Tiba Tiba Istriku Cuek

Tiba Tiba Istriku Cuek
Bab 87


__ADS_3

Kali ini Dewa tidak menolak lagi pelukan dari istrinya, justru ia membalas pelukan itu dengan cukup erat. "Janji kamu tidak akan membuat aku sedih dan menangis lagi?" desis Dewa, yang membuat Veli ingin tertawa namun ia menahan diri. Kenapa suaminya jadi menggemaskan seperti ini?


"Iya, aku janji," ucap Veli seraya mencium pucuk kepala Dewa, yang membuat Dewa merasa nyaman.


Setelah puas berpelukan, Dewa lantas melepaskan pelukannya dan tiba-tiba wajahnya berubah cemberut menatap sang istri saat mengingat foto itu lagi. Hal itu membuat Veli bingung dengan perubahan suaminya, apakah ia membuat kesalahan lagi. Begitulah pikirannya.


"Kenapa lagi ini?" gerutu Veli dalam hati.


"Sekarang ceritakan bagaimana kamu bisa ketemu dengan duda jelek itu. Semuanya, sedetailnya tanpa ada kebohongan sedikitpun, dan sejak kapan istriku ini kenal dengan duda jelek itu..." sewot Dewa dengan menatap sinis istrinya.


Veli menghembuskan nafasnya sejenak sebelum menceritakan semuanya dari awal ia menonton televisi hingga bisa sampai bertemu dengan Rendy. Ia bercerita dengan jujur tanpa mengurangi ataupun menambahkan. Wanita itu bercerita dengan nada lembut dan penuh kehati-hatian, namun tetap saja ada kata yang tidak berkenan di hati suaminya. Entahlah, ia kini hanya pasrah saat melihat wajah suaminya yang tadinya sudah cemberut kini menjadi tambah cemberut lagi.


"Kenapa lagi, aku sudah jujur loh...?" tanya Veli dengan malas.


"Kenapa kamu bilang dia ganteng? Terus, kenapa kamu mau foto sama dia? Atau jangan-jangan kamu juga ngefans sama tu duda, kayak ibu-ibu itu?" ketus Dewa. Ia tidak terima saat istrinya bercerita bahwa Rendy ganteng seperti artis dan menjadi idola ibu-ibu komplek. Di dalam pikiran Dewa, istrinya juga ngefans dengan Rendy seperti ibu-ibu komplek yang berebut foto, lantaran istrinya juga berfoto dengan Rendy.


Veli gelagapan dengan pertanyaan suaminya, ia merutuki kebodohannya yang dengan enteng menyebut Rendy ganteng, padahal memang kenyataannya seperti itu. Tetapi tidak seharusnya ia memuji laki-laki lain di depan suaminya, itu bisa sangat menyakiti perasaan suaminya. Sebisa mungkin, ia harus menjaga perasaan suaminya.

__ADS_1


"Bukan seperti itu, sayang. Kata ibu-ibu komplek sama Dewi, dia ganteng. Bukan kataku, aku kan hanya bercerita saja. Bagiku, suamiku lah yang paling ganteng," rayu Veli semanis mungkin sambil menggenggam lembut tangan Dewa. Hal itu berhasil, terbukti dari wajah laki-laki itu yang tampak mengulum senyum, malu-malu kucing.


"Beneran? Kamu tidak sedang membohongiku kan? Supaya aku tidak marah..." tanya Dewa seraya membalas genggaman tangan istrinya.


"Enggak, Mas. Jadi, kamu sudah memaafkan aku kan?" Veli berkata dengan tersenyum semanis mungkin pada suaminya.


Dewa memberikan satu kecupan singkat di bibir Veli yang sedang tersenyum manis.


"Tapi, janji tidak pergi tanpa seizinku lagi, apapun alasannya. Kamu tidak boleh memberi celah pada laki-laki manapun untuk masuk dalam rumah tangga kita, begitupun denganku yang tidak akan memberikan cela pada perempuan lain untuk masuk dihidupku. Kita harus bisa saling menjaga perasaan satu sama lain, saling percaya dan memelihara kepercayaan. Mengerti?" ucap Dewa yang tiba-tiba bijak, saking takutnya kehilangan sang istri yang sangat dicintainya.


Dulu, Dewa tidak mencintai Veli dan tidak segan untuk menyakiti hati sang istri dengan perlakuan dan kata-kata kasar. Namun, satu poin positif dari laki-laki itu, dia sama sekali tidak pernah mengkhianati Veli. Bahkan, ketika teman-temannya dengan gamblang menyodorkan para wanita cantik dan seksi sesuai dengan kriterianya dulu untuk dijadikan selingkuhan, Dewa dengan tegas menolaknya. Baginya, hanya laki-laki murahan yang suka berselingkuh dan Dewa tidak mau menjadi laki-laki murahan dan tukang selingkuh, meskipun dia tidak mencintai istrinya.


"Aku memaafkanmu tetapi, ada syaratnya..." jawab Dewa dengan tersenyum licik, yang membuat Veli bingung.


Dewa menarik tubuh Veli untuk duduk di pangkuannya. Veli hanya bisa pasrah saat Dewa menarik tubuhnya dan mendudukkan di pangkuan suaminya. Sebaliknya, Veli melingkarkan kedua tangannya di leher laki-laki itu.


"Apa syaratnya, sayang?" tanya Veli dengan manja.

__ADS_1


Bukan menjawab, justru Dewa malah menciumi wajah istrinya, lantaran ia begitu gemas dengan tingkah manja istrinya. Dia sangat menyukai istrinya yang manja.


"Syaratnya adalah...kamu tidak boleh memanggilku dengan sebutan Mas lagi, karena semua laki-laki kamu panggil Mas. Duda itu kamu panggil Mas, terus Bima, tukang bakso, tukang ojek dan juga teman-temanku kamu panggil Mas. Aku merasa tidak spesial jika dipanggil Mas juga, jadi mulai sekarang, aku mau dipanggil Papi karena sebentar lagi aku akan jadi Papi dan istriku ini jadi Mami. Bagaimana?"


Dewa tidak mau dipanggil Mas lagi karena setiap pria akan istrinya panggil dengan sebutan Mas dan lama-lama itu membuat telinganya dan hatinya panas, lantaran ia ingin mendapatkan panggilan yang spesial dari sang istri dan tidak ada duanya. Setelah berpikir-pikir, istrinya harus punya panggilan yang berbeda padanya dan pilihannya jatuh pada panggilan Papi yang terdengar romantis dan sangat cocok untuknya karena sebentar lagi ia akan menjadi Papi kece dan hot.


Jika menurut Dewa panggilan "Papi" sangat keren dan romantis, tapi tidak dengan Veli. Panggilan itu terdengar menggelikan di telinganya. Ia jadi teringat pada para bocah SD yang sudah berpacaran. Mereka membuat panggilan seperti "Papi-Mami" atau "Ayah-Bunda" dengan begitu pedenya. Tepat seperti yang diminta oleh suaminya sekarang, tapi jika tidak dia turuti, pasti suaminya akan ngambek lagi. Benar saja, melihat bahwa Veli sedang diam dan berfikir, wajah Dewa yang tadinya berseri-seri langsung berubah menjadi murung.


"Kenapa diam? Kamu tidak mau?!" tanya Dewa dengan ketus. Kalau sudah begini, Veli tidak berani menolak.


"Enggak. Aku mau, beneran sumpah," sangkal Veli sambil tidak ingin membuat suaminya marah.


"Bener ya? Mulai sekarang kamu panggil aku 'Papi' dan aku panggil kamu 'Mami'. Huh...romantis sekali kita. Pasti si Bima iri dengan panggilan baru kita," ucap Dewa dengan tersenyum manis. Terlihat sekali bahwa laki-laki itu sangat bahagia. Melihat senyuman suaminya yang terlihat bahagia, membuat Veli ikut tersenyum bahagia.


"Dan satu syarat terakhir. Mami harus menenangkan Papi karena tadi sudah membuat Papi marah," ujar Dewa sambil tangan yang sudah meraba-raba kemana-mana dan bibirnya sudah menyusuri bibir istrinya yang duduk di pangkuannya.


Veli, yang mengerti maksud suaminya, hanya bisa pasrah dan menikmati setiap sentuhan memabukkan dari laki-laki itu. Sebenarnya, tidak ada gunanya menolak karena suaminya sudah tidak bisa dihentikan. Dan terjadilah peristiwa di siang hari yang membuat suasana menjadi panas. Janin dalam perut Veli terguncang dan terdorong-dorong kepalanya akibat dijenguk oleh sang Papi.

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2