Tiba Tiba Istriku Cuek

Tiba Tiba Istriku Cuek
Bab 120


__ADS_3

Setelah mengobrol dengan sang istri Dewa memutuskan untuk turun ke dapur lantaran peruta sudah terasa lapar. Ketika sudah sampai di sana ternyata sang Papa sudah pulang dan terlihat tengah mengobrol santai dengan Bima di meja makan. Rupanya Bima sudah lebih dulu turu, ia juga sama halnya dengan Dewa, perutnya sudah terasa keroncongan.


"Ekhmm... calon mantu sama calon mertua asik banget nih. Ngobrolin apa sih...?"Tanya Dewa dengan candaan seraya mendudukkan tubuhnya dikursi bersebelahan Bima. Sementara sang Papa duduk diujung meja bersebelahan dengan Mama Arumi.


"Anak pungut dilarang kepo..." balas Papa Wiguna tersenyum mengejek Dewa. Bima hanya terkekeh saja melihat Papa Wiguna yang terlihat berwibawa itu ternyata bisa bercanda dan sangat humoris.


"Ck. Mentang-mentang mau punya anak baru. Anak lamanya disia-siakan..."gerutu Dewa.


Mama Arumi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suami dan anak yang sering kali saling meledek.


"Sudah-sudah kita makan. Kalau diteruskan, tidak ada ujungnya. Habis makan langsung istirahat. Kalau masih mau berdebat dilanjut nanti malam saja...!" Omel Mama Arumi yang paham betul dengan tingkah kedua pria kesayangannya itu. Beruntung tidak ada Dewi, pasti Mama Arumi akan semakin pusing dengan ketiga orang itu yang jika sudah berdebat dan saling meledek tidak akan ada ujungnya.


"Baiklah sayang..." jawab Papa Wiguna yang memang manut dan sayang pada istrinya itu.


"Baiklih siying..."ejek Dewa menirukan ucapan Papanya. Papa Wiguna langsung melotot tajam mendapat ejekan dari anaknya itu.


"Dewa!" Tegur Mama Arumi.


Akhirnya setelah melalui drama keempat orang itupun makan dengan tenang. Setelah acara makan Papa, Dewa dan Bima langsung pergi ke kamar masing-masing, mengistirahatkan tubuh yang terasa lelah itu. Hari ini masih pukul 14:37, masih sangat panjang untuk menyambut datangnya malam. Meski begitu mereka tetap memutuskan untuk pergi tidur, kecuali Mama Arumi yang terlihat sibuk kembali di dapur, entah apa yang wanita paru baya itu lakukan.


Begitupun dengan Veli. Wanita hamil itu sudah terkapar di atas ranjang besarnya. Lain halnya dengan Dewi yang justru tengah heboh mencoba baju-baju yang ia beli tadi, yang nantinya akan ia kenakan pergi kekonser. Hingga membuat di atas kasurnya penuh dengan baju-baju dan pernak-pernik lainnya.


*

__ADS_1


Hari sudah berganti gelap, sinar mentari sudah lenyap tergantikan dengan sinar sang rembulan dan semburat bintang yang menghiasi malam.


Malam ini terlihat Dewa dan Kedua orangtuanya serta Bima terlihat sedang berbincang di ruangan keluarga.


"Kenapa kau tidak mengajak istrimu kesini juga Dewa?" Tanya Papa dengan memicingkan matanya. Sebagai orang tua ia selalu dibuat was-was dengan kehidupan rumah tangga yang dijalani oleh putranya itu, terlebih ia dululah yang memaksa orang tua Veli untuk menjodohkan Veli dengan Dewa. Papa Wiguna bukanya tidak tau, akan perlakuan Dewa pada menantunya dulu. Ia sangat amat tahu, hanya saja ia sangat yakin jika putranya itu lambat laun akan menerima istrinya. Dan terbukti sekarang Dewa sudah bisa menerima Veli, bahkan wanita itu sedang hamil sekarang.


"Jangan menatap Dewa seperti itu, Pa. Istriku sedang hamil sekarang. Dan aku tidak mau kalau sampai dia kenapa-napa karena aku ajak perjalanan yang lumayan jauh. Apalagi kehamilan istriku masih sangat muda," terang Dewa yang tidak ingin sang Papa berfikir yang tidak-tidak padanya. Ia sudah berubah bukan lagi Dewa yang dulu.


"Ya, semoga saja." Dewa hanya mendengus mendengar ucapan Papanya yang seperti kurang percaya padanya. Ini juga salah dirinya. Dulu dirinya sering sesumbar malu jika harus pergi-pergi dengan mengajak sang istri yang kampungan itu. Alhasil sekarang orangtuanya sering curiga padanya.


"Mama harap kamu benar-benar berubah Dewa. Ingat kita akan sangat merasa kehilangan jika seseorang yang berada di samping kita itu telah pergi karena kita sia-siakan. Jadi, Mama harap kamu jangan pernah menyia-nyiakan dan menyakiti Veli, terlebih sekarang dia sedang mengandung cucu Mama. Apalagi sekarang Veli sudah jadi model yang cantik dan modis. Akan ada banyak laki-laki di luar sana yang akan siap menerima Veli jika kamu menyia-nyiakan dia," tutur Mama Arumi dengan panjang lebar.


"Ck! Dewa benar-benar sudah berubah Ma. Kenapa kalian tidak percaya sama anak sendiri, sih? Lagian Veli sekarang sudah tidak jadi model lagi, aku tidak mau istriku itu bekerja. Aku mau dia fokus ngurus aku sama anak kita nanti. Hingga tidak ada kesempatan laki-laki diluar sana melihat wajah istriku itu," pungkas Dewa.


Mama Arumi hanya memandang Dewa penuh harap. Semoga saja semua yang dikatakan Dewa itu bukanlah bualan semata.


"Dewi? Apa dia membuat ulah lagi? Masalah apa lagi yang adikmu itu lakukan?" Tanya Papa Wiguna yang terlihat kesal dalam setiap ucapannya.


Dewa merasa tidak suka dengan respon Papanya, terlihat Papanya itu seperti yang menuduh adiknya itu membuat masalah. "Kenapa respon Papa begitu?"


"Ya Apalagi yang akan kamu bahas tentang Dewi, jika bukan tentang kenakalan dan masalah-masalah yang dibuat oleh adikmu itu," jawab Papa Wiguna. Pria paruh baya itu terlihat sudah sangat tertekan sekali dengan sikap anak perempuannya.


"Bukan! Dewa hanya ingin bertanya. Apa benar kalian sering membanding-bandingkan aku dengan Dewi?" Tanyanya dengan menatap serius kedua orangtuanya.

__ADS_1


Kedua pasangan suami istri itu terlihat terdiam mendapatkan pertanyaan seperti itu dari anaknya. Bima sendiri hanya bisa menjadi pengamat. Meskipun yang dibahas sekarang adalah calon istrinya, namun laki-laki itu masih belum bisa mencampuri urusan internal dari keluarga itu. Dirinya masih belum resmi menjadi bagian dari keluarga Raharja.


"Kenapa kalian diam? Apakah benar?"


"Dewa kami hanya bermaksud untuk mendidiknya. Kami ingin Dewi itu sama seperti kamu yang berprestasi dan tidak suka keluyuran tidak jelas. Apalagi keluarga kita tidak ada yang seperti itu..." jawab Mama Arumi yang sedari tadi diam. Sebagai orang tua ia ingin anaknya itu mempunyai perilaku yang baik, terlebih anaknya itu seorang perempuan. Ia juga ingin anaknya itu memikirkan pendidikannya bukan malah keluyuran tidak jelas dengan teman-temannya setiap malam.


"Dewa paham maksud kalian. Hanya saja cara mendidik Dewi itu kurang tepat. Bukanya Dewa sok pintar. Tetapi dengan membanding-bandingkan Dewi dengan Dewa itu bukanlah hal yang bagus. Justru itu akan menimbulkan rasa benci yang tanpa sadar hinggap diantara hubungan persaudaraan. Dia juga akan merasa tertekan dan tidak nyaman dengan keluarganya, sehingga Dewi mencari kebahagiaan diluar sana yang tidak pernah ia dapatkan didalam keluarganya sendiri," tutur Dewa dengan sedikit mengebu-gebu.


"Apa maksudmu Dewa? Apa Dewi..." ucap Papa Wiguna yang mulai paham akan maksud ucapan Dewa.


"Ya..." Lalu Dewa menceritakan semuanya tentang Adiknya itu, ia tidak ingin keluarganya sampai terpecah belah dan tidak menjadi tempat yang hangat dan penuh kasih.


Kedua orang itu tentu saja sangat terkejut dan menyesal. Mereka terlalu fokus mendengar ucapan para kerabatnya tentang Dewi yang banyak tingkah dan membuat malu keluarga, hingga tanpa sadar ia justru merusak mental health anaknya sendiri. Ya selama ini kedua orang itu terlalu mendengarkan ocehan para kerabatnya yang harus mendidik Dewi dengan keras, biar tidak membuat malu keluarga besar Raharja.


"Ya Tuhan, Pa. Ternyata kita selama ini salah. Anak kita seperti itu karena kita sendiri. Mama merasa menjadi orangtua yang tidak pecus, seharusnya Mama merangkulnya disaat semua orang meremehkannya, tapi justru Mama malah ikut menekannya..." ujar Mama Arumi dengan menangis, ia amat merasa menyesal dengan perbuatannya sendiri.


Papa Wiguna hanya bisa terdiam dengan memeluk istrinya yang tengah menangis. Ia juga seharusnya menjadi pelindung untuk anak perempuannya itu. Bukan malah membuat anak perempuannya tertekan dan tidak nyaman dengannya. Pria tua itu seketika tersadar, kenapa Dewi selama ini tidak terlalu dekat dengannya. Ia jadi ingin memeluk dan mencium anak perempuannya itu.


"Setiap orang itu mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Jika Dewi tidak memiliki prestasi di bidang akademik, mungkin dia mempunyai bakat yang lainnya. Jadi Mama dan Papa seharusnya mendukung bakat yang dimiliki Dewi, tidak semua bakat itu melulu tentang pendidikan," tutur Dewa.


"Dan satu lagi jangan suka mendengarkan ucapan orang lain, meskipun itu kerabat kita sekalipun. Kecuali yang baik-baik. Apalagi kerabat Papa itu, suka sekali mengatur hidup orang lain, seakan sudah benar saja hidupnya," imbuh Dewa.


"Baiklah mulai sekarang kami akan mendukung setiap apa yang akan dilakukan Dewi, selagi itu baik untuknya. Tapi, apa bakat yang adikmu punya? Selama ini Papa tidak pernah sekalipun melihat adikmu itu melakukan sesuatu yang bisa disebut bakat?" Papa Wiguna mulai sekarang akan mendukung semua keinginan putrinya itu, ia tidak akan memaksa Dewi untuk mengikuti kursus-kursus pelajaran yang tidak pernah Dewi minta itu. Tetapi disatu sisi ia juga bingung karena selama ini Dewi tidak pernah memperlihatkan bakatnya. contohnya, menyanyi, menari, melukis dan sebagainya. Sepertinya anaknya itu juga tidak bakat dalam hal itu, lalu apa bakat anaknya itu.

__ADS_1


Dewa sontak terdiam, benar juga apa yang dikatakan Papanya. Selama ini Dewi memang tidak terlihat memiliki ketertarikan pada hal apapun yang bisa disebut bakat. Kecuali keluyuran tiap malam. "Iya ya...Dewa juga bingung. Mau mendukung bakatnya, tapi bingung bakat dia apa?" Dewa mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Dirinya merasa malu sendiri sudah berbicara sok bijak, membela Adiknya supaya Adiknya itu tidak ditekan lagi tentang prestasi akademik dan mendukung bakat yang dimiliki Dewi. Namu sekarang ia juga bingung kare Dewi sendiri tidak memiliki bakat yang bisa orang tuanya dukung.


Jangan lupa beri like command and vote biar author tambah semangat love you all...


__ADS_2