Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Kedatangan Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Sebuah perdebatan kecil yang sayangnya tak mau berhenti sejak pagi menyongsong di ruangan pasien itu cukup membuat Abby kewalahan. Meski begitu, dia tidak berniat untuk melerai. Hanya diam sembari menatap malas ke arah mereka.


"Kenapa kamu malah memberinya makanan seperti itu?" tunjuk Juna pada satu boks pizza keju yang tergeletak di atas meja di dekat ranjang pasien.


"Lalu aku harus memberinya apa?" Gara yang biasanya tenang nampak mudah diprovokasi kali itu.


"Tentu saja bubur. Orang sakit harusnya mengonsumsi makanan yang mudah dicerna." Jawab Juna, melirik kantung plastik putih berisikan bubur yang baru saja dibawakan oleh Erik.


"Aku tahu itu, kamu pikir aku bodoh?" Gara mendengus tidak percaya sebelum melanjutkan ucapannya, "lagipula, Abby sendiri yang bilang kalau dia tidak mau makan bubur. Daripada dia tidak makan, ya sudah beri saja di makanan lain." Ucapan lelaki itu terdengar masuk akal.


"Kamu-"


"Apa?"


Juna dan Gara masih saling menatap dengan ekspresi kesal yang tak jauh berbeda. Abby sampai geleng-geleng dibuatnya. Sebenarnya, berapa usia mereka?


Pintu diketuk dari luar dengan pelan, dan Abby adalah orang pertama yang menyadarinya. Tak lama, Erik masuk.


"Maaf, Tuan. Di luar, ada dua perempuan yang ingin bertemu." Ucap Erik saat sudah tiba di dekat mereka.


"Siapa?" tanya Juna yang kini sudah menghilangkan raut kesalnya setelah perdebatan singkat dengan Gara. Sedangkan sepasang tunangan yang ada di sana tak mengatakan apa-apa, hanya diam memperhatikan.


"Yang satunya mengaku sebagai teman lama Tuan Gara, lalu yang satunya merupakan putri bungsu dari keluarga Mahesa."


Tiga orang itu sama-sama mengerutkan kening saat mendengarnya. Tamu yang datang sepertinya hanya berkaitan dengan Gara seorang, lalu kenapa mereka malah datang ke tempat ini?


"Seharusnya mereka datang ke tempatku, lalu menemui bawahanku. Bukan malah ke sini." Ujar Gara pada akhirnya, merasa sedikit heran dengan kedatangan dua tamu tak diundang di luar sana.


"Siapa tahu penting, biarkan saja mereka masuk!" Abby memberikan jalan tengah. Perempuan itu bersandar sembari menikmati pijatan tangan Gara di kakinya. Lelaki itu melakukannya tanpa diminta juga tanpa disuruh, jadi Abby akan dengan senang hati menerimanya.


Suara derit kursi yang ditarik dari arah yang berlawanan dengan Gara membuat Abby membuka matanya lagi. Dia menoleh pada Juna yang kini sudah duduk di sampingnya dengan semangkuk bubur hangat di tangannya. Dan Abby tidak bisa untuk tidak mendengus. Dia tidak suka makanan lembek itu.


"Makanlah dulu! setelah ini, kamu boleh memakan pizza. Tapi hanya satu potong." Juna mengambil satu sendok bubur dan mengarahkannya ke mulut sang adik. Mencoba membujuk Abby dengan iming-iming makanan enak, memperlakukan adiknya seolah perempuan itu anak kecil yang nakal.


Abby berkedip dua kali sembari menatap Juna dan bubur di tangan lelaki itu bergantian. Beberapa detik dia terdiam, sampai akhirnya dia membuka mulut dan membiarkan makanan lembut tanpa rasa itu menyapa indera perasanya.

__ADS_1


"Bagiamana, tidak buruk bukan?" tanya Juna saat melihat Abby berhasil menelan makanan itu.


Abby tidak menjawab, hanya mendelik pada Juna dan kembali menerima suapan sang kakak. Sedangkan Gara yang tidak berhenti memijat kaki Abby hanya bisa menatap dalam diam, namun merasa lega karena perempuan itu tidak terlalu keras kepala di saat sakit seperti ini.


"Tuan, mereka datang."


Suara Erik membuat ketiga orang itu menoleh ke arah pintu. Di sana, ada dua sosok perempuan dengan penampilan yang cukup menyakitkan mata, berdiri kaku di belakang tubuh Erik yang tinggi tegap.


Ekspresi di wajah keduanya tidak terlihat baik saat melihat suasana menyenangkan di dalam ruangan. Apalagi dengan sikap yang ditujukan oleh dua lelaki tampan di sana yang memperlakukan Abby layaknya seorang ratu.


Abby tentu tahu siapa mereka. Namun dia enggan untuk sekedar menyapa. Jadi, dia hanya diam sembari memalingkan wajah ke arah lain. Memperlihatkan ketidakpedulian atas kedatangan mereka. Lalu Juna, lelaki itu bahkan hanya menatap kurang dari dua detik sebelum kembali menyuapi adiknya.


Dan Gara, lelaki yang bersangkutan dengan tamu-tamu tersebut tidak banyak memberikan reaksi. Hanya diam di tempatnya, namun matanya tidak lepas dari mereka. Bukan pandangan kagum ataupun bersahabat, tatapan itu jelas mengintimidasi. Gara seolah mempertanyakan kedatangan mereka dan menyuruh dua perempuan itu agar segera menyampaikan maksud dan tujuannya.


"Gara, akhirnya aku bisa melihatmu lagi." Itu adalah seorang perempuan cantik dengan rambut pirang bergelombang, tubuh langsingnya dibalut dengan gaun pendek setengah paha. Penampilannya lebih cocok digunakan untuk pergi ke klub malam alih-alih untuk menemui seseorang.


"Silahkan duduk!" Gara menunjuk sofa di ujung ruangan dengan cukup sopan, begitu formal seolah dia tidak mengenal dua sosok itu.


"Gara, aku-"


"Selamat pagi, Tuan Gara. Maaf jika kedatangan kami mengganggu Anda." Karina yang sejak tadi diam, kini membuka suara. Enggan untuk membiarkan Manda bersikap seenaknya dan menghancurkan rencana yang telah mereka susun.


"Selamat pagi juga, Tuan Juna dan Nona Abbysca. Maaf mengganggu waktu Anda." Lanjut Karina dengan sopan. Tidak peduli dengan Manda yang tengah mencak-mencak di tempatnya karena diabaikan.


"Pagi, Nona Karina. Lama tidak bertemu." Jawab Abby sekedar basa-basi. Tidak seperti Juna yang terlihat mengerutkan alis, seolah bertanya apa mereka saling kenal?


"Dia putri dari keluarga Mahesa, Kakak." Abby menjelaskan. Dan Juna hanya mengangguk ringan saat menatap Karina sebentar, lalu kembali menyuapi adiknya. "Tidak, sudah cukup Kak." Abby buru-buru mencegah Juna, dia benar-benar merasa penuh di perutnya.


"Silahkan duduk, Nona-nona! Kak Erik sepertinya sedang menyiapkan minuman." Abby merasa tidak nyaman saat melihat dua perempuan itu hanya diam berdiri dan menatap ke arah mereka.


Karina yang seperti sadar dari pikirannya sendiri, mengambil tangan Manda dan menuntun perempuan itu agar mengikutinya. Walau bagaimanapun, dia cukup tahu tentang sopan santun pada orang lain.


Terjadi keheningan selama beberapa detik setelah dua tamu itu mengambil tempat di atas sofa.


"Kedatangan saya ke sini karena ingin menyampaikan permintaan maaf pada Nona Abbysca atas sikap saya yang kurang baik saat di pesta tempo hari. Saya benar-benar minta maaf, Nona." Karina terlihat tulus dengan ekspresi wajah yang memang seharusnya ada di sana. Namun siapa yang tahu dengan isi hati manusia. Nyatanya, Karina hampir menggigit lidahnya sendiri saat mengatakan hal itu. Jika bukan karena orangtuanya yang memaksa dia untuk datang langsung dan meminta maaf, dia tentu tidak sudi untuk melakukannya. Karina tak pernah merendahkan diri di hadapan siapapun.

__ADS_1


Gara yang mendengar hal tersebut langsung menoleh pada Abby yang tengah menatap ke arah Karina. Setelahnya, pandangan lelaki itu kembali mengarah ke depan. Terlihat senyuman miring penuh perhitungan di wajah tampannya, hal yang membuat Karina maupun Manda kompak menahan nafas.


"Tentu saja. Seseorang yang melakukan kesalahan memang sudah sepantasnya minta maaf." Timpal Gara dengan nada main-main.


Melihat jika Gara tidak terlalu memusingkan hal yang diberbuatnya tempo hari, membuat Karina merasa besar hati karena lelaki itu memberinya maaf dengan mudah. Pesonanya memang tidak bisa diragukan. Namun itu hanya sesaat, sebelum Gara kembali membuka suara.


"Untuk ukuran seorang keturunan dari Mahesa yang terkenal akan kebijakannya, perilaku Anda begitu kasar. Sungguh disayangkan." Berbeda dari sebelumnya, hawa dingin mulai terasa saat Gara merubah raut wajahnya menjadi lebih serius. "Menyebarkan fitnah di depan umum, merusak nama baik seseorang dan memakan mentah-mentah informasi palsu yang dirumorkan.." Gara melirik Manda dengan tajam saat dilihatnya perempuan itu duduk dengan tidak nyaman di samping Karina, "..Anda benar-benar membuat saya marah, Nona."


Penggalan terakhir dari kalimat Gara seolah menjadi vonis kematian bagi dua perempuan tersebut. Mereka terlihat pucat dengan tubuh yang membeku.


"Terlebih orang yang Anda hina adalah tunangan saya, seseorang yang begitu berarti untuk saya. Jika bukan karena Abby yang meminta saya untuk melepaskan Anda, saya dapat pastikan kalau hidup Anda mungkin tidak akan mudah lagi ke depannya." Senyuman miring di bibir Gara terlihat mengerikan, lelaki itu begitu tertarik saat melihat lawannya tidak dapat melakukan pembelaan sedikitpun.


"Cukup Anda tahu kalau masa depan perusahaan keluarga Anda ada di tangan saya. Jadi, tolong lebih hati-hati ke depannya!" Itu adalah akhir dari kalimat yang Gara ucapkan. Setelahnya, lelaki itu kembali memberikan atensinya pada Abby. "Kamu sudah kenyang?" tanyanya dengan lembut dan penuh perhatian, sangat terbalik dengan sikapnya barusan yang seperti seorang malaikat maut.


Abby yang sejak tadi melihat semuanya dalam diam, cukup terkejut dengan apa yang dia dengar. Perempuan itu menatap Gara dengan lekat, seolah sedang mencari kebenaran dari apa yang lelaki itu ucapkan.


Adalah suatu keajaiban saat melihat Gara mau repot-repot mengurusi hal yang menurutnya tidak penting, apalagi lelaki itu menegaskan hal yang seharusnya tak perlu ditegaskan.


Tunangan saya.


Seseorang yang penting untuk saya.


Apakah Gara mengatakan semua itu untuknya?


. . .


TBC


Selamat pagi, teman-teman. Apa kabar? berjumpa lagi dengan saya setelah lima hari menghilang. -_-


Saya benar-benar minta maaf kalau sudah membuat teman-teman pembaca menunggu. Beberapa hari terakhir ini saya cukup sibuk dengan pekerjaan, dan berakhir dengan sakit karena terus gadang.


Terimakasih untuk dukungan dan cinta yang teman-teman berikan karena tidak bosan untuk menunggu kelanjutan dari cerita ini. Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan. ^_^


Jangan lupa vote dan komentarnya!

__ADS_1


Salam,


Nasal Dinarta.


__ADS_2