Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Juna Dan Segala Hal yang Disembunyikannya


__ADS_3

Libur panjang Abby telah berakhir. Dan pagi ini, gadis itu sudah siap untuk kembali belajar. Meski rasa ingin bermalas-malasan kembali hadir, namun hal seperti itu tidak baik untuk terus dibiarkan. Nantinya akan menjadi kebiasaan buruk. Dirinya sendiri bahkan merasa aneh dengan tubuh barunya ini. Dulu, dia sanggup untuk melakukan aktivitas berat setiap hari karena tuntutan pekerjaan dan pengabdiannya. Namun saat dalam tubuh ini, Abby merasa mudah lelah. Mungkin karena hidupnya terlalu dimudahkan di sini. Apa apa serba dilayani.


Abby menghabiskan sarapannya dalam diam, kebiasaan baiknya yang masih terbawa sampai masa ini. Selain karena hal itu, fakta bahwa dia sarapan seorang diri menjadi salah-satu penyebabnya. Menurut laporan Hari, Juna sudah berangkat sejak pagi buta. Entah ke mana orang itu akan pergi.


"Ini tas Anda, Nona." Pelayan wanita yang sejak tadi mengikutinya dari belakang menyerahkan ransel Abby saat majikannya itu akan masuk ke dalam mobil.


Abby mengambilnya sembari tersenyum tipis, "terimakasih, Lina."


Perempuan itu baru saja akan menutup pintu mobil saat mengingat satu hal yang ingin diketahuinya, "Lina.."


"Ya, Nona? ada yang bisa saya bantu?" tanya Lina dengan raut bingung. Tidak biasanya Abby terlihat ragu-ragu saat ingin mengucapkan sesuatu.


"Apa kamu tahu ke mana Kakak pergi?" Hari tidak memberitahunya dengan detail tentang kepergian Juna tadi, jadi Abby hanya berharap pada jawaban Lina. Siapa tahu pelayannya itu mengetahui hal yang tidak dia ketahui.


Wajah pelayan itu nampak agak kaku, dan Abby dapat melihatnya dengan jelas. Tidak mungkin dia salah lihat.


"Bukankah Tuan Juna biasa berangkat pagi untuk berkerja?" Lina malah bertanya balik, memberikan jawaban paling aman menurut dirinya sendiri.


Sontak saja hal itu membuat Abby semakin penasaran. Raut tak puas kentara terlihat di wajahnya. "Aku ingin jawaban lain kalau kamu punya."


Lina semakin gugup dibuatnya. Melihat Abby yang tengah menatapnya intens dengan raut menuntut membuat Lina merasa agak canggung. Kedua tangan perempuan itu saling bertaut di depan. Nampak sekali tidak nyaman dengan situasi.


Abby yang memahami hal itu hanya bisa mendengus dalam hati. "Tidak apa-apa kalau kamu tidak bisa mengatakannya. Aku a-"


"Tuan Juna pergi berziarah ke makam Tuan Besar dan Nyonya Besar." Lina mengatakannya dengan cepat sembari memejamkan mata. Tidak yakin dengan apa yang telah diucapkannya barusan.

__ADS_1


Terdiam dan terpaku. Itu adalah hal yang tak bisa Abby hindari. Netra jernihnya bahkan terlihat agak kosong. Tangannya yang semula memegang pintu mobil, kini tergeletak di samping tubuh, tak berdaya. Hal yang baru didengarnya itu cukup membuat hati dan pikirannya gonjang-ganjing.


Kenapa sebelumnya dia tak pernah berpikir ke arah sana? apa karena tubuh ini bukan sepenuhnya miliknya, sehingga dia tidak terlalu mengingat tentang kenangan orangtuanya?


"Kakak pergi ke sana seorang diri?" sebenarnya bukan itu yang ingin dia tanyakan. Kenapa Juna malah pergi seorang diri? kenapa lelaki itu tak mengajaknya pergi atau setidaknya mengingatkannya tentang hal tersebut?


Lina agak tertekan saat melihat wajah Abby yang seperti itu. Dia berpikir bahwa majikannya itu sedang sedih, jadi dia memberi kalimat menenangkan. "Tuan Juna pasti tahu kalau Nona ada jadwal kuliah pagi hari ini, jadi beliau memilih untuk pergi sendiri." Ujarnya sembari tersenyum maklum.


Abby berkedip beberapa kali sembari mencoba mengembalikan fokusnya, "apa sebelumnya Kak Juna selalu berziarah secara rutin?" dia tahu kalau peringatan kematian ayah dan ibunya itu masih dua Minggu dari sekarang, jadi dia tidak berpikir kalau Juna ke sana karena hal tersebut.


"Tuan Juna memang selalu berkunjung ke sana satu bulan sekali setahu saya. Tapi saat akan mendekati peringatan kematian Tuan dan Nyonya Besar, maka Tuan Juna akan berziarah lebih sering sampai puncaknya." Lina memang tidak selama Hari maupun Erik yang sudah puluhan tahun bekerja di kediaman Anggara, tapi bukan berarti dia tidak mengetahui tentang hal-hal penting seperti itu di dalam keluarga yang dilayaninya.


Sampai puncaknya.


Kata-kata itu terngiang dia kepala Abby. Sampai satu fakta menampar kesadarannya. Puncaknya itu berarti tepat di hari meninggalkannya orang tua mereka. Dan itu adalah tanggal kelahirannya.


"Ya, Nona. Itu benar." Jawab Lina jujur. Namun dia langsung melanjutkan ucapannya karena tak ingin Abby merasa semakin sedih, "dan kepergian mereka bukankah karena Anda, Nona. Itu sudah takdir. Mohon jangan bersedih!"


Takdir? Abby berdecih dalam hati.


Sekarang dia mengerti dengan teka-teki yang seperti rumus di otaknya. Alasan Juna pernah membencinya dulu, atau mungkin masih membencinya sampai sekarang. Itu bukan semata-mata karena tingkah laku Abby yang memalukan nama keluarga, tapi lelaki itu memiliki luka yang teramat dalam tentang masa lalu. Dan Abby adalah salah-satu penyebabnya.


. . .


Tenang, sejuk dan sepi. Itu adalah suasana yang sudah lama tak Juna dapatkan selama beberapa minggu terakhir ini. Lelaki dewasa itu berdiri di tengah bukit indah milik keluarganya. Menatap ke arah depan yang memperlihatkan pemandangan kelap-kelip bangunan kota yang terlihat begitu kecil di matanya. Sesekali, angin pagi menyapa rambut dan ujung pakaiannya, sehingga mereka berayun mengikuti arah angin yang membuai.

__ADS_1


Merenung seorang diri adalah hal yang selalu ingin dia lakukan kala rasa sedih, marah dan kecewa bergumul di dalam hatinya. Padahal, sudah cukup lama dia tidak merasakan hal ini karena begitu fokus pada pemulihan dan perubahan Abby. Dan hatinya kembali bergemuruh tidak nyaman saat nama adiknya terlintas di kepala.


"Abbysca.."


Abby adalah adiknya. Saudara kandung yang berbagi aliran darah yang sama dengannya. Juna juga tak pernah benar-benar membencinya, meski itu saat Abby tengah bertingkah gila mengejar Gara dan mempermalukan dirinya sendiri. Apalagi saat ini kala keduanya semakin dekat dan sering berbagi pikiran dan sapaan ringan. Namun entah mengapa perasaan seperti itu selalu tiba-tiba muncul saat Juna mengingat orang tua mereka.


Juna tak munafik kalau dirinya pernah menyalahkan Abby atas apa yang terjadi pada ayah dan ibu mereka. Juna pernah mengutuk Abby dalam hati agar mendapatkan balasan atas apa yang sebenarnya tak pernah benar-benar gadis itu buat. Juna bahkan pernah mengharapakan kematian Abby agar adiknya itu merasakan hal yang sama dengan apa yang orang tua mereka dapatkan. Dan itu adalah pikiran terdalam Juna, perasaannya yang paling kotor yang dia simpan rapat-rapat agar tak pernah kembali muncul ke permukaan.


Karena dia tahu, bahwa pemikiran itu datang bukan dari hati dan otaknya. Tapi dari emosi dan kemarahannya yang tertahan.


"Aku tahu kalian sudah tenang di sana. Aku juga tahu kalau kalian ingin kami hidup rukun dan bahagia layaknya seorang saudara. Tapi maaf, aku belum bisa melupakan alasan kalian pergi untuk selama-lamanya." Juna menatap ke arah langit, di mana kegelapan tadi kini tengah berganti dengan cahaya mentari pagi. Namun dia masih dapat melihat beberapa bintang yang nampak bersinar, itu tak terkalahkan meski sinar matahari sudah mulai naik ke permukaan.


Dan seperti itulah posisi keluarganya dalam hati Juna. Ayah dan ibunya akan tetap bersinar di dalam hati, menjadi panutan dan kebagian tersendiri. Tak akan tergantikan meski kebaikan Abby kini datang dan perlahan ikut menyelimuti.


Perlahan, air mata turun membasahi pipi. Dan Juna hanya membiarkan tanpa berniat untuk menghapusnya. "Aku merindukan kalian. Tolong, setidaknya hadirlah dalam mimpiku."


. . .


TBC


Hallo, selamat pagi semua. Semoga kesehatan dan keselamatan selalu menyertai kita semua.


Saya kembali dengan bab terbaru. Maaf karena harus memberikan scene yang mengandung bawang di pagi hari. Saya hanya ingin teman-teman memandang sisi lain dari seorang Juna. Hehe.


Terimakasih untuk dukungan dan cinta dari teman-teman pembaca setia. Sayang kalian banyak-banyak. Jangan lupa vote! ^_^

__ADS_1


Salam,


Nasal Dinarta.


__ADS_2