Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Hari yang Hangat Untuk Memulai Semangat


__ADS_3

Abby benar-benar serius saat mengatakan ingin membeli restoran milik Gara. Dan tanpa disangka, lelaki itu memberikannya begitu saja. Tepat di depan Abby dan Juna, Gara kembali menghubungi Mahen untuk mengurus segalanya agar kepemilikan restoran tersebut dialihkan atas nama Abby. Juna maupun Abby hanya bisa melongo saat Gara mengatakan semuanya sudah beres tepat setelah dua puluh menit Gara selesai berbicara dengan sekretarisnya.


Meski dilanda keterkejutan yang bercampur dengan bingung, Juna ikut bergerak cepat. Lelaki itu langsung mengirimkan sejumlah uang pada nomor rekening Gara dari kartu miliknya, bukan dari tabungan Abby seperti pada awal mereka membicarakan itu. Namun Gara melakukan hal yang lebih mengejutkan lagi, lelaki itu malah kembali mengirimkan uang tersebut pada nomor rekening Abby.


Gara tidak ingin dibayar, dia memberikannya pada Abby karena ingin. Hitung-hitung sebagai awal dari bentuk permintaan maaf karena terlambat memperbaiki semuanya, ya meski itu tidak sebanding sama sekali dengan rasa sakit yang dia berikan pada Abby selama beberapa tahun ini. Dia hanya sedang berusaha. Namun itu berbeda dengan Juna yang seperti merasa dikasihani, lelaki itu tidak terima jika adiknya harus menerima pemberian dari Gara dengan cuma-cuma. Dia bisa memberikan apapun pada Abby dengan uangnya sendiri. Dia lebih dari mampu untuk itu. Jadilah, dua lelaki dewasa itu terlibat perdebatan tidak penting yang melibatkan harga diri.


Berbeda dengan Juna, Abby malah senang-senang saja bisa mendapatkan restoran mahal itu dengan cuma-cuma. Meski dia tahu kalau Gara memiliki maksud tersendiri dibalik semua ini, namun Abby masih mampu menanganinya. Dia tidak bodoh, dia juga tidak naif. Mari lihat saja apa yang akan Gara lakukan ke depannya, karena Abby sendiri akan fokus mengelola tempat tersebut agar berjalan sesuai keinginannya.


Dua hari setelah percakapan mereka di rumah sakit. Abby menerima telepon dari Gara, hal yang sebelumnya sangat jarang lelaki itu lakukan karena biasanya Abby yang akan lebih dulu menghubunginya. Tentu saja itu sebelum dirinya mengalami kejadian naas.


"Ya, Gara?" Abby tidak tahu pembuka percakapan seperti apa yang biasanya Abby Anggara lakukan saat berbicara dengan Gara lewat ponsel.


Untuk beberapa detik pertama, tidak ada suara apapun yang dapat Abby dengar. Namun tak lama Gara bersuara, "kamu sudah bisa melihat restoran itu hari ini."


"Oh, baik. Aku akan ke sana nanti. Terimakasih banyak, maaf merepotkan." Merujuk pada apa yang Gara lakukan untuknya.


"Tidak, itu bukan apa-apa. Lakukan saja seperti apa yang kamu mau nanti, asal jangan sampai kamu merugikan para pegawai yang sudah lama bekerja di sana. Mungkin aku hanya akan memantau semuanya dari sini." Jelas Gara panjang lebar. Bibir tipis Abby tersenyum dengan tidak sadar. Jika saja pemilik asli tubuh ini masih ada, mungkin perempuan itu akan merasa sangat bahagia. Kapan lagi dia bisa mendengar kalimat Gara yang begitu panjang tanpa diminta sama sekali. Selain hal itu, Abby juga merasa sedikit takjub karena lelaki itu begitu memikirkan nasib para pegawainya.


"Kamu sering berbicara panjang akhir-akhir ini, Gara." Jawab Abby agak tidak nyambung.


Terdengar kekehan menyenangkan dari seberang sana, "aku seperti ini karena kamu, jadi jangan menertawakanku!"


Senyuman Abby semakin lebar, "ya, aku harap itu sebanding dengan suasana hatimu. Kamu sudah merasa lebih baik bukan sekarang?" melihat keadaan Gara secara langsung waktu itu membuat Abby merasa agak was-was, takut kalau lelaki itu akan bersikap sama saat berada di depan orang asing. Itu sedikit berbahaya untuk citranya yang dikenal kuat oleh musuh selama ini.


"Terimakasih, aku cukup baik sekarang. Berkat pelukan seseorang." Gara jelas tengah menggodanya, dan Abby tidak bisa untuk tidak mendengus.


"Kamu terdengar seperti lelaki buaya." Ujar Abby jujur.


Gara kembali tertawa, namun suaranya terdengar lebih lepas sekarang. "Ya, apapun itu. Terimakasih sudah mau membantuku."


Percakapan mereka berakhir karena Gara begitu sibuk dengan pekerjaannya. Abby pun tidak masalah dengan itu, dia bahkan berbaik hati untuk memutuskan sambungan dari sini padahal Gara yang seharusnya melakukan itu. Tidak sopan sama sekali.

__ADS_1


Masih menikmati hari libur panjangnya yang kurang dari seminggu lagi, siang itu Abby tengah berkutat dengan gunting rumput di tangannya. Niatnya, dia hanya ingin membantu para pekerja yang tengah sibuk memangkas pohon hias dengan hati-hati, namun siapa sangka kalau ternyata kegiatan itu cukup menyenangkan. Dia bahkan meminta Hari untuk memesan benih berbagai macam sayuran untuk ditanam di tanah yang kosong, karena merasa taman luas itu begitu membosankan jika hanya ada bunga dan tanaman hias saja.


"Akan sangat menyenangkan kalau aku bisa memetik sayuran segar yang aku tanam sendiri nanti." Abby berbicara pada Lina yang tengah menuangkan jus dingin pada belasan gelas bening. Alih-alih duduk di gazebo yang tersedia di sana, perempuan itu malah meminta Lina untuk menggelar tikar besar di atas rumput.


"Mira, ayo ajak yang lainnya untuk makan!" Matahari sebentar lagi akan naik di atas kepala, tapi karena cuacanya tidak terlalu panas, suasana di sana cukup menyenangkan. Akan lebih ramai kalau bukan hanya dirinya saja yang menikmati makan siang ini. Untuk itu, dia meminta Mira untuk memberitahu pihak dapur agar memasak lebih banyak daripada biasanya. Dan tak tanggung-tanggung, hidangan yang tersaji di depannya sangat cukup untuk lebih dari sepuluh orang.


Awalnya, para pegawai kebun itu segan untuk mendekat. Merasa tidak pantas jika harus makan siang bersama majikan mereka, namun Abby dengan senyum santainya mengajak mereka seperti berbicara pada seorang teman. Akhirnya, mereka mau datang setelah Abby berhasil mengajak Hari agar duduk didekatnya, diikuti Lina dan Mira.


"Tolong jangan sungkan semuanya! makanan ini harus habis agar pihak dapur tidak marah nanti." Ujar Abby bercanda sembari menatap satu persatu wajah lelah itu yang kebanyakan berusia di atas empat puluh. "Paman, Bibi, selamat makan!" serunya dengan agak riang.


"Selamat makan, Nona!"


"Selamat makan, semuanya."


"Terimakasih untuk makanannya." Sahut mereka serempak.


Diam-diam, Abby tersenyum tulus saat melihat mereka makan dengan lahap. Sesekali, mereka akan tertawa dan ikut menimpali saat mendengar percakapan Lina dan Mira yang agak heboh saat membicarakan berita artis yang ketahuan selingkuh. Pun dengan Hari yang biasanya berwajah kaku, kini terlihat agak santai. Menatap semua orang dalam diam dengan seulas senyum tipis.


"Om, aku tidak melihat Kak Erik." Entah dia yang terlalu sibuk, atau memang lelaki itu yang jarang ada di rumah.


Abby mengangguk, "oh, benar. Apa ada yang Erik laporkan pada Om?"


"Emm..latar belakang mereka cukup sulit untuk ditelusuri Erik, Nona. Saya harap Anda mau menunggu."


Dengan senyum tipis Abby menjawab, "tidak masalah, Om. Jangan terburu-buru! lebih baik untuk hati-hati seperti itu."


Dan Hari hanya mengangguk setuju sebagai jawaban.


. . .


"Apa yang sedang Abby lakukan di rumah?"

__ADS_1


Juna yang kala itu sibuk membaca berkas laporan di atas meja kerjanya, melirik Damar dari sudut mata.


"Nona sedang berkebun bersama para pegawai, Pak." Tidak heran Damar tahu segalanya, dia setiap hari selalu berkomunikasi dengan Hari demi mendapatkan jadwal kegiatan adik dari atasannya tersebut.


"Berkebun?" dahinya berkerut, "setelah membeli restoran Gara, meminta Erik untuk mendata para pedagang kaki lima dan juga pengamen, dia sekarang berbaur dengan para pelayan?" Juna tidak bisa untuk tidak terkejut.


"Mereka bahkan sedang makan bersama saat ini, Pak." Ujar Damar tanpa diminta.


"Apa?" Juna sepenuhnya menatap Damar sekarang. Tumpukan kertas itu jadi tidak menarik sekarang.


"Nona menggelar tikar besar di atas rumput, mengajak para pekebun makan siang bersama. Termasuk Lina, Mira dan juga Pak Hari." Lanjut Damar, tidak peduli dengan wajah sang atasan yang sudah keruh sekarang.


"Apa Abbysca memang sudah tidak waras?" suara Juna kembali terdengar setelah beberapa detik menghilang.


Damar yang menduga kalau Juna sedang marah dengan apa yang baru saja dia sampaikan, kembali membuka mulut, "apa Anda tidak suka dengan hal itu? haruskah saya menghubungi Pak Hari agar-"


"Abby tidak mengajakku.." bisikan itu masih bisa didengar oleh Damar.


"Ya, Pak?" merasa kalau pendengarannya salah barusan.


"Abby tidak mengajakku juga.." kembali mengulang kalimat yang sama dengan wajah yang semakin menyedihkan.


Damar bengong di tempatnya. Ini tidak seperti yang lelaki itu duga sebelumnya. Dia jadi bingung harus memberikan respon seperti apa.


. . .


TBC


Selamat pagi. Cerah sekali pagi ini, kawan. Saya berharap itu sama dengan suasana hati teman-teman. Saya kembali membawa bab terbaru. Terimakasih saya ucapkan untuk para pembaca setia yang selalu menunggu dan memberikan dukungan. Sayang banyak-banyak. ^_^


Jangan lupa vote dan komentarnya!

__ADS_1


Salam,


Nasal Dinarta


__ADS_2