Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Kabar Kelabu Di Hari Minggu


__ADS_3

"Abby.." panggil Juna pada sosok ramping yang terbaring pucat di atas ranjang. Namun tak ada jawaban sama sekali. Meski dia sudah diberitahu kalau adiknya itu sedang tak sadarkan diri dan kemungkinan akan bangun besok pagi, namun hatinya tetap saja merasa gelisah. Lelah bekerja dan berharap saat pulang akan mendapati sosok manis Abby, namun dia malah disuguhkan dengan pemandangan yang menyedihkan. Membuat dia merasakan kelelahan itu menerpa tubuhnya dua kali lipat.


Hari, Erik, juga dua pelayan Abby berdiri dengan patuh di sisi lain. Mengelilingi perempuan itu dengan pandangan yang sama-sama sendu.


"Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Juna entah pada siapa. Namun sebagai orang yang pertama kali menemukan Abby di taman, Lina segera menjawab, "maaf Tuan, saya tidak tahu bagaimana awalnya. Namun saat saya datang untuk memanggil Nona ke dalam karena sudah sore hari, saya menemukan Nona sudah tak sadarkan diri di dekat ayunan dengan darah yang keluar dari hidung." Lina bahkan sampai menjerit saat memanggil Abby, membuat pelayan lain di kediaman itu segara datang untuk melihat keadaan.


Juna termenung, mungkin saja adiknya memang kelelahan. Tapi dia merasa ini sedikit aneh. Sebelumnya, dia tak pernah mendengar Abby seperti ini. Atau entah dirinya yang benar-benar tidak mengenal sosok Abby dengan baik. Untuk itu, dia kembali bertanya. "Apa sebelumnya Abby pernah seperti ini?"


Lina dan Mira saling menatap satu sama lain. Seperti bingung dan ragu untuk mengutarakan sesuatu. Melihat hal itu, Juna semakin yakin kalau ada yang tidak beres dengan Abby.


"Katakan saja!"


"Menjawab Tuan. Dulu sebelum kecelakaan, Nona memang pernah beberapa kali mengeluh sakit kepala dan akan berakhir tak sadarkan diri seperti ini. Namun setelah bangun dari koma, sepertinya rasa sakit di kepalanya semakin bertambah. Nona memang tidak mengatakan apa-apa, tapi saya sering melihatnya diam-diam kesakitan." Lina kembali menjawab dengan lancar. Tak ada yang dia tutupi, ucapannya pun sepenuhnya jujur. Tak ada yang dikurangi, tak ada pula yang dilebih-lebihkan.


Mendengar hal mengejutkan itu, Juna langsung marah. "Lalu? kenapa kamu tak pernah memberitahuku?" suara geramannya tertahan karena masih memikirkan kondisi Abby. Namun netranya begitu tajam saat menatap Lina dan Mira yang setengah ketakutan.


"Ma-maaf Tuan. Dulu, Anda jarang berada di rumah, jadi kami bingung untuk memberitahunya. Lalu, Nona juga melarang kami untuk memberitahukan kondisinya pada siapapun termasuk penghuni rumah ini." Kini, Mira yang angkat bicara.


Juna langsung diam terpaku, hatinya merasa tak nyaman karena denyutan nyeri yang tiba-tiba datang menyapa. Perasaan bersalah karena dulu tak pernah ada untuk Abby kini datang menghantuinya. "Jadi, hanya kalian yang tahu?"


Lina dan Mira, kompak mengangguk. "Ya, Tuan.


Juna melirik Hari dan juga Erik yang terlihat terkejut, sama seperti dirinya. "Lalu mereka?"


Dua pelayan wanita itu mengikuti arah pandang Juna, lalu kembali menggeleng. "Hanya Nona dan kami yang mengetahuinya. Dan.." Lina terlihat kembali ragu untuk melanjutkan ucapannya.


"Kamu masih ingin menutupi semuanya dariku?" tanya Juna tidak sabar.


"Dan dokter yang menanganinya. Namun karena Nona tidak pernah memanggil dokter keluarga sebelumnya, jadi keadaan Nona tak pernah sampai kepada Anda." Mira menunduk dengan dalam. Merasa bersalah karena menuruti keinginan Abby untuk memendam semuanya.


Juna termenung. Pantas saja saat tadi mereka berpapasan di tangga, lelaki muda yang masih mengenakan snelli itu berkata ingin mengatakan hal penting padanya nanti. Apakah itu menyangkut Abby?


"Hah.." Juna menghela nafas kasar sembari bangkit dari kursi, "tolong bersihkan tubuh Abby dan ganti pakaiannya dengan yang lebih nyaman." Lelaki itu pergi dengan otak yang penuh. Namun dia juga harus membersihkan diri demi mendapatkan kewarasannya kembali.

__ADS_1


"Baik, Tuan."


"Paman Hari, bisa kita bicara sebentar?" Juna kembali menoleh saat sudah sampai di tengah pintu kamar yang terbuka.


"Ya, Tuan muda."


Tiga orang itu bergerak untuk mengikuti perintah Juna sesuai arahan. Menyisakan Erik yang masih diam terpaku. Berdiri di samping ranjang Abby, menatap majikannya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.


"Nona.."


. . .


Malam dengan cepat berlalu, tergantikan dengan fajar yang kembali beradu. Tak seperti orang-orang yang masih bergumul dengan selimut hangat mereka karena menikmati santainya hari Minggu, Gara terlihat sudah rapi dengan mobil yang dikendarainya.


Niatnya yang ingin kembali mengunjungi sang ayah harus tertunda karena kabar yang baru saja dia dapatkan subuh tadi. Abby sakit. Dan itu adalah berita buruk untuknya. Entah sejak kapan Gara menjadi lebih peduli dengan kesehatan Abby, namun kabar sakitnya Abby cukup membuat hatinya tak tenang.


Jalanan yang lengang di pagi hari membuat Juna lebih mudah dan lebih cepat untuk sampai di tujuannya. Hanya lima belas menit waktu yang dia butuhkan untuk sampai di kediaman Anggara yang luas.


Gara mengucapkan terimakasih saat seorang satpam membukakan pintu gerbang untuknya. Saat dirinya turun, dia langsung bertemu dengan Juna yang nampak rapi dengan setelan kerja.


Juna mengangguk, "aku harus ke luar kota selama dua hari. Dan itu benar-benar tak bisa ditunda. Maka dari itu aku menyuruhmu ke sini." Lelaki itu memberikan tasnya pada Erik untuk dimasukkan ke dalam mobil.


"Abby sakit. Dan dia belum sadar sejak sore kemarin. Aku tidak mau meninggalkannya dalam keadaan seperti itu, tapi.."


"Ya, aku mengerti. Pergilah! selesaikan urusanmu! aku akan menjaganya selama kamu pergi." Ujar Gara penuh keyakinan.


Juna sebenarnya sempat merasa ragu mengingat kelakuan Gara yang tak berbeda jauh dengannya dulu, yaitu tak bisa bersikap baik pada Abby. Namun untuk saat ini, sepertinya dia harus memberikan kepercayaan pada Gara.


"Hubungi aku saat dia sudah bangun. Kabari aku tentang hal apapun yang menyangkut Abby." Juna menepuk bahu tegap temannya sebelum masuk ke dalam mobil. "Aku pergi."


Mobil yang membawa Juna benar-benar pergi, menghilang dari jarak pandang Gara. Dan lelaki itu hanya melihat semuanya dalam diam.


Setelah beberapa menit terpaku, Gara akhirnya kembali melangkah dan langsung menuju lantai dua di mana kamar Abby berada.

__ADS_1


Seperti biasa, beberapa pelayan akan menyapanya saat berpapasan termasuk Hari yang berdiri di dekat pintu utama. Dan Gara hanya memberikan anggukan kecil sebagai balasan.


Tanpa mengetuk pintu karena tahu pemiliknya sedang tak sadarkan diri, Gara langsung masuk ke dalam kamar dan bertemu dengan dua pelayan Abby yang sepertinya baru selesai membersihkan tubuh majikannya.


"Selamat pagi, Tuan Gara."


"Selamat pagi."


Dua pelayan wanita itu dengan kompak menyapa Gara yang berdiri tak jauh dari daun pintu.


"Hmm, kalian sudah selesai?" tanya Gara retoris.


"Ya, Tuan. Kami sudah beres."


"Kami akan keluar lebih dulu untuk menyiapkan sarapan."


Tanpa diminta, Lina dan Mira sepertinya mengerti kalau Gara memang hanya ingin sendirian tanpa diganggu. Untuk itu, keduanya langsung keluar dari kamar dan menutup pintunya dengan rapat.


Tak ada komentar apapun dari Gara. Dia hanya mendekat ke arah Abby, kemudian duduk di atas bagian ranjang yang kosong. Kasur luas itu sepertinya terlalu besar untuk tubuh Abby yang mungil dan ramping.


Netra elangnya memandang wajah Abby yang pucat. Kemudian, tangannya terangkat untuk menggenggam jemari Abby yang terasa dingin.


"Hai, Abby. Selamat pagi. Kamu tidak ingin bangun?"


. . .


TBC


Hallo, selamat pagi teman-teman. Cuaca pagi ini agak mendung di sini, tapi semoga suasana hati teman-teman tetap cerah penuh kebahagiaan.


Saya kembali dengan bab terbaru. Terimakasih atas kesetiaan teman-teman dalam memberikan cinta dan dukungannya untuk cerita ini. Sayang kalian banyak-banyak. ^_^


Jangan lupa vote dan komentarnya!

__ADS_1


Salam,


Nasal Dinarta.


__ADS_2