Tiba Tiba Istriku Cuek

Tiba Tiba Istriku Cuek
Bab 108


__ADS_3

Ceklekk


Veli dan Dewi sudah membuka pintu ruang rawat Dewa. Veli sedikit kaget ketika memasuki ruang rawat suaminya itu. Bagaimana tidak ruang rawat dari Dewa begitu mewah, sudah seperti kamar hotel saja. Terdapat ranjang yang lumayan besar, sofa, bahkan televisi pun ada. Ini sih sangat tidak mencerminkan ruangan orang sakit sama sekali. Apalagi saat melihat empat orang pria yang sedikit heboh bermain game online diponselnya masing-masing, sedangkan pria yang katanya sakit itu malah dengan santainya menonton kartun di televisi.


Dewi dan Veli tertegun saat melihat semua orang tidak menyadari kedatangan mereka dan malah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Menyebalkan sekali rasanya dirinya sudah sangat khawatir dan terburu-buru datang kerumah sakit, justru ketika sudah sampai malah mendapat pemandangan yang membuatnya naik darah. Ruangan rawat Dewa sudah terlihat seperti tongkrongan saja.


"Ekhmm...!!!" Dewi berdehem dengan keras untuk membuat para pria itu menyadari kehadirannya. Dan benar saja para pria itu langsung memusatkan atensi mereka pada kedua wanita yang nampak berdiri didepan pintu.


Dewa yang melihat kedatangan sang istri pun langsung sumringah. Bibirnya yang sedari tadi cemberut langsung mekar seketika.


"Mami...Dewi... Kalian datang buat jenguk aku?" Dewa begitu sangat terharu melihat kedatangan kedua wanita itu. Pasalnya ia sendiri tidak yakin jika istri dan adiknya itu akan datang, mengingat bagaimana sikap kedua wanita itu yang dengan kompak mengabaikan dirinya.


Sedangkan Bima langsung gercep menghampiri Dewi dan menuntunnya untuk duduk di sofa. Sementara Veli sendiri sudah berjalan menghampiri sang suami dengan mata yang sudah basah. Veli begitu merasa bersalah, dirinya merasa tidak pecus menjadi istri, apalagi ketika melihat wajah pucat suaminya dan selang infus yang tertancap ditangan suaminya.


"Papi... maafin Mami...hiks. Papi kayak gini pasti gara-gara Mami yang cuekin Papi berhari-hari..." ucap Veli dengan menangis seraya berhamburan memeluk tubuh suaminya.


Dewa tentu saja langsung membalas pelukan sang istri dengan begitu erat dan juga menghujani istrinya itu dengan kecupan-kecupan mesranya. Dia begitu merindukan tubuh istrinya yang dua hari ini tidak ia peluk dan cium. Bahkan saat tidur pun ia harus memeluk guling, hidupnya begitu terasa hampa tanpa ada sosok wanita yang dulu sempat ia sia-siakan.


"Huaaa...Mami..., iya Mami tega cuekin Papi. Sampai Papi sakit mikirin Mami tiap malam, sampai tidak bisa tidur karena tidak bisa peluk Mami. Mami tega..." Alih-alih menenangkan sang istri yang menyalahkan dirinya sendiri, Dewa justru merengek dan ikuti membenarkan ucapan istrinya. Definisi suami laknat.


Bima dan Dewi sampai memutar bola matanya malas mendengar rengekan Dewa yang dengan bodohnya berkata seperti itu. Sedangkan ketiga pria yang tidak pernah melihat sikap menjijikkan Dewa hanya bisa menahan nafas. Apalagi ketika mengingat Dewa yang selalu marah-marah tidak jelas setelah terbangun dari pingsannya tadi, dan kini telah berubah menjadi kucing imut dihadapan istrinya. Bahkan Dokter dan perawatan pun juga kena omelan dari Dewa, padahal mereka sama sekali tidak membuat kesalahan sedikitpun, namun semua yang mereka lakukan terlihat salah dimata pria itu.

__ADS_1


"Bukan temen Gue," ujar Diki


Veli melepas pelukannya, namun Dewa yang tidak mau berjauhan dengan sang Mami, pria itu menuntut istrinya untuk duduk disampingnya agar ia tetap bisa memeluk pinggang Veli dan menyandarkan kepalanya di dada sang istri. Sementara tangan Veli mengelus rambut suami manjanya itu.


"Maafin Mami ya.... Kata Dokter Papi sakit apa?" Veli dengan penuh perhatian memeluk dan mengelus kepala Dewa yang bersandar di dadanya, dirinya bisa merasakan suhu tubuh Dewa yang agak hangat. Sebenarnya suaminya ini kenapa sampai bisa sakit seperti ini, setau dirinya suaminya itu begitu sangat menjaga kesehatan tubuhnya.


"Papi tidak sakit apa-apa. Papi depresot Mami cuekin terus... jangan kayak gitu lagi..." balas Dewa dengan asal. Tangan pria itu sudah mengelus-elus perut istrinya yang sudah terlihat padat itu. Veli hanya bisa menghela nafasnya ketika mendengar jawaban asal suaminya.


"Kata Dokter, Dewa hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran. Ditambah makannya yang tidak teratur dan sering begadang..." tutur Bima. Bima lah yang menjadi saksi bagaimana frustasinya Dewa hingga pria itu jarang sekali menyentuh makanan. Kerjaan Dewa hanya kerja, marah-marah lalu menangis.


"Ya ampun Papi. Kenapa Papi tidak makan? Dan apa yang Papi lakukan sampai begadang segala?" Veli begitu kaget ketika mendengar penjelasan dari Bima.


"Mami tega cuekin Papi...Mami udah nggak sayang lagi sama Papi...huaaa...." lanjut Firza yang juga ikut-ikutan meledek Dewa. Semua langsung tertawa kecuali Dewa, ketika melihat kedua pria itu yang menirukan rengekan Dewa ketika menangis.


"Sialan...! Mending Lo semua pergi dari sini..." Tukas Dewa yang begitu kesal dirinya menjadi bahan tertawan oleh teman-temannya apalagi dihadapan istrinya sendiri. Rasanya ia ingin sekali menyumpal mulut laknat kedua temannya itu.


"Mulutnya Papi..." Tegur Veli yang tidak suka suaminya itu mengumpat.


"Mami juga, kenapa ikut-ikutan ngetawain Papi sih...ini semua kan juga salah Mami yang tidak mau deket-deket sama Papi. Papi kan jadi sedih," sewot Dewa yang begitu kesal dan juga malu ditertawakan istrinya sendiri.


"Maaf-maaf... Sekarang Papi makan ya. Itu buburnya belum Papi makan, Mami suapin ya..." Veli sudah bergerak hendak mengambil bubur rumah sakit yang masih untuh di atas nakas, namun Dewa malah mengeratkan pelukannya seraya menggeleng.

__ADS_1


"Papi tidak mau makan bubur itu, rasanya kayak makan bubur kardus bekas..." Tolak Dewa dengan cemberut seraya menduselkan wajahnya di dada gemoy sang istri. Veli mendengus kesal melihatnya.


"Kalau Papi tidak mau makan, Mami tidak mau deket-deket sama Papi lagi...!" Ancam Veli dengan penuh penekanan. Ancam itu rupanya berhasil membuat Dewa menurut, Dewa tidak mau berjauh-jauhan dengan istrinya lagi, sungguh itu semua sangat menyiksa dirinya.


"Ya, ya, ya. Papi mau makan, tapi bukan makan bubur kardus bekas itu. Papi mau makan nasi Padang komplit. Boleh?" Entah mengapa rasanya Dewa ingin sekali makan nasi Padang dengan berbagai lawuk, pasti sangat enak.


"Boleh, asal Papi mau makan dan bisa cepat sembuh. Mami nggak suka lihat Papi sakit kayak gini."


"Yasudah biar aku belikan..." ujar Bima yang sudah bersiap-siap hendak bangkit dari duduknya.


"Tidak mau...! Aku mau Diki, Firza dan Gery yang beli. Jangan lupa jus jeruk, yang banyak jeruknya dan jangan banyak-banyak gulanya. Jus jeruknya beli yang banyak jangan satu..." ujar Dewa yang banyak maunya.


Mau tidak mau ketiga orang itulah yang membelinya, mana bisa mereka menolak permintaan Dewa yang kata Firza sedang mengidam dan harus dituruti biar keponakan mereka tidak ileran nanti.


"Neng Veli yang cantik, mau nitip apa? Biar Abang Diki belikan...!!!" Pekik Diki ketika sudah diambang pintu. Sekalian menggoda Dewa yang lagi lucu-lucunya itu.


"Diki mau Gue jadikan pepes Lo...!!!" Teriak balik Dewa seraya menyumpal bibir istrinya yang hendak membalas ucapan Diki. Diki langsung ngacir sambil tertawa, rasanya menyenangkan sekali menggoda Dewa yang sedang sensitif itu.


Hai...hai... Akhirnya aku kembali lagi setelah tuju hari ini disibukkan dengan membantu tetangga aku yang lagi ada acara nikahan. Jangankan buat nulis cerita pegang hp saja rasanya nggak sempet. Maafin yaa...🙈


Jangan lupa beri like command and vote biar author tambah semangat love you all...

__ADS_1


__ADS_2