Tiba Tiba Istriku Cuek

Tiba Tiba Istriku Cuek
Bab 66


__ADS_3

Keesokan paginya.


Dewa baru saja terbangun, mengeliat dengan mata yang masih tertutup. Laki-laki itu meraba-raba kasur di sampingnya yang ternyata sudah kosong, Dewa langsung membuka matanya sembari mendudukan tubuhnya.


"Bahkan, kamu bangun tanpa membangunkanku juga yank," ujar Dewa dengan sendu, berharap saat bangun dia mendapatkan maaf dari istrinya dan melewati pagi yang indah seperti biasanya, namun dia malah di tinggal bangun sendirian.


Laki-laki itu bangkit dengan malas dari atas kasur, berjalan lunglai menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum berangkat ke kantor. Selang beberapa menit, Dewa keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya, tubuhnya tanpak terlihat segar, namun tidak dengan wajahnya yang justru tampak muram dan tidak bersemangat pagi ini. Bagaimana tidak muram, jika biasanya sang istri lah yang akan menyiapkan segala keperluanya, juga membantunya bersiap sebelum berangkat bekerja, tetapi saat ini jangankan membantunya bersiap, baju saja dia harus mengambilnya sendiri.


Dengan bibir yang mengerutu Dewa memasuki ruang ganti, mengambil pakaian kerjanya dengan sedikit kasar. Hatinya sangat sedih sekali, kala mengingat kesalahannya yang membuat sang istri marah dan mengabaikannya seperti sekarang, biasanya setiap pagi istrinya lah yang memakaikan baju untuknya, sedangkan dirinya sibuk manja-manja dengan sang istri. Dewa rasanya ingin menangis saat mengingat momen itu, hatinya begitu sakit dan sesak tidak di pedulikan oleh istrinya seperti sebelumnya, entah mengapa laki-laki itu menjadi sangat sensitif dan cengeng.


"Aku tau aku salah, tapi melihat mu mengabaikanku seperti ini aku tidak sanggup yank, lebih baik kamu menghajarku seperti Dewi saja..." ujar Dewa dengan dramatis, sembari memakai bajunya dengan asal.


Di latai bawa, tepatnya di area dapur. Terlihat Veli tengah sibuk menata makanan di atas meja, yang baru saja ia masak dengan di batu oleh pelayan tentunya. Hatinya terasa sedikit tidak nyaman, manakala ia bangun tanpa membangunkan suaminya, yang sangat sulit bangun saat tidur jika tidak ia bangunkan.


"Duh...Mas Dewa sudah bangun belum ya? dia sudah bersiap-siap belum ya?...apa aku liat aja sekarang?" Veli terlihat gusar, karena bisanya ia akan mengurus suaminya dari mulai membangunkannya, hingga membantunya bersiap dari ujung kepala sampai ujung kaki. Setelah berbaikan suaminya begitu manja padanya, segala sesuatu yang menyangkut dirinya harus Veli yang melakukannya.


"Ih, gak usah kak Vel. Biarin aja dulu, biar kapok tu orang. Kak Veli harus tahan-tahan dulu jangan langsung di baikin laki kayak gitu, entar yang ada dia malah kebiasaan suka mengumbar-umbar kehidupan rumah tangga pada orang lain. Untuk saat ini kak Veli harus bisa diemin dia..."tutur Dewi panjang lebar, Dewi pagi ini sudah nagkring di meja makan, kearena pagi ini ia ada jam kuliah pagi. Bima tidak bisa mengantarkannya sebab pria itu sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Rajin sekali si Bima, pagi-pagi udah meluncur ke kantor, sedangkan yang punya kantor malah belum berangkat.


"Tapai...bagaimana kalau Mas Dewa justru balik kayak dulu lagi?" tanya Veli dengan cemas, kalau-kalau suaminya itu kembali mengabaikannya seperti dulu.

__ADS_1


"Nggak mungkin lah...kalau pun iya, kak Veli tinggal cari aja suami baru, masih banyak cowok ganteng di Bumi ini yang mau sama kak Veli," ujar Dewi dengan santai, sembari mengambil sarapannya.


"Kamu jangan dengarin dia sayang, jangan cari laki-laki lain dan jangan berpikir untuk meninggalkan ku. Aku sangat tidak rela..." seru Dewa yang tiba-tiba sudah nongol di dapur. Veli dan Dewi sampai tidak menyadari kehadirannya karena sibuk berbincang.


"Ya ampun kak, kamu itu ngagetin aja. Ini juga penampilan mu, kayak orang habis tawuran saja, berantakan banget," ucap Dewi yang melihat penampilan kakanya. Veli pun juga tampak kaget melihat penampilan suaminya yang awut-awutan itu, apalagi dengan wajah yang sedikit biru-biru makin mendukung penampilan Dewa yang seperti orang habis tawuran.


"Biarin, biar semua orang tau kalau aku sudah tidak di pedulikan lagi oleh istriku." Dewa mendudukan tubuhnya di kursi yang biasa ia duduki saat makan, dengan memasang wajah melas seolah dia adalah makhluk yang paling menderita di planet ini.


"Dih...siapa juga yang mau peduli sama kamu. itu juga kenapa kancingnya pada nyasar begitu, sudah seperti balita saja..." Ujar Dewi, saat melihat kancing kemeja kakaknya yang tidak pada tempatnya.


"Kamu lebih baik diam, suaramu itu sungguh sangat tidak sopan untuk di dengar, merusak gendang telinga saja. Kamu tidak akan mengerti tentang beginian..." Sewot Dewa melirik istrinya yang sedang mengambil makanan ke piringnya sendiri, namun yang di lirik hanya cuek saja seolah tidak menyadari keberadaannya. Dewa memang sengaja berpenampilan berantakan, mengancingkan kemejanya dengan asal, dasinya di kalungakan di lehernya saja, dan jaznya pun hanya ia tenteng, berharap mendapatkan perhatian dari istrinya.


"Yaudah makan sana," ucap Veli cuek melirik sekilas suaminya.


"Ambilin..." manjanya.


"Uhuk uhukk...!!" Dewi sampai tersedak makananya, melihat tingkah maja kakanya yang membuatnya bergidik geli.


Pertahanan Veli hampir saja runtuh saat melihat tingkah mengemaskan suaminya, ingin rasanya ia memeluk dan mencium wajah suaminya itu. Tidak ingin sampai luluh, dengan cepat Veli mengambilkan sarapan untuk suaminya yang mendadak seperti bocah yang merengek pada ibunya.

__ADS_1


"Maksih sayang..." ujar Dewa dengan sumringah dan langsung memakan sarapanya dengan lahap.


"Makasih seyeng..." ejek Dewi menirukan ucapan Dewa, dan mendapatkan tatapan tajam dari kakaknya. Veli hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan tingkah mereka berduan yang tidak pernah akur, apalagi dia sempat shock saat Dewi bercerita bahwa dialah yang menghajar Dewa hingga babak belur.


Setelah sarapan selesai, Dewi segera berangkat ke kampusnya dengan mengendarai mobilnya sendiri. Namun tidak dengan Dewa yang justru tetap duduk anteng di tempatnya sambil menatap istrinya dengan wajah memelasnya. Veli yang memang tipe wanita yang lembut dan tidak tegaan pun lantas bertanya pada suaminya.


"Kenapa belum berangkat?" tanyannya dengan datar.


"Bantuin ini, masak aku pergi ke kantor dengan penampilan yang seperti ini sih..." cicit Dewa dengan bibir yang mengerucut.


"Oh Tuhan...kenapa suamiku jadi mengemaskan seperti ini sih..." Teriak Veli dalam hati sembari menggigit bibirnya menahan kegemasan terhadap Dewa.


Wanita itu menghelai nafasnya dengan kasar, seolah ia terpaksa membantu suaminya padahal dia sangat ikhlas membantu Dewa saat ini. Tanpa basa-basi dan tanpa senyum yang biasanya selalu mengembang di wajahnya, Veli segera menarik suaminya untuk berdiri dan membenahi penampilan suaminya, dari memperbaiki kancing kemejanya, memakaikan dasi dan yang terakhir memakaikan jazznya.


"Masih marah?"tanya Dewa lirih saat melihat istrinya hanya diam saja, namun Veli tidak menjawab dan hanya memasang wajah datarnya saja.


"Kamu nanya, kamu bertanya tanya..." gerutu Veli dalam hati, ingin sekali Veli berkata demikian, yang terdengar sangat menyebalkan seperti yang sering di katakan oleh Reza.


"Huuffff...Aku berangkat dulu," pamit Dewa dengan tidak bersemangat, tidak luap laki-laki itu juga mengecup kening istrinya sebelum berangkat.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2