Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Tak Mampu Membendung Rasa


__ADS_3

Setelah Abby yang menangis hebat dan tak mau berhenti, Juna berinisiatif untuk membawa adiknya itu pulang. Namun dasarnya Abby yang keras kepala, perempuan itu berkata ingin berada di sana sebentar lagi. Dan Juna terlalu malas untuk menolak, terlebih saat melihat keadaan Abby yang perlahan membaik dan kembali seperti semula.


Meninggalkan ruangan pertama, keduanya kini tengah menjelajahi museum lebih dalam. Tak jauh berbeda dengan tempat sebelumnya, di sini pun mereka akan menemukan banyak lukisan yang entah apa maknanya. Selain itu, ada juga puluhan benda bersejarah yang disimpan di dalam kotak kaca yang cukup besar.


Juna yang tengah melihat-lihat di sana tidak bisa tidak merasa heran, "kenapa tak ada satupun benda yang berasal dari bangsa ini?" tanyanya pada diri sendiri saat membaca tulisan di bawah benda yang dipajang.


Abby yang tengah melihat benda yang berbeda hanya menoleh dan tidak mengatakan apa-apa. Meski begitu, dirinya cukup menyetujui ucapan kakaknya. Dirinya menjadi lebih yakin kalau mereka salah memasuki museum tadi. Padahal, Abby sendiri ingin melihat peninggalan bersejarah dari negeri yang sekarang dipijaknya.


Namun dia juga tidak merasa menyesal masuk ke sini karena begitu banyak benda yang mengingatkannya akan kehidupannya dulu. Meski masa lalunya terbilang cukup biasa saja dengan sedikit bumbu kepedihan, namun entah mengapa Abby ingin sekali kembali ke masa itu.


"Oh, apa ini? Abby, kemarilah!"


Seruan Juna membuat Abby sadar dari lamunannya. Perempuan itu menghampiri sang kakak yang sepertinya tengah terkagum-kagum akan sesuatu. Dari jarak yang cukup jauh, Abby dapat melihat sebuah patung yang disimpan persis di tengah aula. Seolah tempat itu memang sengaja dibuat untuk patung tersebut.


Semakin dekat langkah Abby, semakin cepat pula detak jantungnya berdegup. Abby tidak mengerti, namun hatinya begitu antusias untuk segara sampai.


Di sana, Abby melihat satu patung yang diukir dengan indah. Dilihat dari segi manapun, itu adalah seorang perempuan yang mengenakan gaun indah dengan sebuah panah di tangannya. Cantik, anggun dan juga berani. Itu adalah gambaran untuk patung tersebut.


Sama seperti Juna yang tak bergeming di tempatnya, Abby pun tak jauh berbeda. Semakin lama ditatap, perempuan itu semakin merasakan hawa familiar dari benda di depannya. Wajah itu, ekspresi dingin yang tergambar di sana, juga panah yang tengah dipegangnya. Semua hal itu seolah dikenal dengan baik oleh Abby.


"Oh, ada tulisannya." Ujar Juna tiba-tiba, "keturunan terakhir dari bangsawan Lionel yang terkenal akan kecantikan dan keberaniannya. Salah-satu kesatria terbaik yang dimiliki kerajaan, juga dibanggakan oleh bangsanya. Gugur di tangan sahabatnya sendiri yang menjadi penyebab hancurnya kisah cinta yang dimiliki." Lelaki itu menampilkan wajah rumit saat membaca paragraf terakhir, "dibuat oleh Rain Bailey Greer untuk Abbysca Lionel."


Hening sejenak setelah Juna menyelesaikan bacaannya.Wajah lelaki itu masih menampilkan ekspresi yang sama, "wow, kisah yang cukup tragis. Tapi aku lebih terkesan dengan namanya, Abbysca Lionel. Bukankah namanya sama persis denganmu?" Juna menoleh, menatap adiknya yang masih diam.


Sedangkan Abby sendiri belum selesai dan keterkejutannya. Wajahnya memucat, nafasnya tercekat, matanya memerah, dua tangannya pun saling terkepal menggenggam sisi pakaian yang dikenakannya. Netra jernih itu bolak-balik menatap patung dan juga tulisan di bawahnya bergiliran.


Tak ada yang salah dengan perkataan Juna, tapi tentu ada yang salah dengan dirinya. Dia ingin marah, tapi dia juga ingin menangis. Harus seperti apa Abby mengungkapkannya?


"Bagaimana, bagaimana mungkin.." ucap Abby terbata-bata sembari air mata yang perlahan turun. Kembali membasahi pipi mulusnya yang semula sudah kering.

__ADS_1


Abby memegang kepalanya yang terasa pening saat memori tentang kehidupannya di masa lalu datang menyapa. Silih berganti dan hampir membuat Abby mati. Tak sanggup menopang beban tubuhnya, perempuan itu terjatuh dengan posisi duduk.


"Abby!" panggil Juna dengan nada khawatir.


Seolah tak cukup, rasa panas dari kalung yang dikenakannya merambat ke seluruh tubuh. Menyerangnya bersamaan dengan rasa pening di kepalanya. Abby merasa mendapatkan serangan dari segala arah. Dan dia tidak memiliki kekuatan untuk menampungnya.


"Abby! hei, Abby!"


Abby tak sadarkan diri di detik berikutnya. Membuat Juna kalang kabut dan segera membopong tubuhnya.


. . .


Kediaman Anggara yang tadinya ramai oleh para pelayan yang tengah menyiapkan pesta kejutan untuk Abby, kini terasa sepi karena kabar yang baru saja mereka terima.


Hari, selaku kepala pelayan, memberikan instruksi pada semua orang untuk segera membereskan semuanya karena orang yang mereka tunggu tidak bisa pulang malam ini. Abby dikabarkan tak sadarkan diri dan tengah dibawa ke rumah sakit oleh Juna.


Berselang lima belas menit, Gara yang datang bersama Mahen di belakangnya merasa heran karena suasana kediaman Anggara yang tak seperti yang dia bayangkan. Kenapa semuanya terlihat belum siap?


Hari menjawab dengan sopan, "maaf Tuan Gara, keadaan Nona Abby mendadak tidak sehat. Tuan Juna tengah membawanya ke rumah sakit."


Tanpa harus mendengar penjelasan lebih detail, Gara segera pergi dari sana. Meninggalkan Hari yang sepertinya belum selesai bicara, juga Mahen yang berdiri kaku dengan setumpuk hadiah di kedua tangannya.


Sedangkan orang yang meninggalkan mereka sudah melesat jauh dengan mobil mewahnya. Keluar dari kediaman megah Anggara dan membelah jalanan ibukota di malam hari yang begitu padat. Lelaki itu bahkan beberapa kali menerobos lampu merah dan membuat para kendaraan di sampingnya mengumpat. Dan sayangnya Gara tidak peduli dengan itu semua.


Hal yang dia pedulikan saat ini adalah segera sampai ke tempat yang dia tuju. Mendengar kabar bahwa Abby dibawa ke rumah sakit membuat Gara kalang kabut. Meski dia yakin kalau keadaan perempuan itu tidak terlalu parah, namun Gara tidak akan bisa tenang sebelum memastikannya sendiri.


Lelaki itu memarkirkan mobilnya sembarangan di halaman rumah sakit, lalu masuk begitu saja melewati aula utama. Mengacuhkan dua penjaga, juga beberapa staf rumah sakit yang sudah sangat mengenalnya dengan baik. Mereka tidak berani menegur ataupun menyapa dengan ramah, hanya menundukkan kepala saat mata mereka tak sengaja bertatapan dengan Gara.


Saat hampir memasuki lift, Gara mengumpat dalam hati, teringat akan sesuatu. Dengan segera, lelaki itu mengambil ponselnya dari saku celana dan menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Di mana?" tanya Gara tanpa basa-basi saat orang yang di seberang sana menjawab panggilannya. Dan dia langsung mematikannya setelah mendapatkan jawaban yang diinginkan.


Mundur karena tak jadi menaiki lift, Gara memutar tubuhnya untuk mengubah jalan. Menyusuri lorong rumah sakit yang tata letaknya cukup dia hafal di luar kepala. Tak sampai lima menit, dia simpan di tempat yang dia cari.


Tanpa menunggu lama, Gara langsung masuk karena pintu ruangan yang tak ditutup dengan sempurna. Di sana, dia dapat melihat Juna yang tengah berbicara dengan dokter di samping ranjang pasien. Dan Gara tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mendekat saat melihat sosok mungil yang tengah terbaring dengan lemah.


"Apa yang terjadi?" tanya Gara entah pada siapa. Namun yang pasti, sang dokter sudah pergi dan hanya menyisakan Juna yang kini tengah memandangnya dari arah samping.


"Abby langsung tak sadarkan diri setelah menangis karena melihat sebuah lukisan dan juga patung di museum." Juna menjawab dengan tak yakin. Karena pada dasarnya, dia juga belum mengerti dengan apa yang terjadi pada adiknya.


Gara terlihat merenung dengan mata yang tak lepas dari wajah Abby. "Lalu, apa yang dokter katakan?" tanyanya lagi sembari duduk di atas kursi. Nafasnya sedikit tersengal, mungkin karena terlalu rusuh saat dalam perjalanan kemari.


"Kelelahan karena banyak pikiran dan juga tekanan."


"Tapi tak ada hal yang serius bukan?"


Juna menggeleng dan mengikuti Gara yang sudah duduk lebih dulu. Saking khawatirnya dengan keadaan Abby, Juna bahkan baru merasakan lelahnya perjalanan saat ini.


Setelah itu, tak ada lagi yang membuka percakapan di antara mereka. Keduanya memilih diam dan mengistirahatkan diri. Berharap agar perempuan yang mereka tunggu segera sadar dan membuat ras khawatir mereka hilang.


. . .


TBC


Terimakasih atas dukungan dan cinta dari teman-teman setia pembaca Abbysca Sagara. Semoga sehat selalu. ^_^


Jangan lupa vote dan komentarnya!


Salam,

__ADS_1


Nasal Dinarta.


__ADS_2