
"Apa aku berbuat salah?"
Juna otomatis menghentikan langkahnya yang akan menuju pintu kamar. Lelaki yang terlihat lelah itu menoleh ke samping dan menemukan Abby yang tengah berdiri di dekat tiang, seperti sengaja menunggu kedatangannya.
Ini sudah pukul dua belas malam lebih, dan wajah adiknya terlihat segar, tak ada tanda-tanda mengantuk sedikitpun. Hanya beberapa detik Juna menatap, karena setelahnya lelaki itu kembali memandang ke arah depan, meski hanya daun pintu berwarna cokelat yang dapat dia lihat.
"Ini masih terlalu dini untuk mengigau. Kembalilah ke kamarmu!" ujarnya dengan datar, lalu kembali melanjutkan langkah seolah tak ada yang salah.
"Apa aku menyinggung perasaan Kakak?" tanya Abby ulang dengan kalimat yang lebih baik.
Tangan Juna yang akan membuka kenop pintu, tertahan dengan otomatis. Dalam hati, dia mengulangi ucapan Abby barusan. Apa adiknya itu berbuat salah? atau menyinggung perasaannya?
Tak lama, kekehan yang tidak mengenakan terdengar. Tanpa harus melirik ke arah sang adik, Juna berujar. "Sejak awal, semuanya memang sudah salah."
Wajah tampan itu mengadah, menatap lampu kristal yang menggantung di depan pintu kamarnya. "Tahukah kamu apa yang kusesali saat ini?"
Abby diam, benar-benar diam. Tak pernah menyangka jika dia akan menemui sosok Juna dengan perangai lama, begitu mengejutkan. Aura yang dikeluarkan lelaki itu juga dingin dan tak mudah didekati, seolah Juna yang dia kenal setengah tahun ini hilang begitu saja.
Dua tangan kecil itu mengepal di sisi tubuh, sedangkan netranya yang bulat memancarkan sedikit kekhawatiran. Dengan hati yang berdegup, perempuan itu membiarkan Juna menjawab sendiri pertanyaannya.
Perlahan, Juna menatap lekat sosok Abby. Membuat dua mata berwarna mirip itu saling memandang. "Memberimu kesempatan."
Deg.
"Seharusnya aku mengerti, bahwa sampai kapanpun hitam tidak akan pernah menjadi putih."
Tatapan itu begitu tajam, sampai Abby tak mampu menahan matanya agar tidak berkaca-kaca. Hatinya terasa sakit, seolah tersayat benda tajam tak kasta mata. Matanya yang memerah dan memburam tak berpaling sedikitpun dari Juna, dia tengah mencari sesuatu yang disebut dengan kebohongan di sana. Namun sayang, hatinya kian perih kala mendapati kejujuran. Juna tak berbohong saat mengatakannya.
Abby menahan sesak di dadanya, "tolong katakan dengan jelas, Kak. Aku tidak mengerti." Menghembuskan nafasnya agar suaranya tak tersedak oleh air matanya sendiri. "Aku..aku minta maaf atas kesalahan yang aku perbuat. Tapi sungguh.." Abby menunduk saat air matanya jebol, "aku tidak tahu di mana letak kesalahanku."
Abby yang menangis tanpa isakan, dan Juna yang hanya diam memandang. Untuk beberapa detik, tak ada lagi yang bersuara di antara mereka.
__ADS_1
"Palsu.."
Abby mendongak sembari menghapus air matanya kasar dengan punggung tangan, dia menunggu ucapan Juna yang mungkin saja akan lebih menyakiti perasaannya.
"Air mata palsu." Lanjut Juna. Matanya menatap wajah adiknya yang basah dengan pandangan datar. Tak tergerak sedikitpun untuk menghapusnya.
Juna mengalihkan pandangan saat merasakan dadanya seperti tengah dihimpit oleh sesuatu. "Simpan itu semua untuk nanti. Siapa tahu kamu akan membutuhkannya di masa depan."
Setelahnya, hanya suara pintu kamar yang ditutup dengan agak keras yang mengisi gendang telinga Abby. Perempuan itu menatap nanar kepergian Juna.
Abby tidak mengerti. Dia tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Ada apa dengan Juna? setahunya, semuanya baik-baik saja terakhir kali. Jika dipikirkan kembali pun, Abby tak mampu mengingat kesalahan mana yang dia perbuat sampai Juna semarah ini.
Juna yang seperti itu, sungguh membuatnya merasa kecil dan tidak berguna.
. . .
"Oh? benarkah?"
Gara memandang dokter pribadi ayahnya dengan mata yang berbinar sekaligus terkejut.
Orang-orang terdekat? siapa? hanya ada dua perawat yang setia melayani sang ayah, juga dirinya yang akan datang menjenguk dua minggu sekali. Lalu, siapa?
Gara berpikir keras sampai dia menemukan jawaban yang membuat hatinya berdegup.
Abby?
"Maksud Anda..ini semua dipengaruhi oleh Abbysca?" menyebut nama tunangannya sendiri seolah perempuan itu adalah orang lain.
Sang dokter mengangguk sembari tersenyum kecil. "Itu kemungkinan besarnya. Saya lihat, Nona Abbysca memiliki perangai hangat dan menyenangkan. Anda juga bilang sebelumnya kalau dulu, Nona Abbysca begitu dekat dengan ayah Anda. Sepertinya, ada satu kenangan indah yang menempel di ingatan pasien saat melihat Nona Abbysca. Maka dari itu, pasien tidak keberatan dan terlihat nyaman saat bersama Nona Abbysca." Jelasnya dengan panjang lebar.
Gara terdiam sejenak, memikirkan ucapan dokter yang terasa jauh dari nalarnya. Benarkah ini semua hanya karena kehadiran Abby?
__ADS_1
Dia akui, selama dua minggu terakhir ini, ayah dan tunangannya itu cukup dekat. Abby bahkan hampir setiap hari menjenguk ayahnya, ada atau tanpa ada dirinya di sana. Dari yang dia dengar, perempuan itu mampu membujuk sang ayah untuk makan tepat waktu, juga sering mengajaknya bicara di area luar yang memiliki udara segar.
Jika menang benar pengaruh Abby sebesar ini, bukankah keputusan Gara untuk segera mengikat Abby adalah hal yang benar? dia tidak berpikir untuk memanfaatkan Abby, dia hanya tidak ingin kehilangan sosok yang benar-benar membuat ayahnya nyaman seperti ini.
Di sisi lain, kesembuhan ayahnya adalah harapan terbesar yang dia miliki saat ini.
. . .
"Kamu sudah mulai bergerak. Bagus."
"Aku sudah bilang kalau aku akan bergerak jika aku ingin. Bukan karena menuruti keinginanmu." Tegas si pemuda berparas tampan pada lelaki paruh baya di depannya. Tak ada kata sopan atau sikap penghormatan dari ucapannya meksi perbedaan usia keduanya begitu jauh.
Lelaki paruh baya yang mengenakan tongkat itu terkekeh kecil, seperti senang akan sikap yang ditunjukkan lawan bicaranya.
"Kamu juga memiliki seorang pion yang bagus."
"Ya, aku beruntung karena dia mempermudah segalanya. Dengan begitu, bukankah kehancuran itu tepat di depan mata?" matanya menyiratkan dendam yang sudah menggunung meski raut wajahnya terhitung datar.
"Bukankah itu adalah kebahagiaan yang kamu cari?" si lelaki paruh baya kembali menimpali.
"Tentu. Dan itu akan segera terjadi."
. . .
TBC
Selamat siang. Apa kabar teman-teman? semoga sehat selalu. Saya kembali lagi dengan bab terbaru.
Maaf dan terimakasih buat teman-teman setia pembaca yang begitu murah hati menunggu kelanjutan cerita ini. Maaf belum sempat membaca dan membalas komentar dari teman-teman.
Saya sangat menyayangi kalian. ^_^
__ADS_1
Salam,
Nasal Dinarta.