Tiba Tiba Istriku Cuek

Tiba Tiba Istriku Cuek
Bab 132


__ADS_3

Setelah acara makan siang atau double date itu selesai, Veli dan Dewi langsung pulang. Sementara Dewa dan Bima singgah disalah satu restoran jepang, bukan untuk makan kembali, melainkan ia ada pertemuan dengan kolega bisnisnya yang hendak membahas pekerjaan penting.


Dewa dan Bima melangkah dengan sedikit tergesa-gesa lantaran ia sudah melihat salah satu klien duduk menunggu dirinya.


"Permisi Pak Reno. Maaf kami telat. Apa Bapak sudah menunggu lama?" Ujar Dewa dengan sopan, ia merasa tidak enak hati karena sudah membuat kliennya menunggu. Kemudian ketiga orang itu saling berjabat tangan.


"Tidak apa-apa Pak Dewa, saya juga baru 5 menit tiba disini," jawab pria bernama Reno itu dengan tak kalah sopan. "Silahkan duduk Pak Dewa, Pak Bima," lanjutnya mempersilahkan Dewa dan Bima untuk duduk.


Setelah duduk, Dewa melihat ada yang kurang dengan pertemuan ini. Ia tidak melihat Pemilik dari perusahaan yang hendak bekerjasama dengannya. Sedangkan Reno sendiri adalah asisten dari pemilik perusahaan, jabatannya kurang lebih seperti Bima.


Reno yang melihat Dewa tampak mencari-cari bossnya pun, membuka suara.


"Mohon maaf sebelumnya. Pak Aksa tidak bisa menghadiri acara pertemuan kali ini, beliau sedang berduka dan saya yang akan meng-handle pekerjaan beliau beberapa hari kedepan, sampai kondisi Pak Aksa membaik," jelas Reno dengan sopan.


"Berduka? Maaf, memang siapa yang terkena musibah?" Tanya Dewa.


Reno terlihat menghela nafasnya, sebelum bercerita. "Malam tadi istri Pak Aksa melahirkan. Namun, disaat perjuangannya untuk melahirkan buah hati mereka, istri Pak Aksa diambil oleh Sang Pencipta setelah bayi mereka lahir. Pak Aksa sangat terpukul karena kehilangan istrinya, bahkan beliau sampai tidak sadarkan diri berkali-kali,"


Deg


Jantung Dewa berdetak kencang setelah mendengar cerita dari Reno. Apalagi saat mengingat sang istri yang juga hamil dan sebentar lagi akan melahirkan.


"Apa sebelumnya istri Pak Aksa sudah memiliki riwayat sakit, atau apa?" Bima bertanya dengan serius. Apalagi saat melihat Dewa yang tampak syok. Mungkin dia mengingat istrinya yang sebentar lagi akan melahirkan itu.


"Tidak... Bahkan beliau sangat sehat. Namun begitulah perjuangan seorang wanita untuk melahirkan buah hati kita, mereka rela mengorbankan nyawanya demi memberikan kita gelar seorang Ayah."

__ADS_1


"Apa? Jadi bisa saja seorang wanita meninggal saat melahirkan?" Tanya Dewa dengan suara tercekat.


Bima langsung menepuk pundak Dewa, ia sebagai suami yang nantinya juga akan menjadi seorang ayah juga merasa was-was.


"Pak Dewa tenang saja. Tidak semuanya seperti itu, buktinya anak saya sudah tiga. Mungkin ini semua sudah takdir dari Tuhan," ujar Pak Reno yang paham dengan kekhawatiran yang dirasakan Dewa. Ia dulu juga mengalami hal yang sama saat istrinya tengah hamil, apalagi saat menjelang waktu bersalin.


Sepanjang membahas kerjasama itu, Dewa sedikit tidak konsen. Pikirannya melayang memikirkan sang istri yang berada di rumah. Beruntung ada Bima yang bisa ia andalkan.


*


*


Menjelang sore Dewa pulang dari kantor dengan tergesa-gesa, ia ingin segera melihat wajah istrinya meskipun pekerjaannya belum selesai sepenuhnya. Sebenarnya setelah pertemuan dengan Pak Reno di restoran jepang tadi, ia ingin langsung pulang ke rumahnya dan tidak kembali lagi ke kantor. Akan tetapi Bima langsung protes, lantaran pekerjaan di kantor sedang menumpuk. Ada tumpukan kertas-kertas yang butuh sentuhan Dewa, tentu saja Bima tidak mau susah sendirian. Karena protes-an dari Bima tersebut, dengan terpaksa Dewa membuang keinginannya untuk pulang cepat. Pekerjaannya juga sangat penting, meskipun ia bekerja tidak bisa terlalu fokus, pikirannya masih dihantui dengan cerita dari Reno tentang meninggalkannya istri Pak Aksa karena melahirkan buah hati mereka.


Setelah tiba di rumahnya, pria itu langsung bertanya tentang sang istri pada pelayan yang sedang melintas didepannya.


"Setelah mengobrol dengan Non Dewi, nyonya langsung pergi ke kamar, dan sampai sekarang belum turun Tuan," jawab pelayan tersebut dengan sopan. Setelah menikah, Dewi sekarang telah tinggal bersama Bima. Tentu saja rumah mereka tidak terlalu jauh.


Dengan cepat Dewa langsung menaiki tangga menuju kamarnya. Saat tiba di kamar, pria itu melihat sang istri tengah tertidur pulas di atas ranjang. Dia menghampiri Veli dengan langkah pelan dan mendudukkan dirinya di sisi ranjang dengan menatap lembut istrinya yang tengah tertidur miring menghadapnya itu.


Tangan Dewa bergerak mengusap lembut pipi chubby Veli. Rasa takut kehilangan istrinya seakan memenuhi otaknya. Ia tidak menyangka jika orang melahirkan bisa sampai merenggang nyawa. Apa ibunya dulu juga bertaruh nyawa saat melahirkannya dulu.


Tanpa sadar airmata keluar dari sudut matanya, kala mengingat perlakuan buruknya yang selalu menyakiti istrinya. Meskipun ia tidak pernah bermain tangan, tetapi kata-kata yang ia keluarkan untuk menghina istrinya itu sungguh tidak pantas.


"Maafin Papi... Mami. Jangan pernah meninggalkan Papi apapun yang terjadi. Mami tahu, sekarang Papi sedang merasa ketakutan. Tolong Mami bertahan saat melahirkan nanti. Jangan sedikitpun Mami ada niat buat tinggalin Papi," lirihnya dengan sendu, seraya mencium perut buncit istrinya itu. Dan ketika Dewa mencium perut istrinya, tiba-tiba ia merasakan ada pergerakan didalam perut buncit itu.

__ADS_1


Dug...dug...dug.


"Kamu bergerak Nak? Apa kamu suka Papi cium? Semoga kamu dan Mami selamat saat persalinan nanti. Kamu tahu? Papi sangat mencintai Mami, meskipun dulu Papi sempat tidak menyukai Mami. Sehat-sehat disana, jangan pernah menyusahkan Mami..."Celoteh Dewa dengan menciumi perut buncit istrinya.


"Papi..." Ucap Veli dengan suara serak khas bangun tidur. Ia terbangun ketika merasakan ada yang bergerak-gerak di atas perutnya. Dan ketika ia membuka matanya, ia melihat sang suami yang tengah asik menciumi perutnya dengan berceloteh tidak jelas.


Dewa yang mendengar suara istrinya, dia langsung menegakan tubuhnya dan melihat wajah bantal istri tercintanya itu.


"Sayang... Maaf, pasti Mami terbangun gara-gara Papi..." ujar Dewa dengan membernarkan rambut Veli yang berantakan menutupi wajahnya.


"Tidak... Justru kenapa Papi tidak bangunin Mami tadi. Sudah lama sampainya?" Veli masih dengan posisi berbaringnya, rasanya masih enggan untuk bangkit.


Dewa tidak menjawab, justru ia menempelkan bibirnya di bibir seksi milik sang istri. Pria itu ******* dengan lembut, seakan menyalurkan rasa cintanya dalam ciuman mesra tersebut. Veli yang awalnya terkejut pun akhirnya ia menikmati dan membalas ******* lembut suaminya.


Ciuman mesra yang awalnya lembut, lama-lama menjadi ciuman yang mengebu-gebu, Dewa seakan lupa diri. Pria itu bahkan sudah bergerak membuka resleting belakang dress yang dikenakan oleh sang istri. Dengan senyum nakalnya ia menatap gundukan gemoy milik Veli yang semakin membesar seiring dengan usia kehamilannya yang semakin bertambah.


"Papi ingin... Apa boleh?" Tanya Dewa dengan suara seraknya, ia menatap sang istri dengan penuh hasrat.


Dengan malu-malu Veli menganggukkan kepalanya, seraya membantu suaminya untuk melepaskan kancing kemeja Dewa. "Tapi... Mami ingin diatas," cicitnya dengan pelan.


Dewa yang tengah asik dengan si gemoy favoritnya langsung mendongak seraya tersenyum nakal "As you wish baby... Tapi ingat tetap pelan-pelan sayang," ujar Dewa dengan menggulingkan tubuhnya, merubah posisi menjadi ia yang berbaring dan Veli berada diatasnya dengan tubuh seksinya.


"Mami, sangat cantik dan seksi..."


Dan terjadilah peristiwa panas disore hari itu, hanya kamar itu yang menjadi saksi bagaimana aksi pasangan suami istri itu. Kita tidak boleh mengintip kata Dewa, dia tidak mau tubuh indah istrinya dilihat oleh orang lain, termasuk kita xixixi.

__ADS_1


TBC


Jangan lupa beri like command and vote biar author tambah semangat love you all...


__ADS_2