
Dewa yang sedang fokus dengan laptop didepanya, tiba-tiba ponsel miliknya berdering. Setelah melihat nama yang menghubunginya, wajah laki-laki yang tadinya merengut itu sontak tersenyum lebar dan langsung menjawab telfonnya.
"Hallo sayangku, cintaku, istriku yang paling cantik. Aku kangen nih, kamu kesini dong, aku sendiri di sini...please kamu kesini sayang temani aku," cerocos Dewa dengan suara yang di buat-buat.
"WOY...! HALLO...!" bukan mendengar suara lembut istrinya, justru ia malah mendengar teriakan yang memekik di telinganya, sontak Dewa menjauhkan ponselnya dari telinganya dan wajahnya langsung berubah datar tidak seperti tadi.
"Siapa kamu? Dimana istri saya? Kenapa ponsel istri saya ada di tangan kamu?" cecar Dewa dengan datar.
"Saya Nessa teman Velisa, maaf saya lancang memakai ponsel Veli. Veli tiba-tiba pingsan di tempat kerja dan sekarang saya sedang membawanya ke Ruma Sakit Cakrawala..."
Seketika tubuh Dewa terasa lemas, jantungnya seakan berhenti berdetak, tangannya langsung gemetaran.
"A-apa, istri saya pingsan. Saya akan segera ke sana."
Secepat kilat ia keluar menuju mobilnya yang terparkir, lalu melajukan mobilnya di atas rata-rata menuju Rumah Sakit Cakrawala, yang lumayan jauh dari perusahaannya.
"kamu harus baik-baik saja sayang..." gumam Dewa penuh harap, ia mengemudikan mobilnya dengan cepat, dia sungguh sangat khawatir. Bodohnya dia yang tidak peka dengan kesehatan istrinya, padahal jelas-jelas tadi pagi istrinya itu terlihat pucat.
Butuh waktu beberapa jam untuk sampai di Rumah Sakit Cakrawala, selain jauh Dewa juga terjebak kemacetan yang memang sudah biasa terjadi di Ibukota.
Setelah sampai, Dewa segera berlari memasuki Rumah Sakit. Beruntung dia cepat menemukan ruangan istrinya, setelah bertanya pada resepsionis.
"Kamu suaminya Veli?" Tanya Nessa ketika keluar dari ruang rawat Veli mendapati seorang laki-laki dengan wajah panik berlari ke arahnya.
Velisa sudah sadar setelah di tangani oleh Dokter. Veli meminta Nessa dan Mery untuk segera kembali ke agensi, karena ia tahu betul bahwa kedua temannya itu tidak bisa meninggalkan pekerjaannya terlalu lama, apalagi dirinya sudah baik-baik saja.
__ADS_1
Namun Nessa dan Mery bersikeras untuk tetap menemani Veli sampai suami Veli datang, mereka mana tega meninggalkan Veli selain itu mereka tidak ingin Veli kenapa-napa setelah mendengar berita dari Dokter mengenai kondisi Velisa saat ini. Akan tetapi mereka berdua terpaksa harus pergi setelah mendapatkan telepon dari rekannya yang menyuruh mereka untuk segera kembali ke agensi, beruntung saat hendak pulang bertepatan dengan Dewa datang, jadi Veli tidak sendirian saat mereka tinggal.
"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Dewa langsung tidak mau basa-basi.
"Dia sudah sadar..." jawab Nessa, lalu dia dan Mery segera pamit untuk pergi. Sebelum mereka pergi Dewa mengucapkan terima kasih kepada mereka karena telah menolong istrinya dan menjaga Veli sebelum dirinya datang.
Ceklek
Dewa membuka ruang perawatan istrinya dan langsung menghampiri Veli yang tengah berbaring. "Sayang..."
Veli tersenyum melihat suaminya yang baru saja masuk.
"Mas," lirih Veli dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang kamu kenapa bisa kayak gini?" tanya Dewa dengan mengecup kening istrinya dengan tangan yang menggenggam erat tangan Veli, laki-laki itu terlihat begitu khawatir dan masih sedikit gemetaran.
"H-hamil, ka-mu hamil sayang?" tanya Dewa tak percaya, Veli mengangguk dengan tersenyum haru.
"Ya, perkiraan sekarang berjalan empat minggu."
"Sayang ini beneran? terimakasih sayang..." Dewa langsung berhamburan memeluk tubuh istrinya, serta mencium seluruh wajah istrinya tanpa terlewati sedikitpun. Air mata Dewa menetes sudah tidak dapat ia bendung lagi, saking bahagianya mendengar istrinya hamil buah cinta mereka.
"Aku akan jadi Papi dan kamu jadi Mami sayang. Aku sangat tidak sabar mendengar anak kita memanggil kita Mami dan Papi," ucap Dewa menatap wajah istrinya dengan mata berairnya, laki-laki itu tidak bisa berhenti untuk menangis.
Velipun juga menatap sang suami dengan mata yang berkaca-kaca, apalagi saat melihat suaminya menangis karena bahagia, membuat hatinya menghangat.
__ADS_1
"Apa kamu bahagia?" tanya Veli sembari mengusap pipi suaminya yang basah.
"Sangat, aku sangat bahagia buah cinta kita telah hadir, tidak sia-sia aku mencetak tiap malam." Dewa mencium bibir istrinya. " Terimakasih Mami, Papi sangat bahagia," ujar Dewa lagi, entah kenapa Veli sedikit geli mendengar panggilan itu.
"Pokoknya kamu tidak boleh bekerja lagi, sekarang ada yang harus kamu jaga. Aku tidak ingin anak kita kelelahan," titah Dewa tegas.
"Jangan khawatir, aku sudah memikirkan itu," ujar Veli tersenyum.
"Terimakasih sayang, jaga buah cinta kita baik-baik sayang," tangan Dewa bergerak mengelus perut rata istrinya dengan lembut.
"Papa Mama, sama Ayah Bunda pasti bahagia mendengar kabar ini."
"Iya, pasti mereka bahagia. Apalagi Ayah Bunda beliau sempat khawatir dengan hubungan kita." Veli tidak melanjutkan ucapannya lagi, melihat wajah sendu Dewa. Pasti suaminya masih merasa bersalah.
" Habis ini kita periksa ke dokter kandungan ya, Mas..." ujar Veli mengalihkan ucapnya.
Tadi yang menangani Veli bukanlah Dokter kandungan, namun Dokter tersebut sangat yakin jika Veli tengah mengandung dan menyarankan agar Veli periksa ke Dokter kandungan.
"Iya sayang..." jawab Dewa mengusap kepala istrinya.
Akhirnya Dewa membawa Veli untuk periksa ke Dokter kandungan dan ternyata benar saja, setelah di USG Veli benar-benar hamil dan usia kandungnya baru empat minggu sesuai prediksi Dokter umum tadi.
Setelah pemeriksaan selesai, Dewa dan Veli memutuskan pulang setelah sebelumnya menebus resep dari Dokter kandungan.
TBC.
__ADS_1
Maaf kalau aku updetnya suka lama, karena terkendala jaringan internet di kampungku jaringannya susah banget. Wi-Fi pun juga sering error tiba-tiba, jadi mohon di maklumi.🙏🙏🙏