
Kedatangan Juna yang tak terduga sempat menginterupsi percakapan sepasang manusia itu. Namun tak lama setelah Juna bergabung, percakapan yang lebih hangat dan sedikit akrab terjadi. Meski lebih sering diambil alih oleh Juna dan Gara, namun Abby akan menimpali ucapan mereka sesekali. Membuat suasana sore yang perlahan gelap itu tak terlalu dingin.
Satu jam adalah waktu yang mereka habiskan di taman. Mereka pergi bersama ke dalam rumah karena hari semakin gelap, ditambah waktu makan malam hampir tiba. Tiga orang itu berniat makan bersama.
Ketiganya hampir sampai di pintu masuk sebelum Hari datang membawa kabar, "maaf mengganggu, Nona. Tapi dua teman Anda datang untuk menjenguk."
"Elang?" hanya satu nama itu yang terlintas di otak Abby karena lelaki itu sendirilah yang mengatakan niatnya untuk menjenguk kemari.
"Ya, dan satu orang perempuan." Jawab Hari.
Meski belum bisa menebak siapa perempuan yang Hari maksud, namun Abby tak bereaksi berlebihan. "Kalau begitu, biarkan mereka masuk. Aku akan menunggu di sini."
"Baik, Nona."
Tak lama, dua orang yang Hari maksud memasuki halaman Anggara dengan menumpangi sebuah motor besar. Saat keduanya membuka helem, barulah Abby paham siapa gerangan sosok perempuan itu.
"Lilyana.." sudah berapa lama meteka tak bertemu sejak terakhir kali di restoran?
Juna dan Gara yang sejak tadi diam di belakang Abby, ikut memperhatikan dua tamu yang tak diundang tersebut. Jika Juna memberikan wajah tenangnya, maka Gara terlihat menahan kekesalannya entah karena apa.
"Abbysca."
"Abby, apa kabar?"
Elang maupun Lilyana dengan kompak menyapa Abby saat keduanya sudah sampai.
"Hai, aku baik. Terimakasih sudah datang." Abby sebenarnya merasa agak heran karena Elang mengajak Lilyana datang tanpa memberitahunya. Namun itu bukan masalah yang perlu dibesar-besarkan.
"Selamat sore Pak Juna dan Pak Gara." Elang juga ikut menyapa dua lelaki dewasa bertumbuh tinggi yang terlihat seperti penjaga bagi Abby. Dia adalah laki-laki, tapi dia cukup silau dengan paras dua orang itu.
__ADS_1
Melihat hal tersebut, Lilyana pun melakukan hal yang sama. Namun tak seperti Elang yang terang-terangan, Lilyana hanya mengangguk dan memberikan senyuman kecil. Abby yang memerhatikan ekspresi di wajah Lilyana jadi sedikit paham kalau perempuan itu mampu menjaga sikapnya jadi lebih baik. Tak seperti dulu di mana wajahnya akan dipenuhi ekspresi kelembutan dan senyuman lemah, demi menarik perhatian lawan jenis.
"Terimakasih sudah datang menjenguk Abby, ayo masuk! kita bisa makan malam bersama." Juna mengambil alih keheningan yang terjadi di sana. Lelaki itu juga melangkah lebih dulu ke dalam rumah, memberikan contoh bagi yang lain agar mengikutinya.
Sedangkan Gara terlihat tidak peduli dengan keberadaan dua orang itu, dia bahkan tidak menjawab sapaan orang-orang itu dengan benar. Hanya diam dan memperhatikan gerak-gerik mereka.
"Di sini dingin, dan kamu tidak boleh kedinginan. Sebaiknya kita masuk." Gara menyelimuti pundak Abby dengan jas besar miliknya, membuat tubuh mungil yang sudah terlapisi oleh baju hangat itu semakin terlihat tenggelam dalam pakaiannya. Tak lama, lelaki itu menggenggam jemari Abby dengan hangat dan mengajaknya masuk ke dalam.
Abby lagi-lagi terkejut dengan tindakan Gara, dia belum terbiasa dengan tingkah baru lelaki itu. Alih-alih protes, Abby malah diam dan menuruti keinginan Gara. Namun sebelumnya, dia sempat menoleh pada dua temannya.
"Elang, Lilyana, ayo masuk! aku ingin makan bersama kalian."
Dan dua orang itu tak memiliki alasan untuk menolak. Pada akhirnya, mereka ikut masuk meski tersimpan rasa sungkan yang tak dapat dijelaskan di dalam hati mereka.
Seperti yang diharapkan dari keluarga kaya raya, makan malam disajikan dengan begitu mewah meski tak ada acara untuk diperingati. Meja makan panjang yang terbuat dari lapisan kaca berkualitas itu mampu menampung puluhan jenis makanan yang terlihat lezat.
Juna mengambil duduk di kursi utama, membuat dia terlihat seperti kepala keluarga di rumah ini, dan memang seperti itu adanya. Gara sendiri duduk tepat di samping Abby, sedangkan dua teman Abby duduk di hadapan mereka.
Elang yang baru mengalami hal seperti itu dalam hidupnya tidak bisa untuk tidak bereaksi berlebihan. Mulut lelaki itu setengah terbuka dan menatap semua hal di depannya dengan pandangan kagum. Sedangkan Lilyana yang melihat reaksi Elang merasa cukup jengkel, kenapa harus memperlihatkan wajah konyol itu sekarang? dengan cepat perempuan itu mencubit pinggang Elang dan langsung melotot pada lelaki itu saat keduanya sudah saling menatap.
"Silahkan dinikmati! makanlah selagi hangat!" Juna bersikap seperti tuan rumah yang baik. Mengambil makanan lebih dulu agar semua orang mengikutinya.
"Terimakasih untuk makanannya, selamat makan!" ujar Elang dengan ceria. Pemuda itu tanpa sungkan menikmati makan malam mewah dengan ekspresi bahagia. Niatnya hanya ingin sekedar melihat keadaan Abby, namun malah disambut dengan makan besar. Jadi, dia tak mungkin menyia-nyiakannya.
Lilyana berdecih kecil melihat kelakuan norak Elang, namun dia tak mengatakan apa-apa. Perempuan itu hanya berterimakasih dan mulai makan dengan tenang.
Disadari atau tidak, Abby sepertinya sedikit terhibur dengan tingkah Elang. Perempuan yang masih agak pucat itu tersenyum tipis dengan pandangan yang tak lepas dari Elang.
"Apa yang kamu lihat?"
__ADS_1
Suara berat Gara terdengar dari arah sampingnya. Abby menoleh dengan mata bulatnya yang masih berbinar. "Elang lucu." Setelahnya, perempuan itu kembali terkekeh kecil.
Gara terang-terangan mendengus kasar, cukup kesal dengan Abby. Namun tindakannya berkata lain. Lelaki itu menyimpan lauk pauk sehat di atas piring Abby yang masih kosong dengan telaten. "Apakah aku harus bertingkah konyol sepertinya agar kamu tertawa?" bisiknya pelan, dan tentu saja hanya Abby yang dapat mendengarnya.
Abby kembali menoleh ke arah Gara, namun kali ini wajah cantiknya memperlihatkan raut bingung. Dan Gara cukup frustasi dengan hal itu. "Apa maksudmu?"
"Hah, tidak." Gara mendekatkan gelas minum milik Abby agar perempuan itu lebih mudah menjangkaunya, "minumlah dulu agar tenggorakan kamu tidak sakit." Tangan kiri lelaki itu terangkat hanya untuk mengusap pipi halus Abby dengan lembut, "makan yang banyak!" lanjutnya sebelum menjauhkan tangannya.
Abby diam-diam mengumpat dalam hati atas kelakuan Gara yang tak tahu tempat. Bagaimana bisa Gara bersikap menggelikan di saat begitu banyak orang di sana? apa otak lelaki itu kehilangan kewarasannya?
Dan tentu saja Gara tidak peduli. Tanpa melihat ke arah tiga orang lainnya yang berada di meja yang sama dengannya, Gara nampak tenang menikmati makanannya. Wajah datar itu tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja bersikap manis pada tunangannya.
Elang tak terlalu memperhatikan, dan Lilyana mencoba untuk tidak peduli. Sedangkan Juna menjadi orang yang paling was-was dengan kedekatan Gara dan Abby. Sudah sejauh mana hubungan keduanya berkembang? melihat Gara yang begitu terang-terangan, juga Abby yang tak memberikan penolakan, sepertinya ada satu hal yang baru saja disepakati oleh pasangan itu. Dan sialnya, Juna ingin sekali mengetahui hal tersebut.
Abby adalah saudaranya, satu-satunya adik yang dia miliki, dan Abby adalah perempuan. Rasa khawatir yang berlebihan saat adiknya mulai nyaman dengan seseorang dan mendapatkan kebaikan dari orang tersebut membuat Juna merasa tidak nyaman. Takut dan bingung menjadi satu. Apakah itu adalah hal yang wajar?
Netranya menatap ke arah Gara dengan lekat. Tak lama, yang ditatap ikut menoleh padanya. Seringai menyebalkan terpatri di wajah tampan Gara, dan Juna ingin sekali memberikan pukulan mentah di rahang tegas temannya itu.
Mereka berdua benar-benar harus bicara.
. . .
TBC
Selamat pagi teman-teman. Salam sehat untuk kita semua. Terimakasih untuk dukungan dan cinta yang teman-teman berikan. ^_^
Jangan lupa vote dan komentarnya!
Salam,
__ADS_1
Nasal Dinarta.