Tiba Tiba Istriku Cuek

Tiba Tiba Istriku Cuek
Bab 122


__ADS_3

Di sebuah meeting room hotel mewah. Tampak seorang pria paruh baya tengah merencanakan sesuatu dengan seorang wanita cantik nan seksi yang duduk disampingnya. Sepertinya kedua orang itu sedang menunggu seseorang, terlihat di meja terdapat banyak hidangan yang disajikan dengan begitu rapi dan cantik, sesuai dengan kelas hotel bintang lima yang mereka booking.


Aneh sekali rasanya, jika seperti ini maka lebih terlihat seperti acara hendak makan bersama bukan acara meeting penting antar perusahaan.


"Pokoknya jika Pak Dewa lebih memilih membayar pinalti, kamu harus segera bertindak seperti biasanya. Ingat mangsa kita kali ini begitu cerdas dan sulit dipengaruhi, jadi kamu harus pintar-pintar merayu dia. Apalagi dia masih sangat muda, Papa jamin kamu bakal langsung suka sama dia,"ujar Pak Surya pada senjata pamungkasnya alias anak perempuannya sendiri yang bernama Juwita itu.


"Tenang saja Pa! Tidak ada seorang pun yang dapat menolak pesona seorang Juwita. Lihat, selama ini apakah Juwita pernah gagal menjalankan tugas Papa?" ujarnya dengan pongah. Ya, memang kenyataan selama ini memang tidak pernah sekalipun Juwita gagal dalam menjerat rekan kerja ayahnya. Dengan kemampuannya yang memang sudah tersertifikasi dalam hal rayu-merayu, dengan bodynya yang bak gitar spanyol itu, tak jarang pria yang awalnya menolak keras pun akhirnya berakhir di atas ranjang juga dengannya, bahkan karena servicenya yang begitu memuaskan Juwita kerap dipanggil kembali oleh para pria itu. Meskipun meraka harus mengelontorkan rupiah yang tidak sedikit, namun mereka rela demi bisa menikmati lagi tubuh molek seorang Juwita. Juwita tentu dengan senang hati akan menerimanya, wanita itu justru memanfaatkan keadaan ini untuk memeras orang itu hingga bangkrut.


"Tentu saja tidak! Pesona putri Papa ini memang tidak bisa diragukan lagi, Papa sangat bangga padamu sayang. Meskipun Kamu bukan anak kandung Papa, tapi kamu sangat berbakti sekali pada Papa. Andai saja kamu bukan anak Papa, mungkin Papa juga akan meniduri mu juga, sayang." Sungguh menjijikkan sekali pria ini. Bahkan tatapannya pada anak sendiri seakan hendak ingin melahapnya saja. Meskipun itu anak tirinya, namun tetap saja menjijikkan. Apalagi saat menatap belahan bongkahan putrinya itu yang terlihat dengan jelas dan juga paha putih yang membuat para pria ngiler melihatnya.


Alih-alih merasa jijik mendengar penuturan Papanya nya justru Juwita dengan manjanya bergelayut manja pada tubuh Papanya itu.


"Iiihhh...Papa jangan nakal sama anak sendiri. Pantas saja Mama sering cemburu padaku," ujarnya dengan manja. Memang Mama Juwita kerap kali cemburu dengan putrinya itu kala melihat suaminya itu terlihat lebih menyayangi Juwita dibanding dirinya. Dan yang lebih membuat Mamanya cemburu itu adalah tatapan Pak Surya yang sedikit kurang wajar pada putrinya. Di dalam hati wanita itu sangat mencemaskan kedekatan putri dan suaminya itu, pasalnya putrinya itu bukanlah anak dari suaminya, melainkan itu adalah anak hasil pernikahannya dengan suami sebelumnya.


Pak Surya tersenyum manis seraya memeluk tubuh Juwita dengan erat, bahkan ia bisa merasakan bongkahan besar Juwita yang menghimpit nya. "Sudah tidak usah diperdulika Mama mu itu. Dia kan taunya hanya menghabiskan uang tanpa tahu bagaimana susahnya kita mencari uang itu."


"Hmmm... tangan Papa sangat nakal sekali....geli Papa..."jerit Juwita yang merasakan tangan besar Papanya itu menelusup disela-sela kaki bagian atasnya. Namun rupanya ia juga tidak menolak kelakuan Papanya itu.


"Kamu sangat membuat Papa tergoda sayang. Selama ini Papa selalu menahannya..."ujar pria itu dengan masih pada kegiatannya hingga membuat dress mini yang wanita itu kenakan tersingkap keatas. Sementara tangan yang satunya memeluk semakin erat tubuh Juwita.


"Papa... jangan begini. Bagaimana jika klien Papa itu datang..."ucap Juwita dengan mengigit bibirnya.

__ADS_1


"Sebentar, Papa masih ingin seperti ini sayang. Papa juga tidak akan sampai kelewatan, takut nanti penampilan kita berantakan dan membuat Pak Dewa curiga. Nanti malam Papa ingin melakukan lebih denganmu sayang, apa boleh?"


"Anything for you daddy..."jawabnya dengan mengecup sekilas Ayah tirinya itu.


"Jangan menggodaku Baby..."erangnya. Lalu menyambar leher Juwita dengan sedikit brutal. Ia takut jika mencium bibir Juwita nantinya akan berantakan.


Kedua orang itu tidak menyadari jika tingkah menjijikkannya itu telah dilihat oleh empat pasangan mata dari celah pintu masuk yang terbuka, tidak lupa kegiatan itu telah orang itu abadikan dalam ponselnya. Yang nantinya dengan video ini pasti akan membuat pihak Pak Surya tidak akan berani untuk mengusiknya.


"Sumpah menjijikkan sekali. Padahal mereka pasangan ayah dan anak. Sungguh hewani sekali kelakuan mereka..."bisik Bima dengan tangan yang memegang ponsel merekam kegiatan kedua orang yang tengah asik tanpa menyadari kehadirannya itu.


Dewa dan juga Bima yang telah sampai di Hotel, langsung saja diantara oleh pelayan hotel menuju ruangan yang sudah dibooking oleh Pak Surya. Namun, saat ingin masuk mereka berdua langsung disuguhkan dengan adegan yang membuat kedua orang itu menggangga tidak percaya. Rupanya senjata pamungkas sedang dimakan oleh sang tuan sendiri. Dewa dan Bima yang tidak tahu hubungan sebenarnya kedua orang itu, sungguh merasa mual sekali. Bahkan Dewa tidak sanggup untuk melihatnya, berbeda dengan Bima yang justru sangat asik melihat dengan mulut yang tidak berhenti mengoceh.


Dewa yang sudah amat jijik, tidak ingin berbasa-basi lagi dengan kedua orang itu. Dewa langsung saja masuk dengan mendobrak pintu, seperti seseorang yang tengah memergoki pasangan berselingkuh.


"Dasar biadab! Menjijikkan sekali perbuatan kalian ini. Sudah seperti hewan!!!"Hardik Dewa dengan keras.


Kedua orang yang sedang asik bercumbu itu tentu saja langsung terlonjak kaget. Betapa malunya Pak Surya saat melihat siapa yang sudah menangkap basah dirinya itu.


"P-ak...D--ewa....saya bisa jelaskan...ini tidak seperti yang Anda lihat..."ujar Pak Surya dengan gelagapan. Sementara Juwita tengah sibuk memperbaiki pakaiannya.


"Anda pikir saya buta!!! Saya melihat semuanya, jadi tidak usah mengelak lagi...!!!"Sentak Dewa. Pak Surya langsung kicep dibuatnya, ia merutuki kecerobohannya itu.

__ADS_1


"Saya tidak ingin berlama-lama lagi disini. Saya hanya akan mengatakan, saya tidak akan memberikan uang ganti rugi sepeserpun pada anda. Saya sudah mengantongi bukti, jika kerusakan bangunan hotel itu adalah ulah dari Pak Surya sendiri yang ingin memeras saya, kan?"


"Pak Saya---"


"Cukup! Saya tidak ingin mendengar lagi suara cempreng mu itu. Pada intinya saya tidak akan mengganti rugi. Dan saya anggap masalah ini sudah clear. Saya harap anda tidak menggangu saya dan perusahaan saya setelah ini. Karena jika anda berani. Jangan salahkan saya, jika saya akan menyebarkan video mesum anda dengan putri anda itu. Saya sudah merekam kegiatan kalian tadi, saking asyiknya sampai tidak menyadari dengan kedatangan kami. Bayangkan saja jika publik tahu jika orang yang mereka puja-puja ternyata memiliki sifat hewan seperti ini...!!!"Tukas Dewa dengan tersenyum licik. Ia tidak perlu repot-repot berbasa-basi lagi dengan pria tua itu. Dengan kejadian ini seperti sudah cukup untuk membuat pria itu tak berkutik dan terancam.


"Jangan Pak! Jangan sebarkan video itu...baik Pak, saya tidak akan mengganggu Pak Dewa setelah ini. Dan Pak Dewa tidak perlu mengganti uangnya. Tapi saya mohon Pak jangan sebarkan video itu. Mohon hapus video itu Pak Dewa. Itu bisa merusak reputasi dan perusahaan saya akan hancur..."ujarnya dengan menggiba. Sedangkan Juwita tidak berani berkutik sedikit pun.


Dewa tidak menjawab sedikit pun, ia langsung saja bergegas pergi dari ruangan itu, rasanya ingin muntah melihat wajah kedua orang itu. Bima langsung saja pergi setelah memberikan ancaman pada Pak Surya dan Putrinya.


"Sial...sial...!!!"Maki Pak Surya dengan menendang meja hingga terbalik dan membuat makanan diatasnya berserakan dilantai.


"Papa... takut...!!!"jerit Juwita yang merasa takut dengan kemarahan Papanya itu.


Pak Surya lantas menatap tajam putrinya itu. Dengan sekali sentakan ia menarik tangan Juwita keluar dari ruangan itu.


"Ayo... buat kemarahan Papa hilang sayang...!!!"


Hadeh sungguh meresahkan kedua orang ini.


TBC

__ADS_1


Jangan lupa beri like command and vote biar author tambah semangat love you all...


__ADS_2