
"Kabar mengejutkan datang dari keluarga Anggara, salah-satu pengusaha besar ibukota. Abbysca yang belum lama ini mengelola sebuah restoran lokal harus berurusan dengan kepolisian karena salah-satu pelanggannya mengalami keracunan yang cukup fatal pasca menyantap hidangan di tempat tersebut. Belum diketahui apa penyebab pastinya dan kebenaran dari peristiwa berikut, namun Abbysca sendiri baru saja tiba di kantor kepolisian pusat demi memenuhi permintaan sebagai saksi menyusul para karyawannya yang sudah lebih dulu tiba di sana. Untuk informasi lebih lanjut, tolong tetap ikuti perkembangan berita terkini dari kami."
"Nona Abbysca, bagaimana tanggapan Anda mengenai apa yang terjadi? Apakah ada kemungkinan hal ini disengaja?"
"Nona, apakah benar Anda sedang tidak berada di tempat kejadian saat hal kericuhan itu terjadi atau itu hanyalah pembelaan demi membuat alibi?"
"Nona, ada yang bilang kalau hal ini disengaja oleh seorang oknum karena ingin menghancurkan bisnis Anda. Tolong beri tanggapan Anda, Nona!"
"Nona!"
"Nona, Nona Abbysca?"
"Nona, tolong lihat ke arah sini!"
Abby masih memasang wajah tenang saat melewati kerumunan wartawan yang begitu ganas menyerbunya. Alih-alih ingin mendapatkan informasi, mereka lebih terlihat seperti pemburu gosip yang selalu menelan mentah-mentah setiap isu yang beredar dengan melontarkan kalimat mematikan. Untung saja Erik dan beberapa orang bertubuh kekar begitu setia membimbing setiap langkah Abby dan melindunginya dari hal yang tak diinginkan.
Saat tiba di dalam, Abby disambut dengan wajah para karyawannya yang terlihat mendung, bingung dan juga lesu seperti tak tahu harus bersikap apa. Dari mulai penjaga restoran, para pelayan, asisten dapur sampai kepala koki, semuanya ada di sana. Seperti menunggu kedatangannya. Dan benar saja, mereka terlihat menghela nafas lega saat melihat kehadiran Abby.
"Selamat sore, Pak." Abby menyapa para petugas dan menyalami mereka satu persatu.
Seorang pria paling tinggi berwajah tegas lebih dulu menghampiri Abby, "selamat sore, Nona Abbysca. Terimakasih atas kehadiran Anda karena memenuhi undangan kamu dengan cepat."
"Itu sudah kewajiban saya karena sesuatu yang besar telah terjadi di bawah tanggungjawab saya. Saya bersedia untuk bekerjasama, Pak." Tak ada gunanya melakukan pembelaan diri saat semuanya masih abu-abu seperti ini, yang ada nantinya malah akan menimbulkan kecurigaan yang semakin besar. Jadi, sambil mencari tahu sendiri secara diam apa yang sebenarnya terjadi, bekerja sama dengan aparat kepolisian memang jalan yang paling benar.
__ADS_1
Sorot mata kepala polisi tersebut terlihat lebih bersahabat dari sebelumnya mendengar toleransi Abby. Cukup senang karena pihak lain tidak mencoba untuk membuat situasi menjadi lebih buruk.
"Semua karyawan Anda sudah kami mintai informasi. Menurut mereka, seharusnya ada satu orang lagi yang harus diminta keterangan, namun tak ada yang mengetahui keberadaannya saat ini." Orang tersebut menjelaskan situasinya sembari memimpin jalan untuk yang lain, "mari berbicara di dalam, Nona."
Abby sempat melirik ke arah karyawannya dan memberikan senyuman kecil. Melihat jika sorot-sorot itu begitu gugup namun memperlihatkan udara bersih di sekitarnya, membuat gadis itu sadar kalau mereka memliki kemungkinan paling kecil untuk melakukan semua ini.
"Anda ingin teh, Nona?" tanya Arman saat keduanya sudah duduk saling berhadapan dengan sebuah meja yang menjadi penghalang. Karena tahu pihak lain adalah seseorang dari keluarga ningrat yang berkuasa, Arman tak berani memperlihatkan sikap kasar dan semaunya. Lagipula, gadis muda di depannya ini begitu tenang dan seperti mudah diajak berdiskusi.
Abby menggeleng kecil dan memberikan senyuman, "tidak perlu Pak, terima kasih." Diam-diam melirik ke sekeliling dan menyadari kalau ruangan ini memang cukup menyeramkan untuk sesi diskusi dengan seseorang yang masih berstatus saksi. Namun dia juga semakin sadar kalau hal ini memang biasa dilakukan agar pihak yang diinterogasi mendapatkan sedikit 'tekanan'.
"Baik kalau begitu mari kita mulai." Arman membuka berkas yang sudah tersedia di depannya, "menurut laporan, Anda tidak ada di lokasi saat kejadian tersebut."
Abby mengangguk, "ya, saya sedang berada di kota A."
"Saya menemui kerabat saya yang sudah tua bersama pengawal saya, namanya Erik. Orangnya ada di luar, jadi mungkin Anda bisa menanyakannya secara langsung jika ingin yakin." Gadis itu sedikit menjeda sembari mengerutkan kening sebelum melanjutkan, "terakhir kali saya ke sana adalah dua hari sebelumnya, itupun karena saya ingin meresmikan menu baru yang akan segera dirilis di restoran kami. Ada begitu banyak kamera pengawas di sana, Anda bisa memastikannya sendiri."
Tak ada keraguan sedikitpun dari ucapan Abby, pun dengan ekspresi wajahnya yang tetap tenang tanpa gugup maupun takut. Ciri khas seseorang yang jujur dan tidak menyembunyikan apapun. Arman sendiri merasakan hal itu sejak pertama kali mereka bertemu tadi.
Arman mengangguk lalu kembali menatap berkas, "lalu, seperti yang sudah saya katakan di awal tadi. Ada satu karyawan yang tidak hadir saat kami memeriksa lokasi. Dapatkah Anda memberitahu kami siapa orang tersebut?"
"Sebenarnya saya tidak terlalu mengenali karyawan saya. Namun saat melihat mereka tadi, seharusnya yang tidak hadir adalah Janu, karyawan yang beberapa minggu ini menjadi orang kepercayaan saya. Saya sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengannya, atau alasan apa dia tidak ada di sana. Namun jika memang ini ada kaitannya dengan kejadian, maka saya tidak akan menutupinya. Saya memiliki semua informasi penting dari setiap karyawan yang bekerja untuk saya. Jadi, Anda dapat memeriksanya satu persatu nanti."
Memangnya apa yang Abby takutkan? semua bukti kebenaran ada di tangannya. Jadi, tak ada celah bagi yang lain untuk mempersulitnya semakin jauh. Lagipula, kejadian ini cukup mudah untuk dibaca. Seperti yang Danu katakan sebelumnya, ada orang yang menargetkannya demi menuntaskan rencana mereka.
__ADS_1
Arman sekali lagi mengangguk dan tidak langsung mengatakan apa-apa selain mencocokkan penjelasan Abby dengan keterangan dari orang-orang sebelumnya. Merasa kalau pihak lain tak menutupi apapun, laki-laki pertengahan empat puluh itu kembali menatap gadis di depannya.
"Keterangan yang Anda berikan sangat berarti bagi pekerjaan kami. Untuk itu, saya harap agar Anda tidak keberatan jika ke depannya kami meminta bantuan Anda agar masalah ini segera menemukan titik terang." Pada akhirnya, hanya itu yang dapat Arman katakan saat ini. Dia perlu mencari tahu lebih lanjut dan memastikan sendiri kebenaran dari ucapan Abby.
"Tidak masalah, saya bersedia untuk bekerjasama."
Karena tak ada hal lain yang dapat dilakukan, maka Arman memperbolehkan Abby dan para karyawannya untuk pulang namun harus bersedia diawasi dengan cukup ketat untuk beberapa waktu yang tak dapat ditentukan mengingat status mereka sebagai saksi. Lalu, restoran milik Abby pun harus ditutup lebih dulu sampai kasus ini menemukan jalan keluarnya.
Bagi Abby, mungkin bukan masalah besar. Namun bagi mereka yang menggantungkan hidupnya pada pekerjaan ini tentu akan merasa kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari karena tidak akan ada penghasilan. Maka dengan bijak, Abby memberikan kompensasi sebesar gaji bulanan mereka yang diterima dengan sangat baik oleh orang-orang tersebut.
Sebelum pulang, Abby memberikan beberapa pepatah dan mengingatkan agar tidak melakukan hal yang tidak perlu dan membuat kasus ini semakin rumit. Setelah memastikan yang lain mengerti, gadis itu akhirnya kembali bersama Erik.
Ada kejadian yang hampir melayangkan nyawa di tempatnya, entah apa konsekuensi yang harus dia tanggung nanti.
. . .
TBC
Terima kasih,
nasaldinarta.
03/08/2023
__ADS_1