Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Boleh Berempati Asal Kuat Membentengi Hati


__ADS_3

"Tidak perlu mengatakan apa-apa pada mereka, saya akan pulang saja. Lagipula, Tante Melly sepertinya perlu istirahat." Ucap Abby pada kepala pelayan yang sejak tadi berdiri di belakangnya, ikut mengamati perseteruan dua saudara ipar yang kini telah berakhir.


Melly terlihat naik ke lantai atas, mungkin untuk menenangkan diri. Sedangkan Prama, lelaki yang baru Abby ketahui sebagai paman dari Gara tersebut telah pulang beberapa menit yang lalu. Dan tentu saja, Abby menghindar agar tidak terjadi pertemuan yang tak diinginkan. Selain karena Abby tidak mengenalnya, Prama pasti akan merasa canggung saat tahu pertengkarannya dilihat oleh orang asing.


"Saya mengerti, Nona."


Abby mengangguk dan perlahan keluar dari kediaman Aditama melalui pintu samping yang langsung menghubungkannya dengan area taman yang terlihat segar karena berbagai jenis bunga yang sedang mekar.


Perempuan itu menghentikan langkah kala melihat sosok Gara yang baru keluar dari mobilnya yang terparkir di halaman luas kediaman ini. Gara terlihat lunglai dengan wajah yang lumayan kusut. Abby dapat melihat sinar sendu di netra elang itu kala keduanya saling menatap satu sama lain.


Melihat jika Gara malah terdiam seperti dirinya, Abby berdehem kecil dan kembali melanjutkan langkah dengan ringan, lalu berhenti tepat di depan Gara.


"Kamu, di sini?" Gara tentu tidak menyangka akan melihat kehadiran Abby di rumahnya dalam waktu dekat.


"Hm." Abby mengangguk, "tapi sepertinya aku datang di waktu yang salah. Jadi, aku akan kembali sekarang." Memperhatikan penampilan Gara yang tidak rapi, itu sedikit aneh di matanya. "Kamu cukup kacau. Istirahatlah!"


Entah kenapa Abby mengatakan hal itu. Padahal, akhir-akhir ini dia sudah berhasil dalam bersikap netral dan biasa saja. Namun saat melihat kondisi Gara yang tidak baik, hatinya sedikit terenyuh, dan mulutnya langsung menyuarakan itu tanpa dikontrol. Dasar!


Abby melewati tubuh tinggi Gara yang masih diam di tempatnya. Dia harus segera pergi, taksi pesanannya pasti sudah menunggu di luar gerbang. Sebenarnya, tadi Abby diantar ke sini oleh Erik, namun dia langsung menyuruh lelaki itu pergi karena merasa dia akan cukup lama di sini. Siapa yang menyangka kalau akhirnya akan seperti ini?


Namun, baru juga beberapa langkah, Abby harus berhenti saat merasakan tarikan pelan. Matanya langsung menatap Gara yang masih memandang lurus ke depan. Kemudian turun ke bawah, dan langsung terkejut saat melihat jemari lelaki itu yang bertengger di ujung lengan pakaiannya.


Ada apa dengan Gara?


"Apa ada hal lain?"


"Aku tidak melihat supirmu." Jawab Gara tidak sesuai dengan apa yang Abby tanyakan.


Dengan kening yang berkerut Abby berujar, "dia memang tidak ada di sini. Aku menyuruhnya pulang tadi."


Gara melepaskan tangannya dari ujung lengan Abby. Kemudian, berbalik dalam diam menuju arah yang sama dengan yang Abby tuju. Lelaki itu melangkah menuju mobilnya yang belum terkunci. Tangannya sudah memegang pintu mobil, namun dia kembali berbalik untuk menatap Abby yang tengah memperhatikannya bingung.


"Ayo! aku akan mengantarmu pulang."


Abby melongo di tempatnya.

__ADS_1


Wah, apa langit siang tiba-tiba berubah menjadi oranye sekarang? Abby tidak mungkin salah dengar bukan? Gara? berinisiatif untuk mengantarnya pulang?


"Sepertinya, kamu memang butuh istirahat Gara. Kamu terlihat melindur." Hanya itu yang ada di pikiran Abby sekarang. Gara sedang kacau.


Lelaki itu mengedipkan mata dua kali sembari tetap memandang ke arah Abby, "aku akan istirahat setelah mengantarmu pulang."


Abby menghela nafas, "tapi aku tidak akan pulang." Dia memang tidak akan langsung pulang. Dia memiliki beberapa hal yang harus dikerjakan akhir-akhir ini. Dan karena acaranya bersama Melly tidak jadi, maka dia akan mengerjakannya sekarang. Terlepas dari adanya yang mengantar atau tidak, Abby bisa melakukannya sendiri.


"Ya, apapun itu. Ayo masuk!" Gara masuk lebih dulu ke dalam mobil. Enggan mendapat penolakan dari Abby.


Dan disinilah Abby sekarang. Diam mematung dengan pandangan lurus ke depan di dalam mobil nyaman milik Gara yang melaju sedang.


Dalam perjalannya, perempuan itu menahan diri agar tidak menoleh ke samping hanya untuk melihat bagaimana raut wajah lelaki yang sedang menyetir itu. Terpaksa kah? atau sungkan kah? sebenarnya, apa alasan Gara mau repot-repot mengantarnya?


Pikiran Abby sedang berkelana ke mana-mana, mencoba mengingat sesuatu. Apakah hal ini pernah terjadi di masa lalu? apa dia pernah menduduki mobil Gara sebelumnya? sepertinya tidak pernah.


Mobil yang mereka tumpangi, saat ini tengah melewati pepohonan hijau yang tidak sepenuhnya bisa menutupi danau buatan di dalam komplek perumahan mewah tersebut. Meski ini bukan pertama kalinya Abby melihatnya, namun matanya tidak lepas dari pemandangan itu sedikitpun. Pancaran matanya terlihat takjub dan bahagia.


Ckiit!


Abby yang sedang tidak memperhatikan jalan langsung syok seketika kala merasakan mobil yang tiba-tiba berhenti, membuat kepalanya hampir menyentuh dashboard mobil. Dadanya berdegup cukup kencang, wajahnya hampir memucat.


"Sudah kubilang, kamu itu butuh istirahat, Gara." Abby berujar pelan setelah berhasil menguasai diri. Untunglah tidak ada yang terluka. Dia kembali menatap ke arah depan, di sana ada seorang anak kecil yang tengah memangku seekor kucing gemuk. Oh, Abby mengerti sekarang.


"Refleksmu bagus, syukurlah."


Tidak ada jawaban dari Gara. Lelaki itu seolah ditarik dari kesadarannya, membuat Abby sedikit khawatir.


"Gara.."


"Maaf!"


Abby menghela nafas saat mendengar suara Gara. Dia pikir lelaki itu benar-benar tidak bisa diajak bicara lagi. "Ayo pinggirkan mobilnya! menikmati pemandangan di sini sepertinya tidak buruk."


. . .

__ADS_1


Dapat melihat jernihnya air danau secara dekat seperti ini tidak pernah masuk dalam daftar rencana Abby. Apalagi ditemani seorang lelaki yang notabene sangat membenci kehadirannya. Entah takdir apa yang membuat mereka berakhir di sini sekarang.


Mereka duduk di atas bangku kayu panjang yang tidak terlalu tinggi, tepat di bawah pohon beringin yang besar dan rindang. Hawa sejuk langsung mereka rasakan kala angin yang cukup kencang menerpa, membuat rambut mereka sedikit berkibar. Sedangkan langit biru yang begitu cerah terlihat membungkus air danau yang jernih kehijauan. Siluet keduanya dari belakang adalah sesuatu yang mahal. Itu terlihat indah, hampir seperti lukisan.


Abby tahu kalau Gara sedang memiliki kerumitan, lelaki itu tengah kacau. Namun alih-alih bertanya, Abby lebih memilih diam. Biarkan Gara menenangkan pikirannya tanpa harus diganggu dengan berbagai pertanyaan beruntun, atau sikap sok tahu yang akan terdengar menyebalkan.


Helaan nafas kasar keluar dari celah bibir Gara. Lelaki itu sedikit meremas sisi rambutnya menggunakan tangan, yang sikutnya masing-masing dia simpan di atas paha. Sedangkan Abby hanya diam memperhatikan tanpa ada keberanian untuk bertanya. Pengalaman buruknya dulu saat mendapat kemarahan dan penolakan Gara masih membekas di hatinya. Dia takut salah bicara lagi.


Namun sampai dua puluh menit berlalu, Gara tak juga bersuara. Lelaki itu tetap bungkam dengan wajah rumitnya. Dan pada akhirnya, Abby tidak tahan lagi untuk berkomentar.


"Tidak perlu memaksakan diri, Gara. Berhentilah jika memang kamu merasa waktunya untuk berhenti! apa memangnya yang sedang kamu kejar?" ucapan Abby memiliki makna ganda, berharap kalau Gara dapat menangkap apa maksudnya.


Tiba-tiba, percakapan Melly dan juga Prama kembali berputar di pikiran Abby. Dan dia yakin kalau nama Gara disebut beberapa kali di dalam perseteruan mereka tadi. Apakah ini ada hubungannya dengan sikap Gara yang seperti ini?


Tahu kalau Gara tidak akan menimpali ucapannya, Abby kembali melanjutkan, "jangan terlalu memikirkan perasaan orang lain, pikirkanlah dirimu sendiri lebih dulu!"


Matahari sudah hampir sampai di atas kepala. Itu cukup menyengat, namun teduhnya pohon membuat mereka merasa terlindungi.


Abby menoleh saat merasakan hal aneh di sampingnya. Dan benar saja, Gara tengah menatapnya dengan intens sekarang. Meski wajah tampannya itu terlihat lelah, namun tatapan mata elang masih memiliki efek yang sama untuknya. Mampu membuat hati Abby merasakan hal aneh yang tak dapat dia jelaskan dengan kata.


"Ada apa? maaf jika aku terlalu banyak bicara. Aku tidak bermaksud untuk sok tahu." Abby sedikit takut kalau ucapannya barusan malah membuat Gara semakin sakit kepala.


"Terimakasih." Ucap Gara pelan.


"Hah?" Abby membeo.


"Terimakasih, Abbysca."


. . .


TBC


Halo! Up ke dua di hari ini. Yeay! selamat membaca. Terimakasih atas dukungan teman-teman setia pembaca Abbysca. Semoga bahagia selalu.


Jangan lupa vote dan komentarnya! ^_^

__ADS_1


Salam,


Nasal Dinarta


__ADS_2