
"Kita harus cepat pulang kak, sebelum kak Dewa sampai di rumah duluan," ujar Dewi dan langsung disetujui oleh Veli. Dengan berlari kecil kedua wanita itu pulang kerumahnya berharap Dewa belum sampai terlebih dahulu di rumah. Veli berlari dengan memeluk kantung plastik yang berisi mangga muda pemberian dari Rendy, melupakan keadaannya yang tengah mengandung, dia terus berlari dan berdoa dalam hati supaya suaminya belum sampai di rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini kedua wanita cantik itu telah tiba di depan rumahnya, dengan wajah yang berkeringat serta nafas yang ngos-ngosan. bagaimana mana tidak, kedua wanita itu berlari di sepanjang jalan agar cepat sampai di rumah sebelum keduluan oleh Dewa. Namun itu semua sudah terlambat, nyatanya sekarang mobil milik Dewa sudah terparkir cantik di depan rumah mewah itu. Seketika jantung kedua wanita itu berdetak tak karuan dengan wajah yang sudah pucat pasi.
Dengan ketakutan yang luar biasa memberanika diri untuk melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.
"Dewi kamu saja yang buka pintunya..." titah Veli setelah keduanya sampai di depan pintu utama. Tangan Veli seakan tidak sanggup untuk sekedar membuka pintu, tanga wanita hamil itu gemetaran saking takutnya untuk berhadapan dengan suaminya.
Dewi menggeleng brutal menolak titah dari Veli. "Enggak ah... Kak Veli saja. Ini kan rumah kamu kak," ujar Dewi dengan suara panik, sambil memeluk lengan Veli.
Veli mengembuskan nafasnya dengan kasar, lantas memberanika diri untuk membuka pintu dengan pelan.
Ceklek
Pintu terbuka dengan perlahan, kedua wanita itu lantas melangkah masuk dengan mengendap-endap waspada. Dewi memeluk lengan Veli semakin erat saat keduanya melangkah menuju ruangan tengah, seakan mereka memasuki rumah hantu yang begitu horor.
Deg
__ADS_1
Wajah dingin Dewa serta tatap tajamnya menyambut kepulangan Veli dan Dewi, seketika kedua wanita itu memberhentikan langkahnya setelah sampai di ruang tengah dan melihat Dewa di sana dengan wajah yang menyeramkan.
Dewa hanya duduk diam di sofa, dengan tampilan yang masih memakai pakaian kerjanya, kemejanya yang digulung lengannya serta kancing atas yang sudah terbuka. Netrat hitam legamnya menyorot dengan tajam kedua wanita di depannya.
Veli dan Dewi mematung tidak berani untuk sekedar bergerak. Dewi yang sudah berancang-ancang hendak kabur pun, seketika membeku seakan kakinya begitu sulit untuk ia gerakan. Sementara Veli, jangan ditanya lagi mata wanita itu sudah berkaca-kaca saking takutnya.
"Ma-mas...ka-kamu sudah pulang?" tanya Veli dengan terbata-bata saat melihat Dewa bangkit dan berjalan menghampirinya.
"Kenapa? tidak suka?" tanya Dewa dengan dingin, menatap tajam wajah istrinya.
Nafas Veli seakan berhenti mendengar suara dingi dan menusuk suaminya, ia langsung menunduk tidak berani untuk bertanya lagi.
Tanpa membantah Dewi langsung memberikan ponselnya kepada Dewa dengan ragu-ragu.
Dewa langsung menarik dengan kasar ponsel yang disodorkan oleh Dewi, pria itu segera mengotak-atik ponsel Dewi yang memang tidak terkunci sehingga dengan mudah Dewa membuka ponsel itu. Target pertamanya ialah galeri foto Dewi, rahangnya langsung mengeras manakala melihat jejeran foto Veli dan Dewi serta Rendy, dengan berbagai pose.
Tanpa basa-basi Dewa langsung menghapus foto-foto itu, setelah semuanya terhapus dengan santai Dewa langsung membuang ponsel milik Dewi kelantai, membuat Dewi dan Veli memekik kaget dengan apa yang di lakukan oleh Dewa. Tanpa merasa bersalah Dewa langsung pergi berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai atas, meninggalkan kedua wanita itu tanpa berucap sepatah kata pun, namun terlihat jelas dari wajahnya yang memancarkan kemarahan.
Veli dan Dewi hanya bisa menelan ludahnya denga susah melihat aksi Dewa. Dengan cepat Dewi memungut ponsel mahalnya yang tergeletak di lantai.
__ADS_1
"Huaaa...ponsel mahalku...untung kamu tidak papa hanya lecet saja. Kak Dewa memang menakutkan dan gila..." ujar Dewi dengan memeluk ponselnya, beruntung Dewa hanya menjatuhkan saja tidak sampai dibanting, jadi ponsel milik Dewi masih aman hanya sedikit lecet.
Veli berjalan menuju dapur meninggalkan Dewi yang masih memeluk ponselnya dengan dramatis, untuk menyimpan buah mangganya denga perasaan yang campur aduk. Menyesal, takut, dan merasa bersalah pada suaminya.
"Mbok...Mas Dewa sudah lama sampainya?" tanya Dewi pada pelayan seraya menyerahkan mangga mudanya untuk disimpan di dalam kulkas.
"Lumayan Nyonya, Tuan Dewa sudah hampir setengah jam lebih duduk di sana. Setelah sampai tadi Tuan langsung duduk di ruang tengah dan baru beranjak setelah Nyonya pulang, Tuan pulang seperti sedang marah kita tidak ada yang berani mendekat..." jawab pelayan itu panjang lebar.
Deg
"Ya Tuhan pasti Mas Dewa marah dan kecewa banget sama aku, apa yang harus aku lakukan..." ucap Veli dalam hati dengan perasaan yang campur aduk.
"Terimakasih mbok, kalau begitu saya permisi..." Dengan langkah pelan Veli berjalan menyusul suaminya di kamarnya, jantung Veli berdebar tak karuan, tangannya meremas drees yang ia pakai. Veli mendengus kesal saat sudah tidak melihat Dewi di ruang tengah, bisa dipastikan perempuan itu sudah kabur meninggalkan dirinya.
Benar saja perempuan itu sudah pergi dan mengurung dirinya di dalam kamar, Dewi tidak akan sanggup untuk mengahadapi sang kakak dan membiarkan kakak iparnya itu mengahadapi Dewa seorang diri.
Mungkin saat ini kamu bisa kabur Dewi, namun kamu tidak akan bisa menghindari kemarahan dari seorang Dewa, entah apa yang akan dilakukan Dewa untuk menghukum Dewi.
TBC.
__ADS_1