Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Memang Ada yang Salah


__ADS_3

Gara berdiri di balik dahan pohon pinus yang jaraknya tak terlalu berjauhan. Menatap ke arah depan di mana ayah dan tunangannya tengah duduk bersama di bangku taman.


Entah sejak kapan keduanya menjadi sedikit akrab, namun yang pasti Gara merasa senang karena ayahnya mau diajak keluar setelah sekian lama hanya mendekam di dalam ruang rawat. Dan Abby adalah satu-satunya orang yang mampu melakukan itu di saat Gara sendiri sudah menyerah untuk memperlihatkan dunia luar pada sang ayah.


Sepuluh atau dua puluh menit, Gara tidak yakin sudah berapa lama dirinya diam terpaku, menyaksikan pemandangan langka yang cukup indah untuk dilihat. Benar, dulu pun ayahnya tidak ragu untuk menggendong Abby kecil. Mungkin hal itu pula yang membuat sang ayah mau membuka diri, karena Abby pernah menjadi bagian dari memori indah lelaki paruh baya itu.


Di tengah lamunannya, Gara masih dapat mendengar suara tawa menyenangkan yang keluar dari mulut Abby, juga wajah ayahnya yang kini diliputi warna. Lelaki muda itu tersenyum tipis, merasa lega akan sesuatu yang tak disangkanya.


Sejenak, Gara mengadah hanya untuk menatap langit siang yang tak terlalu cerah namun mampu menghantarkan hawa hangat. Pikirannya sedikit menerawang jauh, mencoba menelaah sesuatu yang kurang dan terasa kosong di dalam hatinya.


Ah, benar. Andai saja ibunya ada di sini juga, andai saja ibunya mau menurunkan sedikit egonya, andaikan Gara mampu membujuk sang ibu, mungkin semua ini akan terasa lebih baik.


Helaan nafas berat terdengar, diiringi dengan kesadaran Gara akan tujuannya ke tempat ini. Tak lama, lelaki itu melangkah, menghampiri mereka dengan menjinjing dua kantong plastik di tangannya.


"Waktunya makan siang."


Dua orang itu dengan kompak menoleh ke arah yang sama.


"Gara." Sapa Abby dengan riang. Sedangkan ayahnya Gara hanya diam memandangnya dengan tatapan sedikit linglung. Semenjak Abby hadir, lelaki paruh baya itu hanya mau berbicara dengan gadis itu. Gara sendiri tidak masalah, melihat sang ayah perlahan membuka diri saja dia sudah sangat senang.


Abby tersenyum tipis saat melihat interaksi ayah dan anak tersebut. Meski keduanya tak saling mengucap kata, namun terlihat nyaman saat berhadapan. Mungkin itu yang dinamakan sedarah.


Perempuan itu mengeluarkan beberapa kotak makan siang dari kantong plastik yang Gara bawa. "Ini untuk Paman." Serunya saat menyimpan makanan sehat tanpa minyak di depan ayah Gara. Lalu menaruh satu kotak daging dan sayur untuk Gara juga dirinya.


Belum selesai dengan kegiatannya, Abby mengambil sendok dan garpu untuk dia bersihkan dengan tisu yang tersedia di atas meja, lalu menyimpannya masing-masing satu pasang di depan Gara dan juga ayahnya.


"Paman ingin makan sendiri atau..?" Abby menggantungkan ucapannya. Selama beberapa hari ini, dia selalu melihat seorang perawat perempuan yang memang ditugaskan untuk mengurus segala keperluan ayah Gara, termasuk menyuapinya saat makan.


Lelaki paruh baya itu menggeleng sembari menatap makanan di depannya. Wajah tampan yang mirip dengan Gara itu terlihat berpikir sejenak, memperlihatkan wajah serius. Hal yang membuat Gara tertegun karena ekspresi itu mengingatkannya pada sang ayah saat masih sehat dulu.


"Sen..sendiri." Jawabnya pelan dengan suara serak. Itu adalah ucapan kedua yang Gara dengar dari mulut sang ayah hari ini. Tidak akan ada yang mengetahui seberapa besar bahagianya Gara sekarang. Harapan akan kembalinya sosok ayahnya seperti dulu semakin kuat dan besar.


Lelaki muda itu segera menunduk saat merasakan matanya memanas dan mengembun, sekuat tenaga menahan rasa haru yang bergejolak. Namun sebelum air matanya benar-benar turun membasahi pipi, ada tangan halus dan mungil yang segera menghapusnya. Abby menangkup wajah Gara agar mendongak, lalu mengusap sudut matanya yang sudah basah.


"Ini hari bahagia, jangan menangis!" bisik Abby pelan, tak lupa memberikan senyuman menenangkan.


Gara mengangguk, setuju dengan ucapan tunangannya, namun belum mampu menghentikan air mata yang keluar dari pelupuk. Diam-diam, lelaki itu melirik sang ayah yang juga tengah menatapnya bingung.


"Ja..jangan me-menangis!"


Dan ucapan itu sukses membuat Gara membeku, dengan air mata yang semakin deras membasahi pipi. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Gara menangis karena bahagia yang tak terkira. Dengan bibir tipisnya yang tersenyum, Gara kembali mengangguk.


"Tuh, dengarkan ayahmu! jangan menangis!"


Ucapan Abby memang terdengar konyol, tapi percayalah dia sebenarnya tengah menahan diri agar tidak ikut terbawa suasana haru di antara mereka. Meski begitu, dia masih mampu menghalau air mata yang memberontak ingin keluar.

__ADS_1


Di tengah suasana baru, haru dan membahagiakan itu, nyatanya ada sosok yang terlupakan. Hanya mampu berdiam diri di kejauhan dengan sorot mata datar yang membingungkan. Dua tangannya yang menggantung di sisi tubuh terlihat terkepal.


Sosok itu terlihat muda dan nyata, namun hatinya penuh dengan dendam dan luka. Saat angin siang yang membawa kesegaran datang menyapa, bibirnya terbuka dan berbisik pada asa.


"Kamu mempermudah segalanya.." wajah yang tadinya datar itu kini menampilkan ekspresi gelap, lengkap dengan senyuman sinis di ujung bibirnya.


"..Abbysca."


. . .


Itu sudah sore hari kala Abby tiba di kediaman Anggara. Dengan menjinjing makanan di tangannya, perempuan itu melewati Hari yang tengah berdiri menyambutnya.


Melihat suasana rumah yang lebih sepi dari biasanya, Abby bertanya. "Paman, di mana Kak Juna?"


Hari sedikit menunduk sebelum memberikan jawaban, "Tuan akan pulang larut malam, Nona. Ada beberapa hal penting yang tidak bisa ditinggalkan di perusahaan."


"Lagi?"


Hari mengangguk.


Dengusan samar terdengar, itu adalah Abby yang cukup kesal dengan kesibukan Juna. Sudah satu minggu lebih, Juna melakukan ini. Setiap Abby sampai di rumah, Juna pasti belum pulang. Dan saat Abby terbangun, Hari akan bilang kalau kakaknya itu sudah berangkat dari subuh.


"Kakak tidak sedang punya masalah bukan?" tanyanya lagi dengan raut wajah curiga.


Bukan apa. Namun Abby merasa kalau Juna sengaja menghindar. Entah itu menghindarinya ataupun menghindari keadaan di rumah ini. Yang pasti, lelaki itu jarang sekali menghabiskan waktu di rumah. Bahkan saat akhir pekan pun, Juna selalu memiliki jadwal yang entah apa itu. Abby tidak tahu sama sekali.


Langkah Abby yang ingin menaiki tangga seketika terhenti, perempuan itu kembali menoleh pada Hari. Wajahnya terlihat seperti tengah mempertimbangkan sesuatu.


"Baiklah, sepertinya aku memang harus ke sana." Abby menghela nafas pelan sembari merapatkan jaket miliknya. "Apa makan malam sudah siap?"


"Sudah, Nona. Para pelayan sedang menatanya di meja makan." Jawab Hari.


Abby mengangguk, "Paman, bisa tolong katakan pada Mira untuk menyiapkan kotak makan? dua porsi saja cukup. Aku akan membawanya ke kantor Kak Juna." Ujar Abby masih memandang sang kepala pelayan.


"Tentu, Nona. Semuanya akan segera siap. Anda bisa menunggu di dalam mobil. Saya akan segera menyusul."


Hanya berselang lima belas menit setelah Hari mengatakan hal tersebut, kini mereka sudah berada di dalam perjalanan menuju kantor Juna. Dengan Erik yang menyetir, juga Hari yang menawarkan diri untuk mengantar, Abby terlihat duduk dengan tenang di kursi belakang. Meski begitu, pikirannya tertuju pada Juna. Hatinya tengah menerka-nerka, apa yang sebenarnya terjadi pada Juna? lelaki itu yang memang benar-benar sibuk, atau Abby saja yang terlalu banyak berpikir?


Mereka tiba di depan lobi perusahaan tepat pukul enam sore, beriringan dengan hujan deras yang tiba-tiba turun membasahi ibukota. Penjaga pintu perusahaan langsung berdiri tegak dan mendekat kala melihat sosok Abby yang keluar setelah dibukakan pintu oleh Hari.


"Terimakasih, Paman." Hari hanya tersenyum dan mengangguk kecil sebagai jawaban.


"Selamat sore, Nona Abbysca." Sapa si penjaga dengan sopan.


"Sore juga." Abby melirik ke arah dalam, cukup banyak orang. Ini sudah lewat dari jam pulang yang seharusnya. "Apa sebagian besar karyawan tengah lembur?" tanyanya cukup penasaran.

__ADS_1


"Benar, Nona. Apa Nona mau menemui Pak Arjuna?"


Abby mengangguk, "dia ada di ruangannya bukan?"


"Tentu, Nona. Saya belum melihat Pak Arjuna keluar dari perusahaan sejak pagi. Perlukah saya mengantar Anda ke atas?" tanya penjaga tersebut menawarkan diri.


Abby baru akan menjawab saat matanya tak sengaja menemukan sosok yang tengah dia cari. Juna terlihat keluar dari arah lift bersama seorang perempuan yang dulu pernah mendatangi kamar rawat inapnya. Dua orang itu terlihat berbicara dan saling tersenyum satu sama lain, hal yang membuat Abby kontan mengernyit heran. Cukup aneh melihat Juna bisa ekspresif saat bersama orang lain.


Perempuan itu berdiri diam di tempatnya sampai Juna mendekatinya. Lelaki itu seperti terkejut dengan kehadiran adiknya di sini. Raut wajahnya berubah menjadi datar, senyum cerah yang tadi sempat menghiasi wajahnya kini hilang, seolah tak pernah ada. Entah apa alasannya, namun Abby merasakan hawa tidak nyaman di dalam hatinya.


"Kakak, syukurlah kamu turun. Tadinya aku akan naik." Abby mengangkat jinjingan yang dia bawa, menunjukannya pada Juna tanpa diminta. "Lihat! aku membawa masakan rumah yang masih hangat. Kakak belum makan bukan? mari makan bersama." Si cantik itu berceloteh dengan cukup riang. Tanpa menyadari kalau sosok yang dia ajak bicara tak mengubah raut wajahnya sedikitpun. Tetap datar dengan pandangan mata yang bosan.


"Aku sudah makan."


Tiga kalimat itu menjadi jawaban atas ocehan panjang Abby. Perempuan itu terdiam untuk beberapa saat, "oh, Kakak sudah makan?" Abby agak linglung sejenak, "baiklah, kalau begitu Kakak akan pergi ke mana?" menatap Juna dan perempuan cantik yang sejak tadi diam di samping Juna.


Juna melirik Abby sebentar, "bukan urusanmu!" lalu menatap Hari dan Erik yang berdiri patuh di belakang Abby, "bawa dia pulang kembali!"


Menekan rasa tak nyaman di hati, Abby memaksakan senyum tipisnya. "Aku bisa menunggu Kakak di sini. Dengan begitu, kita bisa pulang bersama nanti." Ini adalah usaha terakhir Abby untuk malam ini, menahan rasa ego demi sang kakak.


"Kamu-"


"Pak, kita harus pergi sekarang." Andita memotong ucapan Juna segera.


Juna yang terlihat emosi tadi saat menghadapi Abby, kini menghela nafasnya sejenak. Benar, dia punya urusan lain yang sangat penting ketimbang meladeni adiknya.


"Kembalilah! aku sibuk." Juna mengatakannya tanpa menatap Abby, lalu lelaki itu menarik lengan Andita pelan, "ayo pergi!"


Andita mengangguk, "kami permisi, Nona."


Dua orang itu pergi begitu saja, melewati Abby yang termangu dengan rasa sesak di dada. Netra bulatnya memandang tubuh jangkung Juna yang sudah hilang ditelan mobil mewah, meninggalkan lobi perusahaan.


Abby membatin sembari menekan dadanya.


Ada yang salah.


. . .


TBC


Hai, selamat siang. Apa kabar? semoga sehat selalu. Maaf dan terimakasih untuk teman-teman setia yang selalu menunggu dengan sabar update cerita ini. Saya sangat menghargai kebaikan teman-teman.


Enjoy!


Salam,

__ADS_1


Nasal Dinarta.


. . .


__ADS_2