Tiba Tiba Istriku Cuek

Tiba Tiba Istriku Cuek
Bab 115


__ADS_3

Hari ini Dewa benar-benar pulang lebih awal. Pria itu berusaha dengan begitu keras agar pekerjaannya bisa segera selesai, bahkan saat makan siang pun ia sambil mengerjakan beberapa dokumen. Pria itu ingin segera pulang dan menghabiskan waktunya bersama sang istri, sebelum LDR an Jakarta Bandung selama beberapa hari saja. Namun pria itu sudah ketar-ketir sendiri.


"MAMI...MAMI...MAMI DI MANA...?!!"Teriak Dewa memanggil sang istri, teriakannya begitu menggelegar diseluruh penjuru rumah mewahnya. Para pelayan hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari mengusap-usap dadanya yang berdegup karena terkaget-kaget dengan teriakan sang Tuan yang begitu tiba-tiba dan membuat telinga mereka sakit.


"Tuan. Nyonya sedang ada di gazebo belakang dengan Non Dewi..." ujar salah seorang pelayan dengan sopan.


"Dari tadi kek bilangnya, jadi saya nggak usah teriak-teriak..." ketus Dewa pada pelayan itu. Sedangkan pelayan itu hanya bisa mengelus dadanya sabar menghadapi sang boss yang selalu arogan pada siapapun itu, kecuali orang yang disayanginya terutama sang istri tercinta.


Dewa bergegas menuju gazebo yang berada di belakang rumahnya. Di sana suasananya begitu adem dan asri sehingga sangat cocok digunakan untuk tempat bersantai dan mengobrol bersama.


Sementara Veli sendiri kini tengah duduk santai bersama Dewi. Masih membahas seputar pernikahan, hanya saja kali ini Dewi sedang memilih-milih sovenir untuk ia berikan pada tamu undangannya nanti.


"Bagaimana kalau dompet saja Kak Vel? Aku pesan khusus saja dari merk terkenal," ujar Dewi dengan menggeser-geser ponselnya untuk memilih sovenir pernikahannya.


"Emmm. Kenapa tidak teko ini saja? Lihat desainnya begitu unik dan klasik. Pasti emak-emak bakalan suka banget dikasih ini..." ujar Veli dengan menunjuk gambar teko cantik berwarna putih terdapat gambar burung Phoenix dengan aksen bunga dikedua sisinya.


"Ihhh enggak ah. Masak nanti teman-teman ku dikasih teko sih... Kecuali kalau tamu-tamunya itu teman-temannya Mama." Tolak Dewi yang menurutnya teko kurang cocok jika diberikan untuk teman-teman kuliahnya yang notabenenya kebanyakan anak geng-gengan yang gaul dan kekinian.


"Gitu ya?" Tanya Veli yang kurang paham dengan lingkup pertemanan Dewi. Pasalnya saat pernikahannya dulu, Veli memilih sebuah teko yang dipesan langsung dari Tiongkok oleh ayahnya. Dan semuanya aman-aman saja, tidak peduli itu tua ataupun muda semuanya mendapatkan sovenir yang berupa teko itu.


"Bagaimana kalau parfum saja Kak? Sepertinya itu lebih cocok untuk semua orang..." seru Dewi yang sudah berubah pikiran lagi. Entahlah sedari tadi seperti itu, Veli sendiri sampai pusing. Meminta saran, namun saat Veli memberikan pendapatnya Dewi pasti kurang setuju dan tidak sesuai dengan keinginan.


"Terserah kamu---" Belum juga menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba tubuhnya dipeluk dari belakang oleh seseorang. Dan orang itu mengecupi pipinya bertubi-tubi seraya merengek.


Veli yang awalnya begitu kaget dan bingung dengan seseorang yang tiba-tiba memeluk dan mengecup pipinya itu pun langsung paham saat mendengar suara rengekan yang setiap hari ia dengar. Tentu saja itu adalah sang suami tercinta.

__ADS_1


"Mami...Papi cariin sampai teriak-teriak ternyata ada disini..." ucap Dewa seraya mendudukkan tubuhnya ditengah-tengah Veli dan Dewi. Dewi langsung saja berdecak kesal dengan kelakuan kakaknya yang tiba-tiba muncul lalu menggesernya dengan paksa. Terpaksa ia harus pindah duduk dari pada berdesakan dengan kedua pasangan bucin itu.


"Tumben jam segini sudah pulang, Papi?" tanya Veli dengan menatap heran suaminya.


Dewa menatap istrinya itu dengan penuh cinta, kemudian ia memberikan kecupan singkat namun penuh perasaan pada bibir istrinya itu.


"Ada hal penting yang mau Papi sampaikan sama Mami. Ini menyangkut dengan hubungan kita berdua..."ujar Dewa dengan serius.


"Maksudnya? Menyangkut dengan hubungan kita berdua? Papi tidak macam-macam kan?" Tanya Veli bertubi-tubi dengan serius. Mendadak hatinya menjadi tidak tenang, takut ada sesuatu yang buruk menerjang hubungannya dengan sang suami.


Dewi yang hanya memperhatikan sedari tadi langsung berubah serius dan menatap kakaknya dengan serius.


Dewa hanya diam dan menghela nafasnya dengan berat lalu memeluk tubuh istrinya itu dengan begitu erat, seolah engan untuk melepaskannya.


"Papi jangan diam saja dong, jawab. Jangan buat Mami takut..." ujar Veli seraya mencoba melepaskan pelukan Dewa dengan paksa.


"Mami. Papi nggak mau Pisah sama Mami dan baby kita. Rasanya Papi tidak sanggup meninggalkan kalian berdua..." ujar Dewa dengan mata yang berkaca-kaca.


Deg


"Pisah? Apa maksudnya?" batin Veli bertanya-tanya. Jantung Veli mendadak langsung berdetak tidak karuan mendengar kata pisah dari sang suami.


"Pi--pisah? Papi mau ninggalin Mami dan baby kita? Kenapa pi?" Tanya Veli dengan gemetaran.


Mata Dewi langsung terbelalak kaget mendengar kata pisah yang terucap dari bibir Dewa. Apa kakaknya itu sudah gila mau meninggalkan istrinya yang tengah mengandung anaknya itu.

__ADS_1


"Apa maksudnya brengsek...?!!" Tanya Dewi dengan emosi.


Dewa langsung terdiam memandang heran kedua wanita itu. Ia memandang istrinya yang tampak sedih dan ingin menangis hendak ia tinggalkan. Sebaliknya dengan sang adik yang sepertinya marah dan tidak terima dengan kepergiannya. Dewa mendadak bingung sendiri dengan respon kedua wanita itu.


"Kenapa? Kenapa Papi mau ninggalin Mami? Apa salah Mami sama Papi? Bilang, jangan kayak gini, ingat sebentar lagi baby kita akan lahir..." lirih Veli yang airmata nya sudah tidak bisa ia bendung lagi. Wanita itu menagis, entah apa yang ditangisi nya. Yang jelas hatinya begitu sakit dan takut ditinggalkan oleh suaminya.


"Mami..." Dewa yang tidak tega melihat istrinya menangis langsung menarik tubuhnya istrinya itu untuk duduk dipangkuannya lalu memeluk tubuh bergetar istrinya dengan begitu erat.


"Maafin Papi, Mami. Papi terpaksa harus pergi dan ninggalin Mami..." ujar Dewa dengan suara serak, pria itu juga ikut menangis melihat istrinya menangis seperti itu.


"Ya udah, jelasin tolol kenapa Lo mau ninggalin Kak Veli...!!!" Pekik Dewi yang sudah begitu emosi dengan kelakuan Dewa.


"Papi harus ninggalin Mami ke Bandung selama seminggu. Perusahaan cabang yang ada di Bandung sedang bermasalah. Terpaksa Papi harus ninggalin Mami dan baby kita. Jadi kita harus LDR seminggu ini..." jelas Dewa dengan memeluk istrinya semakin erat, ia berfikir istrinya itu pasti bakalan sedih sekali ia tinggalkan selama itu ke Bandung. Lihat saja sekarang istrinya itu menangis sesenggukan saat ia berkata akan meninggalkannya, membuat Dewa tidak tega.


Duarr ...


Tangisan Veli langsung berhenti dengan sekejap ketika mendengar penjelasan suaminya itu, begitupun dengan Dewi yang rasanya ingin sekali mencakar wajah tampan kakak yang sudah membuat emosinya naik turun.


"PAPI...!!!"


"KAK DEWA...!!!"


Teriak kedua wanita itu secara bersamaan dengan menatap kesal pria itu.


"Kenapa?" Tanya Dewa dengan wajah polosnya.

__ADS_1


**TBC **


Jangan lupa beri like command and vote biar author tambah semangat love you all...


__ADS_2