
Masih di tempat yang sama, kini Veli dan Nessa tengah duduk berhadapan dengan kedua pria yang menjadi sahabat, sekaligus cinta pertama mereka sewaktu sekolah dulu.
"Kamu ya Vel, mentang-mentang kita tidak pernah bertemu lagi, kamu sudah lupa sama kita berdua...!" Ujar Bemo dengan sedikit nada kekesalan dalam ucapannya.
"Maaf...habisnya kalian berubah banget aku jadi pangling." Veli menjadi tak enak hati karena tak mengenali kedua temannya yang dulu pernah menemani hari-harinya sebelum mereka lulus dan pergi entah kemana. Karena menurut Veli mereka sudah sangat berubah dalam segi penampilan, maklum mereka sudah lama tidak bertemu.
"Benar, dulukan kalian jamet. Beda dengan sekarang yang sudah seperti artis saja..." Timpal Nessa yang setuju dengan ucapan Veli.
"Jemet-jamet gitu, dulu kamu juga cinta sama aku." Mendengar ucapan Bemo Nessa seketika terdiam, dia sampai lupa dulukan mereka pernah pacaran.
"Sekarang kita kan udah dewasa, mending kalian rubah tuh, cara kalian manggil nama kita berdua. Nama kita sudah bagus-bagus pakek di ganti lagi, kalian pikir kita ini kendaraan apa. Mulai sekarang panggil aku Bimo Putra Damara dan untuk Rio juga panggil yang benar Mario Askara, jangan Bemo sama Vario lagi, aneh tauk...!" Ujar Bimo panjang lebar, mungkin untuk dulu pas sekolah tidak papa untuk lucu-lucuan, tetapi sekarang mereka sudah dewasa bagaimana kalau sampai rekan bisnis mereka tahu, kan malau. Sedangkan Mario tampak diam sedari tadi, karena memang karakter pria itu seperti itu pendiam namun begitu perhatian.
"Iya, iya. Bawel banget sih..." cetus Nessa. Pasalnya Nessalah yang memberi julukan itu, sedangkan Veli hanya ikut-ikutan saja waktu itu.
Velisa tampak menatap pria yang sedari tadi diam sambil sesekali menatapnya.
"Velisa, ternyata benar itu kamu. bagaimana kabar kamu?" Mario yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara, saat melihat Veli sedang menatapnya. Ia adalah pria yang sama, yang menangkap buket bunga dengan Veli waktu di pernikahan Aldi. Mario sebelumnya sudah menduga bahwa wanita yang menangkap bunga dengannya adalah Velisa cinta pertamanya, namun belum sempat ia bertanya, Veli sudah di tarik oleh seorang laki-laki yang tidak Mario ketahui.
"Aku baik kak. Ah aku tidak menyangka ternyata kak Rio adalah pria yang menangkap bunga denganku," ujar Veli dengan sedikit canggung. Jantungnya berdetak tidak menentu saat menatap wajah Mario, ada rasa yang entah sulit untuk di jelaskan, semoga bukan jatuh cinta lagi pada pria itu.
"Wait...jadi sebelumnya kalian undah pernah ketemu?" Tanya Nessa saat mendengar percakapan Veli dam Mario. Bimo hanya menyimak saja, karena pertanyaannya sudah di wakilkan oleh Nessa sang mantan kekasih.
"Iya..."Jawab Mario singkat, sedangkan Veli hanya menganggukkan kepalanya.
"Oh. Hehehheh..."
Suasananya mendadak hening, mereka sedikit bingung harus membahas apa, mungkin karena sudah bertahun-tahun tidak bertemu mereka menjadi sedikit canggung untuk berinteraksi seperti dulu lagi.
"Maaf...Aku sudah pergi tanpa berpamitan dengan kalian waktu itu, ada suatu hal yang tidak bisa aku jelaskan tentang apa alasanku pergi waktu itu," ucap Mario tiba-tiba, dulu tidak hanya pada Veli saja, Mario juga tidak berpamitan pada Bimo dan juga Nessa. Entah apa yang membuatnya seperti itu.
__ADS_1
"Udah tidak usah di bahas lagi, yang terpenting sekarang kita udah ngumpul, walaupun sudah tidak bisa seperti dulu lagi..."Ujar Bimo, yang memang hubungan mereka sudah tidak seperti dulu lagi, pria itu sudah tahu jika Veli sudah menikah dan Nessa sudah memiliki kekasih, tentunya Nessalah yang menceritakannya, sedangkan Mario sendiri masih belum mengetahui hal itu.
"Iya, udahlah masalalu biarlah berlalu..."Timpal Nessa.
Mario tersenyum mendengar itu, lalu kembali menatap Veli yang terlihat sangat berbeda dengan Veli yang ia kenal dulu, sekarang Velisa terlihat lebih cantik dan modis, tidak seperti dulu yang polos dan apa adanya.
"Ngomong-ngomong, aku tidak menyangka jika kamu juga menjadi model seperti Nessa. Mengingat bagaimana kepribadian kamu dulu..." Celetuk Bimo, ia juga mengetahui hal itu dari Nessa.
"Aku hanya ingin mencoba hal baru saja," jawab Veli seadanya.
Saat pertama kali bertemu dengan Veli, Mario yang memang sudah yakin itu adalah Veli cinta pertamanya, sempat bertanya-tanya kenapa Veli bisa berada di Jakarta, namun setelah mendengar cerita dari Bimo yang mengatakan Veli menjadi model membuatnya berpikir itu lah yang membuat Veli bisa berada di Jakarta.
"Vel siapa pria itu? Pria yang menarikmu waktu itu?" Tanya Mario, yang memang dirinya sangat penasaran siapa yang menarik tangan Veli waktu itu, dia sangat berharap jika pria itu bukan kekasih Velisa.
Asal kamu tahu Mario, dia memang bukan kekasih Veli, namun dia adalah suami dari Veli.
Deg
"D-dia adalah suamiku..."Jawab Veli sembari menundukkan wajahnya.
Deg
Jantung Mario seakan di hantam batu besar tak kasat mata, mendapati kenyataan wanita yang masih bersemayam di hatinya hingga saat ini ternyata sudah menikah. Mario memang sempat menjalin hubungan dengan wanita lain, berharap dapan melupakan Velisa yang dia yakinni tidak akan pernah bertemu lagi, namun rasa cinta itu tidak pernah hilang, hingga di pertemukan kembali di acara pernikahan Aldi.
"Su-suami? Kamu sudah menikah?" Tanya Mario dengan tergagap. Tidak menyangka karena wanita pujaannya sudah menikah.
"Iya..." Jawab Veli lirih.
"Selamat untuk pernikahan kamu..." Ujar Mario dengan tersenyum, namun tanpa sadar air matanya menetes, dengan cepat tangannya menghapus setitik bening yang mengalir di pipinya.
__ADS_1
"Maafkan aku kak..." Ucap Veli, yang tidak tega saat melihat sosok pria di depannya mengeluarkan air mata, saat mendengar dirinya sudah menukah.
"Tidak ini bukan salah mu...Akulah yang tiba-tiba pergi meninggalkanmu tanpa mengatakan apa-apa..." Ujar Mario yang berusaha menahan sesak di hatinya. Andai dia tidak pergi waktu itu, mungkin Veli akan menjadi istrinya dan tidak menikah dengan orang lain.
"Aku pergi dulu. Lain kali kita ngumpul lagi..." Pamit Mario pergi begitu saja, pria itu sudah tidak mampu lagi menahan kesedihannya, jadi dia memutuskan untuk pergi guna menenangkan hatinya yang masih belum bisa menerima kenyataan ini.
"Maaf..." Lirih Veli yang memandang sendu punggung Mario yang menjauh.
Nessa dan Bimo hanya bisa memandang sedih keduanya tanpa mengatakan apapun. Mereka adalah saksi betapa romantisnya hubungan mereka dulu walaupun tanpa adanya ikatan, mereka sudah sama-sama berkomitmen untuk menikah saat Veli sudah lulus SMA nanti, sedang Mario sudah lulus terlebih dahulu saat itu, namun takdir berkata lain, sebelum bersatu mereka sudah di pisahkan.
Sungguh tragis sekali kisah cinta Velisa dan Mario, dari awal mereka rasanya sangat sulit bersatu walaupun mereka saling mencintai.
...****************...
Selama berada di kantor pikiran Dewa tidak tenang, dia selalu kepikiran tentang istrinya. Bahkan saat sedang meeting tadi, Dewa terlihat banyak melamun dan tidak fokus, beruntung ada Bima yang bisa menghendaki semuanya.
Rasa bersalah seolah menghantuinya setiap detik, mau menelfon seperti biasa pun Dewa tidak mempunyai keberanian, membuat Dewa tidak bersemangat melakukan apapun bahkan sampai kehilangan selera makannya. Laki-laki itu hanya mengurung diri di ruangannya setelah meeting selesai tanpa melakukan apapun dan melewatkan makan siangnya.
Sepulang dari kantor, Dewa tanpa melihat pelayanan yang menyiapkan makanan di meja makan, bukan apa-apa biasanya sang istrilah yang setiap hari akan memasak untuknya. Dewa merasa perutnya mulai lapar, karena sedari siang tadi ia sama sekali belum makan. Namun ia tidak berselera dengan makanan yang di masak oleh pelayan, Dewa hanya ingin makan masakan istrinya, entahlah dulu dia makan masakan pelayan dan dia mau-mau saja tapi sekarang dia sangat tidak berselera sama sekali.
Dewa merasa sedih, karena marah padanya istrinya itu mengabaikannya bahkan tidak memaksa lagi untuknya. Namun dia tidak berani menyuruh Veli memasak untuknya, padahal dia sangat ingin sekali.
Setelah pulang dari pertemuan tadi, Veli hanya mengurung diri di kamar, bahkan ia lupa memasak untuk suaminya. Wanita itu memperhatikan suaminya yang tampak lesu saat memasuki kamar, tatapan tampak lelah dan sendu. Melihat hal itu hati Veli pun merasa bersalah dan iba.
Namun Veli saat ini sedang benci dengan dirinya sendiri, dia benci pikirannya yang terus memikirkan Mario yang menangis. Pikirannya menjadi tidak karuan, ada rasa yang sulit ia terka di dalam hatinya, entah kenapa wanita itu ingin sekali selalu memandang wajah Mario, seperti keinginan itu begitu mengebu-ngebu. Veli berusaha mendoktrin pikirannya sendiri, untuk berpikir bahwa dia hanya mencinta Dewa suaminya, meskipun hubungan sedang rengang saat ini.
Apakah Veli sedang mengidam ingin selalu memandang wajah sang mantan? Tapikan dia belum tentu hamil.
TBC.
__ADS_1