
"Semoga nanti tidak ada yang membahas tentang kamu yang selalu menjelekkan Veli di hadapan mereka Wa...bisa gaswat nati. Tapi aku tidak yakin." Gumam Bima dalam hati yang sudah menerawang jauh tentang apa yang akan terjadi di pesta nanti. Sedangkan Dewa dia tidak sampai kepikiran hal itu, yang ada di pikiranya sekarang hanya akan mengajak istrinya ke pesta pernikahan temanya dan memperkenalkan Veli sebagi istrinya.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu, pekerjaanku masih banyak." Bima memang gesrek namun, kalau soal pekerjaan dia sangat kompeten dan disiplin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mendadak sekali undangannya, apa istriku punya gaun untuk pergi ke pesta? Selama ini kan aku tidak pernah mengajaknya ke pesta," gumam Dewa, sembari membaca undangan pernikahan tersebut.
"Aku tanya saja deh, dari pada ribet entar." Bergegas Dewa menghubungi sang istri tercinta.
Dewa mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Veli, pada deringan pertama langsung di angkat oleh Veli.
"Halo Mas...!" Suara lembut terdengar di ujung telfon.
"Halo sayang, kamu lagi apa sayang?" Tanya Dewa berbasa-basi sambil menempelkan ponselnya di telinga dengan tubuh yang bersandar di kursi kebesarannya.
"Aku lagi di makeup ini Mas. Kenapa?" Wanita itu saat ini duduk di depan meja rias, sedang di makeup oleh makeup artis sebelum pemotretan, untuk menyempurnakan tampilanya di depan kamera.
"Kamu punya gaun gak untuk ke pesta? Soalnya nanti malam aku mau ngajak kamu ke acara pernikahan temanku," jelas Dewa pada intinya.
"Eemmm...sepertinya sih punya," jawab Veli.
"Beneran? Gimana kalau nanti siang kita beli aja yank, sekalian kita makan siang berdua di luar. Kita kan belum pernah jalan berduan." Mendadak Dewa tersadar bahwasanya selama mereka menikah, tidak sekalipun mereka pernah jalan berdua meskipun hanya sekadar makan di luar ataupun belanja bersama. Itu semua karena Dewa yang tidak pernah mau mengajak istrinya untuk tampil di publik. Alasannya karena malu dan tidak mau semua orang tau bahwa Veli adalah istrinya, walaupun semua orang mengetahui jika Dewa sudah menikah namun tidak tau siapa wanita yang di nikah itu.
"Tidak usah Mas, kemarin aku beli beberapa gaun sama Dewi dan belum pernah aku pakai, jadi pakai itu saja," Jawab Veli yang memang baju-baju yang pernah ia beli dengan Dewi masih baru dan belum ia pakai sama sekali, apalagi Dewi juga menyuruhnya membeli beberapa gaun yang memang cocok di pakai ke acara pesta.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu terserah kamu sayang...aku lanjut kerja biar bisa pulang cepat. Kamu jangan capek-capek dan jangan macam-macam, kalau sudah pulang langsung pulang, jangan ke---"
"Keluyuran..."Potong Veli, yang memang sudah hafal dengan apa yang akan di ucapkan oleh suaminya itu.
"Nakal ya kamu...yasudah aku matikan ya," ujar Dewa dengan terkekeh.
"Iya Mas, semangat kerjanya...!" Ujar Veli sebelum panggilan terputus.
Setelah acara telefonnan dengan sang suami terputus, wanita cantik itu sedang mendumel.
"Huhhh...posesif elit ngomong cinta sulit. Gengsi parah jadi orang...!" Dumel Veli, dia berharap Dewa akan mengucapkan I love you, atau kata-kata yang romantis sebelum memutuskan telfonnya, namun itu semua hanya harapan saja, yang ada malah ia di beri petuah, tidak boleh ini tidak boleh itu, membuatnya kesal saja.
"Ya begitu lah Vel laki-laki, memang suka gengsi padahal ni ya, dia itu sayang dan cinta banget tapi gengsinya segede gunung krakatau. Contohnya Mas Reza dia tuh sebenarnya suka sama aku, tapi sok jual mahal...!" Celetuk Mery yang mendengar dumelan Veli, dengan suara khas laki-laki yang di buat seperti perempuan. Laki-laki gemulai itu memang sudah akrab dengan Veli, karena dialah yang merias Veli setiap kali wanita itu pemotretan, di tambah Mery juga teman dari Nessa.
"Amboyyy...terimakasih kamu dan Nessa memang yang terbaik selalu mendukungku," ujar Mery tersenyum senang.
Sementara di tempat lain, seorang laki-laki tampan dengan sejuta pesona yang dapat memikat semua wanita hingga rela melempar tubuhnya untuk di nikmati oleh laki-laki itu dengan cuma-cuma tengah fokus dengan laptopnya, merasakan telinganya mendadak panas.
"Duh...telingaku kok tiba-tiba panas. Siapa pula yang sedang ngomongin aku? Pasti para pacar-pacarku yang kangen dengan goyanganku nih, atau jangan-jangan malah jodohku," ucap Reza seraya mengusap-usap telinganya dengan wajah semringah.
"Wah, jangan-jangan beneran jodohku nih...yahkinlah aku. Duh tidak sabar pengin jumpa jodoh terus nikah dan buat anak tiap hari..." Lanjutnya dengan wajah berbinar-binar membayangkan hal mesum.
Duh si Reza ini tidak tau saja siapa yang sedang mengosipkanya itu, pasti dia akan menarik ucapanya yang menganggap itu adalah jodohnya.
Malampun tiba. Di sebuah ruang keluarga terdapat dua sosok laki-laki tampan yang tengah duduk dengan bosan. Bagaimana tidak bosan, mereka sudah duduk sekitar satu jam lebih untuk menunggu sang pujaan hati masing-masing yang tengah bersiap, namun tak kunjung selesai-selesai entah apa saja yang di lakukan kedua wanita itu.
__ADS_1
"Aduh buset srepet...lama banget mereka. Pada ngapain sih?"Tanya sosok laki-laki tampan, laki-laki itu terlihat keren dan gagah dengan setelan jaz berwarna silver yang membalut tubuhnya.
"Tau tuhhh, udah telat nih kita,"Jawab laki-laki tampan yang tidak kalah mempesonanya dengan setelan jaz berwarna hitam, laki-laki itu terlihat tampan dan berkharisma dengan wajah dinginya.
Kedua laki-laki itu tidak lain dan tidak bukan adalah Dewa dan Bima, yang sedang menunggu Veli dan Dewi bersiap hendak menghadiri acara pernikahan Aldi teman Dewa dan juga Bima.
Tab tab tab
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuruni tangga, sontak membuat kedua laki-laku yang terlihat jengah itu langsung menoleh ke arah tangga.
Terlihat sosok wanita cantik yang tengah mengenakan gaun berwarna hitam dengan panjang di atas lutut dan atasan terbuka memperlihatkan dada putihnya, di belakang gaun terdapat ekor panjang yang mengembang. Wanita itu terlihat glamor dan sexy.
"Hay...bagaimana penampilanku?" Tanya Dewi dengan berpose ala-ala model. Ya, wanita itu adalah Dewina.
Kedua laki-laki itu hanya melongo melihat penampilan Dewi, yang terlihat agak berlebihan untuk ukuran pergi ke kondangan menurut mereka, pantas saja lama.
"Sa-sayang kamu pakai ini pergi ke kondangan?" Tanya Bima ragu seraya menghampiri Dewi dan meneliti penampilan sang kekasih.
"Iya, bagaimana cantik kan?"Jawab Dewi dengan tersenyum bangga.
"Ca-cantik kok..." Bima hanya bisa pasrah tidak berani untuk protes ini itu, takut sang kekasih ngambek dan tidak jadi ikut dengannya.
"Waduh bagaimana ini, kalau penampilannya seperti ini bisa-bisa Dewi di sangka biduan lagi, alih-alih tamu undangan," Gumam Bima dalam hati saat melihat penampilan cetar sang kekasih.
TBC.
__ADS_1