
Dewa berjalan dengan lesu memasuki ruang kerjanya, saat pintu ruangannya terbuka ternyata di dalam sudah ada Bima, Diki dan juga Firza. Mereka terlihat mengobrol santai di ruangannya, memang satu jam lagi mereka akan mengadakan meeting membahas kerjasama mereka dengan beberapa klien lainnya.
"Kalian terlihat seperti pengangguran, pagi-pagi sudah nongkrong di sini...!!" Sindir Dewa seraya berjalan menghampiri mereka bertiga dan duduk bergabung di sana.
"Kita kan mau meeting, jadi dari rumah kita langsung kesini, males bolak balik dari kantor gue terus kesini, mending langsung aja biar tidak buang-buang tenaga..." Ujar Diki, yang memang dia dan Firza sudah sepakat langsung saja berangkat menuju perusahaan Dewa tanpa mampir ke perusahaannya terlebih dahulu, biar tidak buang-buang tenaga katanya.
"Hmm...Terserah lah..." Dewa menghembuskan nafas dengan kasar sembari menyandarkan tubuh nya di sofa, sangat terlihat jelas jika Dewa saat ini sangat tidak bersemangat seperti biasanya.
"Lo kenapa Wa?" Tanya Diki yang melihat Dewa tampak tidak bersemangat.
"Istri gue, dia marah sama gue gara-gara kejadian semalam..."
"Ya pantas lah, kalau gue yang jadi Veli ogah banget gue bertahan sama lambe turah kayak lo...!!" Sindir Firza dengan pedas. Firza adalah orang yang tidak pernah menanggapi segala cerita Dewa mengenai kehidupan rumah tangganya dengan Veli, di matanya Dewa malah terlihat seperti laki-laki pecundang yang suka mengosipkan istrinya sendiri. Namun dia juga tidak pernah berhenti untuk menasihati sahabatnya itu, walaupun tidak pernah Dewa gubris sama sekali.
"Gue akuin kalau gue salah, dan gue sangat amat menyesal. Namun gue tidak akan pernah melepaskan Veli walaupun dia memohon mohon sekalipun...!!" Ucap Dewa menatap Firza dengan dingin, dia merasa tidak suka mendengar ucapan sahabatnya yang menyindir dirinya.
"Tapi, Veli tidak sampai gebukin kamu kayak Dewi kan Wa?" Tanya Bima yang mengungkit kejadian diman Dewa di gebukin oleh adiknya sendiri di depan mata kepalanya.
"Dewi gebukin Dewa?" Tanya Diki penasaran.
Dewa segera melototi Bima, sebagai kode untuk tidak menceritakan kejadian memalukan semalam, namun Bima sedang dalam tidak peka modeon, jadi dengan gamblangnya Bima menceritakan bagaimana pasrahnya Dewa di hajar oleh Dewi, yang tak lain adalah kekasihnya sendiri.
Hahahah
Seketika tawa mereka pecah, sementara Dewa ingin sekali membenturkan kepala Bima di meja hingga retak kalau perlu.
"Pantesa muka lo terlihat biru-biru, dan bibir lo mendadak sexy macam ikan koi begitu, hahaha...." ejek Diki dengan terbahak bahak.
__ADS_1
"Seharusnya Veli tabokin bibir lo itu pakek ulekan hahah..." Timpal Firza.
"Cih..! Kalian keliatan bahagia sekali ngeliat gue menderita..." Ujar Dewa sini.
"Emang...!" Jawab mereka kompak, lalu tertawa ngakak.
Dewa segera bangkit dari duduknya menuju meja kerjanya, lebih baik mengecek pekerjaannya daripada ngobrol nggak jelas dengan teman-teman sablengnya, yang suka sekali menghujat dirinya terutama Firza.
Skip
Pukul 12.45, Velisa terlihat sudah bersiap-siap untuk pulang, hari ini pemotretnya sudah selesai. Saat dia sedang siap-siap, tiba-tiba Nessa menghampirinya dengan sedikit tergesa dan wajah yang terlihat berbinar.
"Vel kamu sudah selesai kan, pemotretanya?" Tanya Nessa dengan antusias.
"Udah, ini mau pulang," jawab Veli menatap heran sahabatnya yang tampak aneh, biasanya juga sibuk ngebucin dengan pacarnya tiap hari, kenapa tiba-tiba sahabatnya ini nonggol.
"Ikut kemana sih...?" Tanya Veli yang sedikit kesal, karena sahabatnya itu terus menarik dirinya seperti kambing, tanpa menjelaskan tujuannya.
"Sudah pokoknya kamu ikut saja, tidak usah banyak tanya ini tuh surprise untuk kita berdua..."Ujar Nessa, yang membuat Veli semakin bingung kalau surprise untuk mereka berdua kenapa Nessa bisa tahu.
"Surprise untuk kita berdua? Dari siapa?"
"Nanti kamu juga tahu..." Nessa segera mendorong tubuh Veli untuk masuk kedalaman mobilnya, ketika mereka sudah sampai di parkiran dimana mobil Nessa terparkir. Veli akhirnya hanya bisa pasrah dan berhenti bertanya, kemanakah sahabatnya itu akan membawanya dan bertemu dengan siapa.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan menguras waktu, karena tempatnya lumayan jauh dari tempat kerja merek. Mobil yang di kendarai Nessa akhirnya sampai di sebuah restoran mewah yang berada di daerah Menteng Jakarta Pusat, di restoran inilah Nessa janji temu dengan seseorang. Setelah Nessa memarkirkan mibilnya, mereka berdua lantas keluar dari dalam mobil.
"Aduh Ness, kita mau ketemu siapa sih di sini?" tanya Veli sedikit gusar, pasalnya dia pergi sejauh ini tanpa memberitahukan suaminya, walaupun dia sedang marah tetapi tetap saja Veli merasa kurang nyaman, apalagi wanita itu belum pernah kesini sebelumnya.
__ADS_1
"Ada deh...yuk kita masuk..."ajak Nessa yang sudah mengandeng tangan Veli dan menuntunnya masuk.
Setelah sampai di dalah restoran mewah itu, Nessa terlihat berbicara dengan seorang pelayan dan meninggalkan Veli sebentar, sedangkan Veli matanya sibuk menjelajah pemandangan desain interior restoran tersebut yang terlihat begitu mewah. Walaupun dulu Veli dari kalangan yang berada, namun dia tetap hidup dalam kesederhanaan dan tidak pernah sombong seperti apa yang di tanamkan oleh kedua orangtuanya, jadi maklum jika dia sedikit norak.
Tidak lama kemudian Nessa menghampirinya, lalu mereka di antara oleh pelayan yang berbicara dengan Nessa tadi kesebuah privatroom di restoran tersebut.
"Terima kasih Mbak..." ucap Nessa pada pelayan.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi." Pelayan tersebut membungkukan badannya sebelum pergi.
Nessa yang memang tidak sabar, segera membuka pintu privatroom tersebut.
cklekk
"Kalian udah lama nungguin kita?" Tanya Nessa seraya menghampiri kedua pria yang tengah mengobrol dengan duduk membelakangi mereka, Veli hanya bisa mengikuti Nessa dalam diam, dengan segala pertanyaan yang sedari tadi berputar di otaknya siapakah kedua orang itu.
Kedua orang yang sedang berbincang itu pun sontak menoleh, melihat kedatangan kedua wanita tersebut.
"Akhirnya kalian nyampek juga, kita kira kalian tidak jadi datang..." ucap seorang pria tampan sembari berdiri menghampiri kedua wanita itu.
"Jadi dong kita kan udah janji kemari." Nessa dan pria itu kemarin tidak sengaja bertemu, mereka sangat kaget sekali akhirnya bisa bertemu setelah sekian lama. Mereka mengobrol di sebeuh kafe cukup lama, sebelum mereka berpisah, mereka berjanji akan ketemuan lagi dengan Nessa membawa Veli, sementara pria tersebut juga membawa temannya yang saat ini duduk mematung melihat kedatangan Veli dan Nessa.
"Ness mereka siapa?" Bisik Veli pada Nessa, pasalnya dia merasa familiar dengan kedua pria itu, namun Veli tidak mau salah orang, dan di sangka sok kenal.
"Ya ampun...dia itu kak Bemo Veli. Dan itu tuh kak Vario masak kamu lupa..." seru Nessa sambil menunjuk kedua pria itu.
"APA...!!"Pekik Veli dengan kencang.
__ADS_1
TBC.