
Malam yang tenang. Selain suara denting jam yang terus berbunyi tiap detiknya, juga rintik gerimis yang terdengar samar di luar sana, tak ada hal lain yang menemani Gara di ruangan yang dominan warga gelap tersebut. Sendiri, sepi dan sunyi. Tidak masalah, Gara menyukai itu.
Dengan elegan, lelaki dewasa itu duduk di atas sofa sembari bersandar. Di lengannya, ada segelas anggur mahal berwarna ungu tua yang hanya akan dia keluarkan dari tempatnya jika sedang kalut saja. Dan saat ini, pikirannya memang sedikit kacau.
Gara masih terlihat sama seperti tadi pagi. Setelah pulang dari kantor, lelaki itu langsung memasuki kamar pribadinya tanpa ada niat untuk ke kamar mandi, atau sekedar mengganti pakaian kerjanya. Selain karena terlalu malas, Gara merasa membersikan diri pun tidak akan membuat perasaannya membaik.
Satu-satunya hal yang berputar di kepala Gara sejak pagi dan membuatnya susah konsentrasi dalam bekerja adalah perempuan itu. Si tunangan yang akan segera menjadi mantan tunangannya itu telah membuat Gara kalang kabut hanya dengan beberapa kalimatnya saja.
Jika kemarin-kemarin, Gara masih mempertanyakan kebenaran tentang perubahan Abby, maka saat melihat semuanya tadi pagi, rasa ragu yang menghantuinya kini berubah menjadi kepercayaan. Percaya kalau Abby memang sudah menyerah padanya.
Helaan nafas lelah terdengar, Gara sepertinya memang tengah berpikir cukup keras sekarang. "Abbysca.." lirihnya sembari memandang sebuah cincin berlian berukuran kecil yang saat ini tengah dia genggam dengan tangan kirinya. Perempuan itu mengembalikan benda ini pada Gara setelah lima tahun menahannya.
Gara menegakkan tubuhnya, lalu menyimpan gelas anggur di atas meja hanya untuk memegang cincin tersebut dengan kedua tangannya. Untuk sesaat, Gara dibuat bingung. Dari sekian banyak pilihan jenis dan motif, kenapa dia memilih cincin ini untuk pesta pertunangan mereka dulu? meski harganya cukup fantastis, namun benda kecil berkilau itu tak memiliki motif apapun. Begitu polos dan sederhana.
Bukankah itu jauh dari kepribadian dirinya maupun perempuan itu?
Tangan kirinya mengeluarkan sebuah kalung yang menghiasi lehernya dari balik kemeja yang dua kancing atasnya sudah terbuka. Dengan hati-hati, lelaki itu membelai cincin putih yang menjadi bandul di sana. Itu adalah pasangan dari cincin yang sejak tadi dia perhatikan. Jika Abby mengenakan cincin pertunangan mereka di jari manisnya, maka Gara memilih menyembunyikannya. Memang itu akan membuat kesalahpahaman bagi semua orang, namun Gara tidak peduli. Dia hanya melakukan apa yang membuat dia nyaman.
Diluar dia memang seolah tidak menginginkan pertunangan ini. Ya, meski itu tidak salah, namun tidak sepenuhnya benar juga. Ada beberapa hal yang tidak seharusnya orang lain tahu, cukup dirinya saja. Mungkin prinsip tersebut bisa Gara pertahankan selama ini, namun melihat situasi yang cukup rumit saat ini, dia mulai mempertanyakan satu hal. Apakah semuanya memang sudah berjalan dengan benar?
"Abbysca.." lirihnya untuk yang kesekian kalinya hari ini.
"..bisakah kita mengulang waktu? maka aku akan membagi satu rahasiaku padamu."
. . .
Jam menunjukkan angka dua puluh lewat sembilan belas menit. Semakin malam, hujan turun semakin deras. Gerimis yang mengeluarkan aroma hujan dan tanah yang basah itu, kini tergantikan dengan hawa dingin disertai gemuruh yang cukup membuat hati tak nyaman.
Abby menarik selimut tebal bermotif kotak-kotak hitam agar menutupi seluruh tubuhnya sampai batas leher. Perempuan itu tidak sedang berada di kamarnya, melainkan di perpustakaan besar milik Juna yang akhir-akhir ini selalu menjadi tempat kesukaannya.
__ADS_1
Abby duduk berselonjor dengan posisi setengah tiduran dengan sebuah buku dongeng di tangannya. Memang sedikit menggelikan mengingat perpustakaan ini milik seorang lelaki dewasa namun terdapat puluhan buku anak-anak. Dan karena Abby sedang tidak ingin memikirkan segala macam teori dalam buku ekonomi atau sejarah yang seringkali dia baca, maka pilihannya jatuh pada buku anak-anak bersampul biru muda berjudul 'Putri Dengan Tujuh Kurcaci'.
Bibirnya sesekali tersenyum saat membaca adegan lucu atau menggelikan yang ada di sana.
"Kamu terlihat senang."
Komentar itu keluar dari Juna yang baru datang ke perpustakaan. Meski sering mendengar laporan kalau adiknya kini hobi menghabiskan waktu di perpustakaan miliknya, namun melihatnya langsung seperti ini terasa sedikit aneh.
Juna mengambil tempat duduk tepat di depan Abby. Perempuan itu hanya menatap Juna sekilas sebelum kembali melanjutkan bacaan.
"Aku pikir Kakak sudah tidur." Ujarnya dengan pandangan tidak lepas dari buku.
Juna mendengus, "bagiamana aku bisa tidur di saat kamu telah membuat gempar media lokal hari ini." Lelaki itu bersidekap dengan kaki yang saling menumpang. Menatap sang adik yang kini mulai memberikan atensi padanya.
"Memangnya apa yang aku lakukan?" bertanya polos dan jujur. Sungguh, dia tidak merasa telah membuat kesalahan besar hari ini.
Lelaki itu menahan diri untuk tidak memutar bola matanya, "sudahlah, lupakan! besok juga kamu akan tahu." Melambaikan tangan dengan sembarangan, menganggap kalau itu bukanlah hal penting.
"Apa kamu serius dengan permintaanmu sebelumnya?" saat makan malam bersama tadi, Abby memang menyampaikan beberapa hal untuk didiskusikan dengannya.
Abby mengubah cara duduknya agar menjadi tegak dan menutup buku yang tengah dia baca. "Tentu, apa menurut Kakak keinginanku itu berlebihan?"
"Namanya Danu Suwardi, tujuh puluh satu tahun. Hidup sebatang kara dengan ekonomi sulit di sebuah gubuk kecil di pinggir ibukota. Sehari-hari mengumpulkan kardus bekas untuk makan. Dia adalah orang yang memberikan kamu pertolongan pertama saat kecelakaan itu berlangsung. Dan sekarang, kamu ingin aku mengizinkannya tinggal di sini bersama kita. Seperti itu bukan?" Juna berucap panjang lebar dengan kalimat yang tertata baik. Dia seringkali merasa rugi kalau harus banyak bicara, namun yang barusan itu adalah pengecualian. Entah sejak kapan, segala hal yang menyangkut Abby tidak pernah dia anggap merepotkan. Dia akan dengan senang hati memikirkannya.
Dengan mulut yang sedikit menganga, Abby menjawab, "wah, Kakak terlihat menakjubkan. Tapi itu memang keinginanku. Bagiamana menurut Kakak sendiri?"
Ada rasa hangat di dada Juna saat Abby menatapnya akrab dan memperlakukan Juna layaknya seorang kakak yang sebenarnya. Jika itu dulu, mungkin kesempatan seperti ini tidak akan pernah muncul karena Juna sudah lebih dulu menghindar dan memberikan tembok penghalang yang tinggi agar Abby tidak masuk terlalu jauh dalam hidupnya.
Meski sedikit tidak biasa, namun Juna menyukainya. Bisa berbicara santai dan berbagi pikiran seperti ini adalah hal yang tak pernah Juna bayangkan sebelumnya.
__ADS_1
"Akan lebih baik kalau Pak Danu kita kirim ke yayasan keluarga kita saja. Di sana, dia akan hidup dengan nyaman dan aman tanpa harus khawatir memikirkan hari esoknya masih bisa makan atau tidak." Danu memang orang yang berjasa besar dalam hidup adiknya, namun membiarkannya tinggal di rumah ini pun bukan sesuatu yang mesti mereka lakukan.
"Mungkin dia akan menolaknya karena dari apa yang kulihat, dia adalah orang yang pantang meminta-minta. Tapi kalau di sini, dia bisa membantu tukang kebun atau yang lainnya. Lalu di sisi lain, dia akan terlindungi karena tidak harus tinggal sendirian di tempat terpencil." Abby pikir itu solusi yang cukup baik bagi kelangsungan hidup penolongnya. Namun, dia ingin mendengar pendapat Juna.
Lelaki itu menggeleng, "di yayasan nanti, dia juga tidak akan menganggur. Jika dia ingin bekerja di sana, maka biarkan dia bekerja. Dia akan digaji sesuai dengan apa yang dia kerjakan selain mendapat makan sehat dan tempat tinggal gratis yang layak. Bukankah itu sudah sesuai?"
Abby terdiam, saling menatap dengan Juna yang kini juga tengah diam.
"Kalau itu yang terbaik menurut Kakak, aku tidak masalah. Asalkan dia tidak tinggal di sana lagi." Abby menerima masukan Juna dengan segala kerendahan hati. Hal yang membuat Juna lagi-lagi termenung, terkejut dengan fakta lain yang baru dia dapat.
"Kamu terlihat manis kalau bersikap patuh seperti ini." Juna berdiri dan menghampiri Abby, "aku senang bisa berbicara banyak hal denganmu." Tangannya naik hanya untuk menepuk kepala adiknya sekali.
Perempuan itu tersenyum kecil, "terimakasih, maaf harus selalu merepotkan Kakak."
Juna memalingkan wajah ke arah lain. Bagaimana dia harus menghadapi Abby yang bersikap baik seperti ini kedepannya?
Namun di detik berikutnya, Juna kembali menatap Abby serius. "Abby, aku senang dengan perubahanmu yang membawa dampak bagus ini. Tapi, aku juga berharap kalau kamu akan bersikap sama dalam menyelesaikan masalahmu dengan Gara. Bicaralah baik-baik agar kalian berdua tidak menyesal di lain waktu."
Kini, Abby memasang wajah malas. "Kakak memang terlalu banyak bicara hari ini."
Cih, kenapa harus membahas lelaki itu lagi?
. . .
TBC
Terimakasih sudah membaca dan mendukung cerita Abby sejauh ini. Tolong berikan like dan sisipkan kesan juga pesan teman-teman di kolom komentar. Saya akan sangat menghargai itu. ^_^
Salam,
__ADS_1
Nasal Dinarta