
Hari dan bulan pun berlalu. Kini kehamilan Velisa telah menginjak usia sembilan bulan. Selama itu pula Dewa menjadi suami siaga, setiap malam ia selalu terjaga jika istrinya kesulitan tidur dan mengeluhkan pinggangnya yang terasa pegal dan nyeri. Dewa senantiasa sabar memijit pinggang istri tercintanya itu, berharap bisa mengurangi rasa sakit yang mendera wanita yang tengah mengandung buah hatinya itu. Selama itu juga Dewa juga melarang istrinya itu untuk keluar kemanapun tanpa dirinya, bahkan ia rela sering bolos kekantor dan lebih memilih menempeli istrinya setiap saat. Beruntung ada Dewi yang sering menginap dirumah Dewa, sehingga Veli tidak merasa bosan saat dilarang oleh Dewa kemana-mana.
Dewi memang sering menginap dirumah Dewa, kendati ia sudah memiliki rumah sendiri dengan Bima. Wanita yang tengah hamil muda itu tengah mengidam ingin tidur di kamarnya yang penuh dengan gambar-gambar para lelaki dari negeri ginseng Korea kesukaannya. Dewi yang sedari dulu memang suka dengan pria-pria tampan dan semenjak hamil kesukaannya itu semakin menjadi-jadi dan kerap kali membuat Bima kesal dan cemburu.
"Tadi tuh, kenapa kak Dewa pagi-pagi sudah pergi kekantor, tumben? Bukanya kata Dokter kak Dewa harus standby di samping kak Veli, sewaktu-waktu kak Veli melahirkan?" Tanya Dewi yang tengah duduk diruang keluarga dengan memeluk toples berisi camilan yang akhir-akhir ini menjadi favoritnya. Dewi dan Veli kini tengah duduk santai diruang keluarga.
__ADS_1
"Katanya di kantor sedang urgent, jadi Papi harus pergi. Itupun aku yang maksa dia pergi," Jawab Veli yang tengah sibuk dengan ponselnya. Jika saja ia tidak memaksa suaminya untuk pergi kekantor mungkin suaminya itu tidak akan pergi, itupun dengan syarat ia harus berkirim chat dengan Dewa setiap detik, oleh sebab itulah Veli sekarang sibuk dengan ponselnya. Dewa akan merasa tidak tenang saat berjauhan dengan istrinya, ia kerap kali gelisah tidak jelas jika tak melihat wajah sang istri.
"Oh, biasanya kan kalian akan nempel terus kayak perangko." Kadang Dewi merasa jengah dengan kegilaan Dewa yang setiap saat menempel pada istrinya itu. Bahkan saat Kakak iparnya berjalan, tangan Dewa senantiasa memegang perut buncit istrinya, takut-takut anaknya itu terguncang saat istrinya berjalan, sungguh pemikiran yang bodoh. "Ngomong-ngomong Kak Dewa pernah kesel tidak, saat nurutin ngidam kak Veli?"
Veli terdiam sejenak, mengingat ngidamnya yang selalu dituruti oleh suaminya. Tapi ia sangat jarang mengidam, yang lebih sering mengidam malah sang suami. "Nggak pernah sih, soalnya yang sering ngidam justru Mas Dewa sendiri. Setiap ngeliat iklan makanan di TV atau bungkus makanan yang kelihatan menarik langsung kepengen makanan itu. Bahkan aku sempat malu saat jalan-jalan di taman dengan Mas Dewa, masak Mas Dewa ngerebut ciki punya boca sampai dia nangis. Malah emaknya galak lagi," ujar Veli, dengan mengingat kelakuan Dewa yang merampas makanan milik anak kecil dan ibunya yang tidak termia langsung memarahi Dewa. Beruntung Veli langsung menggantinya dengan uang, dan meminta maaf dengan rasa malu yang mengcokol. Sementara Dewa sendiri hanya biasa-biasa saja tidak merasa bersalah sama sekali.
__ADS_1
"Ya bagaimana tidak kesal coba, kamu kan ngidamnya aneh banget. Pengen perutnya dielus-elus sama cowok ganteng mirip Song Kang, pengen disuapi sama cowok mirip Jungkook dan masih banyak lagi. Pokoknya ngidam kamu itu tidak jauh-jauh dari cowok ganteng, gimana Kak Bima tidak kesal," ujar Veli panjang lebar menjelaskan ngidam aneh adik iparnya itu.
Sementara Dewi hanya cengengesan, memang selama ini ia lebih sering mengidam seperti itu daripada menginginkan makanan. Justru nafsu makannya meningkat parah, apapun itu yang penting makanan langsung masuk kedalam mulutnya, sehingga membuat bobot tubuhnya pun bertambah.
TBC.
__ADS_1
Jangan lupa beri like command and vote biar author tambah semangat love you all...