
Matahari pagi muncul mulai menampakkan sinar hangatnya. Cahayanya masuk di sela-sela sudut kamar yang begitu tampak berantakan dengan kedua makhluk yang masih tertidur di atas ranjang, saling berpelukan.
"Masss..." Rengek seorang wanita yang merasakan milik sang suami masih betah bersemayam di inti miliknya, bergerak-gerak yang membuatnya merasa kegelian.
"Apa sayang," jawab Dewa yang semakin mengeratkan pelukanya, dan menancapkan miliknya semakin dalam. Dini hari tadi, Dewa yang katanya menyuruh Veli untuk istirahat, justru dia sendiri yang mengganggu dan berulah. Veli yang baru memejamkan matanya lagi sekitar 15 menitan, terpaksa membuka matanya kembali, manakala merasakan ada yang bergerak-gerak di dadanya. Sontak matanya melebar sempurna ketika mendapati suaminya yang tengah menyusu seperti bayi, di gundukan kenyalnya. Tubuh bagian atasnya sudah polos, tentu saja itu adalah perbuatan Dewa yang mesum membuka piyama atasnya, Dan si pelaku hanya cengengesan saja saat sang istri menjewer telinganya, justru dia makin brutal dengan kegiatan menyusunya. Apalagi posisi mereka tidur miring saling berhadapan, makin betah saja si Dewa.
"Mas, lepas aku mau mandi, pagi-pagi udah rusuh saja..." Veli mencoba melepaskan dirinya sambil menahan desaahanya saat merasakan di bawa sana bergerak-gerak dan mulut suaminya yang tidak bisa diam di dadanya. Akan tetapi suaminya itu sangat nakal, justru malah menggodanya dengan mengerak-gerakan pinggulnya dengan pelan, dengan tangan yang mereemas bokong miliknya.
"Aku mau lagi sayang..." ujar Dewa, dengan mengecup bibir istrinya, setelah melepas mulutnya dari dada sang istri.
"Nggak! Aku udah capek banget ini," jawab Veli dengan kesal.
Dewa hanya terkekeh gemas melihat kekesalan istrinya, justru dia menciumi wajah Veli dengan begitu gemas.
"Sekali lagi sayang," bisik mesra Dewa dan tanpa aba-aba langsung mebalik posisi sang istri untuk miring membelakanginya, ia mengangkat satu kaki istrinya dan langsung melakukannya dengan cepat.
Veli hanya bisa pasrah dan menikmati permainan suaminya, yang tidak ada puas-puasnya hingga setelah hampir satu jam mereka melakukan olahraga pagi. Dewa pun menyudahi permainannya dan menggendong sang istri ke kamar madi, untuk mandi bersama. Di dalam sana mereka tidak hanya mandi saja, Dewapun kembali melakukan hal itu seolah tidak ada puasnya, katanya sih itu adalah penebus hutang karena sudah berpuasa berhari-hari. Hal itu membuat Veli benar-benar merasa lelah dan kesal dengan suaminya.
Setelah sarapan yang terkesan terburu-buru Dewa langsung berangkat menuju perusahaannya, begitu juga dengan Veli yang juga berangkat ke agencynya denga di antar oleh supir yang di berikan oleh Dewa beberapa hari yang lalu sebelum bertengkar, walaupun dia sedikit merasa tidak nyaman dengan keadaan tubuhnya yang kurang sehat pagi ini.
Di kantor
Hari ini Dewa cukup sibuk dan sedikit kerepotan, pasalnya sang asisten dan juga sahabatnya yang biasanya menjadi partnernya sedang izin cuti bertolak ke Bandung mengantar sang pujaanhati mengunjungi orangtuanya selama dua hari.
Untung saja masih ada dua sekretaris yang bisa membantu menghendel pekerjaannya, namun Dewa yang memang kurang suka jika harus bekerja dengan partner perempuan merasa kurang nyaman dan berusaha memberi jarak. Apalagi dua sekretaris tersebut masih muda dan belum menikah.
__ADS_1
"Sialan si kantong keresek goreng itu, dia enak-enakan kencan dengan Dewi, sementara aku bos di sini harus bekerja sendirian. Dewi juga sudah terbiasa pulang sendirian ke Bandung, si Bima pakek segala nganterin pasti mau caper sama Mama dan Papa biar dapat restu. Awas aja kamu...!" Dewa mengerutu tidak jelas merutuki sahabatnya yang mengambil cuti untuk mengantarkan Dewi ke Bandung, sambil jarinya bergerak lincah mengetik sesuatu di laptopnya, selincah bibirnya yang mengomel.
*
*
Sedangkan Veli, yang saat ini sedang break tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan berkunag-kunag, untung saja saat ini dia sedang duduk di kursi depan meja rias.
"Aduh kenapa ini..." gumam Veli, sambil memegang kepalanya yang berdenyut. Pandangannya pun sudah mulai terasa kabur, namun ia masih mencoba untuk tenang dengan mengerjap-ngerjapkan matanya.
Seorang wanita bernama Windi yang melihat keanehan dari Veli seperti orang kesakitan pun, dengan sigap menghampirinya.
"Veli kamu kenapa? Kamu sakit, wajahmu pucet banget?" Tanya Windi dengan panik sambil memegang kedua bahu Veli.
"Kepalaku pusing banget Wind," jawab Veli dengan lemah.
"Ya ampun...Mery...!! Panggil Nessa, Veli kenapa ini...!!!" Teriak Windi saat melihat Veli mulai hilang kesadarannya. Mery tanpa bertanya, langsung berlari secepat kilat memanggil Nessa yang berada di ruangan sebal. Mery yang biasanya berjalan dengan gemulai mendadak menjadi lakik, lantaran sedang panik.
"Wind ak---"
Bruk
"Ya ampun Veli, kamu kenapa Veli. Bangun..." panik Windi yang melihat Veli terkulai di dekapannya, dia mencoba menguncang bahu Veli, namun wanita itu tidak merespon semakin membuat Windi panik. Begitupun teman-teman lainya yang langsung mendekat dan membantu membaringkan Veli yang sudah tidak sadarkan diri itu ke sofa, yang ada di ruang itu.
Taklama terlihat Nessa yang berlari menghampiri sang sahabat dengan wajah paniknya, di ikuti oleh Mery yang sudah ngos-ngosan di belakang Nessa.
__ADS_1
"Ya Tuhan Veli...kamu kenapa kayak gini, cepat bantu angkat ke mobilku, biar aku bawa ke rumah sakit, takut ada yang serius," ujar Nessa, dia sangat khawatir sekali pasalnya di tidak pernah mendapati sahabatnya itu sakit sampai pingsan begini, biasanya hanya panas saja, ia takut Veli sakit serius sampai pingsan begini.
"Biar aku yang menyetir, kamu temenin Veli di belakang," tawar Mery di juga khawatir terhadap Veli. Nessa pun mengiyakan, dan berlari mengikuti orang-orang yang mengangkat tubuh Veli.
Setelah Veli di masukan kedalam mobil dengan kepala di atas pangkuan Nessa, Mery bergegas mencap gas mobilnya, menuju Rumah Sakit terdekat.
"Ness, cepat kamu hubungi suaminya atau keluarganya. Takutnya Veli kenapa-napa," tutur Mery, dengan fokus menyetir.
"Aku nggak punya nomor suaminya, keluarganya juga ada di Bandung. Gimana ini..." jawab Nessa dengan mata yang sudah mengembun, sungguh dia sangat khawatir terhadap sahabatnya itu.
"Pakai ponsel Veli saja, bukannya tadi tasnya kamu bawa," saran Mery, dia cukup tenang dan berusaha berfikir logis di hadapkan dengan situasi seperti ini, khodam Mery pun keluar mendadak dia bersikap seperti pria pada umumnya, dengan tampilannya yang serba pink.
Tanpa basa basi Nessa segera merogoh ponsel Veli yang berada di dalam tasnya. Cukup mudah baginya untuk membuka ponsel Veli, karena Veli tidak mengunci ponselnya.
Nessa segera menghubungi kontak yang di beri nama suamiku, yang ia yakini itu adalah nomor suami Velisa.
Pada panggil pertama, dengan cepat langsung di angkat oleh suami sahabatnya.
Belum sempat Nessa berucap, oarang di seberang telefon yakni suami Veli sudah nerocos mengombal tidak jelas, membuat Nessa begitu kesal dengan suaminya Veli yang cerewet itu.
"WOY...! HALLO...!!" Teriak Nessa dengan kencang, sontak menghentikan cerocossan orang di seberang telefon.
"Aduh biyung, Nessa...jangan teriak-teriak budeg nih kuping Inces," ucap Mery dengan kesal, dia sudah kembali ke model settingan cowok manjalita, cantik jelita dan lemah lembut.
"Sutttt..." bisik Nessa menyuruh Mery diam, saat orang di seberang telefon yang tadinya menye-menye sekarang mendadak menjadi laki-laki yang dingin dan ketus.
__ADS_1
TBC.