
Malam ini setelah makan malam bersama Dewi langsung saja menggeret Veli ke ruangan keluarga, ia dengan cepat menyalip Dewa yang sudah hendak membawa kakak iparnya itu naik ke kamar mereka. Tentu saja Dewa begitu kesal dengan kelakuan Dewi yang dengan seenaknya mengambil istrinya itu.
Bima yang memang ada di sana hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kekasihnya itu yang sudah terlihat tidak sabar untuk memilih gaun pengantinnya.
Kini keempat orang itu sudah terlihat duduk dengan manis diruang keluarga. Veli duduk sejajar dengan Dewi sementara Dewa duduk dangan Bima di hadapannya.
"Kau itu kenapa? Lain kali jangan tarik-tarik istriku seperti itu, kau lupa istriku itu lagi hamil?" Tukas Dewa yang sedikit geram istrinya ditarik seenaknya oleh Dewi.
"Heheheh...maaf Kak. Tadi aku buru-buru, takut kak Veli dibawa duluan sama Kak Dewa," ujar Dewi dengan cengirnya, karena terburu-buru ia sampai menggeret Veli yang sedang hamil itu.
"Aku mau minta bantuan sama kak Veli untuk memilih gaun pengantinku. Aku bingung banget mau pilih yang mana, habisnya semuanya keliatan bagus dan cucok-cucok. Siapa tahu dengan berdiskusi sama Kak Veli, aku bisa memilih mana gaun yang cocok untuk ku pakai nanti..." lanjutnya panjang lebar. Veli yang sedari tadi merasa kebingungan saat Veli tiba-tiba menariknya akhirnya paham dengan maksud adik iparnya itu.
Dewi langsung saja membuka catalog gaun yang sudah ia siapkan tadi. Membiarkan kakak iparnya itu untuk melihat-lihat desain gaun pengantin yang berbagai jenis itu.
"Memangnya kamu ingin desain gaun yang seperti apa? Terbuka atau tertutup?" Tanya Veli sambai melihat-lihat desain gaun dalam catalog itu.
"Aku sih pengen yang ala-ala princess gitu untuk resepsi dan tentu saja harus seksi gaunnya. Berdada rendah dan bagian punggungnya yang terbuka, lalu bagian bawahnya yang mengembang, biar estetik," jelas Dewi dengan antusias menceritakan gaun impiannya itu.
"Kenapa harus terbuka dan seksi? Aku tidak setuju...!!!" Seru Bima yang menolak keras keinginan Dewi yang hendak memakai gaun pengantin seperti itu saat pernikahan mereka nanti. Apalagi pasti ada banyak orang yang akan melihat aset miliknya itu.
__ADS_1
"Ck! Aku lagi diskusi dengan Kak Veli mending Kak Bima diam aja deh... Laki-laki mana paham beginian...!" tukas Dewi dengan galak. Lelaki mana paham dengan pembicaraan gaun-gaun seperti ini, mereka itu hanya bisa komen saja tanpa bisa memberikan solusi. Sebelumnya Dewi sempat bertanya pada Bima, mana desain gaun yang kira-kira cocok dengannya. Dan Bima hanya menjawab dengan 'terserah apapun cocok untumu' dan sekarang pria itu mendadak berkomentar yang membuat Dewi jengkel saja pada calon suaminya itu. Bima langsung saja kicep mendapat omelan dari Dewi. Jika ia memberikan komentar sampai bibirnya berbusah pun pasti akan kalah dengan wanita itu.
Veli dan Dewi akhirnya larut dalam obrolan-obrolan membahas tentang per-gaunan yang berjalan begitu alot dan lama, sudah seperti berdiskusi dengan kolega penting saja.
Dewa yang sedari tadi diam dan mendengarkan saja akhirnya membuka suaranya saat diterpa rasa ngantuk yang melandanya. Ia juga habis terkena omel karena terus-terusan bertanya 'sudah selesai belum Mami, ke kamar yuk', 'Mami lama banget sih', 'Mami pengen peluk' dan masih banyak lagi. Dewi yang sudah merasa jengah akhirnya mengomeli kakaknya itu sampai tidak bersuara lagi.
"Mami tidur yuk. Papi ngantuk ini..." ajaknya dengan sesekali menguap. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 21:32, namun pria itu sudah merengek ingin tidur. Mungkin karena efek dari meminum obat yang membuatnya cepat mengantuk. Sedangkan Bima, pria itu sudah anteng dengan bermain game online diponselnya.
"Duh, tidur sana sendiri...Kak Veli masih sibuk ini. Lagian masih sore udah ngajak ngamar saja." Bukan Veli yang menjawab melainkan Dewi. Ia rasanya sangat jengkel sekali dengan tingkah kakaknya yang semakin hari semakin menyebalkan.
"Aku sedang tidak mengajakmu bicara. Lebih baik kau diam, sedari tadi terus saja mengajak istriku diskusi tidak jelas. Yang pakai gaunnya itukan kamu, ngapain pakek ngerepotin istriku segala?!" Ketus Dewa dengan menatap tajam Dewi. Sebenarnya ia sudah jengah mendengar ocehan kedua wanita itu. Sebenarnya Dewi sudah memutuskan gaun mana yang hendak ia pakai, namun kedua wanita itu masih terus mengobrol membahas hal-hal yang tidak penting menurut Dewa.
"Ini juga Mami, kenapa jadi ikut-ikutan Dewi sih. Memangnya Mami mau ngapain pakek beli-beli gaun segala? Mau ikut nikah juga?" Sewot Dewa pada istrinya itu. Ia mengira istrinya itu ingin juga gaun pengantin yang seperti Dewi pakai. Buat apa coba, udah nikah juga. Begitulah pikirannya.
"Papi ini gimana sih. Nanti kan Mami juga ikut pesta. Dan semua gaun pesta Mami pasti nggak bakalan muat lagi. Perut Mami pastikan udah membesar jadi Mami mau beli gaun lagi. Bukan buat nikah lagi, gitu aja nggak ngerti..." sembur Veli dengan ketus.
"Ohh...Iya yaa. Kok Papi nggak kepikiran ya?" gumamnya dengan cengengesan.
"Mana ada orang gila kepikiran hal begituan..." Celetuk Bima yang masih fokus dengan game nya. Lebih baik diam dan main game, dari pada ikut-ikutan berdiskusi yang pasti ujung-ujungnya bakalan kena omel karena salah bicara. Merepotkan sekali memang wanita.
__ADS_1
"Maksudnya aku gila gitu?!" Tanya Dewa dengan jengkel seraya menoyor kepala Bima. Bukan ke GeEr an, namun Dewa paham betul dengan ucapan tersirat Bima itu.
"Enggak...! Situ aja yang lagi sensitif..." sangkalnya.
Dewa yang sudah merasa kesal setengah mampus pun langsung saja ia bangkit menghampiri sang istri. Ia langsung menggendong tubuh istrinya ala koala.
"Akhh...!!Papi apa-apan sih? Turunin malu tau...!!" Pekik Veli yang merasa kaget dengan perlakuan Dewa yang tiba-tiba muncul dan menggendongnya seperti ini. Malu banget rasanya, sudah seperti bocah saja digendong koala seperti ini.
"Jangan gerak-gerak sayang... nanti jatuh. Lebih baik sekarang kita ke kamar dan tidur...Papi kangen tau, dari tadi sibuk terus sama Dewi..." ucap Dewa dengan lembut ia berjalan membawa istrinya itu menuju kamarnya di lantai atas.
"Duh...duh. Romantis banget sih, persis seperti monyet yang lagi gendong anaknya yang pernah aku lihat di Ragunan...!!!" pekik Bima lalu tertawa bersama Dewi.
"SIALAN...LO...!!!" Teriak Dewa kencang dari atas tangga.
"Hahahaha.....!!" tawa Bima dan Dewi
TBC.
Jangan lupa beri like command and vote biar author tambah semangat love you all...
__ADS_1