Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Boleh Peka Tapi Tidak Boleh Lupa


__ADS_3

Abby meringis dalam hati saat seorang perawat wanita membantunya untuk membuka kemeja yang kini tengah dipakainya, gesekan pelan itu membuat lukanya berdenyut sakit tidak berdaya. Apalagi saat kain yang menempel tepat di sayatan bahunya dilepaskan, itu cukup mengingatkan Abby pada saat dirinya masih menjadi kesatria di kerajaan.


Sering mendapatkan luka membuat Abby di masa lalu menjadi sosok perempuan yang kuat dan tahan akan rasa sakit. Namun, karena hidupnya di sini terlalu dimanjakan keadaan, jadilah mendapat luka seperti ini pun sudah membuatnya perih tidak karuan.


Darahnya sudah berhenti mengalir beberapa menit sekarang, hanya tinggal ditangani lalu dijahit saja.


Abby melirik pada Gara yang tengah berdiri di depan dinding kaca, posisinya tepat membelakangi Abby yang kini duduk di atas ranjang pasien. Lelaki itu masih diam setelah mengantarnya ke rumah sakit. Tidak keluar meninggalkan Abby, namun tidak juga mendekati Abby walau itu hanya untuk melihat keadaan sang tunangan. Entah apa yang dipikirkan Gara saat ini, Abby sendiri tidak tahu harus bertanya atau tidak.


Dokter datang tak lama setelah si perawat berhasil membuka kemeja Abby dan hanya menyisakan kaus dalam berwarna hitam tanpa lengan. Itu cukup membuatnya risih, apalagi yang akan menanganinya adalah dokter laki-laki. Namun dia tidak sanggup jika harus terus mengulur waktu, denyutan itu semakin terasa membuat wajahnya pucat seputih kapas dengan keringat dingin yang memenuhi dahi.


"Nona, mohon untuk menahannya sebentar."


Meski sudah menahannya sekuat tenaga, namun ringisan kesakitan itu keluar juga dari celah bibir merah muda yang kini terlihat kering dan pucat tersebut. Lukanya cukup dalam, sehingga membutuhkan penanganan yang agak lama. Dia sedikit ngilu saat merasakan jarum yang menusuk kulitnya berkali-kali. Tangan kanannya memeras kain seprai dengan erat, mencoba menyalurkan rasa sakit yang sudah cukup lama tidak dia rasakan.


Di saat tubuhnya mulai oleng karena lelah, seseorang datang dan membawa Abby agar bersandar pada si pemilik tubuh. Perempuan itu berkedip dua kali, kemudian menoleh ke atas dan menemukan Juna yang kini tengah berdiri di samping kanannya. Sinar khawatir terlihat di netra kakaknya itu saat melihat keadaan Abby.


Juna menatap dokter yang terlihat serius menjahit luka di bahu Abby, "kenapa kamu bisa sampai seperti ini?" tanya Juna, penasaran bagaimana kronologi ceritanya sehingga perempuan itu bisa berakhir di tempat ini. Jika bukan karena Erik yang mengadu padanya kalau dirinya dimarahi habis-habisan oleh Gara di sambungan telepon, mungkin Juna tidak akan tahu. Dia hanya ingat kalau adiknya itu pamit untuk menemui Melly.


"Aku baik-baik saja." Jawab Abby seadanya. Hatinya menghangat saat menerima perlakuan Juna yang tak terduga. Dia memang sedang kelelahan, dia butuh sandaran. Matanya terpejam dengan bibir yang tersenyum tipis. "Aku menang Kak, mereka yang bertubuh kekar itu kalah." Lanjutnya dengan kekehan yang mulai terdengar. Merasa bangga seolah yang dia menangkan adalah sebuah prestasi.


Juna mendengus, "cih! kamu membuat semua orang khawatir, tapi masih bisa tertawa seperti ini?" lelaki itu tidak mengerti dengan pemikiran Abby. Jantungnya tadi hampir copot saat mendengar kabar sang adik yang dilarikan ke rumah sakit.


"Gara datang menolongku." Lapor Abby. Entah apa maksudnya mengatakan itu, karena diberitahu atau tidak olehnya, Juna pasti sudah tahu akan kenyataan tersebut. Namun dia seperti harus mengatakannya pada Juna. Mungkin karena rasa terimakasihnya pada Gara?

__ADS_1


"Ya, aku tahu. Dia bahkan memarahi Erik dan juga teman laki-lakimu itu." Lapor Juna.


Abby baru sadar akan satu hal sekarang, " di mana Elang dan Lilyana?" dia ingat kalau Elang datang bersamaan dengan Gara yang langsung memarahinya tadi. Dia belum sempat berbicara dengan lelaki itu, dia bahkan belum memastikan keadaan Lilyana yang sudah babak belur, namun Gara sudah lebih dulu menyeretnya pergi ke sini.


Juna belum menjawab. Lelaki itu membiarkan dokter dan perawat menyelesaikan pekerjaan mereka di tubuh Abby.


"Untuk beberapa hari ke depan, usahakan agar bahu Nona tidak terkena air. Lalu, jangan dulu mengerjakan pekerjaan berat yang dapat membuat lukanya tergesek dan kembali terbuka. Akan lebih bagus kalau Nona mau menginap di sini satu malam sampai keadaannya membaik. Saya akan memberikan resep obat dalam nanti." Dokter berbicara panjang lebar pada Juna dan juga Gara yang entah sejak kapan sudah bergabung di sana. Sedangkan yang menjadi pasiennya tidak diajak bicara sama sekali, ditatap saja tidak. Abby sampai heran dibuatnya.


"Baik, saya mengerti. Terimakasih." Juna tersenyum sopan saat membiarkan dokter dan perawat itu pergi dari ruangan. Sedangkan Gara hanya diam sembari menatap Abby, tidak mengindahkan kehadiran para tenaga medis itu sama sekali.


Juna membimbing adiknya untuk bersandar pada kepala ranjang yang sudah dinaikkan oleh perawat barusan. Pelan dan hati-hati agar luka Abby tidak tersentuh. "Kamu kedinginan?" hanya ada kaus tanpa lengan yang membungkus tubuh adiknya.


"Hm, tapi aku tidak tahan dengan rasa ngilunya kalau harus memakai pakaian hangat sekarang." Dia tentu saja malu dengan keadaannya yang tidak sopan ini, namun dia belum mau merasakan denyutan dan ngilu seperti tadi lagi saat perawat menyentuh tangan dan bahunya karena harus melepaskan kemejanya. Sudah dia bilang kalau tubuhnya yang sekarang itu begitu manja, dia harus lebih rajin berlatih dan berolahraga nanti.


Juna menghela nafas, "dua pelayanmu sedang dalam perjalanan ke sini bersama Erik. Tunggu sebentar! istirahat dulu!" tangannya mengambil selimut tipis yang ada di sana, kemudian menyimpannya di bahu kanan Abby yang tidak terluka. Membuat kain itu menutupi bagian depan tubuh Abby, walau tidak sepenuhnya tertutup. Tapi itu lebih baik.


Abby mengangguk kecil, "hari ini aku bertemu banyak orang dan melewati banyak kejadian. Jadi, aku memang ingin tidur, Kakak." Ucapannya ditujukan untuk Juna, namun matanya mengarah pada Gara yang sejak tadi diam menatapnya.


Juna mengikuti pandangan Abby, "Gara, kamu baik-baik saja?" temannya itu memang pendiam dan jarang bicara jika bukan hal yang penting. Namun melihat lelaki itu tidak mengeluarkan suara sama sekali sejak Juna sampai tadi, membuatnya merasa sedikit aneh.


Gara memindahkan pandangan pada Juna, kemudian menatap kedua tangannya sendiri yang masih menyisakan bercak darah dari bahu Abby yang terluka. "Aku merasa sedikit aneh, Juna."


"Hah?" Juna memberikan pandangan tidak mengerti.

__ADS_1


"Aku perlu bicara." Gara pergi setelah mengatakan itu.


Sedangkan Juna dan Abby yang ditinggalkan hanya bisa saling memandang dengan wajah yang sama-sama mengerut, tidak mengerti.


"Ada apa dengan orang itu?"


Abby terdiam sejenak, "dia memang sedikit aneh hari ini, Kak. Sana pergi!" mengibaskan tangan kanannya agar Juna segera pergi untuk menyusul Gara yang terlihat tidak baik. Seburuk apapun sikap lelaki itu padanya di masa lalu, namun hari ini Gara telah banyak menolongnya. Dia merasa sedikit simpati.


Bayangan saat Gara mendekapnya erat tadi membuat Abby merasa kalau lelaki itu tengah dilanda ketakutan. Meski merasa begitu terkejut karena seingatnya, Gara tak pernah berinisiatif untuk melakukan sentuhan fisik sejauh ini, namun rasa heran dan bingung jauh lebih mendominasi.


Jika saja Abby Anggara yang sebenarnya masih ada, mungkin dia akan senang bukan main karena hal yang sudah lama ditunggunya akhirnya terjadi. Namun bagi Abby Lionel, yang sudah bertemu dengan ratusan orang dengan jenis karakter yang berbeda saat di zamannya, tentu hal ini patut untuk dipertanyakan. Otaknya lebih dulu bekerja dibandingkan mengedepankan hati yang haus akan rasa.


Ada apa dengan Gara dan sikap aneh yang ditunjukannya?


. . .


TBC


Selamat pagi teman-teman. Salam sehat untuk kita semua. Pagi ini saya kembali dengan bab baru. Terimakasih untuk dukungan dari teman-teman setia pembaca. Semoga bahagia selalu.


Maaf kalau dua hari terakhir ini saya up hanya satu kali sehari. Namun karena besok akhir pekan, saya akan berusaha untuk up lebih dari satu bab. Tolong dinantikan! ^_^


Jangan lupa vote dan komentarnya ya, teman-teman. Sampai jumpa.

__ADS_1


Salam,


Nasal Dinarta.


__ADS_2