuek

Tiba Tiba Istriku Cuek
Bab 137


__ADS_3

Dewa menatap dengan sinis pada bayinya yang tengah menyusu. Dia tidak menyangka jika bayinya itu merebut benda yang selama ini menjadi favoritnya. Lihatlah mulutnya yang bergerak-gerak menghisap dengan kuat itu.


"Mami kenapa dia juga menyusu disitu? Itukan punya Papi, sudah Papi hak pateni. Kenapa dia merebutnya?"


"Bayiku juga berhak dan dia lebih membutuhkannya," ujar Veli dengan mengecup kening putranya.


"Heh... Bayi kingkong. Tidak malu apa berbicara seperti itu didepan orang lain? Sama anak sendiri kok nggak mau ngalah, dasar Ayah durhakim... Lebih baik, cepat beri tahu kita siapa nama keponakanku ini," sahut Dewi dengan kesal.


"Ck! Pokoknya jika dia menyusu, aku juga harus ikut. Itukan ada dua, satu aku... Satu lagi dia. Adil kan," ucap Dewa dengan santai.


"Papi...!!" Pekik Veli ingin sekali rasanya menyumpal mulut sang suami dengan kantung infus.


"Dasar sinting...!!" Seru Diki yang tengah duduk disofa seberang sana. Yang lainnya hanya bisa menggeleng mendengar ucapan Dewa yang tidak difilter itu.


"Sudahlah Kak, siapa nama keponakanku ini," geram Dewi yang sedari tadi sudah penasaran dengan nama sang keponakan, namun Dewa tidak menggubrisnya.


"Karena dia nyebelin sudah merebut milikku, kuberi nama dia Petrik," ucap Dewa menatap penuh ejek pada anaknya.


"Astaga Kak Dewa yang benar saja... Ganteng begini mirip Sehun EXO mau dikasih nama si bintang laut warna pink itu. Memang Bapak gila, nistain anak sendiri..." Cerocos Dewi.


"Papi jangan begitu. Mau kalau bayi kita nyari Bapak baru yang lebih waras, hah!!" Lama-lama Veli juga kesal sendiri dengan suaminya yang semakin menyebalkan itu.


"Nggak mau Mami..." ujar Dewa dengan cemberut.


Sedangkan ke-empat pria yang duduk disofa sudah tertawa terbahak bahak membayangkan anak Dewa diberi nama Petrik.

__ADS_1


"Tidak sekalian diberi nama Plankton saja..." sahut Diki dengan tertawa ngakak, Dewa hanya menatap sinis saja.


"Yang serius...!!" Seru Veli dengan ketus.


"Iya... Iya," ujarnya dengan cemberut. "Namanya Kalandra Madava Raharja. Gimana, bagus kan?" lanjutnya seraya mengambil alih putranya yang sudah selesai menyusu dan terlelap kembali.


"Wahhh... Bagus juga namanya! Lihatlah dia tersenyum, sepertinya dia menyukai namanya," seru Dewi yang melihat keponakannya menyunggingkan senyum tipis.


*


*


*


Kelahiran Kalandra Madava Raharja disambut dengan suka cita oleh keluarga Dewa dan Veli, terlebih dia adalah cucu pertama dari dua keluarga itu. Pemegang tahta cucu kesayangan.


"Ya ampun Pa... Cucu kita ini sangat mirip sekali dengan Dewa sewaktu bayi," ujar Mama Arumi mengelus lembut pipi gembul cucunya yang berada di dekapannya.


"Iya Jeng, sampai-sampai Veli tidak kebagian sedikitpun," sahut Buda memeluk tubuh putrinya yang tengah bergelayut manja padanya. Veli hanya cemberut mendengarnya, karena memang putranya itu lebih dominan seperti Bapaknya dibanding dirinya. Padahal dirinyalah yang mengandung dan melahirkannya.


"Jelas dong, Dewa kan yang paling bekerja keras dalam membuatnya. Tentu saja puteraku mirip denganku," ujar Dewa tanpa malu, dan mendapatkan hadiah geplakan dari sang Papa. Sok-sokan bicara seperti itu, padahal dia sering kali merasa iri dan cemburu pada putranya itu, karena menurutnya putranya itu telah merebut perhatian sang istri darinya.


"Ngomong-ngomong Dewi dan Bima kemana? " Tanya Papa Wiguna yang tidak melihat Dewi dan menantunya.


"Dewi dan Mas Bima lagi keluar, katanya Dewi lagi ngidam pengen beli bando dinosaurus yang ada lampunya," jawaba Veli. Papa Wiguna hanya tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Sepertinya kalian akan mendapatkan cucu perempuan," sahut Ayah.


Malam ini Veli berbaring nyaman di atas dada telanjang Dewa yang bidang. Dewa mendekap erat tubuh istrinya dan sesekali memberikan kecupan mesra pada kening sang istri. Sementara tangan yang satunya mendekap beda favoritnya yang kini harus ia bagi pada sang putra.


"Mami kenapa dia semakin hari semakin besar?" Tanya Dewa dengan meremas lembut benda favoritnya yang bertambah gemoy itu.


"Akhh. Papi jangan diremas gitu, ngilu tau... Dia bertambah besar ya karena ada ASI-nya untuk diminum Kala..."


"Ck! Kala terus... Kala terus. Papi juga pengen coba dong..." Dewa merasa kesal lagi-lagi ia merasa kalah Dengan Kala, anaknya.


"Tidak boleh..." omel Veli dengan menarik tangan sang suami dari dadanya, lantaran tangan suaminya itu semakin nakal.


"Mami terimakasih sudah hadir dihidup Papi... Terimakasih sudah bertahan untuk terus disamping Papi... Terimakasih sudah melahirkan jagoan kita... Dan Maaf jika dulu Papi sering menyakiti hati Mami. Mungkin kata maaf tidak cukup untuk menebus segala rasa sakit yang Papi torehkan pada hati Mami... Katakan apa yang harus Papi lakukan untuk menebus semua kesalahan Papi..." Ujar Dewa membelai lembut pipi sang istri dengan mata yang berkaca-kaca.


"Papi hanya cukup menebusnya dengan tetap mencintai Mami dan anak-anak kita selamanya... Jangan pernah Papi menduakan Mami dan jadikanlah Mami sebagai wanita satu-satunya yang akan menemani Papi sampai tua nanti," ujar Veli dengan menatap dalam mata suaminya.


"I will do it without you asking baby... Yang Papi takutkan justru Mami yang akan meninggalkan Papi. Papi bisa gila jika itu terjadi,"


Dewa mengukung tubuh sang istri dibawanya dan menatap istrinya itu dengan penuh cinta.


"I love you very much now and forever..." ucap Dewa lalu ******* bibir istrinya dengan penuh cinta, Veli langsung mengalungkan tangannya dileher Dewa dan membalas ciuman mesra suaminya.


"I love you more Papi..." balas Veli setelah ciuman mereka terlepas. Dewa tersenyum manis lalu memangut kembali bibir istrinya dengan panas.


The end.

__ADS_1


Akhirnya cerita ini sudah fiks tamat ya teman-teman. Maaf jika tamatnya tidak sesuai dengan ekspektasi bestie-bestieku. Terimakasih karena sudah berkenan membaca ceritaku yang receh ini. Aku minta maaf jika selam ini jarang sekali update dan membuat kalian kesal.


Lope you sekebon untuk semuanya 😘😘😘😍😍😍.... Nantikan cerita-cerita receh author selanjutnya.... Bay....bay😭😭😭


__ADS_2