Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Pemeran Pendukung Tidak Selamanya Akan Menjadi Pemeran Pendukung


__ADS_3

"Kenapa kamu belum juga bergerak seperti apa yang aku perintahkan?"


Di sebuah ruangan pengap dan minim cahaya, dua lelaki berbeda usia tengah duduk berhadapan dengan ekspresi yang jelas berbeda. Si lelaki tua dengan wajah menyeramkan dan tidak sabarannya. Dan si lelaki muda dengan raut tenang dan datarnya, seperti tidak terpengaruh sedikitpun dengan hawa menyeramkan yang menguar dari orang di depannya.


"Kenapa aku harus mendengarkanmu?" dia malah bertanya balik. Hal yang membuat si lelaki tua melotot bukan main.


"Jangan main-main, bocah!"


Alis indah lelaki muda itu terangkat, memperlihatkan raut terganggu di wajah rupawannya. "Aku akan bergerak jika aku ingin. Bukan karena perintah dari siapapun."


Hawa dingin di sekitar mereka semakin mencekam karena aura ingin saling menghabisi terpancar dari keduanya.


Merasa kalau sudah tak ada lagi yang perlu dibicarakan, lelaki muda itu perlahan bangkit- membuat kursi tua yang didudukinya sejak tadi berderit karena gesekan pada lantai.


"Jangan melemah hanya karena adikmu!"


Langkah lelaki muda itu sempat terhenti, namun terlalu malas untuk menoleh kembali. "Kamu tidak pantas untuk berbicara tentang adikku, Tuan." Setelahnya, dia benar-benar pergi dari sana. Meninggalkan lelaki paruh baya yang hanya bisa diam sembari menatap kepergiannya.


"Anak itu terlalu lambat dalam bergerak, haruskah aku yang memulainya?"


. . .


Pukul sembilan belas lewat lima, Juna kala itu tengah mengendarai mobilnya dalam kecepatan sedang. Selain karena tak ingin mencelakai diri sendiri karena menyetir seperti orang tidak waras, Juna juga merasa sangat lelah karena sudah tiga hari ini lembur.


Sesekali, jemari kanannya yang tak memegang kemudi itu akan naik untuk memijat dahinya yang terasa pening. Seharusnya, dia membiarkan Erik untuk mengantarnya pulang tadi.


"Anda baik-baik saja, Pak?"


Juna sempat menahan nafas saat mendengar suara di sampingnya. Hampir saja dia melupakan seorang perempuan muda yang sudah beberapa minggu ini menjadi bawahannya langsung di kantor- tengah duduk di kursi samping kemudi.


Lelaki itu sedikit meliriknya sebelum menjawab, "ya. Di mana alamat rumahmu?"


"Jalan Pahlawan, Pak." Jawab perempuan muda itu dengan nada pelan. Dia merasa tidak enak karena harus merepotkan atasannya lagi malam ini. Sebenarnya, dia sudah menolak saat Juna menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil mewah lelaki itu. Namun, wajah Juna saat tidak ingin dibantah cukup mengerikan untuknya. Jadi, dia terpaksa ikut.


Juna mengangguk sembari memperhatikan jalan raya di malam hari yang sama sekali tidak lenggang. "Kamu sudah diberitahu Damar tentang acara besok hari, bukan?"


"Ya, Pak."

__ADS_1


"Pertemuan itu cukup penting. Jadi, jangan sampai kamu membuat kesalahan!" Juna memperingati dengan tegas.


"Baik, saya mengerti Pak." Perempuan itu kembali menimpali dengan patuh.


"Kamu akan berangkat dengan Damar, dia pasti bisa membimbingmu dengan baik." Lanjut Juna tanpa menoleh.


Sempat ada jeda di antara percakapan mereka karena si perempuan yang terlibat merenung, seperti terkejut mendengar ucapan atasannya. "Maaf, Pak. Bukankah saya akan berangkat bersama Anda?"


"Tidak. Siapa yang mengatakan itu padamu?" Juna menjawab dengan ringan, tanpa peduli dengan reaksi perempuan di sampingnya yang seperti kecewa. "Aku akan menemani seseorang besok, jadi aku tidak akan masuk. Lakukan pekerjaan kalian dengan baik."


"Baik, Pak."


Si perempuan nampak memalingkan wajah ke luar jendela, seperti enggan untuk menoleh ke arah samping. Rasa sesak yang menghantam hatinya membuat dia tidak berdaya. Mengharapkan sesuatu yang cukup jauh dari jangkauan memang selalu berakhir dengan kesakitan. Dia sudah tahu itu, namun tetap saja melakukannya.


. . .


Gara langsung pergi dengan mobilnya sendiri saat mereka sudah tiba di kediaman Anggara dan memastikan Abby masuk ke dalam kamarnya. Dan kini, Abby sendiri tengah berkutat dengan berbagai produk perawatan kulitnya yang berserakan di atas meja rias. Meski pada awalnya dia merasa aneh dengan semua hal ini, namun lambat laun dia menyadari kalau merawat tubuh itu sangat penting demi kesehatan dan kebugarannya.


Abby sudah sering melakukan ini, bahkan dia setiap hari melakukannya. Namun tetap saja dirinya merasa kagum dengan rupanya sendiri. Bagiamana mungkin ada kulit sehalus dan semulus ini? Abby bahkan begitu kesulitan untuk menemukan pori-pori di sana. Detik berikutnya Abby mendengus, dasar orang kaya. Orang ini pasti tak pernah memikirkan hal rumit apapun selain makan, tidur dan bersenang-senang. Tidak seperti dirinya yang hidup begitu keras dulu.


Gerakan tangannya yang tengah menepuk-nepuk kedua pipi itu terhenti saat matanya tak sengaja menangkap sebuah paper bag yang tersimpan rapi di atas meja bundar di sudut ruangan.


Juna memang kurang kerjaan, untuk apa memberinya banyak pakaian baru jika yang lama saja belum sempat dia gunakan? belum lagi Gara yang setiap hari selalu mengirimkan hadiah yang berbeda ke rumah ini. Apa dua lelaki itu sedang pamer kekayaan padanya?


Abby kembali duduk sembari melihat isi dari kantong yang kini tengah dipegangnya. Mulutnya setengah terbuka saat melihat ada dua kotak berwarna hitam di sana. Satunya berisi jam tangan cantik berwarna merah muda, lalu satu kotak yang lebih besarnya adalah satu set perhiasan yang terlihat indah namun bukan seleranya.


Bukan karena barang-barang tersebut dibeli dari toko menengah, hanya saja Abby tak menyukai desain dan warna dari barang tersebut. Abby terlihat merenung dengan kening mengerut. Baru kali ini dia merasa Juna salah memberinya barang. Padahal, sejauh ini Abby selalu menyukai barang yang Juna berikan karena sepertinya lelaki itu sudah tahu selera yang diinginkannya.


Namun meski begitu, Abby tetap mencobanya. Perempuan itu memasangkan jam tangan itu di pergelangan tangan kanannya. Ya, meksipun tidak terlalu cocok, namun itu tidak buruk juga. Mungkin, Abby akan memakainya sekali-sekali nanti.


Tok tok tok!


"Abby, kamu belum tidur bukan? aku akan masuk."


Itu suara Juna.


Dan Abby terlalu terlambat untuk bereaksi atau sekedar untuk berdiri membuka pintu karena Juna sudah masuk lebih dulu ke dalam kamarnya.

__ADS_1


"Kakak, baru pulang ya?" tanya Abby basa-basi sembari berdiri, memperhatikan Juna yang baru saja menyimpan bingkisan di atas kasurnya.


Abby melirik itu dan tidak bisa untuk tidak mendengus. Hadiah lagi?


Juna tidak langsung menjawab. Lelaki itu membuka jas mahalnya, menyimpan tas kerjanya, kemudian menghempaskan tubuh besarnya di atas ranjang. "Hm..bagaimana pestanya?" tanya Juna sembari menatap langit-langit kamar Abby.


Abby masih berdiri di sisi ranjang, menatap sang kakak yang tengah memejamkan mata. "Ya, biasa saja. Tak ada hal yang menarik." Jawab Abby dengan asal. Karena merasa pegal, perempuan itu ikut duduk di atas ranjang. "Kakak pasti lelah, ingin aku pijat?"


Juna dengan cepat membuka mata dan menoleh ke arah Abby dengan heran, "kamu tidak memiliki keahlian dalam bidang itu, jadi tidak perlu memaksakan diri!" itu adalah penghinaan yang dibungkus rapi oleh sebuah nasihat. Abby sungguh kesal mendengarnya.


"Cih! Kakak juga seperti kehilangan keahlian dalam memberikan barang untukku." Abby lebih mendekat ke arah Juna dan memperlihatkan sebuah jam yang baru saja dia kenakan, "lihat! sejak kapan aku suka memakai jam tangan? apalagi warna merah muda." Protes Abby.


Juna yang melihat itu nampak mengerut sambil membawa tubuhnya untuk bangun, duduk menghadap Abby. "Darimana kamu mendapatkan barang murahan seperti ini?" tanyanya dengan raut polos.


Perempuan itu mendengus tidak percaya, "tentu saja dari Kakak. Memangnya dari siapa lagi?"


"Ha?" Juna bengong, menatap jam tangan yang dikenakan adiknya. "Aku tak merasa pernah memberikan benda seperti ini padamu."


Abby menghela nafas lelah, "Kakak sendiri yang memberikan ini padaku tempo hari. Lihat bungkusnya! ini adalah pemberian Kakak." Jelas Abby dengan sabar.


"Tas nya memang seperti ini, tapi aku tak membelikan jam untukmu. Bukankah kamu tidak suka memakai jam tangan?" tanya Juna dengan raut bingung yang nyata.


Abby mengangguk, "aku juga berpikir selera Kakak turun tadi."


Keduanya diam sembari menatap satu sama lain.


"Apa benda itu tertukar?"


Abby mengedikkan bahu, "mana aku tahu."


. . .


TBC


Terimakasih untuk dukungannya. Jangan lupa vote dan komentarnya!


Salam,

__ADS_1


Nasal Dinarta.


__ADS_2