Tiba Tiba Istriku Cuek

Tiba Tiba Istriku Cuek
Bab 58


__ADS_3

"Cih dasar pemarah...!" Cibir Dewi, yang jengah melihat tingkah arogan kakaknya.


"Emang jawabanku salah ya? Kok dia tiba-tiba marah?" Tanya Veli, wanita itu tidak peka dengan jawabannya yang menjadi penyebab kemarahan Dewa.


"Sudah Kak jangan di pikirin, dia itu makhluk paling egois. Maunya dia sendiri yang menang, tanpa mikirin perasaan Kak Veli, semua orang pasti punya cinta pertama kalik. Kalau aku yang jadi Kak Veli pasti sudah minggat nggak betah sama sifat tu orang...!!!" Sahut Dewi, yang sangat kesal sekali dengan sifat egois dan pemarah Kakanya. Untung punya istri sabar kalau tidak, Kakanya pasti sudah menjadi Duda.


"Jadi dia marah gara-gara itu?" Veli jadi merasa sedikit bersalah, seharusnya dia tidak membicarakan pria lain di depan suaminya.


"Sudahlah Kak Vel, mending kita jalan-jalan aja di taman depan. Itung-itung cari hiburan..."Ujar Dewi, kemarin saat lewat hendak pergi kekampus, Dewi tidak sengaja melihat taman yang menurutnya lumayan bagus yang tidak jauh dari kediaman Dewa.


"Boleh, tapi...bagaimana dengan Mas Dewa?" Tanya Veli.


"Udah nggak usah di ajak, dia nggak seru. Apalagi kalau di ajak jalan kaki, mana mau dia..." Celetuk Bima, yang sudah hafal betul dengan perangai sahabatnya itu. Dewa sangat lah malas bila di ajak jalan-jalan santai, menurutnya tidak berguna dan hanya buang-buang waktu saja.


"Tapi aku tidak bisa pergi begitu saja tanpa izin dari Mas Dewa, apalagi dia sedang marah yang ada malah memperburuk keadaan. Kalian tau sendiriankan bagaimana sifat dia, jadi aku tidak bisa ikut." Sebagai wanita yang sudah bersuami tentu saja dia tidak bisa seenaknya pergi begitu saja tanpa izin suaminya, walaupun hanya sekadar jalan-jalan di Taman dekat rumah.


Dewi dan Bima yang mendengar ucapan Veli pun menjadi kagum pada wanita itu, walaupun sudah sering di sakiti oleh Dewa, tetapi wanita itu masih menghormati suaminya, sungguh beruntung sekali Dewa memiliki istri sebaik Veli.


Mereka pun, tidak memaksa Veli untuk ikut. Jadi Dewi dan Bima pergi jalan-jalan berdua, sembari menikmati waktu berdua sebagai pasangan kekasih yang masih New.


Cklekk


Suara pintu terbuka, memperlihatkan kamar bernuansa abu-abu dengan ukuran yang cukup besar, dan terdapat sesosok laki-laki yang sedang tengkurap di atas ranjang.


"Mas!" Panggil Veli, sembari berjalan mendekat ke arah ranjang.


Dewa yang mendengar suara istrinya hanya diam, tidak berniat untuk menjawab ataupun bangun. Setelah mengobrak meja Dewa langsung pergi ke kamarnya, dengan menahan amarahnya.


Veli duduk di tepi kasur, dan mengusap dengan lembu punggung suaminya, "Mas marah sama aku?" Tanya Veli lembut, sembari tangannya beralih mengusap kepala Dewa dengan lembut.


"Tidak...!!" Sahut Dewa ketus, padahal dia sangat menikmati usapan lembut tangan istrinya yang terasa nyaman.


"Bohong," Ujar Veli, namun tidak di gubris oleh Dewa.


"Maafin aku ya, jika jawaban aku tadi membuat kamu marah. Tapi kenapa juga kamu marah? Itukan hanya masalalu, pasti kamu juga pernah mengalaminya kan? Bahkan sampai sekarang aku tidak pernah tau dia ada di mana, kita tidak pernah ketemu lagi semenjak dia pergi."

__ADS_1


Mendengar ucapan istrinya, Dewa langsung duduk dan menatap dengan tajam istrinya itu.


"Jadi kamu berharap gitu, buat bisa bertemu lagi sama si motor matick itu...!!" Sewot Dewa, yang justru beropini jika istrinya itu berharap bisa bertemu lagi dengan cinta pertamanya.


"Perasaan aku tadi tidak mengatakan itu deh..."Gumam Veli, sembari mengaruk pipinya yang tidak terasa gatal sama sekali.


"Mas! Kamu ngomong apasih? Udah ih, kok malah ngelantur..." Sahut Veli.


"Siapa juga yang ngelantur? Jangan kira aku tidak lihat ya, wajah kamu yang berseri-seri saat nyeritain si motor matick itu...!!" Sungut Dewa dengan kesal.


"Namanya Vario Mas...bukan motor matick..."Jelas Veli, yang membuat Dewa bertambah kesal.


"Tuh kan...!! Kamu sampai nggak rela aku nyebut dia motor matick...!!!" Sewot Dewa.


"Maaf...maaf..."Pinta Veli dengan memohon.


"Tau ah...kamu nyebelin pergi sana...!"Usir Dewa.


"Udah ih, jangan marah-marah muluk. Aku kan sudah minta maaf..."


Veli hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat, susah sekali membujuk suami batu nya itu. Ia langsung berdiri hendak meninggalkan Dewa, Veli sudah menyerah.


"Kamu mau kemana?" Tanya Dewa ketus, mendongak menatap istrinya yang berdiri.


"Pergi lah, tadi kan kamu nyuruh aku pergi..."Sahut Veli, wanita itu sedikit bingung dengan pertanyaan suaminya. Bukankah Dewa tadi yang mengusirnya?


"Jadi cuman segitu usaha kamu buat ngebujuk aku? Yaudah pergi sana, nggak usah balik kesini...!!!" Ujar Dewa dingin dengan tersenyum kecut, seraya berbaring kembali dan menenggelamkan seluruh tubuhnya di bawa gulungan selimut tebalnya.


Veli terkekeh geli dengan tingkah suaminya yang seperti anak kecil, yang minta di bujuk saat sedang marah.


"Bener nih kamu nyuruh aku pergi?" Goda Veli, namun Dewa diam tidak bergeming.


"Yaudah aku nyusul Dewi saja, jalan-jalan di tam---"


Brughhh

__ADS_1


"Akhhh..."Pekik Dewi kaget. Tiba-tiba Dewa menarik tubuh Veli hingga berbaring di sampingnya dan langsung mendekapnya dengan erat.


"Dasar nakal, enak saja mau ninggalin suami sendirian, lebih baik kamu nemenin suami tidur, daripada berkeliyaran tidak jelas...!" Ucap Dewa dengan kesal.


"Kamu sendiri tadi yang mengusir ku..." Ujar Veli, dengan menatap wajah suaminya.


"Habis kamu buat aku emosi..." Sahut Dewa dengan cemberut.


"Iya, iya. Aku salah, maafin aku ya..." Pinta Veli dengan memasang wajah memelasnya, berharap suaminya mau memaafkan dirinya.


"Baiklah...aku maafin. Tapi...ada syaratnya," Ucap Dewa dengan tersenyum licik.


"A-apa?" Tanya Veli terbata, ia sedikit tidak nyaman melihat senyum suaminya yang terlihat seperti om-om pedo.


"Aku mau ini..." Ujar Dewa semangat, sembari tangannya menyentuh benda bulat favoritnya.


"Heh...!!" Pekik Veli, matanya membola dan menepis tangan nakal suaminya.


"Mau di maafin nggak?!!" Ketus Dewa, memandang tajam Veli.


"Hufftt...yaudah-yaudah..." Akhirnya Veli terpaksa menyetujui permintaan aneh Dewa, daripada suaminya terus marah dan membuat dirinya pusing.


"Nah gitu dong---" Dengan semangat Dewa langsung membuka kaos istrinya, dan terpampang lah dua gundukan padat yang masih terbungkus rapih, dengan gerakan cepat Dewa melepas bra Veli dan melemparnya begitu saja. Tanpa basa-basi Dewa langsung melahap dengan rakus pucuk pink gundukan itu.


"Sttthh, pelan-pelan Mas..." Ujar Veli, yang merasakan geli dan nyeri saat mulut Dewa melahap rakus dadanya.


"Enyak sayang. Chup..chupp..." Ucap Dewa tidak jelas, karena mulutnya asik menyusu.


Giliran di kasih enak-enak marahnya ilang, memang dasar nyari kesempatan.


"Tapi janji cuman nen doang tidak lebih masih sakit nih..."Ujar Veli memeperingati.


Dewa hanya mengangguk tanpa berniat melepas mulutnya, dia juga tidak setega itu untuk mengempur istrinya kembali, setelah tadi malam ia gempur habis-habisan.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2