
Sementara disisi lain. Veli tengah berkumpul dengan Nessa, Bastian, dan tentunya tidak ketinggalan Reza. Keempat orang itu sedang duduk di taman dengan mengelar karpet dan juga terdapat berbagai jenis makanan yang dibawa oleh Nessa. Rupanya mereka sedang mengadakan acara piknik kecil-kecilan. Nessa yang merasa bosan untuk makan di restoran, ia ingin mencari suasana baru, dan tercetuslah ide untuk makan-makan di taman, seperti piknik yang sekarang mereka lakukan.
"Vel, kamu tidak suka ya kita makan disini? Kok aku perhatiin dari tadi kamu diam terus," tutur Nessa yang memperhatikan Veli terus saja diam dengan wajah masam sedari tadi. Ia mengira Veli tidak suka dengan piknik di taman seperti ini.
"Tidak kok. Aku justru suka, disini kita bisa makan sepuasnya sambil bersantai," ujar Veli dengan tersenyum.
"Ck. Tapi aku melihatnya tidak seperti itu. Dari tadi kamu terus diam dan cemberut. Gak usah bohong, kalau nggak suka, kita pindah sekarang." Nessa tidak percaya begitu saja, melihat wajah Veli yang tidak terlihat senang membuat Nessa masih menganggap Veli tidak suka dengan piknik alakadarnya ini.
"Tidak Ness." Veli menghela nafasnya, tidak mau membuat Nessa salah faham, terpaksa ia harus menceritakan semua hal yang membebani pikirannya beberapa hari ini.
"Jadi begitu. Aku kesel aja dengan Mas Dewa. Kalau nggak mau memenuhi ngidam ku bilang baik-baik, nggak usah ngebentak aku kaya gitu. Dikira aku gak sakit hati apa..."
"Mungkin suamimu capek kalik, Vel. Ditambah Sekretarisnya kan belum pulang seperti katamu, pasti dia lagi sibuk-sibuknya. Kamu gak usah berfikir yang tidak-tidak. Dan soal ngebentak, diakan sudah ngejelasin dan udah minta maaf juga, sama kamu," ujar Nessa, ia merasa tidak ada keanehan dari suami sahabatnya itu. Mungkin suaminya Veli itu memang sangat sibuk sehingga tidak ada waktu untuk Veli. Seperti halnya dirinya sendiri, yang memang jarang sekali ada waktu dengan Bastian, karena kesibukan masing-masing.
"Tetap saja, aku kesel sama dia!" Ujar Veli yang masih menyimpan kekesalan kepada suaminya. Mungkin karena efek kehamilan yang membuat dia menjadi lebih sensitif.
"Sudahi galau mu bestie, mari mabar bersamaku,"celetuk Reza yang sedari tadi sudah anteng dengan HP miringnya, bermain game online. Dengan suara yang berisik.
Double kill
"Mampus lah kau. Mythical Glory dilawan, nggak bisa say..."celoteh Reza yang begitu heboh karena berhasil membunuh lawan. Padahal Reza tidak sejago itu dalam bermain game online yang banyak digandrungi oleh setiap kalangan itu, malahan dialah yang sering di kill oleh lawan. Sok-sokan lah dia menjuluki dirinya sebagai Rank Glory yang setara dengan para pro player.
"Ck...ck...ck...! Berlebihan sekali, belum ada sebulan kamu main game itu. Nggak usah sok-sokan membanggakan diri seperti itu, sering mati juga," ucap Bastian yang jengah melihat tingkah Reza yang sok itu.
Belum juga ada semenit Bastian bilang begitu dan buktinya Reza sudah kalah lagi, ini sudah kesekian kalinya ia kalah. "Yelah... Kalah lagi. Ini pasti sinyalnya yang jelek nih." Karena kesal terus kalah, Reza pun keluar dari permainan itu. Tidak lupa ia menyalahkan sinyal, padahal memang dirinya lah yang tidak bisa main.
"Sepertinya seru sekali main game itu. Ajarin aku dong Mas. Itung-itung biar nggak bosan aku di rumah," ujar Veli yang sepertinya tertarik dengan game online yang dimainkan oleh Reza.
__ADS_1
"Siap... Entar Mas Reza ajarin. Tapi sebelum itu, kamu harus download game nya terlebih dahulu."
"Oke." Jawab Veli dan mulai mencari aplikasi yang dimaksud oleh Reza untuk ia download.
Nessa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Veli yang mulai terkena virus game online dari Reza. Beruntung Bastian tidak ikut-ikutan seperti Reza yang gemar dengan game online akhir-akhir ini.
"Veli, kamu jangan aneh-aneh. Bisa-bisa suamimu marah kalau kamu main game online seperti itu. Main game itu bisa buat kita kecanduan dan lupa segalanya," Cerocos Nessa berusaha menasehati sahabatnya yang mulai bertingkah itu.
"Tidak akan kamu tenang saja. Lagian Mas Dewa kan sudah jadi orang sibuk, tidak mungkin jika suamiku itu ada waktu buat ngurusin aku yang main game. Lagian ini kan cuma main game, bisa dimainkan sambil rebahan pula," tutur Veli yang tetap ngeyel.
"Terserah..." ujar Nessa.
*
*
"Mami sudah dong main gamenya. Diminum dulu susunya,"ujar Dewa seraya mendudukkan dirinya di samping sang istri yang duduk di atas ranjang, dengan tangannya yang menyodorkan gelas berisi susu hamil yang ia buat sendiri untuk istri tercintanya itu.
"Sebentar," sahut Veli tanpa menoleh ke arah suaminya. Dan hal itu membuat Dewa sedikit kesal.
"Duhh... Gimana sih Mas Reza. Katanya dengan main game ini bikin stres ilang. Lah ini apa? Aku malah tambah stres..." Dumel Veli yang merasa kesal karena sedari tadi ia kalah terus, tidak pernah menang. Lebih tepatnya ia tidak bisa memainkan game itu.
Mendengar nama Reza disebut membuat Dewa langsung tahu darimana istrinya itu tahu tentang game online ini. "Oh... Jadi Si Reza yang mengajari Mami main game ini?!" Tanya Dewa dengan menatap tajam istrinya.
Veli merutuki kebodohannya itu, bisa-bisanya dirinya keceplosan didepan suaminya. "Heheheh... Iya..."
Dengan masih menatap tajam istrinya, lantas Dewa langsung merebut ponsel istrinya. "Minum susunya sampai habis... Setelah itu kita langsung tidur. Ponsel Mami, Papi sita...!!" Omel Dewa seperti emak-emak yang memarahi anaknya yang bandel.
__ADS_1
Tanpa membatah lagi, Veli langsung meminum susu hamilnya hingga tandas.
"Sini Papi peluk..." ujar Dewa dengan memposisikan tubuhnya untuk berbaring seraya menepuk pelan dadanya, meminta sang istri untuk bersandar di dadanya.
Dewa langsung mendekap erat tubuh istrinya, kecupan penuh cinta ia layangkan dikening sang istri.
"Maafin Papi yang akhir-akhir ini terlalu sibuk dengan pekerjaan, sehingga tidak ada waktu buat Mami..." Veli menghela nafasnya, disini bukan hanya suaminya yang salah sebenarnya ia juga salah, sebagai istri seharusnya ia memberikan dukungan untuk suaminya yang sedang banyak pekerjaan itu, bukan malah marah dan menambah beban pikiran suaminya.
"Iya... Maafin Mami juga. Seharusnya Mami kasih support buat Papi. Bukan malah marah-marah tidak jelas..." ujar Veli dengan mengelus-elus dada bidang suaminya.
"Maaf juga, sudah bentak Mami kemarin. Papi nyesel banget. Pasti malam itu Mami lagi pengen makan sesuatu kan?" Ucap Dewa dengan membelai lembut perut buncit Veli.
"Sudahlah tidak usah dibahas lagi... Mami ngantuk..." rengek Veli dengan manja, sengaja mengalihkan pembahasan tentang ini, lantaran entah kenapa hatinya masih saja berdenyut nyeri kala mengingat bentakan dari suaminya.
"Baiklah... Baiklah. Selamat tidur istriku, selamat malam...." bisik Dewa dengan memberikan ciuman panjang pada bibir istrinya.
*
*
Disisi lain, tampak seorang wanita yang terlentang di atas ranjang dengan tubuh tanpa sehelai benangpun dan hanya ditutupi oleh selimut tebal.
Keadaan wanita itu begitu terlihat lelah dan sangat kacau. Tubuhnya gemetaran tidak karuan, akibat tubuhnya yang digagahi dengan sangat kasar dan berlebihan.
"Ini semua karena wanita itu. Andai saja Veli tidak merebut Dewa dariku, mungkin Dewa akan menerima ku kembali disisinya. Dan aku tidak terkurung menjadi pemuas nafsu pria tua psikopat itu untuk selamanya...!!!" Pekik Jeenika dengan frustasi. Ia menyalahkan Veli atas apa yang menimpanya saat ini. Andai Veli tidak dijodohkan dengan Dewa, pasti Dewa masih dengan senang hati mau menerimanya. Andai Veli tidak masuk kedalam kehidupan Dewa, pasti Dewa akan dengan senang hati membantunya untuk lepas dari jeratan Fernando, dan mereka akan kembali merajut kasih yang sempat terputus itu.
"Lihat aja Veli... Pasti kamu tidak akan pernah bahagia selama aku juga tidak bahagia... Semoga rumah tangga kamu dan Dewa hancur... Sehancur hidupku sekarang.... Hahahahha..." Sepertinya Jeenika sudah mulai gila karena ia dikurung tanpa boleh keluar selangkah pun oleh Fernando. Dan dia hanya dijadikan sebagai pemuas nafsu oleh Fernando, setelah Fernando puas menikmati tubuhnya, ia akan dicampakkan begitu saja oleh pria itu.
__ADS_1
Jangan lupa beri like command and vote biar author tambah semangat love you all...