Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Sedia Payung Sebelum Hujan


__ADS_3

Tepat pukul delapan malam, Abby sedang bergumul dengan puluhan bingkisan kado yang tertata rapi di atas meja ruang keluarga. Kediaman Anggara sudah kembali kosong, damai dan teratur setelah setengah hari digunakan untuk merayakan ulang tahun Abby yang tidak seberapa tersebut.


Padahal, dirinya tidak memiliki banyak teman ataupun kenalan. Tapi hadiah yang datang cukup membuatnya terkejut, mungkin dari kenalan Juna atau Gara. Karena menurut apa yang dia dengar, dua orang itu memiliki banyak kenalan lama.


Sebenarnya, dia tidak terlalu penasaran dengan isi dari kado tersebut. Namun karena banyak orang yang datang untuk mengucapakan selamat dan memberinya doa baik di hari ulang tahunnya, Abby jadi ingin menghargai pemberian mereka.


Tangannya meraih kado berukuran kecil dengan warna biru muda, lalu membukanya dengan hati-hati. Ada sebuah ikat rambut dengan desain sederhana di sana. Alih-alih langsung mengambil ataupun mencobanya, Abby lebih tertarik pada secarik kertas kecil yang terlampir di sana.


Aku bingung ingin memberimu apa karena kamu telah memiliki segalanya. Namun aku beberapa kali melihatmu kesusahan saat makan karena poni rambutmu yang selalu terurai ke depan. Tolong pakai sesekali benda murahan itu.


Aku sedang berada di luar kota. Jadi aku tidak bisa datang menjengukmu saat sakit, aku juga tidak bisa menghadiri undangan dari kakakmu.


Selamat ulang tahun Abby, aku berharap apa yang kamu inginkan akan segera tercapai. Juga, semoga kesehatan selalu menyertaimu.


Temanmu,


Elang.


Abby tersenyum kecil setelah selesai membacanya. Sudah berapa hari dia dan Elang tak bertemu secara langsung? mereka hanya sempat bertukar pesan.


Perempuan itu mengambil ikat rambut yang masih berada di dalam kotak, lalu memakainya di hitungan kedua. Rambut panjangnya yang tadi tergerai, kini menyatu dalam satu ikatan. Memperlihatkan leher jenjangnya yang putih dan bersih. Abby mengangguk, cukup senang karena benda itu berguna lebih cepat dari apa yang dia sangka.


"Kamu tersenyum hanya karena mendapatkan ikat rambut yang harganya setara dengan sebungkus permen itu?" suara yang sangat Abby kenal mengudara di sana.


"Kakak."


Juna terlihat menawan dengan pakaian santainya. Lelaki itu sepertinya baru selesai membersihkan diri, rambutnya terlihat agak basah dan segar.


"Entah kenapa aku lebih suka kamu menggerai rambut daripada diikat seperti ini." Komentar Juna setelah dirinya duduk di samping adiknya. Jemari panjangnya mengambil sejumput rambut Abby yang sudah menjadi satu, lalu mengelusnya pelan. "Dan sepertinya Gara akan setuju denganku." Lanjutnya dengan suara lebih pelan.


Abby yang bingung hanya meliriknya pelan, namun tidak mengatakan apa-apa. Netra perempuan itu beralih pada benda yang Juna bawa. "Apa itu?"


Juna mengikuti arah mata sang adik dan langsung ingat dengan tujuannya menghampiri Abby. "Oh, ini untukmu."


"Untukku?"


Lelaki itu mengangguk.


"Apa ini hadiah ulang tahun?" tanya Abby lagi.


Kali ini Juna menggeleng sembari terkekeh. "Kado untukmu sudah aku simpan di dalam kamarmu. Ini hanyalah sebuah foto. Tapi aku rasa kamu akan menyukainya."


Abby membuka kertas cantik yang membungkus benda tersebut. Dan langsung tertegun saat melihat potret sebuah keluarga di sana. Ada ayah, ibu, juga dua orang anak dengan jenis kelamin berbeda.


"Itu foto lama, jadi aku memperbaikinya agar memiliki kualitas gambar yang lebih baik." Juna ikut menatap foto tersebut, "Papa dan Mama terlihat muda, mereka begitu menawan. Bukan begitu?"


Abby hanya bergumam sebagian jawaban. Namun matanya tidak lepas dari wajah-wajah yang ada di sana, jemarinya pun turut mengusap halus permukaan foto tersebut.

__ADS_1


Perempuan itu terlihat tenang untuk sesaat, sampai tiba-tiba menegang hanya karena pandangannya jatuh pada sosok gadis kecil yang sedang duduk di pangkuan Juliana. Cukup lama Abby terpaku dengan raut wajah yang rumit.


"Dulu kamu sangat menggemaskan." Juna ikut mengomentari saat sadar kalau Abby begitu terpaku pada anak perempuan di dalam foto. Tidak peduli kalau perkataannya itu malah membuat sang adik kalang kabut.


Dengan suara yang agak bergetar, Abby bertanya. "Ini..aku?"


Kerutan kening terlihat di kening mukus lelaki itu, merasa heran karena Abby tak bisa mengenali wajahnya sendiri saat kecil. "Ya, tentu saja kamu. Aku tidak memiliki saudara perempuan lain selain kamu." Jawab Juna.


Abby tak mampu merespon untuk sesaat. Kenyataan yang dia dengar membuatnya kehabisan kata-kata. Matanya masih menatap lekat pada wajah anak perempuan yang ternyata adalah dirinya tersebut.


"Kenapa kamu sendiri? tidak bergabung bersama yang lain?"


"Mereka berisik."


"Apa di dalamnya ada makanan enak?"


"Permen, aku suka permen."


"Siapa namamu?"


"Aku tidak tahu."


"Pasti sulit untuk Kakak."


"Bandul kalung itu akan memudar seiring waktu."


"Apa?"


Bagiamana mungkin dua sosok yang sama bisa bertemu dan saling berhadapan dalam rupa dan usia yang berbeda?


Abby merasa akan gila.


. . .


"Apa Kakek yakin Abby mau menerima pemberian murahan seperti itu?"


Elang menatap Danu yang baru bergabung bersamanya di atas dipan, tepat di depan rumah tua bergaya khas tradisional yang kini menjadi salah-satu tempat favoritnya.


Sedangkan di samping mereka, terdapat sebuah rangkai bangunan dengan ukuran yang lebih besar dari rumah tua tersebut. Rumah yang sedang mereka buat atas permintaan Danu. Entah untuk siapa lelaki tua itu membangun rumah sederhana di tengah hutan, yang tempatnya cukup jauh dari pemukiman warga setempat.


"Bukankah itu pilihanmu sendiri? kenapa malah bertanya pada Kakek? Kakek hanya memberikannya saja." Jawab Danu dengan tenang. Dia tidak terlihat lelah meski baru tiba dua jam yang lalu dari ibukota dan langsung membersihkan diri sebelum duduk bersama cucunya.


Elang mencebik pelan, "apa kadoku terlalu buruk ya?" dia bertanya pada diri sendiri.


"Dia pasti sudah memakainya sekarang."


"Benarkah? kenapa Kakek terlihat yakin?"

__ADS_1


Danu hanya meliriknya sebentar sebelum menjawab, "benda itu akan cukup berguna di masa depan."


Sebenarnya Elang ingin kembali meminta penjelasan, namun saat melihat wajah Danu yang begitu serius saat menatap bangunan rumah yang belum sepenuhnya rampung di samping mereka, Elang jadi ingin menanyakan hal lain.


"Omong-omong, untuk siapa rumah ini dibangun Kek?"


Danu tidak langsung menjawab, netra tuanya terlihat seperti menerawang jauh ke masa depan dengan ekspresi yang rumit. "Untuk seseorang yang membutuhkannya."


Baik. Itu adalah jawaban yang bisa Elang terima. Tapi, siapa orang yang Danu maksud? kakeknya itu mengeluarkan dana yang cukup besar untuk hal tersebut. Meski Elang tahu kalau uang yang Danu miliki cukup banyak karena kebaikan keluarga Anggara, namun bukankah terlalu sayang untuk membangun sesuatu yang manfaatnya masih belum diketahui dengan jelas? Danu sendiri sudah memiliki rumah yang cukup layak di ibukota- yang juga pemberian dari Abby, meski kakeknya itu lebih memilih untuk tinggal di yayasan selama ini.


"Kamu tahu istilah sedia payung sebelum hujan?" tanya Danu tiba-tiba.


Elang mengangguk, "tentu saja, cucumu ini cukup pintar, Kakek."


Danu sedikit terkekeh saat mendengar jawaban Elang yang cukup percaya diri, "kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bisa saja apa yang kita miliki saat ini akan hilang begitu saja nanti." Danu menatap cucunya tepat di mata, mengantarkan hawa aneh yang rasanya tidak begitu menyenangkan di hati Elang.


"Seseorang yang sudah dibuang, tidak akan memiliki tempat untuk kembali lagi."


. . .


Itu adalah malam yang cukup dingin. Lilyana yang kala itu hampir menyelesaikan pekerjaannya harus menunda sesi pulang karena kehadiran 'teman' yang tak dia sangka akan kedatangannya. Dengan mengantongi izin sang atasan, Lilyana diberi keringanan untuk duduk berhadapan dengan si teman di salah-satu meja pelanggan paling ujung. Mengabaikan keluhan rekannya yang lain karena merasa sang atasan agak pilih kasih.


Lilyana menatap lelaki muda yang terlihat tenang di depannya. Dia tidak mungkin salah, orang ini adalah salah-satu teman kuliahnya. Mereka berdua cukup sering menghadiri kelas yang sama saat Lilyana masih mengikuti program reguler. Tapi meski begitu, keduanya tidak pernah memiliki alasan untuk bersinggungan atau bahkan saling menyapa satu sama lain.


"Ada yang bisa aku bantu?" Lilyana bertanya langsung pada intinya, tanpa berniat untuk menanyakan nama atau sekedar basa-basi lebih dulu.


Namun yang ditanya nampaknya tak mau dijajak kerja sama. Lelaki muda itu hanya diam sejak tadi, menatap ke arah Lilyana dengan pandangan seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.


"Ibu masuk penjara dan ayah sudah lama tiada."


Satu kalimat itu cukup membuat Lilyana menegang, sorot matanya menyiratkan kebingungan dan rasa was-was. Entah siapa orang yang dimaksud, namun pernyataan itu sendiri merupakan fakta terpahit dalam hidup Lilyana.


Dengan suara yang agak serak, Lilyana berujar, "apa..apa maksudmu?"


Satu tarikan seringaian di ujung bibir pemuda itu membawa perasaan tidak nyaman di hati Lilyana.


"Harus berjuang seorang diri demi sesuap nasi. Rela menelan harga diri menjadi seorang pelayan restoran demi biaya pendidikan. Terlilit hutang sampai ratusan juta, juga cemoohan tetangga yang tak kunjung reda." Pemuda itu menyimpan dua sikutnya di atas meja, lalu melanjutkan ucapan sambil sedikit mencondongkan tubuh ke arah Lilyana. "Orang-orang yang telah merampas semuanya darimu, tidakkah seharusnya kamu membalas perbuatan mereka?"


. . .


TBC


Halo, selamat siang. Apa kabar teman-teman semuanya? semoga sehat selalu. Saya kembali dengan bab terbaru. ^_^


Terimakasih untuk dukungan dan cinta dari teman-teman setia pembaca Abbysca. Semoga tidak bosan untuk terus menunggu kelanjutan cerita ini. Btw, bentar lagi kita masuk ******* ya teman-teman, mohon menyiapkan hati yang kuat. -_-


Jangan lupa vote dan komentarnya!

__ADS_1


Salam,


Nasal Dinarta.


__ADS_2