
Di sisi lain, Dewi yang melihat tingkah Kakaknya langsung mencibir. "Ngapain Si Grandong kayak gitu? Nggak tau malu banget. Liat tuh, banyak juga yang nonton." Dewi sungguh tidak habis Fikri lagi dengan kelakuan Kakaknya yang makin hari makin tidak bisa diselamatkan.
"Kok jadi aku yang malu ya, Yank? Kakakmu itu semenjak istrinya hamil, urat malunya itu langsung putus. Dia semakin aneh..." Ujar Bima yang juga melihat bagaimana tingkah Dewa yang terus berjongkok dengan memeluk istrinya, padahal Veli sendiri sudah memaksanya untuk bangkit. Wajah Veli sudah seperti menahan malu, lantaran tidak sedikit orang yang melihat ke arahnya.
"Benar... Semoga saja setelah Kak Veli lahiran, Kak Dewa normal kembali. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana repotnya Kak Veli menghadapi dua bayinya nanti. Apalagi yang satunya itu bayi grandong," ucap Dewi.
"Aku yahki, Dewa pasti tidak akan mau kalah dengan bayinya sendiri nanti. Kita lihat saja bagaimana drama rumah tangga mereka kedepannya..." ujar Bima dengan tertawa pelan.
Sementara keluarga Veli dan Dewa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah polah Dewa yang tidak tahu malu.
Mama Arumi lantas melangkah menghampiri Dewa dan Veli di ikuti oleh yang lainnya.
"Awww...!!!"
Tiba-tiba saja telinga Dewa dijewer dari belakang oleh Mama Arumi. "Berdiri... dasar tidak tau malu. Sudah mau jadi ayah, tapi kelakuan masih kayak bocah..."
Dewa sontak langsung berdiri dengan memegang tangan Mama Arumi yang menjewer telinganya. "Lepas Ma... Sakit nih."
"Kamu ini tidak malu apa bertingkah seperti itu di depan umum. Kalau mau bermanja-manja tahu tempat Dewa. Bukan di depan umum seperti ini. Bikin malu saja..." omel Mama Arumi dengan suara pelan. Dewa hanya cemberut mendapatkan omelan dari Mamanya.
"Sudahlah Mbak, mungkin Dewa capek makanya dia bersandar seperti itu pada Veli," Bela Bunda yang tidak tega menantunya itu di omeli.
__ADS_1
"Mana ada kecapean Mbak, perasaan setelah acara tadi siang selesai dia langsung mengandeng istrinya kedalam kamar hotel. Duduk yang benar, jangan bertingkah yang aneh-aneh, awas saja kamu!!" Omel Mama Arumi.
"Iya...iya... Sebaiknya kalian kembali saja ke meja kalian. Temuin tamu-tamu tuh, banyak banget..." Dewa merasa waktu berduaan dengan istrinya terganggu lantas mengusir secara halus keluarganya itu.
"Papi apa-apan sih...!!"Tegur Veli yang merasa tidak suka dengan ucapan suaminya.
"Mami diam. Tunggu... Papi sampai lupa mau ngambil-lin kue untuk Mami. Sebentar... Papi ambilin, jangan kemana-mana." Saat mengatakan itu mata Dewa menatap sinis Satria yang terlihat menatap dirinya.
"Iya... Sudah sana cepetan..." ujar Veli dengan memutar bola matanya malas.
Dewa dengan cepat pergi untuk mengambilkan sang istri tercinta kue, sesekali ia menoleh ke arah belakang. Mereka hanya mengerjap bingung dengan tingkah Dewa yang sesekali menoleh ke arah mereka.
"Hmmm. Pasti Mami suka dengan kue ini," gumam Dewa seraya mengambil beberapa kue yang terlihat enak dan lucu. Tidak lupa ia mengambilkan air mineral juga. Dewa sengaja tidak mengambil minuman manis lainnya, lantaran ia tidak ingin sang istri minum minuman yang menurutnya tidak jelas kandungannya.
Saat dirinya sudah selesai dan hendak kembali ke mejanya, betapa kesalnya Dewa kala ia melihat Satria sudah duduk manis di samping sang istri. Keduanya tampak terlihat tertawa entah apa yang mereka tertawakan.
"Tidak bisa dibiarkan. Baru saja aku tinggal, Si Bambang itu sudah nempel-nempel pada istriku lagi," gerutu Dewa dalam hati, dengan cepat melangkah mendekati mejanya.
"Ekhmm... Bang Satria silahkan pindah ya. Aku mau nyiapin Mami kue nih..." ucap Dewa dengan ketus, membuat Veli yang mendengarnya memutar bola matanya jengah, dasar cemburuan.
Satria menaikan sebelah alisnya, menatap datar Dewa. Ia melihat Dewa berdiri dengan tangan yang memegang kue dan air mineral. Dan wajah Dewa terlihat menatap galak dirinya. Namun, bukannya menyeramkan, justru wajah Dewa terlihat begitu lucu dan kekanak-kanakan menurut Satria. Apalagi dengan beberapa makanan di tangannya.
__ADS_1
"Lihatlah, kau itu kekanak-kanakan sekali. Masih banyak tempat duduk di sini, kenapa juga kau mengusirku? Aku kan sendang mengobrol dengan Adik dan calon keponakanku," ucap Satria, dengan jahil tangannya bergerak mengusap perut buncit Veli.
Dewa yang melihat perut istrinya di sentuh oleh Satria, semakin meradang lah dia. "Jangan sentuh-sentuh perut istriku!!" Ujar Dewa dengan intonasi tinggi dengan meletakan kue dan air mineral yang ia bawa ke atas meja.
"Ck, aku ini Kakak kandung Veli, jadi tidak masalah jika aku menyentuh perut Adikku sendiri. Lebay sekali kau itu," geram Satria saat Dewa menariknya untuk berdiri dari duduknya secara paksa.
"Tetap saja itu tidak boleh, hanya aku yang boleh menyentuh Veli..." tekan Dewa.
"Kau itu suka sekali marah-marah. Lihat wajahmu itu itu sudah banyak keriputnya dan tanda-tanda penuaan dini, akibat sering marah-marah. Dan juga apa kau tidak takut terkena stroke dan darah tinggi kerena hobi marah-marah tidak jelas." Mata Dewa langsung terbelalak ketika mendengar ucapan Kakak iparnya itu. Ia sontak meraba-raba wajahnya, benarkah wajahnya sudah banyak keriputnya dan muncul tanda-tanda penuaan dini. "Mami, benarkah wajah Papi banyak keriputnya?" Tanya Dewa dengan panik.
"Benar. Lima tahun kedepan wajah mu itu akan terlihat semakin tua. Sementara Adikku ini pasti masih terlihat sangat muda dan cantik. Saat nanti kau berjalan bersama Veli dan anakmu, pasti orang-orang akan mengira jika Veli ini adalah anak pertamamu, alih-alih istrimu. Bahkan aku sebagai Kakak iparmu saja usiaku lebih muda darimu, aku masih 25 tahun, sementara kau sudah mau 30 tahun. Banyangkan lima tahun kedepan kau sudah seperti bapak-bapak berperut buncit dan kepalamu botak..." bukan Veli yang menjawab, melainkan Satria lah yang nyerocos mengatakan itu untuk menggoda Dewa. Dan benar saja wajah Dewa langsung berubah panik dan pucat, membayangkan ucapan Satria menjadi kenyataan.
Dalam hati Satri tertawa terbahak bahak, melihat sepertinya Dewa termakan dengan ucapannya. Lucu sekali rasanya sekarang melihat Dewa bersikap seperti bocah, beda dengan dulu yang arogan dan menyebalkan.
Veli hanya bisa menahan tawanya mendengar ucapan Kakaknya yang seperti serius, dan wajah suaminya yang terlihat percaya saja dengan ucapan Kakaknya itu.
"TIDAK....!!!" Teriak Dewa dengan suara keras sehingga mengejutkan orang-orang disekitarnya.
Satria yang kepalang malu langsung pergi meninggalkan Dewa dengan mengajak Veli ikut dengannya, yang juga terlihat malu sekali dengan kelakuan suaminya yang tiba-tiba berteriak dengan kencang itu.
TBC.Jangan lupa beri like command and vote biar author tambah semangat love you all...DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERHARGA BAGI KU....
__ADS_1