
Saat ini, Abby tengah duduk di depan meja belajarnya. Berkutat dengan beberapa buku materi dan juga catatan yang berserekan di sana, juga sebuah laptop yang baru akhir-akhir ini mampu dia gunakan. Ya, itu berkat ketelitiannya saat memperhatikan Elang di kampus, juga sedikit ingatan pemilik tubuh yang tertinggal. Ternyata benda seperti itu tidak buruk juga.
Itu adalah pukul tujuh malam lewat lima belas menit. Setelah menghabiskan makan malam seorang diri karena Juna yang belum pulang, Abby langsung bergegas ke kamar demi menyelesaikan tugasnya yang menumpuk. Sebenarnya, itu pun karena ulahnya sendiri . Jika bukan karena ingin lulus tepat waktu, mungkin dia tidak akan seperti ini.
"Permisi, Nona."
"Masuklah, Mira!" pintu kamarnya sengaja dia buka sedikit karena tahu kebiasaan salah-satu pelayannya yang akan masuk di awal malam hari untuk membawakan satu gelas susu hangat.
"Ini susu Anda, jangan lupa dihabiskan!" Mira menyimpan nampan tersebut di meja lain yang berada tepat di samping meja belajar Abby, takut kalau majikannya itu tak sengaja menyenggolnya lalu membuat buku-buku penting Abby basah. Mira tidak ingin menggali lubangnya sendiri.
"Ya, terimakasih. Apa ibunya Lina masih sakit?" pelayannya yang satu lagi itu sudah hampir lima hari izin pulang pada Juna karena harus merawat ibunya yang sedang tidak sehat. Jadi, hanya Mira yang menemaninya akhir-akhir ini.
"Ya, Nona. Lina mungkin akan kembali dua hari lagi." Masih berdiri setia di samping Abby yang begitu serius saat tengah belajar. "Anda terlihat luar biasa, Nona!" berujar riang sembari memandang kagum pada sosok Abby.
Abby menghentikan tangannya yang tengah menari di atas papan keyboard, kemudian melirik Mira dengan alis yang terangkat.
"Saya tidak pernah melihat Anda tidak cantik dalam pakaian apapun, atau saat sedang mengerjakan apapun." Mata perempuan itu bersinar, seolah apa yang sedang ditatapnya adalah seorang Dewi yang turun dari kahyangan.
Abby memperhatikan penampilan dirinya dari dinding kaca yang kala itu tirainya masih terbuka sebagian. Hanya seorang perempuan bertubuh mungil dengan balutan piyama sederhana dan rambut yang diikat asal. Apanya yang luar biasa? dia mendengus dan kembali melanjutkan kegiatannya. "Kamu ada-ada saja."
"Emm..Nona!" nada suara Mira terdengar ragu-ragu. Namun itu berhasil membuat Abby menoleh sepenuhnya pada Mira dan memberikan tatapan 'ada apa?' pada pelayannya itu.
"Sebenarnya, tadi sore Pak Mahen datang dan membawakan beberapa kotak bingkisan dari Tuan Gara untuk Anda. Haruskah saya membawanya ke sini?" Mira bertanya hati-hati karena setahunya, akhir-akhir ini Abby tidak terlalu suka saat dirinya membahas Gara. Hadiah yang dulu saja masih berjejer rapi di sudut ruangan di dalam kamar Abby tanpa disentuh sedikitpun oleh pemiliknya.
__ADS_1
"Lagi?" Abby tidak percaya dengan apa yang dia dengar sekarang. Ada apa dengan lelaki itu? apa kepalanya terbentur sesuatu?
Mira mengangguk kecil, "Pak Mahen berkata bahwa hadiah itu berisi pakaian untuk Anda kenakan nanti di pesta perusahaan keluarga Anggara."
Ah, Abby mengerti sekarang. Acara itu akan berlangsung kurang lebih satu Minggu lagi dari sekarang. Dan semua orang nampak sibuk, termasuk Juna. Ya, entah karena paksaan atau hanya karena demi menjaga hubungan baik dua keluarga, Juna akhirnya bersedia untuk mengabulkan keinginan Melly. Lihat saja! kakaknya itu jadi dua kali lipat lebih sibuk sekarang.
"Oh, tolong bawakan kemari. Aku sedikit penasaran." Dia ingin tahu bagaimana sebenarnya selera lelaki itu saat memilihkan pakaian untuk seorang perempuan. Karena sebelumnya, Gara tak pernah melakukan itu untuknya.
Mira melebarkan senyum manisnya, "baik, saya akan mengambilnya."
Bahkan itu tak ada satu menit, namun Mira sudah kembali dengan tiga kotak bingkisan dengan ukuran yang berbeda di kedua tangannya. "Saya akan membukanya untuk Anda."
Itu adalah sebuah gaun tanpa lengan dengan panjang beberapa senti di atas lutut. Berwarna hitam legam dengan bahan halus yang sepertinya akan nyaman jika digunakan. Kemudian, dua kotak lainnya adalah aksesoris dan juga sepatu cantik yang senada dengan gaun tersebut.
Abby mengangguk kecil, selera Gara lumayan bagus. Siapapun yang mengenakan itu nanti, dia akan terlihat elegan namun lembut di saat bersamaan. Siapa yang Gara bayangkan saat memilih gaun ini untuknya? lelaki itu pasti tidak ingin dibuat malu dengan pakaian Abby yang selalu norak jika sedang menghadiri pesta.
. . .
Sedangkan Gara mengikutinya dari belakang, bermaksud untuk mengantar temannya itu pulang. Wajah mereka sama-sama terlihat lesu, mungkin pusing dengan keinginan Melly yang begitu berambisi ingin menjadikan acara nanti sebagai pasta ulang tahun perusahaan terbesar yang pernah ada.
"Maaf, kamu pasti sakit kepala menghadapi ibuku."
Dua lelaki yang memiliki tinggi hampir sama itu kini tengah berhadapan satu sama lain di tengah halaman luas kediaman Aditama yang sebagian besar diisi oleh koleksi mobil milik Gara.
__ADS_1
"Tidak masalah. Aku hanya menginginkan satu imbalan darimu atas kerja kerasku." Wajah tampan Juna terlihat serius meski rasa kantuknya lebih mendominasi sekarang.
"Apa? katakan saja!" tentu Gara harus membayar apa yang Juna lakukan dan korbankan demi melancarkan acara besar nanti.
"Tolong jangan tarik ulur adikku, Gara!" Juna bukannya tidak tahu mengenai apa yang temannya itu alami hingga harus mengabaikan Abby selama ini. Namun, dia juga tidak mau adiknya berada di ambang ketidakpastian. Gara seperti enggan melepas disaat Abby sudah perlahan menyerah. Padahal, lelaki ini selalu mendorong Abby agar menjauh dari hidupnya. Namun mengapa kini Gara seperti kelimpungan sendiri menghadapi Abby yang bersikap tidak peduli?
"Juna, kamu tahu aku tidak bermaksud seperti itu." Jawab Gara pelan. Dia sendiri merasa bingung harus bagaimana dalam mengambil sikap di saat awal masalah itu datang dari dalam dirinya.
Juna mendengus kasar, "terserah, aku sudah memberimu saran untuk melakukan terapi. Tapi kamu tidak pernah melakukannya." Entah sudah ke berapa kalinya mereka membicarakan hal ini. "Yang pasti, aku ingin kamu bersikap teguh. Tinggalkan jika memang kamu merasa Abby pantas untuk ditinggalkan! dan pertahankan dia jika kamu merasa adikku pantas untuk dipertahankan!" meski sama-sama pernah mengabaikan Abby di masa lalu, namun Juna tak pernah benar-benar meninggalkan Abby.
"Aku pergi." Juna menepuk bahu lebar lelaki itu sebelum masuk ke dalam mobilnya dan menghilang dari pandangan Gara.
Gara diam dengan pandangan mata yang kosong. Wajah tampannya yang biasa tenang dan terkesan datar itu kini dipenuhi keraguan yang di mana tak sembarang orang bisa melihatnya. Gara hanya akan menampilkan raut seperti itu di saat tidak ada orang lain yang akan melihatnya.
"Aku saja tidak tahu apa yang harus aku lakukan sakarang." Bisiknya pada angin malam. Berharap kalau seseorang yang jauh di sana dapat mendengarnya.
. . .
TBC
Selamat sore semuanya. Hari ini saya memang sedang mengebut agar segera sampai di bab dua puluh. Jadi, jangan bosan kalau terus-terusan ada notifikasi buat teman-teman yang memasukan cerita ini ke dalam 'favorit'.
Saya tidak pernah bosan untuk mengajak teman-teman agar memberikan dukungan untuk Abbysca. Tolong like dan komentarnya ya, teman-teman! saya sangat mengharapkan itu. ^_^
__ADS_1
Salam,
Nasal Dinarta.