
warning mengandung adegan 21+ 🙈
"Baiklah aku akan mebuatmu Hamil..." ujarnya dengan seringai di bibirnya.
*
*
Veli terdiam, dia cukup peka dengan apa yang Dewa ucapkan apalagi melihat seringai di bibirnya itu.
Dewa majukan wajahnya hendak menc*um bibir Veli, namun Veli menahan dada bidang suaminya.
"Apa yang Mas lakukan...? ini kantor bagaimana jika ada yang masuk?"
"Tidak akan ada yang berani, sayang. Ayolah..." Dewa berucap dengan suara yang terdengar berat dan tatapanya sudah berkabut dengan gairah.
Veli mengalihkan pandangnya, ia merasa sangat malu ini yang pertamakali baginya. Masak di lakukan di kantor, siang bolong begini.
__ADS_1
Tangan kekar Dewa terangkat menyentuh dagu Veli, agar menatap ke arahnya. Dewa menatap dalam bola mata jernih istrinya itu. Yang masih terdapat sisa sisa air mata. "Mau yaa.....?"
Veli mengalihkan pandangnya, demi apapun dia sangat malu saat ini. Veli tidak bisa menolak, karena memang itu sudah menjadi kewajibannya sebagai istri, terlepas Dewa belum mencintainya. Veli mengangguk dengan malu-malu, dan menundukan wajahnya.
Mendapatkan persetujuan dari istrinya, membuat Dewa tersenyum, ia sontak langsung memangut bibir yang sudah menjadi candu baginya itu, dengan penuh kelembutan.
Suara decapan bibir terdengar di seluruh ruangan, untungnya ruangan itu kedap sura. Tangan Dewa merayap membuka resleting dress bagian belakang Veli, lalu dia melepasnya hanya sebagian atas saja. Memperlihatkan dua gundukan padat yang masih terbungkus rapat itu, dengan cepat tangan Dewa melepas pembungkus dua gundukan itu, dan melemparkanya ke sofa.
Dewa beralih melahap pucuk berwarna pink kecokelatan milik istrinya, mengulumnya dengan rakus, dia sudah seperti seorang bayi yang sedang kehausan. Sementara tangan satunya bergerak aktif mer*mas agresif gundukan satunya.
Desa han lembut lolos dari bibir Veli, tangannya mere mas rambut Dewa, yang tengah asik dengan kegiatannya menjadi bayi. Darahnya berdesir hebat, tubuhnya memanas merasakan geli dan nikmat yang belum pernah ia rasakan. Namu Veli segera tersadar, ini pertama kali untuknya dan suaminya. dia butuh tempat yang nyaman.
"Mashhhh...jangan di sini!!!" ucap Veli sambil berusaha menahan desa hannya.
Dewa yang sedang asik di pucuk istrinya pun tersadar, ini pertama kali untunya dan juga istrinya, mereka butuh tempat yang pas. Dewa melepas hispanya, dan beralih meraup bibir istrinya itu.
Dewa menggendong Veli koala tanpa melepas tautan bibir mereka, lelaki itu segera membawa istrinya ke kamar pribadi yang ada di ruanganya, membuka pintu dengan tergesa-gesa dan menutupnya asal dengan menggunakan kakinya.
__ADS_1
Dewa merebahkan tubuh Veli atas ranjang king sizenya, menatap penuh minat dan cinta secara bersamaan. Hingga kini Dewa mengikis jarak, menyatukan bibir mereka dalam pangutan yang memabukan. Tangan Dewa bergerak meloloskan pakaian yang masih melekat di pingang Veli. Hingga tubuh Veli kini telah polos, sanggat begitu menggoda di mata Dewa.
Sontak membuat Veli merona malu, refleks tangannya menutupi aset berharganya.
"Malu Mas..." ucapnya lirih, saat Dewa
melepas pangutan bibirnya.
Dewa tersenyum gemas melihatnya, disingkirkannya tangan istrinya. kini bibirnya beralih menelusuri dengan lembut setiap inci selulit wanita itu, memberikan banyak tanda cintanya di tubuh yang mulai detik ini akan menjadi candu baginya.
Sementara Veli hanya mampu mengeliat, menikmati sentuhan yang memabukan. Dan sesekali lenguhan lembut nan indah lolos dari bibir wanita itu
"Mas Dewa...." erang wanita itu, seraya mere mas rambut Dewa, kala merasakan bibir dan lidah Dewa menyapu lembut inti tubuhnya, sesekali Dewa memberikan gig*tan kecil disana, yang membuat Veli merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan. Jangan lupa rasa malu yang menyelimutinya karena perlakuan Dewa.
"Mas....sudah!!!!" pintanya, namun tangannya bergerak menekan lebih dalam kepala Dewa.
Veli mende sah hebat, tubuhnya menggelinjang, dan tanganya mencengkam spre, saat dia telah mendapatkan pelepasan untuk yang pertama kalinya, cairan hangat pun keluar dari miliknya.
__ADS_1
Dewa tersenyum saat istrinya mencapai pelepasan, dia mencium sekilas lembah itu. Ia bergegas melepas pakaian yang menempel di tubuhnya, melemparnya ke sembarang arah, hingga kini tubuhnya polos seperti Veli.
TBC.