
Sore hari di kediaman Anggara. Saat itu, Abby tengah menatap televisi di depannya. Layar lebar itu tengah menayangkan kartun seorang putri berambut panjang yang tinggal di menara tinggi seorang diri. Ceritanya cukup menarik karena sang ibu angkat akan menjenguk dan melihatnya setiap hari meski si putri harus menurunkan rambut panjangnya agar ibunya bisa memanjat dan sampai di atas sana. Dia tak pernah mendengar dongeng dengan cerita seperti ini dulu.
Di pelukannya terdapat toples berisi keripik kentang dengan bumbu pedas manis buatan Lina yang akhir-akhir ini cukup dia gemari. Sesekali, tangan kanannya akan mengambil makanan tersebut dan mengunyahnya dalam diam. Sedangkan matanya tidak sedikitpun beralih dari tontonan di depannya.
Hidupnya benar-benar terbilang mudah dan nyaman di sini. Dia tidak harus berperang, tidak harus membunuh, tidak harus memakai topeng, juga tidak perlu berlebihan dalam menjaga sikap demi nama baik keluarganya. Orang-orang di zaman ini memang lebih terlihat tidak peduli dengan urusan orang lain, namun bukan berarti mereka buta dan tidak bisa mengomentari apa yang mereka lihat. Hanya saja, mereka terlalu sibuk mengurusi takdir hidupnya sendiri.
Mengingat bagaimana dia bekerja keras di dunianya dulu, Abby sedikit meringis. Hal bermanfaat apa yang telah dia lakukan sejak bangun di dalam tubuh wanita asing ini? lalu, kapan dia bisa menemukan penyebab dirinya terdampar di sini? tidak mungkin semua ini hanya kebetulan semata bukan? rasanya agak janggal jika jalan hidupnya semulus ini. Apalagi, dia belum tahu tentang kebenaran si pemilik tubuh. Apakah jiwa Abbysca Anggara memang sudah pergi atau hanya bersembunyi? menunggu waktu yang tepat untuk memperlihatkan diri.
Tanpa sadar Abby menghela nafas kasar dengan kening yang mengerut dalam. Cukup lama dia berekspresi seperti itu sampai merasakan usapan lembut dari jemari besar seseorang di keningnya.
"Haruskah berpikir rumit seperti itu saat yang kamu tonton hanya sebuah kartun?" Itu Juna yang kini tengah menatapnya aneh.
Abby berkedip beberapa kali. Sejak kapan kakaknya ada di sampingnya? "Kakak sudah pulang?" tanya gadis itu retoris.
"Aku bahkan sudah mandi dan berganti baju. Jadi, kamu pikir aku baru tiba barusan?" Juna membuat posisinya agar lebih nyaman. Lelaki itu merapat ke arah Abby dan ikut masuk ke dalam selimut milik adiknya, sehingga kini tubuh bagian atasnya terasa hangat. Ini memang salahnya karena mandi menggunakan air dingin di saat cuaca sedang hujan deras.
Dulu, Abby akan merasa canggung jika keadaan mengharuskannya untuk berdekatan dengan Juna. Selain karena pemilik asli tubuh memang tidak terlalu dekat dengan sang kakak sejak lama, dirinya yang hidup di zaman dulu terbiasa hidup sendiri tanpa keluarga. Namun sekarang, dia merasa baik-baik saja.
__ADS_1
Abby ikut bersandar pada sofa seperti apa yang Juna lakukan, kemudian tangan mungilnya melingkar di lengan kekar sang kakak tanpa mengucapkan apa-apa. Sedangkan Juna hanya melirik sekilas ke arah bahunya, setelah itu dia kembali menatap layar televisi. Dia bahkan membiarkan Abby yang kini tengah memainkan jemarinya dengan iseng.
Abby tiba-tiba tertawa, membuat Juna mengernyit sembari menoleh, "ada apa denganmu?"
"Aku baru sadar kalau selama ini aku tidak pernah melihat Kakak berkencan." Perempuan itu mengangkat tangannya sendiri dan juga tangan Juna yang masih berada di dalam genggamannya. "Lihatlah! jariku sudah terisi cincin pertunangan meski aku tidak yakin bagiamana ke depannya. Tapi punya Kakak begitu kosong. Apa Kakak tidak punya kekasih?"
Juna mendengus geli,"aku belum berpikir ke arah sana." Lelaki itu menjawab dengan asal.
"Wah, bagaimana mungkin? usia Kakak saja bahkan tidak beda jauh dengan Gara. Aku jadi curiga kalau Kakak menyembunyikan sesuatu selama ini." Mata gadis itu menyipit, menatap ke arah Juna dengan tatapan menuduh.
"Terkadang aku meragukan selera panggilanmu. Kamu tahu bahwa aku dan Gara berusia sama, tapi kamu malah memanggilnya dengan nama alih-alih dengan panggilan 'kakak' seperti padaku." Juna malah membahas hal lain, kentara sekali kalau lelaki itu menghindar pembahasan yang Abby angkat.
"Wah, coba dengar! siapa yang baru saja bicara." Juna malah menimpali dengan bercanda. Namun itu tak lama, karena setelahnya dia melanjutkan ucapannya, "aku akan memikirkan itu setelah kamu bahagia dengan pilihanmu nanti."
Abby tertegun di tempatnya. Hatinya menghangat mendengar ucapan Juna yang tak seberapa namun mengandung makna yang luar biasa. "Aku tidak tahu kalau Kakak berpikiran ke sana." Seingat pemilik tubuh, Juna merupakan sosok yang begitu jauh untuk dijangkau meski mereka terikat darah persaudaraan. Namun sekarang, Juna malah bersikap seolah mereka memang sedekat itu.
"Aku banyak melakukan kesalahan di masa lalu padamu. Bersikap abai dan hanya fokus pada kepentinganku sendiri. Padahal ada kamu yang membutuhkanku." Tubuh lelaki itu agak tegang saat mengingat betapa kurang ajarnya dia dulu pada Abby. Jika dipikir kembali, dia tidak ada bedanya dengan Gara yang tak pernah menghargai usaha Abby saat mendekati mereka. Syukurlah, kini kewarasannya kembali. Meski dia mengakui kalau sikapnya yang seperti itu memang karena Abby yang perlahan berubah menjadi orang yang lebih positif.
__ADS_1
Abby menggeleng, tangannya semakin mengerat memeluk lengan kanan kakaknya. "Aku yang banyak melakukan kesalahan. Aku selalu bertindak sembarangan dan tak memikirkan dampak ke depannya. Aku begitu egois dan membuat rugi banyak orang. Maaf." Kata maaf yang keluar dari mulut Abby bukankah bualan semata. Dia memang menyesal dengan apa yang telah dilakukannya dulu, meksi itu bukanlah dirinya. Sepertinya, kewarasan Abbysca Anggara dulu memang hanyalah sebesar biji jagung yang kering. Akan hilang jika tertiup angin.
Lengan kiri Juna naik, hanya untuk mengusap kepala Abby yang masih bersandar di bahunya. "Kamu harus bahagia dengan jalan yang kamu ambil. Jangan terlalu memaksakan diri. Tinggalkan Gara jika ucapannya hanya omong kosong nanti!"
Dilihat dari sisi manapun, semua orang sepertinya paham kalau Gara sedang memulai perjuangannya kini. Menggantikan peran Abby dulu saat sedang berusaha memperjuangkannya. Ucapan sungguh-sungguh lelaki itu memang sesuai dengan tindakan tegasnya akhir-akhir ini. Gara membuat dirinya menjadi pribadi yang lebih hangat dan terbuka hanya untuk Abby.
Namun untuk Abby sendiri, itu masihlah dalam tahap wajar. Apa yang Gara lakukan belum seberapa jika dibandingkan dengan perjalanan Abbysca Anggara selama lima tahun terakhir. Tapi bukan berarti Abby tidak menghargai usaha Gara. Dia tentu akan melihat, sejauh apa keseriusan Gara ke depannya. Dan Abby tidak akan segan untuk pergi jika pada akhirnya dia harus kembali terluka.
"Aku akan bahagia meski itu bukan dengan Gara. Dan Kakak harus bahagia dengan pilihan Kakak nanti."
. . .
TBC
Selamat pagi. Terimakasih atas dukungan dan cinta dari teman-teman setia.
Jangan lupa vote dan komentarnya!
__ADS_1
Salam,
Nasal Dinarta.