Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Mereka Dan Rasa Putus Asanya


__ADS_3

Itu adalah sebuah ruangan kecil berukuran tiga kali empat meter dengan suasana yang pengap. Barang-barang yang berdesakan di dalamnya nampak sudah lapuk dimakan usia, namun sepertinya si pemilik harus tetap menggunakannya karena belum ada dana untuk mengganti dengan yang baru.


Seorang perempuan dengan penampilan yang acak-acakan terlihat meringkuk di sudut ruangan. Rambutnya kusut, pipinya lebam, sedangkan bibirnya menyisakan darah kering yang masih menempel di sana. Dia terlihat menyedihkan.


Pintu kamarnya dibuka dengan paksa dari arah luar, membuat perempuan yang tadinya menyembunyikan wajahnya di atas lipatan tangan itu sontak menoleh dengan ekspresi was-was.


"Kenapa kamu masih di sana, Lilyana?" pekikan tertahan itu datang dari sang ibu berwajah garang. Tangan kanannya memegang sapu lidi yang siap dia layangkan kalau anaknya itu tidak juga menuruti keinginannya.


Lilyana gemetar ketakutan di tempatnya. Memandang sang ibu dengan air mata yang perlahan kembali turun, meminta belas kasih dari perempuan yang sudah melahirkannya tersebut, meski mustahil sang ibu akan memberikannya.


"Aku..le..lelah, Ibu." Jawab Lilyana pelan. Badannya terasa remuk di mana-mana. Dan yang lebih parah dari itu, hatinya hancur berkeping. Bagiamana caranya dia memunguti pecahan jiwa yang sudah berpencar ke sembarang arah itu?


"Apa? lelah?" wanita pertengahan empat puluh itu mendekat dengan langkah terburu-buru. Tangan kirinya mencengkram wajah anaknya dengan keras membuat Lilyana meringis, "kamu masih bisa mengeluh saat kamu menjadi manusia yang tak berguna selama dua bulan terakhir ini?"


"A..aku ingin tidur, sebentar saja. Setelah ini aku akan kembali bekerja." Kalimat itu keluar dengan nada yang lemah dan putus asa. Lilyana tidak tahu harus bagaimana lagi agar ibunya berhenti, atau setidaknya memberinya ruang dan waktu untuk beristirahat.


"Tidak bisa! kamu harus melayani para tamu yang sudah menunggu di luar sana!" sang ibu kembali meraung emosi, persis seperti orang tidak waras. Kuku tajam miliknya bahkan hampir membuat wajah Lilyana berdarah saking kuatnya perempuan itu mengeluarkan tenaga.


"Ibu, aku akan bekerja. Tapi tidak dengan cara seperti ini." Air mata Lilyana keluar semakin deras. Matanya terpejam dengan perasaan yang lebur tak bersisa. Memohon entah pada siapa agar ibunya berhenti dari kegilaannya yang tak berujung.


"Dasar anak kurang ajar! turuti saja kemauanku! kamu sudah tidak becus untuk memoroti anak orang kaya itu lagi, dia bahkan sekarang sudah menjauhimu bukan? lalu dengan apa kamu bisa menghasilkan uang?" sapu lidinya terangkat cukup tinggi, dia dengan tanpa belas kasihnya memukuli sang anak tepat di punggung kecil itu dengan gagangnya yang keras.


"Ibu, ampun!" Lilyana memeluk tubuhnya sendiri agar benda tumpul itu tidak menghantam kepalanya. Dia ingin berlari, namun tenaganya habis tak bersisa.


"Aku menyesal melahirkan anak tak berguna sepertimu, Lilyana!"


Ibu, tolong hentikan!

__ADS_1


. . .


Di sisi lain, Gara dan Abby kembali melanjutkan perjalanan. Tidak, mungkin lebih tepatnya Gara yang tetap kekeh ingin mengantar perempuan itu. Padahal, Abby sudah mewanti-wanti kalau dia tidak mau hampir celaka untuk yang ke dua kalinya hari ini.


Abby memperhatikan jalan raya yang begitu padat. Dia sudah berjanji akan bertemu dengan Elang di daerah ini, maka dari itu dia tidak meminta Gara untuk mengantarnya sampai ke rumah.


"Di sebelah sini?" Gara ikut memperhatikan sebuah halte yang agak sepi di depan pusat perbelanjaan besar. Dia tidak tahu apa yang akan Abby lakukan di di tempat ini.


Abby mengangguk, "hm! aku akan turun. Terimakasih, Gara. Berhati-hatilah saat kamu pulang nanti! jangan sampai seperti tadi!" memberi sedikit pepatah sebelum pergi.


"Siapa yang akan kamu temui?" Abby terlihat buru-buru. Apa perempuan itu akan menemui orang penting?


Yang ditanya terdiam sejenak, menatap Gara dengan aneh, "temanku. Aku ada janji dengan temanku." Jawabnya dengan jujur.


"Teman?" Gara menatap Abby tepat di matanya, "perempuan? laki-laki?" dia tidak tahu kenapa harus menanyakan hal ini, namun ucapan itu keluar begitu saja dari mulutnya seiring dengan pemikirannya yang berkeliaran ke mana-mana.


Abby berkedip beberapa kali, menatap Gara seolah lelaki itu bukan makhluk bumi. "Emm.. laki-laki. Memang kenapa?"


Gara tidak terlihat seperti Gara. Lelaki itu biasanya bersikap tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Abby. Kecuali jika itu menyangkut ketenangan hidupnya sendiri, Gara hampir tidak pernah bertanya seperti itu.


Lelaki itu mengangguk, namun wajahnya memperlihatkan raut tidak enak dipandang, "baik, kamu akan bertemu teman laki-laki mu. Lalu, apa yang akan kalian lakukan?"


Abby hampir menganga dibuatnya kala mendengar pertanyaan itu. Memangnya apa yang akan dia lakukan? lalu, untuk apa Gara harus tahu mengenai apa yang akan dia dan Elang lakukan nanti? apa itu ada urusannya dengan Gara?


"Kenapa aku harus memberitahumu?"


Itu benar. Kenapa Abby harus memberitahu Gara tentang itu? apakah penting baginya untuk menjawab pertanyaan terakhir Gara?

__ADS_1


Gara memalingkan wajah ke arah depan. Mobilnya sudah berhenti di pinggir jalan, tepat di depan halte. Namun dia seolah enggan untuk membiarkan Abby pergi.


"Hah. Lupakan!" Gara menghela nafas, mencoba memberitahu dirinya sendiri agar berpikir waras dan berhenti bersikap konyol di depan perempuan itu. "Aku hanya ingin mengingatkan satu hal. Walau bagaimanapun, hampir semua orang di negeri ini tahu bahwa kamu adalah tunanganku. Jadi, aku minta tolong." Lelaki itu tidak terlalu jelas menyampaikan maksudnya, namun sejauh ini Abby cukup paham dengan apa yang ingin Gara beritahukan padanya.


Dengan wajah yang sudah tidak se-bingung tadi, Abby berujar, "oh, aku mengerti. Tenang saja, aku tidak akan membuat namamu dan nama kakakku tercoreng hanya karena perbuatanku."


Walau bagaimanapun, sosok Abby di masa lalu tidak bisa didefinisikan dengan baik. Dia cukup agresif jika itu menyangkut Gara, namun dia terlalu masa bodoh dengan pandangan orang tentang penampilan ataupun pendidikannya. Dan itu mampu membuat Gara berpikiran buruk tentang Abby, juga membuat Juna merasa malu dan memilih untuk menjauh dari kehidupan Abby.


Tentu saja Abby tidak akan mengulangi hal yang sama untuk ke dua kali. Dia akan menjadi dirinya sendiri tanpa harus merugikan orang lain.


Gara terlihat ingin menyanggah ucapan Abby, namun mulutnya seolah tertahan. Jadi, dia hanya diam saat Abby pamit dan keluar dari mobilnya setelah mengucapkan terimakasih.


Perempuan itu duduk dengan tenang di kursi halte yang hanya diisi oleh dua orang selain Abby. Entah apa yang menahan Gara untuk tetap berada di sana, namun matanya tidak berpaling sedikitpun dari sosok cantik Abby yang tengah menatap lalu lalang jalan raya yang dipadati kendaraan.


Sesuatu dalam dirinya memberontak kesal saat melihat beberapa orang menatap Abby dengan terang-terangan tanpa rasa malu. Gara menggeram dalam hati. Meski hanya dengan pakaian sederhana dan terkesan tertutup, perempuan itu mampu menarik para lalat yang tidak berguna. Abby terlalu mencolok untuk berada di sana.


Entah Gara sedang waras atau tidak. Namun sebuah pemikiran untuk membawa Abby pergi dari sana muncul di kepalanya saat ini.


. . .


TBC


Selamat pagi. Salam sehat untuk kita semua di hari yang cerah ini. Saya datang dengan bab baru untuk up pertama di hari ini. Terimakasih atas dukungan teman-teman, semoga bahagia selalu. ^_^


Jangan lupa vote dan komentarnya! masukan dan pesan dari teman-teman sangat berarti untuk saya.


Salam,

__ADS_1


Nasal Dinarta.


__ADS_2