Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Melepaskan Apa Yang Harusnya Dilepaskan


__ADS_3

Pagi itu, Abby yang tengah bermalas-malasan karena tidak memiliki kelas pagi, dipaksa bangun oleh Juna dengan cara yang tidak manusiawi. Lelaki itu menarik kerah belakang pakaian Abby, layaknya tengah menggeret seekor anak kucing.


Dan di sinilah dia sekarang, duduk dengan manis di samping Juna yang pagi ini mengambil alih kemudi. Ekspresi wajahnya begitu malas karena tahu kalau kakaknya itu akan membawanya ke tempat yang paling tidak ingin dia kunjungi.


"Aku tidak mengerti. Kenapa aku harus diikutsertakan dalam urusan kalian berdua?" tanya Abby memecah belah keheningan di dalam mobil yang hanya terdengar deru mesin halus sejak tadi.


"Karena dia yang meminta." Juna menjawab ringan. Ujung jemari panjangnya mengetuk-ngetuk pelan permukaan kemudi yang dia genggam, seperti tengah memikirkan sesuatu. "Mungkin ada hal penting yang ingin dia bicarakan."


Abby mendengus, "huh, sejak kapan dia memasukkan aku dalam 'hal penting' baginya?" perempuan itu berujar sarkas. Marah dengan apa yang terjadi di masa lalu saat Gara memberikan peringatan tegas mengenai posisi Abby di dalam hidup lelaki itu.


Juna melirik adiknya sekejap sebelum kembali menatap ke arah depan, "kamu terlihat marah."


"Tentu saja, kenapa aku tidak bisa marah pada orang yang telah berkali-kali menyakitiku?" wajah cantik itu terlihat semakin sinis dengan ucapan yang semakin pedas.


"Wow, aku tidak menyangka akan melihat kamu dalam tahap seperti ini." Juna pikir, ucapan dan tindakan Abby akhir-akhir ini hanyalah bualan semata demi mendapatkan perhatian Gara. Namun jika melihat dan mendengarnya sekarang, sepertinya Abby memang sudah mulai lelah dengan penolakan Gara dan perlahan menimbulkan rasa benci di hati untuk lelaki itu.


Abby hanya kembali mendengus dan tidak minat untuk menjawab. Tahu kalau sebentar lagi dia akan bertemu dengan calon mantan tunangannya yang bermulut pedas, Abby merasakan dadanya bergemuruh diliputi kemarahan. Akan lebih menyenangkan kalau nanti dia bisa memberikan satu buah pukulan telak di wajah tampannya.


Mereka sampai di depan pintu utama perusahaan Aditama. Dua orang lelaki berpakaian hitam yang Abby tebak sebagai pihak keamanan mendekati mobil mereka dan membukakan pintu untuk keduanya. Abby berdiri dengan kaku menatap bangunan megah yang sudah lama tidak dia kunjungi dengan wajah datar tak berarti, sementara Juna tengah memberikan kunci mobilnya pada salah-satu dari dua lelaki tadi.


"Ada apa denganmu? ayo masuk!" Juna menegur adiknya yang masih belum bergerak.


Lelaki yang hari ini mengenakan pakaian formal tersebut melangkah lebih dulu namun agak memelankan laju kakinya, karena tahu kalau Abby berjalan dengan malas-malasan di belakangnya.


Wajah Abby tidak berubah meski tahu kalau atensi semua orang di lobi utama tengah memperhatikan mereka. Entah apa yang orang-orang pikirkan saat melihat kedatangan tunangan dari bos mereka yang sudah lama tak terlihat. Belum lagi penampilan Abby yang cukup berbeda dari biasanya. Hanya ada gaun sederhana dengan panjang selutut berwarna cokelat terang. Meski begitu, aura kecantikan yang bercampur dengan ketenangan terlihat memancar. Sedikit asing, namun itu begitu cocok.


Juna baru saja akan menghampiri meja resepsionis saat Mahen datang dari balik pintu lift dengan senyuman tipis di bibirnya. "Selamat pagi, Tuan dan Nona. Mari ikut saya! Pak Gara sudah menunggu."


Keduanya mengikuti langkah Mahen tanpa banyak bertanya. Tidak seperti Abby yang memang benar-benar diam, Juna terlihat sesekali berbicara dengan Mahen di tengah perjalanan singkat mereka. Sekretaris Gara tersebut menatap Abby dari dinding lift diam-diam, mencoba mencari perbedaan yang akhir-akhir ini sering diperbincangkan oleh orang-orang.


"Saya senang karena kesehatan Anda sudah pulih, Nona." Ujar Mahen tulus di tengah keheningan.


"Terimakasih. Kak Mahen masih terlihat sama seperti terakhir kali aku melihat." Meski itu hanya basa-basi semata, namun apa yang Abby katakan memang benar adanya.


Lelaki itu hanya meringis kecil sembari mempertahankan senyumannya saat mendengar ucapan Abby. Dia tidak tahu harus senang atau tidak dengan respon malas dari tunangan bosnya tersebut.


Tak lama, ketiganya sampai di lantai delapan belas. Tempat di mana hanya ada Gara dan dua sekretarisnya yang menjadi penghuni.


Mahen membuka satu-satunya pintu ganda yang ada di sana, "silahkan masuk!" kemudian mempersilahkan dua tamu istimewanya agar masuk ke dalam.

__ADS_1


"Oh, sudah sampai?"


Gara yang tengah duduk di atas sofa dengan sebuah tablet di tangannya adalah pemandangan pertama yang dua orang itu lihat. Di saat Juna tanpa ragu menghampiri si tuan rumah, Abby sendiri masih terdiam di dekat pintu yang sudah tertutup. Matanya menatap kosong dengan kedua tangan yang sama-sama terkepal di sisi tubuh. Perempuan itu seolah tak berniat untuk mendekat.


"Abby, kenapa masih di sana? ayo duduk!" Juna menepuk bagian sofa yang kosong di samping kanannya. Sedangkan Gara hanya diam menatap Abby dengan pandangan rumit, tanpa berkata apa-apa. Mengingat pertemuan terakhir mereka yang terkesan 'buruk' kala itu, membuat Gara tidak tahu harus bersikap bagaimana.


Tersadar dari lamunannya, Abby mendekat dan langsung duduk di samping Juna tanpa melirik sedikitpun ke arah Gara. Dia bahkan sedikit merapatkan tubuh ke sisi kakaknya, seperti ingin membuat dirinya tak terlihat di sana. Juna yang melihatnya hanya bisa berkerut heran tapi tak mengatakan apapun.


"Aku harap kamu memiliki hal penting karena memintaku datang di saat aku seharusnya berada di kantorku sekarang." Juna menatap Gara yang ternyata masih belum mengalihkan pandangan dari Abby. Sudut bibir lelaki itu sedikit berkedut, menahan senyuman ejekan yang tiba-tiba hadir di wajahnya.


Gara menghela nafas pelan dan mulai menatap lawan bicaranya, "dua Minggu lagi adalah perayaan ulang tahun perusahaan keluargaku."


Juna mengangguk, "ya, lalu?"


"Ibu ingin kamu ikut berpartisipasi dalam ajang persiapan nanti." Gara masih berbicara setengah-setengah membuat Juna memberikan ekspresi menuntut, menyuruh temannya itu agar segera menyampaikan maksudnya.


Dengan raut wajah tak nyaman Gara melanjutkan, "sebagai keluarga calon besan, Ibuku memintamu untuk mengambil alih sebagian tanggung jawabku dalam menyiapkan acara nanti."


Juna mendelik tak mengerti, "kenapa harus begitu?" dari sekian banyaknya pertanyaan yang berkeliaran di otak Juan, ternyata hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya.


"Ya, mungkin karena acara tahun ini akan dirayakan dengan besar-besaran. Lebih besar daripada kemarin. Jadi, Ibuku.." Gara terlihat agak segan untuk melanjutkan.


Suara kekehan terdengar di saat Gara merasa bingung memilih kata yang tepat untuk diucapkan. Juna maupun Gara sontak menoleh pada Abby yang masih tertawa dengan pandangan menerawang ke depan.


Abby menoleh pada Juna sebelum melanjutkan, "Kakak, apa Kakak akan menikahi salah-satu perempuan Aditama?" bertanya dengan wajah polos yang tak berdosa membuat dua lelaki di sana tahu kalau Abby tengah bersandiwara.


"Abby!" tegur Juna pelan. Dia tidak menyangka kalau adiknya akan bersikap seperti ini secara terang-terangan.


Abby mendengus kasar sebelum bangkit dari sana. Perempuan itu berjalan, mendekati meja kerja Gara yang terlihat gagah. Sama seperti pemiliknya, mungkin itu yang akan Abby katakan dulu. Namun sekarang, Abby jelas ingin muntah hanya dengan memikirkannya saja.


"Gara.."


Gara yang sejak tadi diam tidak menoleh sama sekali saat dirinya dipanggil. Hanya menatap ke depan dengan sorot waspada dengan posisi membelakangi Abby. Dia merasa ada sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi.


"Sebaiknya kamu segera mengatakan pada keluarga besarmu mengenai hubungan kita." Jemari lentiknya mengusap sebuah foto dengan figura sederhana yang disimpan di atas meja kerja Gara. Itu adalah foto pertunangan mereka. Dan tentu saja Abby yang memaksa Gara untuk menyimpannya dan mengancam lelaki itu agar tidak membuangnya. Mungkin karena tidak ingin repot, Gara membiarkannya begitu saja. Lelaki itu terlihat tidak peduli, terbukti dengan posisi foto tersebut yang disimpan di ujung meja sebelah kiri dan tertutupi sebuah kalender. Itu akan membuat orang-orang sulit untuk melihatnya.


"Seperti katamu, pertunangan bodoh ini takkan ada gunanya. Lagipula, tidak ada yang bisa dipertahankan dari ikatan seperti ini." Abby berdecih kala merasa matanya memanas. Bayangan dirinya yang setiap hari mendatangi kantor Gara hanya untuk memastikan lelaki itu makan siang dengan baik berputar di ingatannya. Meski itu bukan sepenuhnya dirinya, namun rasa sakitnya benar-benar nyata.


Bodoh!

__ADS_1


Abby bodoh!


"Jangan bersikap seolah semuanya baik-baik saja setelah apa yang kamu lakukan padaku!" Abby saat ini tengah berusaha dengan kuat agar air matanya tidak turun. Namun emosi kemarahan menguasai hatinya.


Prang!


Juna dan Gara sama-sama berdiri saat mendengar suara pecahan kaca.


"Abby!" Juna hampir melotot dan langsung mendekati adiknya. Sedangkan Gara hanya terdiam kaku, namun matanya tak lepas dari Abby yang terlihat marah dan juga rapuh di saat bersamaan.


Abby sendiri tidak bereaksi berlebihan. Dia hanya menatap figura di bawah kakinya yang sengaja dia pecahkan barusan. Perlahan, dia berjongkok dan mengambil lembaran foto yang ada di sana dan merobeknya kasar tanpa ekspresi berarti. Kemudian membuangnya di atas lantai begitu saja, membuat robekan kertas itu berserakan di atas pecahan kaca.


"Aku tidak tahu kenapa kamu masih menyimpannya di saat kamu sudah dalam tahap membenciku setengah mati." Perempuan itu kembali berdiri dan mengusap air mata di pipinya dengan agak kasar.


Air mata sialan ini!


Perlahan, Abby membalikan badan dan menatap Gara dengan ekspresi datar. Itu adalah jenis ekspresi yang sering Gara perlihatkan saat menatapnya.


"Katakan yang sebenarnya pada Tante Melly atau aku sendiri yang akan mengatakannya. Kamu tinggal pilih, Gara." Setelah mengatakan itu, Abby pergi tanpa pamit dari sana. Melewati Juna yang sepertinya belum sadar dari keterkejutannya, juga Gara yang hanya diam dengan raut wajah kaku. Menatap kepergian Abby dengan perasaan tak menentu.


Sialan, dia tidak suka dengan jenis perasaan seperti ini. Dada yang berdenyut saat melihat tatapan datar itu, hati yang bersalah saat melihat air mata itu. Gara tidak suka dengan semua itu. Kenapa dia kembali mendapatkannya lagi sekarang setelah hatinya mati selama bertahun-tahun?


Di sisi lain, Abby yang sudah keluar dari ruangan tersebut berhenti di depan meja Mahen. Perempuan itu melepaskan sebuah cincin permata berwarna putih yang selama lima tahun terakhir melingkar di jari manisnya dan menyimpannya di atas meja kerja Mahen.


"Berikan itu pada Gara! jika kamu tidak berani, maka buang saja! atau tidak, kamu bisa menjualnya. Harganya lumayan." Abby berujar ringan dan kembali melangkah.


Mahen yang tengah berdiri hanya diam memandangi benda yang baru saja Abby tinggalkan.


Apa katanya?


. . .


TBC


Wah, menulis bab ini butuh perjuangan lebih buat saya karena harus bisa menyampaikan emosi Abby di dalamnya.


Terima kasih buat teman-teman yang sudah hadir dan memberikan dukungan pada karya saya. Cinta banyak-banyak untuk kalian.^_^


Mohon untuk terus memberikan cinta pada semua pemain.

__ADS_1


Salam,


Nasal Dinarta


__ADS_2