
"Kenapa Kakak baru datang? aku sudah menunggu lama."
Seorang gadis kecil berwajah manis nampak cemberut, sedang duduk di atas ranjang pasiennya sembari menatap laki-laki yang dia panggil kakak dengan pandangan protes.
Padahal, dia sudah mengharapkan kehadiran sang kakak sejak membuka mata. Namun sayang, orang yang ditunggunya baru datang saat matahari sudah naik ke atas kepala.
"Maaf, Kakak ada sedikit urusan tadi. Adek mau memaafkan Kakak?" pemuda itu tersenyum tulus dengan wajah penuh penyesalan. Sedangkan tangannya terulur untuk mengelus surai hitam milik adiknya.
"Apa Kakak ada kuliah pagi?" si kecil malah bertanya kembali alih-alih menjawab pertanyaan.
Pemuda itu menggeleng, "tidak ada."
Anak itu menampakan raut wajah bingung yang cukup menggemaskan, sampai si pemuda tak kuasa untuk tidak mencubit pipinya yang tembam.
"Sakit!" keluh sang adik yang tak dihiraukan oleh kakaknya.
"Kakak dengar dari suster kalau kamu menghabiskan sarapannya. Pintar sekali!" si pemuda mengambil bingkisan yang dia bawa dan menyimpannya di atas pangkuan. "Lihat! Kakak membawa hadiah untukmu!"
Gadis kecil itu terkejut dengan mata yang membulat, namun binar di matanya tidak bisa berbohong kalau dirinya senang. Apapun yang diberikan oleh kakaknya adalah yang terbaik.
"Apa isinya, Kakak?" tanyanya penasaran sembari mengintip sang kakak yang tengah mengeluarkan benda dari dalamnya.
"Kamu suka cerita tentang seorang putri cantik dan kuat bukan?"
Si adik mengangguk antusias, "tentu saja, mereka sangat mengagumkan."
"Kakak membawa satu buku cerita tentang putri berambut panjang yang hidup sendirian di sebuah menara di dalam hutan. Kamu pasti akan menyukainya." Ucap pemuda tersebut sembari menyerahkan buku tipis namun cukup besar pada sang adik. Sampul itu berwarna biru muda dengan sedikit corak kuning keemasan. Cukup sederhana namun terlihat indah.
Adiknya menunduk untuk menatap buku tersebut, "kenapa putrinya tidak tinggal di istana?" lalu mendongak- menatap sang kakak.
"Em..karena saat bayi, dia diculik oleh seorang penyihir?" jawab kakaknya dengan tak yakin.
"Penyihir? kenapa selalu ada penyihir di setiap cerita yang aku baca?"
Pemuda itu mengangkat bahunya ringan, "kenapa kamu tidak mencari tahunya sendiri? kamu bisa menyelesaikan bacaannya selama tiga hari seperti biasa. Dan kamu akan mendapatkan jawabannya."
Gadis kecil itu menyipitkan mata sembari menggeleng, "tidak, kali ini aku akan selesai dalam dua hari. Lihat saja!" ujarnya dengan semangat.
__ADS_1
"Baiklah, adiknya Kakak memang pintar." Pemuda itu kembali mengusap surai adiknya dengan senyuman yang tak pernah hilang sejak tadi.
Namun gerakan tangannya terhenti saat mengingat sesuatu yang sangat mengganggunya akhir-akhir ini. Begitupun dengan raut wajahnya yang berubah menjadi datar dan penuh perhitungan.
Dengan cepat dia menggeleng, tidak boleh. Dia tidak boleh memperlihatkan wajah seperti itu di depan adiknya. Tak lama, senyuman cerah kembali menghiasi wajahnya saat sang adik menatapnya dengan antusias sembari menunjuk halaman pertama dari buku yang baru saja dibukanya.
"Kamu harus bahagia." Bisiknya pada angin, saking rendahnya dia berbicara.
. . .
Abby menuruni anak tangga dengan langkah hati-hati meski sedikit tergesa. Hari ini, dia akan mengunjungi banyak tempat. Agenda yang sudah lama dia tunda karena kesibukan lainnya.
Dia mengenakan atasan berupa kemeja putih dengan celana berbahan jeans yang longgar dan nyaman dikenakan. Karena dia tidak akan pergi ke acara resmi apapun, jadi dia memilih pakaian yang cukup santai hari ini. Rambut panjangnya pun hanya dia ikat satu tanpa gaya apapun.
Langkahnya terhenti saat menyadari sosok Juna yang tengah berdiri di ujung tangga, seperti menunggu kedatangannya. Dan benar saja, saat Abby menginjak anak tangga yang terakhir, Juna langsung mengulurkan tangan kanannya pada Abby.
"Karena besok adalah hari yang istimewa, jadi aku akan menemani ke manapun kamu ingin pergi." Memasang wajah lembut sembari menatap Abby yang kebingungan.
"Hah?" perempuan muda itu menatap penampilan Juna yang terlihat lebih santai daripada biasanya. Hanya ada kemeja putih yang ujung lengannya digulung hingga sikut, juga sebuah celana panjang. Kenapa penampilan Juna tidak berbeda jauh darinya?
Abby langsung tersadar dan menyambut uluran tangan besar Juna kemudian menggenggamnya. Hangat. "Maaf, aku hanya cukup terkejut karena perilaku Kakak yang tidak biasa."
Keduanya berjalan beriringan sembari bergandengan tangan, melewati beberapa pelayan yang sedang mengerjakan tugas mereka. Kakak beradik itu terlihat akur dan serasi, sampai membuat beberapa pelayan tersenyum tipis karena melihat pemandangan baru.
Tak jauh berbeda dengan Hari yang menatap kepergian sepasang saudara itu dengan mata yang teduh, seolah dia tengah melihat anak-anak yang dibesarkannya telah tumbuh dewasa. "Saya harap Anda berdua akan terus seperti ini ke depannya."
Sedangkan Juna dan Abby yang tengah diperbincangkan telah sampai di halaman, di depan sebuah mobil berwarna hitam yang baru kali ini Abby lihat.
"Mobil baru?" tanya Abby cukup penasaran.
Juna menggeleng, "ini mobil yang aku beli akhir tahun kemarin. Kamu baru melihatnya karena aku jarang memakainya. Ayo masuk!" lelaki itu membuka pintu samping kemudi dan mempersilahkan adiknya untuk naik.
Sembari tersenyum kecil, Abby mengikuti kemauan Juna dengan senang hati. Kapan lagi dia melihat Juna bertingkah manis pada adiknya ini?
"Terimakasih." Ujar Abby saat dirinya masuk ke dalam mobil yang hanya ditanggapi senyuman oleh Juna.
Tak lama, keduanya melesat keluar meninggalkan kediaman Anggara. Abby yang berniat pergi seorang diri ke tempat yang dia tuju, akhirnya berangkat bersama sang kakak. Walau sedikit tak menyangka karena Juna sengaja meluangkan waktu sibuk untuknya, Abby tentu merasa senang.
__ADS_1
Mereka adalah kakak adik sedarah, namun waktu yang mereka habiskan berdua dapat dihitung dengan jari saja- saking jarangnya mereka bersama. Tapi jika dibandingkan dengan dulu, Juna yang sekarang begitu terbuka dengan Abby. Mungkin karena merasa pemikiran adiknya sedikit lebih dewasa, jadi Juna tidak sungkan untuk mengajak bicara dan saling bertukar cerita.
Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah yayasan sosial tempat di mana Danu tinggal. Cukup lama mereka di sana karena Abby ingin meluangkan waktu lebih banyak untuk kakek dari Elang tersebut, mengingat keduanya sudah lama tak bertemu.
Juna sendiri ikut larut dalam pembicaraan mereka meski pada awalnya hanya diam mendengarkan, lalu sesekali akan ikut menimpali percakapan. Danu yang rendah hati dan memiliki pengalaman hidup yang panjang dan berliku cukup berkesan untuk Juna, dan dia dapat menjadikan itu sebagai salah-satu bekal hidupnya ke depan.
Tepat pukul sebelas, Abby dan Juna pergi meninggalkan yayasan karena sudah waktunya bagi Danu untuk makan siang bersama rekannya yang lain. Bukannya tak ingin bergabung, namun Abby ingin merasakan suasana makan siang yang baru. Memakan hidangan baru, di tempat yang baru, juga dengan suasana hati yang baru. Itu terdengar menyenangkan.
Berkat rekomendasi dari Juna, akhirnya Abby menemukan tempat makan yang sebelumnya belum pernah dia temui. Dibandingkan dengan restoran yang kini dikelolanya, tempat ini jauh lebih kecil dan sederhana. Namun, suasananya begitu nyaman karena berlokasi di atas danau buatan. Tempat duduknya pun lesehan, tanpa kursi. Hanya ada satu meja panjang di depan mereka yang penuh dengan berbagai jenis hidangan laut.
Di tempat itu pun, keduanya saling bertukar pikiran dengan nuansa alam yang begitu menyejukkan. Hal yang entah disadari atau tidak, membuat suasana hati mereka lebih baik dan lebih lega. Seolah sekat yang menghalangi mereka, kini hilang entah ke mana. Dan mungkin, mereka akan bisa lebih dekat untuk ke depannya.
"Kamu ingin pergi ke mana setelah ini?" tanya Juna setelah menyimpan gelasnya minumnya yang telah tandas.
"Aku ingin pergi ke banyak tempat. Taman hiburan, museum, juga pasar malam. Apa boleh?" Abby merasa sedikit tidak enak karena harus merepotkan Juna.
Juna langsung terkekeh, "memangnya ada yang melarangmu pergi ke sana? kamu bisa pergi ke mana pun kamu mau, Abby." Ucapnya sembari tersenyum teduh.
"Taman hiburan dan pasar malam, itu tempat yang tidak jauh berbeda jenisnya. Dan akan lebih menyenangkan kalau kita mengunjungi tempat itu saat matahari tenggelam."
"Malam hari?" tanya Abby.
Juna mengangguk, "kalau sekarang, bagaimana kalau kita mengunjungi berbagai museum di ibukota?"
Perempuan itu mengangguk antusias, "mari kita ke sana!"
. . .
TBC
Selamat siang teman-teman. Apa kabar? semoga sehat selalu. Terimakasih atas dukungan dan cinta dari teman-teman pembaca setia.
Jangan lupa vote dan komentarnya! ^_^
Salam,
Nasal Dinarta.
__ADS_1