
Tiga hari berlalu. Hari ini Dewa sudah mulai masuk kerja tentu saja itu semua atas paksaan dari sang istri. Bagaimana tidak, setelah dinyatakan sehat bahkan sangat sehat Dewa tetap menolak untuk berangkat kerja dan lebih memilih bermalas-malasan di rumah. Tentu saja Veli dibuat sangat jengah dengan keberadaan suaminya di rumah, apalagi ia sudah berhenti menjadi model. Bukannya tidak senang hanya saja ia begitu sulit untuk sekedar bergerak, tingkah manja dan posesif suaminya itu sangat membuat wanita itu frustasi dan juga jangan lupakan Bima yang turut menjadi korban akan kelakuan Dewa yang tidak tanggung jawab pada pekerjaan kantornya dan semuanya dilimpahkan pada Bima yang juga sedang sibuk-sibuknya mengurus persiapan pernikahannya.
"Boss cabang perusahaan yang ada di Bandung terjadi masalah yang sedikit serius. Tadi orang kepercayaan boss mengabari katanya boss harus ke Bandung, mereka tidak bisa mengatasi hal ini tanpa boss..."ujar Bima dengan serius. Bima sedang berada diruangan Dewa, membahas pekerjaan penting dan berbagai berkas penting.
"Ke Bandung? Memang masalahnya seserius apa? Sampai mereka tidak bisa mengatasinya sendiri dan merepotkan ku. Mereka kan sudah ku bayar mahal, masih saja tidak pecus dan merepotkan," tukas Dewa dengan kesal. Dirinya sudah membayar sangat mahal orang kepercayaannya untuk membantunya mengurus cabang perusahaannya yang berada di Bandung berharap ia bisa tenang dan tidak perlu pergi-pergi ke Bandung.
"Mereka tidak menjelaskannya dengan rinci boss. Mereka hanya bilang jika ini masalah serius dan mereka butuh bantuan boss untuk turun tangan," jelas Bima apa adanya.
Dewa hanya bisa mendengus kesal, mau tidak mau ia harus turun tangan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di cabang perusahaannya yang ada di Bandung itu.
"Memangnya kapan kita ke sana? Dan berapa lama?"
__ADS_1
"Katanya besok kita harus segera ke sana. Dan untuk waktunya, jika dalam satu Minggu masalah sudah clear, kita sudah bisa pulang. Namun, jika belum kita bakalan pulang sampai masalah itu selesai," jelas Bima.
"Satu Minggu? Yang benar saja? Mana bisa aku pergi selama itu ke Bandung. Bagaimana dengan Mami? Pasti Mami sangat rindu berat jika aku tinggal. Mau mengajaknya pun itu tidak mungkin. Veli sedang hamil dan tidak baik untuk berpergian jauh disaat hamil muda begini," ujar Dewa dengan frustasi, membayangkan tanpa istrinya selama itu rasanya sangat tidak sanggup.
"Dih...yang ada lu kalik yang bakalan rindu setengah mampus sama Mami tercinta mu itu..." gerutu Bima dalam hati setelah mendengar ucapan Dewa yang lain di mulut lain di hati itu.
"Pasti Veli juga bakalan mengerti. Karena ini masalah penting tidak mungkin juga Veli sampai melarang kamu pergi. Veli itu sangat dewasa dan pengertian, dia tidak kekanak-kanakan yang akan menghalangi pekerjaan kamu..." tutur Bima yang memang benar adanya. Mendengar itu Dewa langsung saja menatap taja Bima, ia tidak setuju dengan ucapan sahabatnya itu.
"Tau apa kamu tentang istriku? Asal kamu tahu, istriku tidak akan bisa tidur jika tidak aku peluk. Baby kami juga sering minta aku elus-elus dan juga minta dijenguk oleh Papinya yang ganteng ini setiap malam. Kedua kesayangan ku itu pasti tidak mau jauh-jauh dari Papinya ini Bima. Bagaimana kalau sampai mereka rindu berat, aku tidak akan tega meninggalkan kedua kesayangan ku selam itu..." Papar Dewa yang begitu penuh percaya diri mengatakannya bahkan ia tidak malu menceritakan adegan ranjang pada Bima yang ia sampaikan dengan tersirat itu. Disini seolah-olah Veli tidak bisa untuk jauh darinya, padahal pada kenyataannya Dewa sendirilah yang tidak bisa untuk berjauhan dengan sang istri tercintanya.
"Terserah kamu saja lah. Kalaupun perusahaanmu itu bangkrut toh bukan aku yang bakalan rugi besar..." ujar Bima yang sudah pasrah dan engan berdebat lagi.
__ADS_1
Dewa terdiam sejenak. Walau bagaimanapun perusahaannya itu juga menghasilkan keuntungan yang lumayan besar, akan sangat rugi jika perusahaannya itu bangkrut. Pikirannya menjadi sangat kacau sekarang. Satu sisi ia tidak akan sanggup meninggalkan sang istri yang sedang hamil itu. Namun, disisi lain ia juga tidak bisa membiarkan perusahaannya bangkrut begitu saja, apalagi ada banyak karyawan yang menggantungkan hidupnya pada perusahaannya itu.
"Baiklah... baiklah aku akan pergi besok. Tapi hari ini aku mau pulang cepat. Mau minta bekal sebelum berangkat besok. Semoga saja tidak lama-lama di sananya..." putus Dewa setelah berpikir keras.
"Nah gitu dong. Sekalian ketemu sama keluarga kamu di Bandung kan..." seru Bima.
"Benar katamu. Tapi males juga kalau ketemu sepupu sombong yang suka pamer itu..." ucap Dewa. Ada sedikit rasa malas jika bertemu dengan keluarga besarnya yang ada di Bandung tidak jarang ada beberapa kerabatnya yang sombong dan suka pamer, meskipun tidak semuanya.
"Jangan lupa, mampir juga kerumah Ayah dan Bundanya Veli. Selama menikah kan kamu belum pernah datang ke sana, hanya dua kali. Itupun pas ngelamar dan pamit mau bawa Veli ke Jakarta. Memang dasar menantu laknat..." saran Bima.
"Iya benar katamu. Kalau bisa nanti aku bakalan menginap dirumah istriku itu..."jawab Dewa dengan menggaruk kepalanya. Mulai sekarang ia kan membangun hubungan kekeluargaan yang erat dengan keluarga istrinya itu. Sebelumnya ia tidak pernah mau mencoba berdekatan dengan keluarga istrinya itu, terlebih ada Kakak laki-laki Veli yang terlihat tidak begitu menyukainya.
__ADS_1
TBC.
Jangan lupa beri like command and vote biar author tambah semangat love you all...