Tiba Tiba Istriku Cuek

Tiba Tiba Istriku Cuek
Bab 99


__ADS_3

Bima terus saja menyeret Jeenika, tidak perduli jika wanita itu meraung-raung, tidak perduli bila kelakuannya itu menjadi tontonan para karyawan. Ini semua sangat pantas didapatkan oleh wanita tidak tahu diri seperti Jeenika, bisa-bisa dia dengan tidak tahu malunya masih menggoda Dewa padahal jelas-jelas dulu ia telah meninggalkan Dewa dan lebih memilih pria tua bangka.


"Lepas...lepas... brengsek!!!" Teriak Jeenika, dengan mencengkram erat tangan Bima yang menjambak rambutnya. Sumpah demi apapun rasanya begitu menyakitkan, seakan-akan rambutnya itu hendak lepas dari kulit kepalanya. Belum lagi tubuhnya yang sudah melepuh karena tersiram kopi dan coklat panas milik Veli.


Bima sengaja menulikan pendengarannya. Dengan tanpa belas kasih Bima langsung membuang tubuh Jeenika dengan kasar hingga terjerambah, ketika sudah di depan perusahaan Dewa.


brukk


"Akhhh... brengsek kamu Bima...!!!" Teriak Jeenika, wanita itu mengadahkan pandangannya menatap benci Bima yang berdiri menjulang di depannya.


"Diam kamu...!!! Aku peringatkan, jangan pernah lagi kamu menginjakkan kakiku di perusahaan ini. Dan jangan pernah lagi kamu coba-coba untuk mengganggu hubungan Dewa dan Veli lagi...!!!" Bentak Bima dengan berjongkok dan mencengkram rahang wanita itu.


"Lepas...!!!" Bentak Jeenika dengan menepis kasar tangan Bima yang mencengkram rahangnya, ia lantas berdiri dengan susuh payah dan menatap sinis Bima.


"Memangnya kamu siapa berani sekali melarangku untuk datang kesini? Ingat Bima, kamu itu hanya karyawan di sini. Kamu tidak lebih dari kacung Dewa, jadi tidak usah berlagak menjadi pemilik perusahaan ini, dengan melarang-larang ku untuk datang kesini..." Ucap pedas Jeenika dengan menunjuk-nunjuk wajah Bima.


Deg


Bima hanya bisa terdiam mendengar ucapan Jeenika yang begitu menohok hatinya. Memang ia adalah karyawan disini, namun saat Jeenika menyebutnya kacung Dewa, entah kenapa hati Bima begitu sakit mendengarnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu diam? Hahahaha...Bima...Bima. Ingat kamu itu hanya orang miskin dan rendahan yang dipungut oleh Dewa. Kamu harus menyadari derajatmu itu, tidak usah menjadi orang yang sok berkuasa di perusahaan Dewa. Mentang-mentang kamu menjadi sahabat Dewa, lantas kamu bisa seenaknya ngalarang- larang orang untuk datang ke sini. Tau dirilah jadi orang...!!!" Ujar Jeenika dengan menatap rendah dan hina Bima.


Bima hanya bisa terdiam dan mengepalkan tangannya menahan segala amarah mendengar hinaan demi hinaan yang dilontarkan oleh Jeenika. Mau melawan pun percuma, karena yang diucapkan oleh Jeenika benar adanya, tidak seharusnya ia melarang-larang Jeenika karena ia tidak punya wewenang apapun di perusahaan ini, ia hanya karyawan seperti yang lainnya.


Namun saat Jeenika hendak melontarkan ucapannya lagi, tiba-tiba entah dari mana datangnya seorang wanita cantik yang langsung menerjang tubuh Jeenika.


Wanita itu langsung menampar mulut Jeenika berkali-kali dan juga menjambak rambut Jeenika yang sudah terlihat kusut dan rontok itu.


plak plak buggg


"Sialan...!! Berani sekali mulut busukmu ini menghina Kak Bima. Dasar mulut sampah tidak pernah di sekolahkan...!!!" Bentak Dewi dengan penuh amarah.


"Auww... Dewi lepas sakit. Apa yang kamu lakukan, aku tidak menghinamu ya. Jadi jangan ikut campur sialan, akhhh...!!!" Jeenika yang belum siap tidak bisa menghindar dari serangan ganas Dewi, wajah dan badannya serta rambutnya terasa begitu sakit dan perih. Memang sial ia hari ini, ia sudah dianiaya oleh Dewa dan Bima lalu sekarang Dewi pun juga menganiaya dirinya.


Dewi datang ke kantor Dewa dengan maksud ingin meminta maaf kepada Bima atas kejadian kemarin. Ia telah sadar, tidak seharusnya ia berhubungan dengan pria lain walaupun sebagai teman, Dewi benar-benar menyesal dan merasa bersalah, seolah dirinya tidak menganggap Bima sama sekali sebagai calon suaminya.


Namun kejadian yang ia lihat di depan kantor membuat seorang Dewi murka seketika, dimana calon suaminya dihina habis-habisan oleh wanita ular yang sangat dibencinya itu. Tanpa basa-basi Dewi langsung menampar, menjambak bahkan mencakar Jeenika tampa ampun.


Sementara Bima hanya bisa melongo melihat sang kekasih yang tiba-tiba datang dan langsung menghajar Jeenika membabi-buta. Hati Bima yang sebelumnya penuh dengan amarah seketika menghangat melihat Dewi membelanya dan dengan gamblang menyebutnya calon suamiku. Seketika kekesalan kepada Dewi sirnah seketika dan tergantikan menjadi rasa haru dan cinta yang semakin menggebu-gebu. Eaaakkkkk...😂

__ADS_1


Jeenika begitu kaget mendengar Dewi menyebut Bima sebagai calon suaminya. Wanita yang sudah babak belur itu seakan tidak kapok, mulutnya yang beracun itu masih sempat-sempatnya menghina Dewi dan Bima.


"What...!!! Jadi Bima ini adalah calon suamimu? Cih...! Selera Kakak dan Adik sama-sama rendahan, sukanya sama orang miskin dan rendahan...!!!" Cemoohan dari Jeenika kali ini membuat Dewi langsung berang, lantas Dewi langsung mendorong Jeenika hingga terjerambah di lantai. Dengan bar-barnya Dewi menduduki perut Jeenika dan langsung menghajar wajah Jeenika dengan bogemnya. Jeenika berusaha melawan dengan menjambak dan mencakar wajah Dewi, namun Dewi tidak peduli ia begitu marah pada wanita itu.


"Sudah sayang...cukup...!!!" Teriak Bima dengan berusaha mengangkat tubuh Dewi dari atas tubuh Jeenika ketika melihat Jeenika sudah mulai lemah dan kehilangan kesadarannya.


"Lepas...aku masih belum puas menghajar wanita sampah ini...!!!" Dewi mencoba memberontak dari pelukan Bima, rasanya ia belum puas menghajar Jeenika, walaupun wanita itu sudah tidak sadarkan diri.


"Security bawa wanita itu kerumah sakit..." titah Bima pada security yang sedari tadi hanya bisa menonton tampa berani ikut campur. Begitupun dengan para karyawan yang juga berkerumun menonton, seolah-olah mereka menonton acara laga secara live.


Dua security itu lantas mengangkat tubuh Jeenika yang sudah pingsan itu dengan tampilan yang sangat kacau dan memprihatinkan.


"Ingat, kalau sampai wanita itu datang kesini lagi, langsung getok saja kepalanya pake pentungan Bapak itu..." ujar Dewi pada security itu. Kedua security itu hanya bisa menggangguk kaku dan langsung membawa tubuh Jeenika kerumah sakit terdekat.


Bima langsung membawa Jeenika masuk kedalam, dan para karyawan pun membubarkan dirinya masing-masing. Beruntung tidak ada karyawan yang merekam kejadian tadi, entahlah mungkin mereka tidak sempat.


Bima langsung mendekap erat tubuh Dewi ketika sudah sampai di ruangannya. Pikirannya pun berkecamuk setelah mendengar ucapan Jeenika perihal derajatnya yang hanya orang biasa. Ada rasa minder yang hadir dihatinya. Apakah ia bisa membahagiakan Dewi ketika sudah menjadi istrinya nanti, sedangkan gaya hidupnya tidak semewah gaya hidup keluarga Raharja yang bergelimang harta. Meskipun keluarga Raharja dan Dewi sendiri tidak mempermasalahkan derajatnya, hanya saja ia merasa minder sendiri.


"Jangan pernah dengarkan ucapan wanita iblis itu. Aku mencintai Kak Bima itu tulus, tanpa memandang siapa Kakak. Awas saja kalau Kak Bima sampai meninggalkan ku hanya karena ucapan Jeenika wanita iblis itu..." Peringatan Dewi, ia tahu betul apa yang sedang dipikirkan oleh pria yang memeluknya dengan erat itu, tak lupa pucuk kepalanya yang terus dikecupi olehnya.

__ADS_1


"Tidak akan sayang. Terimakasih kamu sudah mau menerima pria sederhana ini untuk menjadi suami kamu..." Cicit Bima dengan mata yang berkaca-kaca. Hatinya masih merasa sedih ketika mengingat hinaan yang di lontarkan oleh Jeenika padanya.


TBC.Jangan lupa beri like command and vote biar author tambah semangat love you all...


__ADS_2