Tiba Tiba Istriku Cuek

Tiba Tiba Istriku Cuek
Bab 135


__ADS_3

Bima menjalankan mobilnya dengan kecepatan maksimal, sama seperti dulu saat hendak membuntuti Dewi dan Veli sewaktu pergi ke kampus kala itu. Bedanya dulu Dewa sangat ketakutan dan berteriak heboh dengan aksi Bima yang ugal-ugalan. Tetapi sekarang pria itu duduk diam, tidak perduli jika Bima sedang menantang maut. Ada banyak hal yang berseliweran dipikirkannya, ia sangat ingin segera sampai di rumah sakit dan melihat sanga istri.


Mobil yang mereka tumpangi akhirnya telah sampai di rumah sakit, dan ternyata di sana terlihat sebuah mobil yang biasanya dipakai untuk mengantarkan Veli sudah terparkir dihalaman rumah sakit tersebut.


Dewa dan Bima langsung saja berlari masuk kedalam rumah sakit. Mereka langsung pergi keruang Veli, setelah sebelumnya bertanya pada Resepsionis tempat dimana istrinya saat ini.


Setelah berlarian, akhirnya Dewa dan Bima samapi diruang bersalin tempat Veli berada dan disana terlihat Dewi yang tengah berjalan mondar mandir di depan ruang bersalin.


"Dewi... Dimana istriku?" Tanya Dewa dengan wajah khawatir.


Dewi langsung menoleh ketika mendengar suara Kakaknya. "Kak Dewa... Kak Veli didalam sedang ditangani dokter. Aku takut Kak, Kak Veli sangat kesakitan tadi..." Ujar Dewi dengan gemetaran dan Bima langsung memeluk istrinya itu.


Tanpa ba-bi-bu, Dewa langsung masuk kedalam ruang bersalin sang istri. Dia melihat istrinya tengah berbaring, dokter dan juga suster sudah ada di sana. Beberapa suster tengah memasang jarum infus pada tangan istrinya dan juga menyiapkan peralatan medis yang mereka butuhkan.


"Sayang..." Ucapa Dewa seraya mendekat pada sang istri. Veli menoleh dan memberikan senyuman manis pada sang suami. Hati Dewa terenyuh melihat senyuman dibibir pucat sang istri dengan wajah sudah keluar keringat dingin.


"Sayang..." Dewa sudah tidak mampu berkata-kata lagi. Ia menyeka keringat dingin di wajah pucat sang istri dengan tangannya. Memberikan kecupan dalam dan penuh cinta pada kening istrinya. Veli hanya tersenyum melihatnya.


"Semangat sayangku... Pasti Mami bisa," ucap Dewa dengan mengelus pipi istrinya. Dan lagi-lagi Veli hanya tersenyum, rasanya ia tidak kuat lagi untuk sekedar berbicara, perutnya terasa begitu sakit dan mulas.


"Pak Dewa... Istri Bapak sudah pembukaan sempurna dan akan melahirkan sekarang. Jika Pak Dewa tidak kuat melihat persalinan, Anda boleh keluar sekarang," ucap Dokter wanita itu dengan sopan.

__ADS_1


"Saya ingin disini dok..." jawab Dewa tanpa melihat dokter.


"Baiklah..."


Velisa spontan menggenggam erat tangan Dewa, ketika ia kembali merasakan sakit pada perutnya. Membuat Dewa langsung menggenggam kembali tangan Veli dengan wajah khawatir.


"Pih... Sakit banget..." Lirih Veli dengan mengigit bibir bawahnya. Bahkan ia sudah menangis.


"Dokter..." Pekik Dewa.


Dokter langsung memberikan aba-aba pada Veli untuk mengejan sesuai instruksinya.


Hati Dewa terasa ditusuk-tusuk melihat istrinya yang kesakitan. Genggaman tangannya semakin kuat saat istrinya itu kembali mengejan. Kata-kata cinta dan sayang ia lontarkan untuk menjadi penyemangat sang istri, bibirnya tidak berhenti memberikan kecupan-kecupan pada sang istri.


Jantung Dewa langsung berdetak hebat mendengarnya. "Sayang jangan bicara seperti itu. Papi takut..." Pecah sudah tangisan Dewa yang sedari tadi ia tahan. Pria itu memeluk istrinya itu dengan bahu terguncang karena tangisannya. "Aku tidak ingin kehilangan kalian."


"Semangat Bu... Kita coba sekali lagi..." ucap Dokter yahki.


Veli mengumpulkan tenaganya kembali sebelum mengejan. Sementara Dewa mengelus-elus rambut istrinya dengan wajah yang terlihat sembab. "Semangat sayang..."


"Akhhh..." Teriak Veli lagi, ia berusaha mengejan dengan kuat, rasanya tulang-tulangnya akan rontok semua.

__ADS_1


Oek Oek Oek....


Tangisan bayi laki-laki yang masih merah itu menggema. Veli langsung menangis haru ketika mendengar tangisan bayinya yang sudah lahir ke dunia.


Dewa yang teramat bahagia langsung mencoba mendekat pada dokter, ingin melihat wajah bayinya. Namun, matanya langsung melotot saat melihat bayinya yang penuh dengan darah dengan tali pusar yang menggelantung dilehernya.


"Dokter itu kenapa usus istri saya ikut kelaur. Kalau sampai terjadi sesuatu pada istri saya, Anda akan saya tuntut...!!" Tegas Dewa dengan sorot mata tajam.


"Maaf Pak..itu bukan usus, melainkan itu adalah tali pusat atau pusar yang menjulur menghubungkan antara bayi dan ibu dari lubang di perut bayi ke plasenta didalam rahim ibu," jelas suster, sementara sang dokter lebih fokus menangani bayi daripada menanggapi ucapan Dewa. Dewa hanya menganggukkan kepalanya tidak mengerti dengan penjelasan suster itu.


Bayi berjenis kelamin laki-laki itu, diletakkan di dada Veli oleh Dokter. Veli menatap bayi mungil itu dengan senyum haru. Sementara Dewa mengintip pada area sensitif istrinya, dan ia sudah tidak melihat kembali benda panjang yang ia sebut usus itu."Kemana perginya usus itu,"


Dewa menggelengkan kepalanya, lalu matanya melihat wajah mungil bayinya yang bersandar pada dada istrinya. Ia tersenyum melihatnya. "Lihatlah wajahnya sangat mirip dengan Papi," ucapnya seraya mengecup kepala bayinya.


"Papi tadi ngeliat apa, sampai berteriak seperti itu?" Tanya Veli yang memang tidak terlalu mendengarkan ocehan suaminya.


"Tidak ada sayang..."


"Terimakasih sudah melahirkan jagoan kita... Aku sangat mencintaimu..." Ujarnya dengan mencium seluruh wajah istrinya itu dengan wajah berkaca-kaca.


Setelah itu Veli dan bayinya dibersihkan, sebelum keduanya di pindahkan keruang perawatan VVIP. Dewa ingin yang terbaik untuk istri dan bayinya.

__ADS_1


TBC.Jangan lupa beri like command and vote biar author tambah semangat love you all...


__ADS_2