
Ke esokan paginya di meja makan.
"Kamu kenapa kak Vel?"tanya Dewi pada Veli yang tampak cemberut, karena tidak biasanya kakak iparnya yang murah senyum itu pagi-pagi sudah cemberut.
"Tidak papa," jawab Veli dengan wajah cemberutnya, sambil melirik sekilas pada Dewa yang duduk di sebelahnya yang tampak tersenyum sumringah sambil menyantap sarapan paginya.
Tentu saja sumringah habis mendapat jatah banya, Tengah malam dia sudah berulah dengan meraba-raba manja tubuh istrinya saat istrinya itu tengah tidur. Veli yang sedang tidur pulas pun terganggu dengan kelakuan Dewa yang meraba-raba tubuhnya bahkan sudah melepas bagian atasnya, dengan terpaksa dan jengkel ia memenuhi keinginan suami mesumnya itu, dan tidak hanya satu kali dirinya harus memuaskan Dewa. Suaminya itu melakukannya sampai pagi, selalu meminta lagi dan lagi seolah tidak pernah puas, jika saja dirinya tidak mengancam akan akan memutilasi burung beo suaminya, mungkin suaminya itu tidak ada niatan untuk berhenti.
"OMG...lihat lehermu kak sudah macam orang panuan saja...!"Seru Dewi yang melihat leher kakak iparnya banyak di penuhi dengan tanda cinta dari Dewa. "Ternyata kau ganas sekali kak..."sindir Dewi kepada kakanya, mendengar ocehan adik iparnya rasanya Veli ingin menghilang saja malu sekali rasanya, kenapa dirinya ceroboh sekali tidak menutupinya sebelum keluar kamar tadi, suaminya juga kenapa tidak memberi tahunya tadi, tidak mungkinkan tidak lihat.
"Kenapa? kamu iri? cari suami sana...upps, siapa juga laki-laki yang mau sama cewek bar-bar dan bandel seperti kamu, pasti pada kabur semua sebelum nikahin kamu..." ejek Dewa pada adiknya.
"Dih...!! aku ini cantik dan sexy, pasti banyak yang mau sama aku. Bandel-bandel gini aku masih bisa jaga kehormatan aku. Asal kak Dewa tau banyak di luar sana cowok-cowok yang pada ngejar-ngejar aku...aku tinggal pilih saja mana yang aku mau,''ujar Dewi dengan sombongnya, melirik sinis kearah Dewa.
"Halah pasti para jamet semua..." ejek Dewa lagi.
__ADS_1
"Kalian itu kenapa sih, berantem terus heran deh...!!" gerutu Veli kesal, mendengar organ kedua orang itu yang tidak pernah aku selalu saja berdebat dimanapun dan kapanpun.
"Kak Dewa tuh, meremehka ku sekali...!!! tidak tau saja teman-teman cowokku pada tampan-tampan dan keren-keren, kak Dewa kali yang jamet. Kalau kak Veli mau, aku bisa kenalin mereka sama kak Veli, masih muda dan tampan tentunya, tidak bosan apa liat muka kak Dewa muluk yang kayak tembok trotoar, sekali kali cuci mata liatin cogan di luar sana..." cerocos Dewi mengebu ngebu.
"Kau...!!! jangan berani-berani memengaruhi istriku. Apalagi mencoba mengenalkan teman -teman cowokmu yang jelek-jelek itu, istriku hanya boleh melihat aku...!!!" ketus Dewa menatap tajam Dewi, seraya memeluk possesif Veli yang duduk di sampinya. Veli hanya memutar bola matanya malas sambil mengunyah makanannya.
"Kak Veli nanti kita ke Mall yuk...kebetulan hari ini aku tidak ada jam kuliah, kemarin kan kita tidak jadi gara-gara si onoh noh..."ajak Dewi, sambil menatap sinis kakanya yang sedang mendusel-ndusel kepada istrinya.
"Boleh...!" jawab Veli dengan semangat, dia belum pernah sama sekali pergi jalan-jalan dengan adik iparnya itu, karena dulu Dewi terlihat belum menyukainya dan dia menjadi segan untuk mencoba mendekat.
"Tidak mau... pokoknya aku mau jalan-jalan sama Dewi," balas Veli, bukan karena ingin melihat para cogan tidak ada niatan sama sekali dirinya hanya ingin sekadar jalan dengan adik iparnya.
"Aku bilang tidak boleh, ya tidak boleh. Kalau kamu tidak mau ikut aku, lebih baik kamu di rumah saja istirahat sayang...!!!" tegas Dewa yang kekeh tidak mengizinkan istrinya pergi.
"Yaudah...kalau kamu tidak mau mengizinkan, nanti malam aku tidur sama Dewi saja dan jangan harap ada jatah-jatahan...!" ancam Veli.
__ADS_1
"Jangan dong yank...! hufftt...yaudah boleh, tapi jangan macam-macam, dan jangan lama-lam, cepat pulang...!" Dengan terpaksa Dewa mengizinkan Veli, dari pada dia tidur tidak memeluk istrinya dan tidak di beri jatah bisa mati dia.
Lebay sekali lo Dewa...
"Nah gitu dong..." ucap Veli dengan senyum kemenangan, sedangkan Dewa tampak kesal.
Dewi yang melihat kakanya tidak bisa berkutik dengan ancaman istrinya pun tertawa, sungguh ia tidak menyangka dulu saja kakanya itu sangat membenci istrinya sendiri, tapi lihat sekarang malah bucin.
"Hahahahah...sudah dapat jatah toh? dulu aja pakek sok-sokan tidak mau tidur bareng!!!" sindir Dewi dengan tertawa.
"Diam kau...!!!" ketus Dewa, namun Dewi sama sekali tidak menggubrisnya.
"Kamu boleh pergi, tapi ingat jangan macem-macem, cepet pulang, dan selalu kabari aku!" pesan Dewa tegas, saat hendak berangkat ke kantor setelah menyelsaikan sarapanya.
"Iya mas..."ucap Veli, lalu Dewa memeluk istrinya dengan erat dan mencium kening istrinya sebelum berangkat.
__ADS_1
TBC.