
Makan malam berlangsung cukup hangat, di mana Elang akan berbicara santai dengan Abby tanpa mempedulikan dua lelaki yang seolah siap menerkamnya. Dan untungnya, Abby sendiri terlihat nyaman saat sesekali menimpali ucapan Elang yang begitu ringan.
Juna dan Gara setuju untuk saling bicara empat mata. Jadi, dua orang itu pergi ke arah belakang lewat pintu besar yang berada di samping. Sedangkan Abby, memilih mengajak Elang dan Lilyana ke ruang tamu untuk menikmati hidangan penutup. Abby cukup tahu kalau dua temannya ini merasa sedikit tidak nyaman dengan kehadiran kakak dan tunangannya. Jadi, Abby diam-diam merasa senang karena mereka memisahkan diri tanpa harus diberi kode.
"Cemilan ini memang manis, tapi itu cukup cocok dengan lidahku. Cobalah!" Abby mendekatkan piring kecil ke depan Lilyana yang sejak tadi diam, "bukankah kamu suka makanan manis?"
Lilyana terlihat tertegun sembari menatap ke arah Abby. Hubungan keduanya memang tidak terlalu membaik setelah waktu itu, namun mereka juga tak saling memusuhi satu sama lain. Adalah hal yang mustahil ketika Abby masih mengingat makanan kesukaannya. Padahal, Lilyana hanya pura-pura menjadi 'teman' saat itu.
Rasa tak enak kembali menghampiri hatinya. Abby tak melakukan balas dendam meski tahu telah dimanfaatkan. Perempuan itu malah ikut membantunya memulihkan ekonomi saat dirinya menjadi sebatang kara.
"Makan, Lilyana!" ujar Abby sekali lagi. Kali ini, wajah cantik itu memperlihatkan raut yang lebih lembut dari sebelumnya. Mengirimkan sinyal bahwa dirinya tak memiliki kemarahan apapun pada Lilyana. Memang rasa marah itu ada, namun dia tak perlu mengatakannya.
"Ya." Dengan kaku, Lilyana mengambil cemilan terdekat darinya, lalu mengunyahnya dalam diam. Tanpa sadar dia tersenyum saat rasanya memang pas di lidah.
Abby yang melihat itu ikut tersenyum, kemudian beralih untuk menatap teman laki-lakinya. Sepertinya, Abby tak perlu menawari Elang karena lelaki itu sudah lebih dulu mencoba berbagai jenis kudapan di atas meja tanpa disuruh.
Kelakuan lelaki itu sebenarnya cukup mengejutkan Abby, karena kesan pertama saat Abby melihat Elang adalah sedikit culun dan pendiam. Tapi lihatlah sekarang, Elang benar-benar berperan sebagai seorang 'teman' yang sebenarnya.
"Aku cukup terkejut karena kalian datang bersama, tapi aku senang." Abby berkata jujur. Meski tahu kalau tak lama ini dirinya cukup sering mendengar Elang bersama Lilyana, namun melihatnya langsung seperti ini menjadi pemandangan baru untuknya. "Aku tak keberatan mendengar kabar baik dari kalian di masa depan." Senyum miring terpatri di wajah Abby.
Elang mengangkat satu tangannya di depan dada dengan terburu-buru, "tidak, kami tidak seperti yang kamu pikirkan." Menolak dengan tegas atas segala pemikiran konyol Abby.
Lilyana berdehem, "kami tak sengaja bertemu. Dan karena dia bilang akan menjengukmu yang sedang sakit, aku minta untuk ikut." Jawab perempuan itu dengan kikuk. Merasa tak nyaman dengan situasi canggung yang tercipta.
Abby mengulum bibirnya ke dalam, merasa geli dengan keduanya. "Apapun itu, semoga itu yang terbaik." Wajah itu berubah menjadi serius setelah mengingat hal yang cukup serius, "Lilyana, apa kamu sering mengunjungi ibumu? hidupmu pasti menjadi sedikit berbeda setelah ibumu tak ada di rumah." Abby tak kuasa mengatakan kata yang lebih kasar dari itu seperti 'hidupmu pasti cukup sulit setelah ibumu masuk penjara', dia akan terdengar menyeramkan nanti.
Lilyana sedikit mengalihkan pandangan ke arah lain, membahas ibunya dengan orang lain cukup aneh untuknya karena sejauh ini dia tak pernah bercerita pada siapapun. "Aku menjenguknya dua Minggu sekali, dan dia terlihat baik-baik saja." Tidak, sang ibu malahan terlihat lebih baik saat berada di dalam lapas daripada saat di rumah bersamanya. Bayangan tentang bagaimana kejamnya wanita tua itu sangat menyiksa fisik dan batinnya kembali hadir, membalut Lilyana tanpa sadar bergidik ngeri.
__ADS_1
"Itu bagus. Biarkan dia merenung di sana." Sebenarnya, Abby ingin mengatakan agar Lilyana tak perlu khawatir, namun itu akan terdengar seperti dirinya begitu peduli dengan hidup Lilyana. Padahal, dirinya hanya bersikap netral dan seadanya. Karena bagaimanapun Lilyana pernah menemani hari-harinya meski itu hanya sandiwara semata, jadi Abby tak cukup tega untuk membalas perbuatan perempuan itu dengan sama buruknya.
"Terimakasih, aku belum mengucapkan terimakasih dengan benar pada kalian." Ucapan Lilyana merujuk pada apa yang Abby dan Juna lakukan waktu itu. Membatunya bebas dari cengkaraman sang ibu, menjebloskan ibunya ke tempat yang seharusnya atas kelakuan kejam yang diperbuat, memastikannya hidup dengan aman, juga memberikan kesempatan untuk memulai hidup yang baru. Semua itu Lilyana dapatkan dari Abby dan Juna tanpa diminta.
Abby hanya mengangguk kecil, tak mempermasalahkan hal itu. "Tak perlu terlalu dipikirkan! itu bukan apa-apa." Pandangannya tentang Lilyana sedikit naik dari yang sebelumnya sekarang. Seperti seseorang yang baru saja bangun dari kesesatan, Lilyana terlihat lebih hidup sekarang. Matanya yang biasa menyiratkan sinar ambisi itu kini menghilang, tergantikan dengan tatapan waspada yang bercampur dengan rasa sepi. Itu terlihat normal untuk ukuran seorang perempuan yang beranjak dewasa. Kondisi Abby sendiri tak berbeda jauh dari itu.
"Aku harap kamu tak kesulitan saat harus mengatur waktu antara kuliah dan pekerjaanmu." Meski Abby sudah memperingati Seno- manajer di restorannya- untuk meringankan para pegawai yang berstatus mahasiswa, namun dia belum benar-benar bisa memastikannya.
Dengan tegas Lilyana menggeleng, "berkat kamu, sekarang aku tak terlalu pusing mengaturnya. Terimakasih."
Karena terlalu pusing dengan ucapan terimakasih yang terus diucap oleh Lilyana, maka Abby tak menimpalinya dengan serius. Dia hanya mengangguk ringan sembari mengibaskan tangan, mengisyaratkan kalau semua itu bukan masalah.
Detik berikutnya, pandangan Abby beralih pada Elang yang sejak tadi menyimak dengan mulut yang tak berhenti mengunyah. "Bagiamana kabar Kakek Danu?" sudah cukup lama Abby tak mendengar kabar dari Danu.
Senyum tulus terpatri di wajah Elang. Untuk sejenak, pemuda itu berhenti mengunyah dan memfokuskan diri pada Abby yang kini tengah menatapnya. "Kakek semakin terlihat sehat setiap aku menjenguknya."
"Dia juga bilang merindukanmu dan bertanya kapan kamu akan berkunjung. Bukankah sudah cukup lama kalian tidak bertemu?" lanjut Elang.
"Ya, aku belum sempat ke sana. Mungkin akhir Minggu nanti aku bisa." Abby kembali menimpali.
"Itu bagus, siapa tahu nanti kakek tidak akan bersikap aneh lagi setelah bertemu denganmu."
Alis perempuan itu sedikit naik, menyiratkan kebingungan.
Elang menghela nafas kasar, "aku cukup jengkel karena kakek terlalu sering mengatakan hal-hal yang tak biasa belakangan ini." Raut wajah Elang berubah sendu.
Abby tidak bisa untuk tidak bertanya, "aneh?"
__ADS_1
Elang mengangguk.
"Aneh bagaimana maksudmu?"
"Seperti begini..tak bisakah kamu memberitahu ibumu tentang keberadaan kakek? kakek sangat merindukannya. Bagiamana jika waktu kakek terlanjur habis di saat kami belum sempat bertemu.." Elang kembali menghela nafas, perasannya begitu terganggu saat mengingat ucapan Danu padanya waktu itu, "..aku tidak suka mendengar kata-katanya. Itu terdengar seperti kakek akan pergi jauh." Binar keceriaan di sekitar Elang benar-benar hilang sekarang, tergantikan dengan sendu dan hampa yang mendera.
Meski matanya tak lepas dari sosok Elang, namun percayalah hati dan pikiran Abby tak ada di sana. Wajahnya begitu pucat, punggung mungilnya yang terselimuti pakaian hangat terasa berkeringat, begitu pula dengan dua kepalan tangannya yang saling mengerat.
Hatinya baru saja tertampar oleh kenyataan yang menyakitkan. Satu fakta yang begitu sering dia lupakan. Abby terkekeh ringan, merasa lucu dengan lelucon hidup yang digariskan.
Abby terpaku, terdiam membisu. Bukan karena wajah Elang yang dihiasi sendu, tapi karena kata-kata lelaki itu yang begitu menyiksa kalbu.
Habisnya waktu..
Bukankah itu begitu kelabu?
Seperti kata Hari di saat senja, datangnya Abby ke dunia ini bukan karena kebetulan semata. Kalung yang dikenakannya adalah buktinya.
Waktu dan batasnya , mampukah Abby menghalaunya?
. . .
TBC
Selamat malam. Selamat membaca. Terimakasih atas dukungan dan semangatnya. Jangan lupa vote dan komentarnya! ^_^
Salam,
__ADS_1
Nasal Dinarta.