Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Akan Merasa Lebih Bersyukur Kala Menyadari Hal Yang Tak Terukur


__ADS_3

Keheningan menyelimuti dua lelaki dewasa yang masih terdiam selepas kepergian Abby beberapa menit yang lalu. Jika saja tak ada bukti pecahan kaca figura yang berserakan di dekat meja Gara, mungkin mereka hanya akan menganggap kejadian barusan tak pernah terjadi.


Bagiamana mungkin Abby bisa bersikap kasar seperti itu pada orang yang dicintainya? benarkah rasa untuk Gara sudah berganti dengan kebencian semata?


Juna menghela nafas pelan kemudian melirik temannya yang masih diam membatu, "well, sepertinya kalian berdua memang perlu bicara dari hati ke hati." Itu adalah satu-satunya cara agar mereka mendapatkan titik terang. Karena semua hal yang terjadi sejuah ini setelah Abby bangun dari koma, cukup abu-abu.


"Aku tidak punya hak untuk ikut campur. Jadi, sebaiknya kamu temui Abby jika suasana di antara kalian sudah cukup membaik." Juna menepuk bahu lebar temannya dengan sedikit remasan tak berarti, "aku pergi dulu."


Tanpa menunggu jawaban dari Gara, Juna melenggang pergi persis seperti apa yang adiknya lakukan tadi. Namun saat tangannya hampir sampai pada kenop pintu, langkahnya terhenti. "Aku tahu tentang apa yang terjadi padamu selama ini. Jadi, cukup ikuti kata hatimu Gara." Ujarnya tanpa menoleh, lalu kembali melanjutkan langkah. Meninggalkan Gara dalam kesunyian yang tak berujung.


Yang ditinggalkan tak dapat berbuat apa-apa. Lelaki itu hanya mengepalkan kedua tangan sampai ujung kukunya hampir menembus permukaan kulit. Menyalurkan rasa sakit, amarah dan bingung yang berbondong-bondong mendatanginya.


Ujung matanya melirik kekacauan kecil yang Abby buat. Benda yang sudah rusak seperti itu, bagaimana cara Gara memperbaikinya?


Kaki panjangnya melangkah, mendekati figura yang berserakan. Seperti apa yang Abby lakukan tadi, Gara pun melakukan hal yang sama. Perlahan berjongkok dan mengambil potongan-potongan kertas foto yang sudah tak berbentuk. Setelahnya, lelaki itu kembali diam. Menatap gambar dirinya dan Abby yang kini sudah terpisah dan sulit untuk kembali disatukan.


Apakah sekarang semuanya mulai berakhir? perlahan retak seperti foto ini?


"Anda baik-baik saja, Pak?"


Suara Mahen membuat lelaki itu sadar dari lamunannya. Dia berdiri sembari menahan gejolak tidak nyaman yang menyelimuti hati, kemudian perlahan menatap bawahannya dengan raut wajah yang sedikit sendu.


"Apa kamu bisa memperbaiki ini?" menunjukkan benda yang dia genggam erat pada Mahen. Namun sebelum sekretarisnya itu menjawab, Gara kembali mengeluarkan suara saat melihat benda berkilau yang Mahen pegang dengan hati-hati. "Apa..itu?"


Mahen terdiam beberapa saat, mengumpulkan keberanian yang mendadak hilang. "Emm, ini..Nona Abby menyuruh saya untuk memberikan ini pada Bapak." Lelaki itu menunduk segan, tak mau menatap atasannya yang entah bagaimana ekspresinya kini.


"Ahh, dia memang ingin berpisah ya?" bisiknya entah pada siapa.


. . .


Abby duduk di kursi halte yang letaknya tak jauh dari perusahaan Aditama. Setelah kabur dari sana tadi, dia sama sekali tak memiliki keinginan untuk menunggu kakaknya turun. Dia sedang tidak ingin bicara. Apalagi jika nanti Juna menuntut segala penjelasan mengenai apa yang baru saja dia lakukan. Abby bahkan tidak tahu kenapa dia bisa bersikap emosional seperti itu.


Angin pagi yang tak terlalu kencang menggoyangkan ujung gaun dan juga rambut bergelombang sepinggangnya. Jalan raya nampak lengang saat itu karena jam masuk pekerja sebagian besar sudah dimulai sejak dua jam yang lalu.


Menyendiri di tempat umum seperti ini nyatanya mampu membuat Abby sedikit merasa nyaman. Jika dulu yang dilihatnya adalah pemandangan ramainya pasar di ibukota kerajaan. Maka sekarang, bangunan-bangunan tinggi menjulang juga kendaraan besi yang canggih adalah hal yang akan selalu dia lihat kedepannya. Itu sedikit asing, namun tidak buruk juga.


Perempuan itu menghela nafas sembari mengadahkan pandangan ke arah langit biru yang bercahaya. Mungkin hanya satu hal yang tidak berubah dalam hidup Abby yang dulu maupun sekarang, yaitu dia masih bernaung di bawah langit yang sama. Kenyataan itu cukup membuat hatinya merasa sedikit lega, dia tidak benar-benar sendiri.


Lamunan Abby terhenti saat mendapati seseorang yang baru saja datang. Itu adalah seorang kakek tua dengan pakaian compang-camping dan tubuh yang sudah renta. Sebuah gerobak usang berisikan tumpukan kardus bekas terparkir tepat di samping si kakek. Namun yang membuatnya mengernyit bingung adalah, kenapa kakek tersebut malah duduk di atas trotoar daripada di sampingnya?

__ADS_1


"Kenapa Anda malah duduk di situ?" tanya Abby pelan.


Si kakek terlihat kaget dan sedikit ketakutan. Dengan cepat, dia berdiri meski harus sedikit kehilangan keseimbangan karena tubuhnya yang lelah dan lemah. Sembari menatap Abby tidak enak, orang itu berujar, "ma-maaf Nona, saya hanya ingin sedikit istirahat. Saya tidak bermaksud mengganggu Anda." Sepertinya kakek tersebut salah paham dengan pertanyaan Abby. Jemari kasarnya saling bertaut di depan tubuh, sesekali satu tangannya akan naik hanya untuk mengusap peluh di keningnya.


Pemandangan itu cukup membuat Abby mengiris pilu.


Dengan agak buru-buru Abby menggeleng pelan dan mulai berdiri untuk menghampiri si kakek. "Tidak, bukan begitu. Maksud saya, Anda bisa duduk di kursi halte yang teduh. Kenapa Anda malah duduk di sana?" dia mengulang pertanyaan dengan sedikit hati-hati.


Kakek tersebut terlihat linglung karena tidak menyangka dengan pertanyaan yang Abby ajukan, "saya sudah biasa, Nona. Lagipula, nanti kursinya kotor jika saya duduk di sana." Nada suaranya masih terdengar sungkan dengan pandangan yang tak berani mengarah pada Abby.


Abby meremas sisi pakaiannya, merasa familiar dengan pemandangan menyedihkan seperti ini. Tatapan takut dan segan, tubuh lemah dan ringkih, juga cara bicara yang terlalu merendahkan diri sendiri. Itu semua adalah pemandangan lumrah yang sering Abby lihat di pasar ibukota kerajaan dulu. Kasta lemah yang selalu dijadikan budak oleh kaum bangsawan.


Akan selalu ada hal kotor yang tersembunyi di antara benda-benda bersih. Akan selalu ada manusia kurang beruntung di antara hingar bingarnya pasar yang kerap dipenuhi manusia ber-uang. Dan ternyata, di tengah keindahan kota yang maju seperti ini pun, golongan dari kaum 'tak punya' masih bisa disaksikan oleh mata telanjangnya.


"Mari duduk di samping saya. Di sana terlalu panas untuk berteduh." Abby menuntun si kakek agar duduk bersamanya di kursi halte. Raut segan dan bingung terlihat jelas di wajah orang tua tersebut, namun tenaganya terlalu lemah untuk memberikan perlawanan.


"Anda akan merasa tidak nyaman jika saya duduk di samping Anda seperti ini. Tubuh saya kotor, Nona." Si kakek sedikit menjauh dari Abby, takut kalau bau tak sedap dari tubuhnya akan tercium oleh perempuan muda di sampingnya.


Abby kembali menggeleng, "saya tidak masalah dengan itu." Dia mengalihkan pandangan ke arah lain, sedikit tak kuasa melihat penampilan si kakek yang berbanding terbalik dengan keadaannya. "Anda habis darimana dan mau ke mana?"


"Saya sedang bekerja Nona. Mencari kardus dan barang bekas untuk dijual ke rongsokan."


Dengan sedikit terkekeh, kakek tersebut menjawab, "Saya bangun jam empat pagi. Jika tidak, maka kardusnya tidak akan sebanyak ini. Orang lain pasti sudah lebih dulu mengambilnya."


"Oh? setiap hari?"


Kakek mengangguk, "ya, setiap hari."


"Dan Anda melakukan itu sepanjang hari? terus berkeliling?"


"Saya hanya akan pulang kalau tebusan dari kardus yang saya dapatkan cukup untuk makan satu hari." Jawabnya jujur dengan senyuman yang tak luntur.


Abby tertegun di tempatnya, "memangnya kardus bekas seperti itu akan dihargai berapa?"


"Seribu rupiah untuk satu kilo, Nona."


Seribu rupiah? untuk satu kilo?


Kerja keras si kakek dari pagi hingga petang hanya dihargai seribu rupiah? dan uang sekecil itu harus cukup untuk makan sehari. Namun wajah kakek nampak tidak keberatan di tengah beban yang ditanggungnya. Masih bisa tersenyum seolah itu bukan apa-apa.

__ADS_1


Abby merasa tertampar.


Lalu, bagaimana dengan dirinya yang tidak kekurangan sedikitpun? hidup nyaman di dalam rumah berkedok istana dengan fasilitas lengkap, tidur nyenyak tanpa harus memikirkan bagaimana hari esok, makanan lezat yang selalu ada tanpa harus dicari. Meski sudah tidak memiliki orang tua, Abby masih punya kakak yang lumayan perhatian.


Bukankah seharusnya itu sudah cukup? lalu kenapa dirinya bisa selemah ini hanya karena seorang lelaki? tidakkah seharusnya dia merasa malu dengan orang-orang seperti kakek yang berjuang untuk sesuap nasi pun susah namun masih bisa tersenyum tulus?


Untuk sesaat, Abby merasa ingin menampar dirinya sendiri karena mau saja repot-repot membuang tenaga dan air mata demi melampiaskan kemarahannya pada Gara tadi. Toh, itu semua tak akan merubah apa-apa.


Abby menyesal.


Setelah terdiam begitu lama, Abby kembali berucap, "Anda begitu hebat, Kakek." Dan si kakek hanya tersenyum sembari mengusap keringat di wajah dan keningnya dengan handuk kecil yang sejak tadi menggantung di leher kurusnya. Mungkin karena terus-menerus berjalan kaki serta mendorong gerobak yang cukup berat sejak pagi, keringat kakek lebih banyak keluar. Padahal, cuaca belum terlalu panas.


Sebuah mobil mewah berwarna merah dengan jenis SUV berhenti di depan halte, membuat Abby dan kakek kompak menoleh ke arah yang sama. Abby yang sudah menunggu kedatangan orang itu sejak tadi, kini berdiri dan mendekat. Tak lama, Erik muncul dari sana dan langsung mendatangi Abby.


"Maaf, Nona. Saya terlambat lima menit." Ujar Erik sembari menunduk sopan.


"Apa Kak Erik bisa mendatangkan sebuah kendaraan yang bisa membawa benda itu?" tunjuk Abby pada gerobak tua milik si kakek. Dia lebih tertarik membahas hal lain daripada menerima maaf Erik yang menurutnya tidak perlu.


Yang ditanya, sejenak diam. Menatap benda yang Abby tunjuk dengan kening berkerut namun tidak berkomentar apa-apa. "Bisa, Nona. Saya akan menghubungi seseorang nanti."


Ekspresi senang terlukis di wajah cantik itu. Kemudian, dia menoleh pada si kakek yang kini berdiri agak jauh dari mereka.


"Maaf, Nona. Tapi, gerobak saya mau dibawa ke mana?" Kakek takut kalau alat mata pencahariannya diambil dan dibuang. Lalu, dengan cara apa dia bekerja nanti?


"Kami akan mengantar Kakek pulang. Ayo naik!"


"Apa?"


"Nona!"


. . .


TBC


Semoga pesan dan kesannya tersampaikan ya teman-teman. Terimakasih sudah membaca dan memberikan dukungan.


Jangan lupa vote ya! nanti Abby sedih kalau tahu pembacanya pergi gitu aja setelah selesai membaca. Hehe ^_^


Salam,

__ADS_1


Nasal Dinarta


__ADS_2