
"Lanjut nggak nih...kok malah maaf-maafan lebaran masih lama...!"celetuk Bima tanpa Dosa, merusak suasana saja nih makhluk satu. Dewa hanya mendengus kesal dan menatap Bima sinis, seraya memutar botol minuman itu, dan ternyata berhenti tepat kearah Bima.
"aku yang bakalan bertanya!"seru Dewa cepat, dengan tersenyum penuh arti menatap ke arah Bima.
Bima yang menyadari senyum penuh arti dari Dewa pun, menelan salivanya dengan susah. Dia sangat yakin bossnya itu pasti akan memberikan pertanyaan yang menyulitkannya.
"Apa ada seseorang yang kamu sukai sekarang? jika iya, sebutkan namanya," tanya Dewa dengan tersenyum mengejek Bima.
Deg deg deg
Seketika detak jantung Bima berdetak cepat, keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya. Sungguh rasanya dia sama sekali tidak ingin menjawab, apalagi seseorang yang di sukainya berada tepat di sampingnya. Namun saat matanya menatap gelas yang berisi jus bawang putih, membuatnya mau tidak mau harus menjawab, daripada meminum jus laknat itu.
"Sial...sial...sial. Seharusnya aku tidak usah bertanya pada Dewa tadi, lihat aku jadi kena batunya sendirikan. Dewa pasti sengaja, lihatlah senyum liciknya itu, dia sudah seperti neneknya tapasya saja...!!!" gerutu Bima dalam hati, apalagi saat menyadari senyum licik di bibir sahabatnya membuatnya ingin sekali menabok sahabatnya itu.
Entah kenapa Dewi tiba-tiba menjadi gugup sekaligus begitu penasaran menunggu jawaban dari Bima, yang sedari tadi diam saja. Apakah sosok pria dewasa yang pernah singgah di hatinya itu sudah memiliki kekasih, entah kenapa dirinya begitu sangat penasaran? atau jangan-jangan.
"Ih...ih...Apaan sih. Masak aku masih menyukainnya? tapi...sepertinya begitu. Aduh kenapa sih aku masih saja menyukai pria dingin itu?" gerutu Dewi dalam hati. Nyatanya Bima yang sedikit gesrek itu selalu saja bersikap dingin terhadap Dewi, padahal sebenarnya Bima tidaklah seperti itu. Sungguh membenggongkan sekali si Bima ini, kalau suka kenapa harus bersikap dingin?.
__ADS_1
"Emm...emm...i-tu...emmm..."Bima tampak gugup sekaligus bingung harus menjawab apa, mau berbohong pun tidak mungkin karena Dewa sudah mengetahui yang sebenarnya. Bima terdiam sambil menatap orang-orang yang terlihat serius menunggu jawaban darinya, lalu laki-laki itu tersenyum jahil.
"Nungguin ya...?!"ucap Bima dengan tertawa ngakak, sungguh terdengar sangat menyebalkan sekali.
Bug
"Sialan...!!"umpat Dewa, seraya melempar Bima dengan botol minuman dan tepat mengenai wajah tampan Bima.
"Akhuuuw...aku kan hanya bercanda...!" ucap Bima kesal, sambil meringis mengusap-usap hidungnya yang memerah.
"Aku tidak pedulu, cepat jawab...!!"seru Dewa.
"Ah...masa bodoh..."
"Ekhmm...sebenarnya aku memang sedang menyukai seorang gadis, bahkan sudah sangat lama. Tapi aku tidak punya keberanian untuk mengungkapkannya, aku takut di tolak..."jawab Bima sambil menyeka keringat di wajahnya.
Deg
__ADS_1
" Siapa gadis beruntung yang di sukai oleh kak Bima?" batin Dewi bertanya-tanya, ada perasaan kecewa yang menyelinap di hatinya, saat mendengar Bima sudah menyukai seorang gadis.
"Siapa gadis itu Mas?"tanya Veli dengan suara yang terdengar lembut, sontak membuat laki-laki tampan yang duduk di sebelah berreaksi.
"Veli kenapa kamu memangil Bima dengan sebutan Mas? aku tidak suka ya...!!" ujar Dewa tegas, dengan menatap tajam Veli. Mendengar perkataan Dewa, membuat ketiga orang itu memutar bola matanya malas.
"Tidak usah mulai. Lagi serius nih..." ujar Veli santai, membuat Dewa mendengus kesal dan ingin sekali menggigit bibir istrinya itu. pokoknya nanti dia akan protes, tidak mau lagi di panggil dengan sebutan Mas lagi. Padahal dulu dia tidak mempermasalahkan itu, tapi entah mengapa dirinya sekarang menjadi tidak nyaman.
"Siapa gadis itu...?" tanya Veli lagi, dirinya sudah sangat amat penasaran, begitupun dengan Dewi, namun dia tidak cukup berani untuk mengajukan pertanyaan.
Bima menarik nafasnya panjang dan menghembuskan secara perlahan, dia mengumpulkan keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya, walaupun jujur dia belum siap sama sekali, jika harus menerima penolakan dari Dewi. Belum apa-apa sudah takut di tolak saja ni orang.
"D-ia...dia adalah, adalah... dia adalah---"
"Jawab yang benar, atau aku cekoki mulutmu dengan jus bawang putih itu...!!"potong Dewa tegas, Dewa sangat geram sekali dengan jawaban sahabatnya yang berbelit-belit. Sedangkan Bima hanya cengengesan sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Sumpah demi apapun Bima sangat gugup saat ini.
"Heheheh...d-ia adalah...."
__ADS_1
TBC.