
Abby berjalan sendirian di tengah ramainya pengguna jalan kaki yang lain. Elang baru saja menghubunginya, mengatakan kalau lelaki itu tidak bisa secepatnya menuju tempat yang telah mereka sepakati. Mobil Elang mogok. Dan ya, itu masalah yang cukup serius karena membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memperbaikinya.
Namun alih-alih merasa marah ataupun kesal karena pertemuan mereka akan tertunda, Abby malah menggunakan waktu tersebut untuk berjalan-jalan di sekitar sana. Dia dengan tabahnya menyuruh Elang agar menyelesaikan urusannya tanpa harus diburu waktu. Karena dengan begitu, Abby jadi bisa melakukan hal yang dia inginkan.
Sejak Abby bangun di tubuh ini, dia hampir tidak pernah tidak diantar dan dijemput oleh Erik ke mana pun dia pergi. Benar-benar hidup layaknya seorang putri dari keluarga kaya. Dan sekarang, kesempatan itu datang.
Perempuan itu langsung meninggalkan halte setelah menutup sambungan telepon dari Elang. Berjalan mengikuti keinginan hatinya. Meski begitu, dia tidak ingin terlalu melenceng dari peta yang kini tengah membimbingnya ke tempat di mana Elang berada.
Sebenarnya, Elang menyuruhnya untuk menunggu di tempat yang sama atau meminta seseorang untuk menjemputnya. Namun dia kekeh ingin menghampiri Elang yang kini tengah berada di bengkel terdekat dari sini.
Setelah melintasi jalur pejalan kaki saat lampu merah menyala, Abby menelusuri jalan simpang di pertigaan. Sepertinya itu merupakan pemukiman warga yang tinggal di daerah sana. Berbagai jenis rumah dari yang terbesar hingga yang terkecil sekalipun ada, membuktikan bahwa tempat itu dihuni oleh semua kalangan.
Mengabaikan tatapan orang-orang yang menatap heran ke arahnya, Abby tetap berjalan dengan tenang mengikuti pemandu wanita dari ponsel yang kini tengah digenggamnya. Dibandingkan dengan respon yang dia terima sebelumnya seperti di tempat-tempat umum yang dihuni sebagian besar masyarakat dengan kasta tinggi, respon mereka jauh lebih normal. Sehingga Abby tidak merasa tengah ditelanjangi. Mungkin karena penampilan Abby yang tidak mencolok dan dirinya pun berusaha untuk berbaur dengan yang lain.
Lima belas menit Abby berjalan, posisinya sudah hampir mendekati tempat yang dia tuju. Menatap ke sekeliling, itu adalah taman sederhana yang cukup luas. Namun keberadaannya selalu menarik orang-orang agar menepi untuk sekedar duduk di atas ayunan. Abby juga berhenti di sana, tapi dia hanya berdiri dan menatap senyuman ceria yang terpancar di wajah polos anak-anak yang tengah bermain.
Keningnya sedikit mengerut kala mendapati suasana yang tiba-tiba berubah. Para ibu yang tengah mengawasi anaknya bermain, sebagain besar lebih tertarik untuk menatap ke arah lain dengan wajah yang terlihat panik.
"Aduh, apa itu tindakan penculikan?"
"Apa perempuan itu sedang berusaha berlari dari tiga preman yang mengejarnya?"
"Aduh, kita harus bagaimana? cepat panggilkan lelaki!"
"Ayo kita tolong!"
"Bagaimana kalau salah-satu dari mereka membawa alat tajam? aku takut!"
"Tidak akan, jumlah kita lebih banyak dari mereka."
"Aku akan menelpon polisi."
Para wanita itu terus berdebat dengan suara yang semakin panik sembari mata yang tidak berpaling dari arah sana. Sedangkan yang lainnya lebih memilih mengambil anak mereka untuk disembunyikan ke tempat yang lebih aman.
Abby yang melihat keributan itu sontak saja ikut menatap ke samping kirinya. Matanya menyipit saat melihat seorang perempuan dengan penampilan dan wajah acak-acakan tengah berusaha lari dengan jalan yang agak pincang. Di belakangnya, tiga lelaki berbadan kekar dengan wajah yang bengis, sedang mengejarnya.
Tidak ada yang berinisiatif untuk menolong karena tidak ada lelaki di sana. Para wanita hanya bisa menjerit dan berteriak tidak jelas. Ada yang bertindak sedikit lebih berani pun, mereka hanya memarahi preman itu agar berhenti mengejar dan mengancam akan melapor pada polisi. Dan tentu saja preman itu tidak peduli.
"Nona, jangan berdiri di sana! bahaya!"
"Iya, mereka bisa saja ikut menculikmu!"
"Nona, ayo ke sini!"
Mereka berteriak lebih kencang saat Abby hanya berdiri di tempat yang sama. Namun yang dipanggil tidak memberikan respon yang berarti. Dia tetap diam menatap ke arah depan, menanti 'permainan kejar-kejaran' yang tidak seimbang itu semakin mendekati posisinya.
Mata jernihnya sedikit melotot saat bisa mengenali wajah perempuan yang babak belur itu.
"Lilyana?"
Tangan Abby dengan sigap mengambil tangan Lilyana saat perempuan itu melewati tubuhnya dengan nafas yang tersengal. Kemudian, membawa Lilyana agar bersembunyi di belakang punggungnya yang mungil. Dan berhasil, para preman itu berhenti tepat beberapa meter di depan Abby.
__ADS_1
"Tolong jangan mengganggu pekerjaan kami, Nona!" salah-satu dari mereka mengeluarkan suara. Terlihat tidak senang dengan pekerjaan yang terganggu.
"Oh? memang apa pekerjaan kalian?" Abby bertanya karena ingin tahu, namun sepertinya mereka menganggap lain. Mereka merasa seperti tengah dipancing.
"Menculik? atau memukuli orang?" apa jenis pekerjaan yang mengharuskan pegawainya berlari dan mengejar seorang perempuan lemah dengan wajah yang sudah membiru lebam di mana-mana?
"Cepat berikan dia pada kami sebelum kami bertindak kasar, Nona!" lelaki yang memiliki tato di lengannya itu berteriak dengan marah. Melotot pada Abby yang tidak terlihat takut sama sekali.
"To..tolong aku! jangan biarkan mereka membawaku!" suara dengan nada lemah itu terdengar.
Abby merasakan tangan Lilyana mengerat di genggamannya. Perempuan itu tengah ketakutan setengah mati.
Para ibu yang tadinya hanya diam menonton karena takut, kini perlahan mulai mendekat. Samar-samar Abby dapat mendengar kalau mereka sudah menghubungi polisi setempat. Baguslah, dia hanya perlu mengulur waktu sampai mereka datang. Dengan begitu, dia tidak perlu menggunakan tenaganya untuk bertarung.
"Pergilah! kalian tidak takut? meski kami hanya perempuan, tapi kami lebih banyak." Abby berujar dengan masuk akal sembari menatap ke sekelilingnya. Taman ini sepertinya sengaja dibuat di tempat yang agak jauh dari pemukiman warga yang padat. Terbukti dengan hanya ada beberapa rumah yang berdiri di sekitar sana, begitu sepi. Terlebih ini masih terhitung jam kerja, para lelaki sepertinya belum kembali dari tempat kerja mereka.
"Jangan ikut campur kalian! cepat serahkan perempuan itu!" preman satunya lagi angkat bicara dengan menodongkan sebuah pisau lipat dari saku celananya. Sontak saja hal itu membuat para ibu berteriak ketakutan. Mereka dengan cepat mengambil anaknya masing-masing dan berlari terbirit-birit dari sana. Seolah lupa kalau dua perempuan yang mereka tinggalkan bisa saja celaka.
Abby menghela nafas lelah. Dasar wanita!
Tatapan matanya sedikit menajam kala mereka mendekat dan menyerangnya tanpa ragu. Pisau yang dipegang oleh salah-satu dari mereka itu memang hanya pisau kecil yang bisa dilipat, namun itu bisa membunuh siapapun dengan mudah.
"Menyingkir Lilyana!" Abby berbisik pelan sembari melepaskan tangan Lilyana dari genggamannya.
"A..Abby! mereka berbahaya. Ayo pergi!"
Karena kesal ucapannya tidak didengar Lilyana, Abby mendorong tubuh perempuan itu dengan cukup keras agar menyingkir dari sekitarnya.
Dia siap bertarung sekarang!
Tiga preman itu menatap Abby remeh. Mana bisa tubuh kecil dan lemah itu dapat mengangkat tinju ke arah mereka? namun pemikiran itu langsung ditepis saat Abby sudah berhasil menumbangkan satu preman yang memegang pisau. Dua preman yang lainnya saling bertatapan dengan raut terkejut, kemudian memandang Abby dengan amarah yang memuncak.
Pertarungan tak dapat terelakan. Dua preman berbadan kekar melawan satu perempuan lemah yang tingginya bahkan tidak mencapai telinga mereka.
Meski tidak selihai di kehidupannya yang dulu, namun Abby dapat menangkis semua serangan yang dilayangkan padanya. Kemudian, di detik berikutnya dia akan melakukan serangan balik yang cukup membuat mereka kewalahan.
Baru juga beberapa menit, namun tubuh Abby sudah kewalahan. Mungkin karena dia jarang berlatih akhir-akhir ini.
Dua preman itu tumbang secara bergiliran saat Abby menyerang titik vital keduanya. Dengan nafas tersengal, perempuan itu melirik ke sekelilingnya yang terasa sepi. Mana polisi yang para wanita itu bilang? kenapa mereka tak kunjung datang?
"Abby, di belakangmu!" teriakan Lilyana membuat Abby kembali fokus ke arah depan, namun serangan yang datang justru dari arah belakang.
Sret!
Bahunya tergores tanpa bisa Abby cegah. Preman pertama yang dia tumbangkan kini berdiri dengan senyum meremehkan.
"Jangan senang dulu, Nona kecil!"
Rasa perih langsung menjalar di bahunya. Abby melirik darah segar yang membasahi kemeja putihnya dari sudut mata. Sialan!
Tanpa menunggu, Abby langsung menerjang si preman dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Namun ternyata, lelaki ini lebih tangguh daripada dua temannya yang tadi. Abby cukup kewalahan.
__ADS_1
Pisau itu hampir saja mengenai perutnya kalau Abby tidak sigap menahan tangan si preman dan memberikan tendangan tepat di ulu hatinya. Preman terakhir pun tumbang.
"Abby!"
Perempuan itu mengabaikan panggilan khawatir Lilyana. Tetap berdiri menatap tiga lelaki yang sudah tidak berdaya. Keringat membasahi kening dan punggungnya. Yang barusan itu cukup menyenangkan.
Suara sirine terdengar tak berapa lama. Suara langkah kaki yang terburu-buru mendekati mereka. Para lelaki yang mengenakan seragam itu langsung meringkus tiga tersangka dengan sebuah pisau lipat sebagai bukti.
"Kamu gila?"
Tarikan cukup kencang itu membuat Abby yang tengah menatap darah di telapak tangannya itu tersadar.
Gara.
"Apa kamu sudah tidak waras?"
Tangan Gara bertengger di masing-masing bahunya. Sedikit meringis saat merasakan denyutan perih di sana. Luka sayatan itu sepertinya cukup dalam. Itu cukup mengerikan sebenarnya.
Namun hal yang lebih mengerikan adalah tatapan Gara yang setajam laser sekarang. Lelaki itu menatap Abby dengan marah, kesal juga khawatir yang tidak dapat disembunyikan.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" hanya itu yang ada di pikiran Abby sekarang.
"Apa?" Gara terlihat tidak percaya dengan apa yang dia dengar. "Kamu masih bisa bertanya seperti itu di saat kamu hampir membuatku jantungan?"
Gara sepertinya benar-benar khawatir sekarang. Sorot matanya tidak berbohong.
Gara..lelaki itu masih Gara yang dikenalnya bukan?
Abby tetap diam. Tengah mengondisikan hati dan pikirannya yang saat ini sedang tidak sejalan. Dan hal itu disalah-artikan oleh Gara sebagai bentuk ketakutan perempuan itu. Pada akhirnya, Gara mengalah. Lelaki itu menghela nafas kasar sembari mengendurkan cengkaraman tangannya di bahu perempuan itu.
Pandangan tajam Gara terlihat sayu saat menatap darah di bahu dan telapak tangan Abby. Dengan kekalutan yang belum sepenuhnya hilang, Gara membawa Abby ke dalam pelukan. Matanya memejam seiring dengan debaran jantungnya yang masih berdebar gila. Perempuan itu sukses membuatnya bertingkah layaknya orang tidak waras tadi.
Gara kembali berucap dengan pelukan yang semakin mengerat di sekeliling tubuh Abby, "kita ke rumah sakit sekarang."
Entah Gara sadar atau tidak, namun tindakan lelaki itu membuat Abby tidak dapat berkutik di tempatnya.
Gara..
. . .
TBC
Halo. Selamat pagi. Maaf buat teman-teman yang semalam menunggu saya up. Saya ada acara sampai malam dan tidak memiliki waktu untuk merevisi bab ini. Saya benar-benar minta maaf.🙏
Untuk gantinya, saya up dengan word yang lebih banyak dan sedikit adegan pemanis dari para pemain. Semoga teman-teman terhibur dan tidak kecewa lagi. 😊
Terimakasih untuk dukungan teman-teman setia pembaca Abbysca-Gara. Semoga sehat selalu. Jangan lupa vote dan komentarnya! ^_^
Salam,
Nasal Dinarta
__ADS_1