Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Akan Kulakukan Semuanya Untukmu


__ADS_3

Di saat berita tentang Abby muncul dan menjadi berita utama di mana-mana, Gara tidak bisa diam begitu saja dan langsung menyuruh bawahannya untuk melakukan sesuatu. Laki-laki itu bahkan membatalkan rapat penting yang akan menghasilkan miliyaran rupiah dan memilih menyelidiki sendiri kasus yang terjadi agar Abby tidak semakin jauh terseret pada sesuatu yang tidak dilakukannya.


Meski baru mengenal lebih jauh sosok Abby belakangan ini, namun keduanya sudah lama terikat status pertunangan, hal yang membuat Gara mau tidak mau mengetahui beberapa hal tentang gadis itu termasuk sifatnya. Jadi sudah dapat disimpulkan bahwa tidak mungkin Abby dibalik kejadian ini. Lagipula, tunangannya itu tidak bodoh merencanakan sesuatu yang akan merugikan dirinya sendiri.


Langkah Gara begitu tergesa dengan sebuah ponsel di telinganya, terlihat serius saat berbicara dengan lawannya. Sedangkan Mahen nampak terburu-buru mengikuti langkah atasannya tanpa berani menyela sedikitpun. Dilihat sebentar pun dia tahu kalau suasana hati Gara sedang tidak baik saat ini.


"Bagus, kalian harus bisa menahannya di sana dan jangan biarkan dia memiliki kesempatan untuk melarikan diri!" Gara menutup teleponnya dan beralih untuk menghubungi yang lain. Namun pergerakannya harus terhalang saat menyadari seseorang yang menghadang jalannya.


Raut wajah Gara yang dingin terlihat semakin dingin, membuat Manda yang tadinya berani kini sedikit ketakutan. "Minggir!"


Gara mengambil jalan yang lain dan melewati Manda yang tengah menatapnya penuh pengharapan begitu saja. Namun sialnya lagi, perempuan berambut pirang itu cukup keras kepala dan kembali menghadang langkah Gara.


Setelah menghela nafas menyerah, Gara sedikit mengalah, "apa maumu?" jika pihak lain tidak bisa diajak kerjasama setelah ini, maka jangan salahkan Gara jika dirinya melakukan tindakan kasar.


"Tinggalkan Abbysca!" kata itu terucap juga setelah beberapa detik mengumpulkan keberanian.


"Apa?" Gara memandang Manda seolah dia tengah melihat seorang idiot tak tahu malu. "Coba ulangi!" udara di sekitar laki-laki itu terasa semakin dingin dan membuat punggung Mahen hampir berkeringat. Berani sekali perempuan ini mengatakan kalimat terkutuk seperti itu di depan Gara yang begitu memuja tunangannya lebih dari apapun.


"Tinggalkan dia, Gara! tinggalkan Abbysca. Lihatlah apa yang dia lakukan, itu hanya kekacauan. Dan kamu bisa saja terkena imbasnya jika tetap berada di sisinya." Manda mencoba memperlihatkan wajah tenang dan berujar dengan penuh percaya diri, "apa yang akan kamu dapatkan dari seseorang yang tidak ada gunanya seperti dia? hanya mengandalkan kecantikan dan latar belakang keluarganya yang kaya raya, apa dia bisa bersikap tolol dengan meracuni orang lain dan membuat kegaduhan seperti ini? kamu se-"


Plak!


Satu tamparan keras sudah cukup untuk membungkam mulut kotor Manda. Netra elang milik Gara menajam seolah bisa membunuh siapapun dengan tatapannya itu. Bagaimana mungkin dia dia akan diam saja saat ada seseorang yang menghina dan merendahkan orang terkasihnya di hadapannya sendiri?


"Betapa beraninya!" Gara berujar rendah sambil menatap Manda yang tengah memegang pipi kirinya dengan raut kesakitan, terkejut dan rasa tak percaya.

__ADS_1


"Ka..kamu menamparku hanya demi perempuan ****** itu?" teriakan itu menggema di sepanjang lorong lantai satu yang hampir menyatu dengan aula utama perusahaan. Tak ayal, semua karyawan yang kebetulan sedang melakukan sesuatu di sana langsung memberikan perhatian. Namun mereka tak berani menatap dengan terang-terangan, hanya sesekali melirik kemudian kembali melakukan pekerjaan. Mereka takut membuat sang atasan lebih murka dari ini.


Seolah belum cukup, teriakan nyaring itu kembali terdengar karena Gara melayangkan tamparan yang lebih keras dari sebelumnya.


"Jika aku mendengar lagi ucapan seperti itu dari mulut kotormu, maka perusahaan keluargamu benar-benar hanya akan tinggal nama. Dengar itu, ja..lang!" Gara menekankan kata terakhir agar perempuan itu sadar bahwa dirinyalah yang pantas mendapat gelar tersebut.


"Seret orang ini pergi! jika kalian kembali membuatnya masuk ke perusahaanku, maka silahkan cari pekerjaan lain!" Laki-laki itu melirik empat petugas keamanan yang sejak tadi berdiri di dekatnya, menunggu perintah. Maka setelah mendengar ucapan Gara, mereka dengan cepat menyeret paksa kedua tangan Manda.


"Gara! Gara dengarkan aku!"


"Gara, aku lebih tulus mencintaimu daripada perempuan itu!"


"Sagara!"


Gara tidak peduli dan riak wajahnya tak berubah sedikitpun, begitu dingin dan tak tersentuh. Tanpa kata, dia kembali melanjutkan langkah dan memasuki mobil yang sudah disiapkan. Membiarkan para bawahannya menahan nafas dengan keringat dingin yang bercucuran. Aura orang itu benar-benar menyeramkan.


"Gara, kamu baik-baik saja?" suara itu terdengar datar namun menyiratkan kekhawatiran yang nyata.


Dengan raut menyesal Gara menjawab, "maaf kamu harus mendengar ini, tapi tolong abaikan saja ucapan perempuan itu!" dia takut kalau hal tersebut akan menambah beban pikiran Abby.


Sedikit kekehan terdengar, "apa yang dia katakan ada benarnya Gara. Kamu hanya akan mendapat keburukan jika terus bersamaku."


Tangan yang sedang menggenggam ponsel itu mengerat, hampir mengepal saat mendengar suara Abby yang tak berdaya di ujung sana.


"Jangan banyak bicara yang tak perlu. Kamu hanya perlu diam dan menunggu aku menyelesaikan semua ini untukmu." Gara yakin bahwa kasus ini akan selesai hanya dalam hitungan hari mengingat cepatnya mereka bekerja untuk mencari bukti, "aku akan segera menemuimu malam ini."

__ADS_1


"Ya, aku menunggumu."


Tak terduga, bahwa kalimat itu mampu membuat suasana hati Gara menjadi lebih baik.


. . .


Sedangkan Juna yang tengah menghadapi suasana yang sama, hanya diam di balik meja kerjanya dengan tatapan malas dan datar miliknya. Tak tahu apa yang sedang dia pikirkan, namun sepertinya itu bukan hal yang baik jika melihat dua orang yang berdiri kaku di depannya.


"Saya sudah menyelidiki ini, Pak. Dan dapat dipastikan bahwa Nona Abbysca bukanlah otak dari kekacauan ini. Sepertinya pihak lain memang sengaja menjebaknya untuk membuat nama Nona menjadi jelek." Damar mengucapkan itu dengan yakin dan sepenuh hati. Selain karena dia telah menemukan beberapa fakta yang membuktikan Abby tidak bersalah, dia juga tahu dengan pasti bahwa adik dari atasannya itu tidak akan memiliki niat buruk seperti itu.


"Benar, Pak. Saya setuju dengan Damar. Meski tidak terlalu terlihat ramah, tapi Nona Abbysca tidak mungkin terlibat di dalamnya." Ekspresi dan intonasi nada Andita begitu lembut dan mengesankan saat berbicara meski yang dia ucapkan seperti tengah memojokkan pihak yang tengah dibicarakan. Hal yang membuat Juna mengangguk namun membuat Damar mengernyit heran. Pemuda itu diam-diam menatap Andita dari ujung matanya sambil bertanya dalam hati, haruskah kamu mengatakan hal tentang itu?


"Sebenarnya aku tidak terlalu peduli, namun orang itu menyandang nama belakang yang sama denganku. Tetap pantau perkembangan kasus ini. Dan jika dia terbukti salah, maka tidak akan ada toleransi lagi untuknya di masa depan." Kata Juna dengan acuh namun menyiratkan kemarahan.


Dalam hati dia tidak bisa tidak berpikir bahwa yang bisa dilakukan Abby hanyalah membuat kekacauan, "benar-benar tidak berubah."


Damar mengangguk, "baik Pak, saya mengerti."


Sedangkan Andita hanya menunduk patuh, menyembunyikan senyum mengejek di sudut bibirnya. Diam-diam memuji rekan kerjanya yang dapat bekerja lebih cepat di tempat lain.


. . .


TBC


Terimakasih,

__ADS_1


Nasaldinarta.


04/08/2023


__ADS_2