
"Terimakasih untuk kesepakatannya, Pak Abimana."
"Saya yang harusnya berterimakasih , saya senang karena kita bisa kembali menjalin kerjasama."
Gara tersenyum tipis setelah menyalami rekan kerjanya. Seorang petinggi dari perusahaan yang cukup berpengaruh di ibukota. Meski tak sebesar Aditama Grup, namun kekuatan perusahaan itu tak bisa diremehkan. Untuk itulah, Gara tak merasa ragu saat menerima ajakan bekerja sama untuk yang kedua kali.
"Maaf karena tak bisa mengajak Anda makan siang bersama, saya ada acara keluarga." Sebenarnya, Mahen sudah menyiapkan semuanya. Lelaki itu bahkan sudah melakukan reservasi atas nama Gara di sebuah restoran ternama siang ini. Namun Gara lupa memberitahu bahwa hari ini dia memiliki keperluan penting. "Orang kepercayaan saya akan menemani Anda dan sekretaris Anda nanti." Lanjut Gara.
Abimana menggeleng kecil sembari tersenyum ringan, menganggap bahwa itu bukanlah masalah untukya. "Saya akan lebih senang kalau Anda dapat hadir di pesta kecil-kecilan orangtua saya." Ujar Abimana tiba-tiba.
Kening mulus itu nampak mengernyit, "maaf?" tanya Gara meminta penjelasan.
Abimana terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "ayah saya begitu mengagumi Anda selama ini, namun beliau belum sempat bertemu dengan Anda secara langsung. Untuk itu, ayah saya meminta saya untuk mengundang Anda di acara ulang tahun pernikahan orang tua saya. Semoga Anda tidak keberatan." Jelas Abimana dengan panjang lebar. Mulutnya harus selalu bisa mengeluarkan kata-kata manis jika ingin menggaet orang dingin seperti Gara. Dia sedang berusaha dengan keras saat ini.
Gara terdiam sejenak, nampak mempertimbangkan hal yang baru didengarnya. "Itu adalah suatu kehormatan untuk saya. Tentu saja saya akan mempertimbangkannya dengan baik. Terimakasih atas undangannya, Pak Abimana." Dia tak langsung menerima, namun dirinya juga tak menolak begitu saja.
Setelah cukup berbasa-basi, Abimana mengucapkan salam perpisahan dan pergi dari ruangan tersebut. Menyisakan Gara dan kebingungannya. Bukan apa-apa, hanya saja ini adalah pertama kalinya ada seseorang yang mengharapkan kehadirannya di sebuah pesta pribadi.
Bagi seorang pengusaha muda yang memimpin sebuah perusahaan besar seperti Gara, tentu saja mendatangi acara-acara besar seperti pesta adalah hal yang tak bisa dihindari. Selain demi menjaga nama baik keluarga, Gara juga memanfaatkan momen itu untuk menggaet orang-orang berpengaruh agar mau berinvestasi di perusahaannya.
Namun dari sekian banyak pesta yang Gara hadiri, sembilan puluh persen adalah acara resmi yang diadakan oleh sebuah perusahaan. Undangan yang datang pun merupakan undangan resmi yang diantar langsung oleh perwakilan perusahaan yang mengadakan acara. Jadi, saat mendengar ajakan Abimana yang syarat akan kehangatan barusan, Gara cukup merasa aneh dan asing.
Entah Gara akan datang atau tidak, lihat saja nanti saat waktunya tiba.
__ADS_1
"Permisi, Pak." Mahen masuk saat Gara masih sibuk dengan pikirannya.
Gara menoleh, "apakah sudah siap?"
"Ya, Pak. Semuanya sudah beres. Apakah kita akan berangkat sekarang?" tanya Mahen.
Lelaki itu mengangguk, "tentu saja, kita tidak boleh terlambat. Itu adalah acara penting bagi mereka." Gara mengambil jas kerjanya yang sejak tadi dia gantung, "ayo pergi!"
"Baik, Pak."
. . .
Siang yang mendung di hari Rabu. Abby maupun Juna sepakat untuk mengosongkan jadwal demi memperingati hari kematian orang tua mereka. Tak seperti yang Juna rencanakan sebelumnya, para penghuni kediaman Anggara diperbolehkan untuk ikut ke pemakaman atas keinginan Abby. Tak banyak, hanya Hari, Erik dan dua pelayan setia Abby.
Juna memimpin langkah lebih dulu di mana Abby berjalan beberapa meter di belakangnya. Sedangkan empat orang sisanya mengikuti. Tempat yang mereka tuju terasa cukup jauh karena ditempuh dengan jalan kaki, belum lagi jalanan yang terus menanjak membuat nafas mereka sedikit tersengal.
Abby tersenyum tipis sembari terpejam sesaat kala merasakan angin segar yang menerpa tubuhnya. Dengan rambut panjang yang tak berhenti melambai, perempuan itu terus melangkah. Netranya menatap sosok tinggi di depannya yang tak mengeluarkan suara sejak keberangkatan mereka tadi. Punggung Juna terlihat dingin, bahu tegap itu pun seolah kehilangan kekuatannya. Juna sepertinya tengah dilanda kesedihan dan kehampaan yang tak dapat dijelaskan dengan kata.
Tak seperti Juna yang lebih dulu mendekati kuburan sang ayah saat mereka sudah sampai, Abby memilih berjongkok di depan batu nisan sang ibu. Tangannya terangkat untuk mengusap tanah lembab di bawahnya. Abby tak tahu apa yang dirasakannya kini, namun hatinya bisa merasakan denyutan yang teramat sakit.
Abby menyiram tanah kuburan Juliana menggunakan air yang dibawa oleh Mira. Setelahnya, perempuan itu menaburkan bunga yang mengeluarkan aroma harum dan segar di atas tanah tersebut.
"Nyonya Juliana." Abby berbisik begitu lirih, hingga tak ada seorangpun yang dapat mendengarnya. Di antara orang-orang yang tertipu olehnya sejauh ini, wanita yang raganya tengah menyatu dengan tanah tersebut pasti mengetahui tentang kebenarannya.
__ADS_1
Netranya yang sendu menatap tulisan yang terpampang di batu nisan. Meski begitu, pikirannya tak di sana. Dia mengerjap beberapa kali sebelum beralih menatap kuburan lain yang berada tepat di samping kuburan sang ibu.
Tuan Septhian..
Abby ingin sekali berteriak, mengungkapkan segala ketakutan dan keresahan hati. Mengatakan kebenaran pada kedua orang tua Abbysca. Berkata jujur bahwa dirinya bukanlah bagian asli dari keluarga Anggara, dia bukanlah adik dari seorang Arjuna, dia bukan juga tunangan dari Sagara. Dia bahkan tak memiliki hak untuk menjalani hidup sebagai seorang Abbysca Anggara.
Namun nyatanya, meski peristirahatan terakhir Juliana dan Septhian sudah ada di depan mata, Abby justru tak mampu berkata-kata.
Abby menolehkan kepala saat mendengar isakan tertahan dari Juna yang tengah berjongkok di depan sana. Lelaki itu pasti tak kuasa menahan kepedihan saat ini.
Karena tak tahu apa yang harus dilakukan, Abby hanya menghela nafas sembari memalingkan wajah ke arah lain. Begitu pun dengan empat orang lainnya yang berada di sana. Mereka perlahan mundur dan memberikan waktu pribadi bagi sepasang saudara tersebut.
Abby menatap langit siang yang tadinya kelabu, kini mulai membagi kehangatannya. Sinar matahari tetap menyapa meski awan mendung menghalangi cahayanya.
Rasanya, ingin sekali Abby mengatakan pada Juna agar tak perlu menangis dan meyakinkan lelaki itu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi lidahnya begitu kelu, seolah rangkaian kalimat penghiburan itu tersangkut di tenggorokannya. Di samping itu, Abby juga merasa kurang pantas untuk bersikap layaknya seorang adik pada Juna.
Pada akhirnya, Abby mendekati Juna dan ikut berjongkok di samping sang kakak. Tangannya yang terasa dingin itu menepuk-nepuk punggung tegap Juna tanpa mengatakan apa-apa. Abby hanya diam, membiarkan Juna menumpahkan rasa sesak yang selama ini begitu rapi disembunyikan. Juna hanya perlu tahu kalau Abby masih bersedia mendengarkan keluh kesahnya.
Semua akan baik-baik saja, Juna.
. . .
TBC
__ADS_1